
Setelah menghabiskan liburan dua hari yang sangat membahagiakan kini Abi harus kembali berkutat dengan pekerjaannya di kantor seperti biasa.
Seperti pagi ini Abi merasakan sarapannya begitu istimewa karena untuk pertama kalinya Abi sarapan dengan Aeril yang kini tak sungkan lagi melayaninya, tak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu menganggap Naira prioritas utamanya, tapi kini Aeril pun mengurus Abi dengan sangat baik. Dari mulai menyiapkan pakaian kerja sampai sarapan di meja, Aerillah yang memegang semua yang berkaitan dengan Abi.
Seperi pagi ini Aeril tengah menyiapkan sarapan untuk Abi dan menatanya di meja makan. Tak lama Abi turun dan menghampiri Aeril.
"Pagi sayang ... " sapa Abi sembari mencium dan memeluk sang istri.
"Mas ... nanti ada yang lihat," Aeril celingak-celinguk takut Bu Diyah melihatnya.
"Eh ya nggak papa, pasangan halal ini," kekeh Abi.
"Iyya tapi kan nggak enak, udah kayak penganten baru aja."
"Emang pengantin baru, masih hot-hotnya," bisik Abi di telinga Aeril.
"Awwww!!!! Sakit sayang ... ," pekik Abi karena mendapat cubitan di pinggang.
"Rasain!!! Makanya duduk terus sarapan, jangan yang aneh-aneh."
Bu Diyah yang tak sengaja melihat kemesraan Abi dan Aeril tersenyum, sudah lama Bu Diyah tak melihat Abi sebahagia ini.
Setelah menemani Abi sarapan, Aeril kembali ke kamar dan melihat Naira yang telah rapi dan wangi karena Bu Diyah yang membantu Aeril memandikannya.
"Dada Papa," ucap Aeril sembari mengangkat tangan Naira untuk melambai saat Abi telah memasuki mobilnya.
"Loh ada yang ketinggalan, kok balik lagi?" tanya Aeril heran karena Abi keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Muach." Abi mengecup bibir Aeril.
"Mas ... ada Naira."
"Ya nggak papa, Naira juga pasti suka ngeliat Mama dan Papanya mesra, iyya kan sayang." Abi pun mencium pipi Naira dan membuat Naira tertawa karena merasa geli.
"Udah sana nanti terlambat." Aeril mendorong pelan bahu Abi karena terus saja mencium Naira, seolah tak ingin beranjak dari tempatnya.
"Males kerja, maunya di rumah aja sama kamu dan Naira," rengek Abi manja.
"Ya ampun Mas ... " Aeril tergelak melihat tingkah Abi.
"Malah ketawa," ucap Abi pura-pura cemberut.
"Ternyata kamu itu manja ya Mas, nggak nyangka padahal dulu menyebalkan."
__ADS_1
"Seseorang itu bisa berubah karena cinta. Ya udah aku berangkat dulu, nanti siang kita makan siang bareng ya, gimana?"
"Boleh juga, nanti aku masak deh buat makan siang kita, terus aku bawa ke kantor."
"Kalau repot mending kita makan di luar aja," kata Abi, tak ingin sampai istrinya kerepotan.
"Insya Allah enggak kok, Naira juga udah pinter nggak rewel."
"Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu, nanti aku tunggu di kantor ya."
"Iyya," ucap Aeril. Abi pun berangkat ke kantor dengan perasaan bahagia. Meski sesungguhnya masih belum ingin berpisah dari Aeril tapi ia juga sadar jika harus kembali bekerja untuk keluarga kecilnya.
******
Siangnya Aeril datang ke kantor Abi menggunakan Taxi dan membawa kotak makan di tangannya. Kali ini Aeril tak membawa Naira karena Naira sedang tertidur dan dengan terpaksa Aeril tak membawanya dan menitipkannya kepada Bu Diyah.
Sesampainya di kantor Aeril berjalan menuju lift untuk segera naik ke lantai di mana ruangan Abi berada.
"Eh itu kan Istrinya pak Abi yang baru."
"Masa sih? Cantik ya ternyata."
"Pantes aja Pak Abi suka, nggak kalah cantik sama yang pertama."
"Bu Aeril, Pak Abi masih rapat. Ibu di minta menunggu sebentar lagi di ruangannya," ucap Maya sekertaris Abi yang berjaga di depan ruangannya.
