
"Ay ikut aku sebentar." Abi menarik tangan Aeril setelah memastikan Naira terlelap.
"Tapi Pak kita mau kemana?" Tanya Aeril bingung, lagi pula sebenarnya dia malas berdekatan dengan Abi tapi karena Abi langsung saja menarik tangannya Aeril tak bisa apa-apa selain mengikutinya.
"Ikut saja, saya mau menunjukkan sesuatu." Aeril tak lagi bertanya hanya mengikuti Abi meski sebenarnya enggan.
"Masuklah, aku mau bawa kamu ke suatu tempat." Aeril pun masuk ke dalam mobil tanpa banyak protes.
Abi membawa mobil dengan kecepatan sedang karena tak ingin membuat Aeril tak nyaman. Sekitar empat puluh lima menit mereka sampai di depan sebuah gudang yang sepertinya tak berpenghuni, lalu Abi memarkirkan mobilnya di depan gudang tua itu.
"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Aeril semakin tak mengerti apa yang akan di lakukan Abi.
"Ikut saja, saat di dalam kamu akan tahu apa yang ada di dalam." Baru saja akan masuk Abi menghentikan langkahnya karena penolakan Aeril.
"Saya nggak mau Pak," tolak Aeril tegas, karena saat melihat gudang tua di depannya Aeril sempat berfikir macam-macam tentang Abi.
Abi menghela nafas panjang. " Saya nggak akan berbuat macam-macam Ay, kalau pun saya mau nggak di tempat ini juga kali," ucap Abi sembari tersenyum samar.
Aeril mendelik mendengar perkataan Abi. Apa maksudnya coba?
"Udah ayuk ikut aja, saya nggak bakalan macam-macam, janji." Abi menaikkan jari telunjuk dan jadi jari tengahnya agar Aeril percaya kepadanya.
Dengan malas Aeril mengikuti Abi masuk ke dalam karena tangannya memang telah di pegang Abi agar mengikutinya.
Gimana mau nolaknya coba?
Setelah sampai di dalam Aeril melihat Indra tengah menjaga seseorang yang sepertinya Aeril sangat mengenalnya.
Dan benar saja ketika Indra membuka penutup wajah itu Aeril seketika membelalakkan matanya karena dugaannya benar, orang itu adalah Sari yang telah membuat Naira sempat kritis dan hampir tak tertolong.
"Mbak Sari!"
"Iyya dia Sari. Saya membawa kamu ke sini karena saya memberi kamu kesempatan untuk menghukumnya, terserah hukuman apa saja," ucap Abi.
Aeril perlahan mendekat ke arah Sari yang sedang berdiri tapi tangannya terikat.
"Kenapa Mbak?" tanya Aeril. Meski kecewa Aeril tetap ingin tahu secara langsung alasan Sari berbuat setega itu kepada Naira, tapi Sari hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan Aeril.
"Jawab Mbak kenapa? Kenapa kamu tega fitnah aku dan setega itu kepada Naira?" Aeril mengguncang tubuh Sari karena tak juga menjawab pertanyaan Aeril.
__ADS_1
"Karena aku benci kamu Aeril!!" teriak Sari. Wajahnya merah padam karena melihat seseorang yang ia benci ada di hadapannya.
"Apa maksud kamu Mbak Sari? Apa salahku sampai kamu benci aku dan mencelakai Naira?" tanya Aeril menggebu-gebu.
"Aku benci dari awal kamu masuk ke rumah Aeril," jawab Sari tak kalah emosi. Tak ingin bersandiwara lagi, kini Sari akan memuntahkan semua kekesalannya kepada Aeril.
"Aku benci semua tentang kamu! Kamu itu perempuan nggak tahu malu yang selalu menggoda Pak Abi! Andaikan kamu nggak ada, Pak Abi pasti suka sama aku. Aku juga cantik kok, nggak kalah dari kamu yang cuma modal ganjen tebar pesona sana-sini." Sari sampai terengah-engah saking emosinya. Aeril hanya mendengarkan sesekali mengernyit heran dengan kata-kata Sari yang menurutnya tidak masuk akal.
"Aku udah melakukan segala cara agar Pak Abi juga tertarik sama aku tapi tetap saja Pak Abi kegodanya sama kamu. Aku bahkan sudah membuat Pak Abi percaya kalau kamu itu nggak becus jaga Naira tapi kamu malah membuat Pak Abi nikahin kamu. Harusnya aku yang nikah sama Pak Abi bukan kamu Aeril!!! Pokoknya aku benci sebenci-bencinya sama kamu," cecar Sari. Dia begitu emosi karrna Aeril selalu bernasib baik, sedangkan ia yang selama ini bekerja keras tak pernah di anggap.