"Oh iyya, terima kasih." Aeril pun mengangguk sopan lalu memasuki ruangan Abi dan meletakkan makanan yang ia bawa di meja sofa yang ada di ruangan itu.
Sekitar setengah jam Abi pun membuka pintu ruangannya dan tersenyum ketika melihat Aeril sudah berada di dalam ruangannya.
"Tidak ada yang boleh mengganggu saya selama satu jam ke depan," ucap Abi kepada Indra dan Maya, lalu Abi menutup pintu dan menguncinya.
"Kenapa di kunci?" tanya Aeril heran.
"Biar nggak ada yang ganggu kita berdua," jawab Abi lalu berjalan mendekati Aeril.
"Huuu." Aeril memanyunkan bibirnya.
"Nantangin kayaknya," ucap Abi lalu mencium bibir istrinya.
"Apaan sih. Mending sekarang makan, pasti udah laper kan." Aeril hendak menata makan siang yang tadi ia bawa tapi dengan sigap Abi menarik tangan Aeril dan membawanya ke dalam pelukan.
"Kangen-kangenan dulu, emang kamu nggak kangen apa," ucap Abi sembari menciumi pipi sang istri.
__ADS_1
"Mas apaan sih? Kayak nggak bisa malem aja kangen-kangenannya." Aeril mencoba melepaskan diri tapi gagal karena pelukan Abi begitu kuat.
"Aku maunya sekarang, nanti malem lain lagi." Abi menyeringai dan membuat Aeril menutup bibirnya lalu tersenyum malu.
Karena tak melihat penolakan dari sang istri Abi pun menggendong Aeril masuk ke dalam kamar pribadi yang ada di dalam ruangan itu.
Siang itu pun menjadi siang yang sangat romantis bagi Abi dan Aeril karena Abi begitu memuja sang istri sampai tak perduli jika itu di kantor. Aeril begitu membuatnya tergila-gila dan tak bisa jauh barang sedetik pun.
Setelah pergulatan panasnya akhirnya Abi dan Aeril makan siang berdua. Aeril memasak udang pedas manis, Nila bakar bumbu, juga tumis kangkung.
"Suapin pakai tangan boleh?" tanya Abi sembari tersenyum.
Aeril pun tersenyum lalu membuka kulit udang juga memisahkan daging ikan dari durinya lalu menyupi Abi dengan telaten.
"Enak banget, apa lagi Istri tersayang yang nyuapin," ucap Abi lalu kembali mengunyah makanannya.
"Gombal," kata Aeril lalu kembali menyuapi Abi.
"Bener sayang," ucap Abi meski mulutnya penuh dengan makanan.
Setelah Abi kenyang kini giliran Aeril yang akan makan, tapi belum sempat Aeril menyuapi mulutnya, Abi mencekal tangan Aeril lalu menyuapi Aeril menggunakan tangannya.
Meski sempat mengerutkan kening tapi akhirnya Aeril menerima suapan dari tangan Abi meski sebenarnya ia malu, karena selama ini tak pernah di perlakukan seistimewa ini.
"Loh kok nangis sih sayang? Kamu marah ya karena aku selalu nyusain?" tanya Abi panik karena tiba-tiba istrinya menangis meski tak bersuara.
"Enggak Mas, aku cuma terharu sama semua perlakuan kamu, aku merasa nggak pantas di perlakukan seperti ini, aku merasa--" belum sempat Aeril menyelesaikan kalimatnya tapi Abi sudah memeluknya, mengusap punggung istrinya agar merasa lebih tenang.
"Ay ... kamu tau, aku yang merasa sangat beruntung karena kamu menerima aku. Kamu adalah wanita terbaik yang aku kenal. Yang harus kamu ingat di sini, aku lah yang sangat beruntung, jadi jangan pernah merasa kamu nggak pantas karena kamu adalah wanita terbaik."
"Terima kasih Mas, kamu adalah pria terbaik yang aku kenal." Aeril membalas pelukan suaminya tak kalah erat.
Siang itu terasa sangat indah bagi Abi dan Aeril karena bisa berbagi rasa, berbagi cinta dan juga bisa berbagi nafas saat sedang ada kesempatan. Abi dan Aeril merasa sangat beruntung karena tuhan mempertemukan dengannya dengan jodoh yang tepat dan tulus menyangi.
*
*
*
*
Part gaje. Kelamaan nggak nulis, otak jadi buntu๐๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1