"Aku nggak pernah godain Pak Abi Mbak, pernikahan aku sama Pak Abi juga murni kecelakaan bukan aku yang buat. Kalau Pak Abi memang suka sama kamu aku mau kok di cerai sekarang juga dari pada kamu terus benci sama aku dengan alasan yang sama sekali nggak aku lakuin." balas Aeril.
''Halah kamu itu munafik Aeril, kamu itu licik. Bisa saja sekarang kamu bilang begitu tapi nanti saat aku sama Pak Abi ada peluang, saya yakin kamu akan menggoda Pak Abi dengan tubuh kamu, iyya kan!!" ucap Sari sarkas.
PLAKK!!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi sari yang menyisakan rasa panas dan sakit.
Aeril benar-benar tak mampu menahan emosinya karena kata-kata Sari yang sudah terlewat batas.
"Kamu kelewatan Mbak Sari, aku fikir belakangan ini kamu akan berubah menjadi lebih baik tapi nyatanya kamu makin menjadi-jadi, dan kamu juga sudah tega kepada Naira. Kamu bahkan hampir menghilangkan nyawa anak sekecil itu Mbak Sari, di mana sebenarnya hati nurani kamu sebagai wanita?"
"Kamu bilang kamu suka sama Pak Abi tapi kenapa kamu tega mencelakai bayi sekecil itu." Aeril pun mengeluarkan semua emosinya yang dulu sempat ia tahan.
"PLAKK!!" Kembali tangan Aeril mendarat sempurna di pipi Sari yang sebelah.
"Itu untuk Naira yang selama ini kamu perlakukan dengan buruk. Mungkin puluhan tamparan tak akan seimbang dengan apa yang sudah kamu lakukan ke Naira Mbak Sari."
"Semua ini karena kamu Aeril," ucap Sari yang amarahnya sudah tingkat tinggi karena mendapat tamparan sampai dua kali dari Aeril.
"Kamu gila Mbak Sari, kamu nggak waras!!
Jangankan Pak Abi, saya yakin gembel di luar san juga nggak akan pernah mau sama wanita gila seperti kamu," ucap Aeril berapi-api. Aeril tak mampu menahan emosi setelah mendengar semua kata-kata Sari yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
Abi dan Indra hanya melongo melihat pertengkaran kedua wanita di hadapannya.
Abi tak menyangka jika Sari menyukainya selama ini, pantas saja jika selalu ada di dekat Abi dia selalu mencari muka dan melakukan segala cara untuk menarik perhatian Abi.
Abi hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata seperti ini jika wanita sedang bertengkar. Dalam hati Abi.
__ADS_1
"Sudah puas?" tanya Abi kepada Aeril.
Aeril hanya diam tak menjawab pertanyaan Abi.
"Jebloskan dia sekarang ke dalam penjara Indra," titah Abi, karena di rasa sudah cukup untuk hari ini.
"Baik Pak." Indra pun menarik paksa tangan Sari untuk keluar.
"Tunggu!!!"
Abi mengerutkan dahi. "Kenapa Ay, apa kamu belum puas?" tanya Abi saat Aeril menghentikan Indra.
"Bebaskan Sari Pak, lagi pula Naira sekarang sudah baik-baik saja," ucap Aeril.
"Apa!!!" Abi melotot ke arah Aeril saat mendengar permintaannya.
"Saya tahu Mbak Sari kelewatan tapi bukankah Naira juga sudah melewati masa kritisnya. Cukup pecat saja dia, itu akan menjadi pelajaran berharga buat dia."
"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan Ay?"
"Iyya saya yakin Pak."
"Tapi dia hampir saja membunuh Naira Ay, saya nggak mungkin membiarkan dia bebas begitu saja."
"Allah saja maha pemaaf, kenapa kita tidak. Kita harus memberikan kesempatan untuk Mbak Sari berubah, mungkin saja dengan semua kejadian ini akan menjadi pelajaran berharga untuknya."
Abi mendesah panjang dan akhirnya menyetujui permintaan Aeril meski sebenarnya ia tidak rela.
"Kamu beruntung Sari karena Aeril memiliki hati yang baik, kalau saja bukan karena dia sudah saya pastikan kamu akan mendekam selamanya di penjara." Setelah mengatakan itu Abi pun pergi di ikuti oleh Aeril di belakangnya.
*
*
*
*
Aku juga bilang apa kalau aku tuh semangat banget kalau liat komenan kalian, jadi aku kasih double up untuk hari ini.
__ADS_1
Terharu deh aku karena antusias kalian yang selalu setia nungguin cerita otor yang baru belajar ini.
Sayang kalian semua pokoknya 😘😘😘😘😘