
"Mama mau kemana?" Tanya Vani sembari mencekal tangan Ibunya.
"Mau ngusir perempuan kampungan itu, kok bisa-bisanya sih dia itu datang ke pesta orang berkelas kayak kita."
"Loh Mama kenal sama si babu, baby sitternya Abi?"
"Dia itu mantan kakak ipar kamu, untung aja Mama cepat-cepat bikin dia enyah dari kehidupan Vano, kalau enggak mah jadi benalu aja di hidup Vano."
"Oh em jettt, iuuu nggak kebayang dia yang jadi kakak ipar aku, untung udah mantan."
"Ya udah kamu kamu tunggu di sini, mama mau ngusir dia dari sini." Bu Heni bersiap menghampiri Aeril.
"Eh Ma tunggu, jangan gegabah gitu. Kak Abi tu perhatian banget sama dia kalau sampai Mama nyakitin tuh babu di depan Kak Abi, bisa ngamuk dia."
"Emmm kamu bener juga, mending kita main cantik." Bu Heni membisikkan sesuatu di telinga Vani lalu Vani tersenyum licik.
"Keren Ma." Vani mengangkat kedua jempolnya di hadapan Ibunya.
Sementara itu Abi mengajak Aeril untuk mengucapkan selamat dan memberikan kado kepada Mia.
"Selamat ya Mia," ucap Abi lalu memberikan kado kepada Mia.
"Wahh Abi makasih ya udah mau dateng, oh iyya siapa nih? cieee udah move on nih kayaknya," goda Mia saat melihat Abi membawa wanita yang menurutnya sangat cantik.
Abi tersenyum." Kenalin Mi ini Aeril. Aeril kenalin ini Mia temen kuliah dulu." Aeril tersenyum lalu memberi selamat kepada Mia.
"Mas ... sini deh Abi kesini bawa orang spesial loh." Mia memanggil Vano yang baru saja datang mengambil susu di dapur.
''Iyya sayang ... '' ucap Vano mesra.
"Selamat ya Van atas kelahiran anaknya dan satu tahun pernikahannya," ucap Abi lalu menjabat tangan Vano.
"Makasih Bi."
"Tau nggak Mas, Abi malam ini bawa orang spesial loh," kata Mia kepada suaminya.
"Aeril kenalin ini suami aku, Mas itu Aeril," ucap Mia lagi.
Tiba-tiba tubuh Vano serasa beku mendengar nama Aeril, dengan susah payah ia menggerakkan tubuhnya ke arah Aeril.
Vano terpaku melihat sosok di hadapannya, Meski Aeril tampil sangat berbeda malam ini tapi Vano tidak mungkin lupa dengan mata indah juga lesung pipi yang hanya di miliki Aeril.
Dengan susah payah Vano mengangkat tangannya ke arah Aeril.
Jangan di tanya bagaimana ekspresi wajah Aeril malam ini, wajahnya berubah pias saat melihat seseorang yang kini berdiri dan mengangkat tangan di hadapannya.
Luka yang tadinya hampir mengering kini mendapatkan luka baru saat melihat dengan mata kepalanya Vano dengan istrinya. Meski Aeril sudah menguatkan hatinya sejak lama tapi tetap saja rasa sakit kembali menggerogoti.
Ayo Aeril kamu harus menunjukkan kalau kamu juga sudah bahagia saat ini, tunjukkan kalau kamu tidak terpuruk saat di tinggalkan pria brengsek di hadapan kamu. Tunjukkan kalau saat ini kamu sangat sangat bahagia.
__ADS_1
Aeril mengatur nafas dan hatinya yang sempat bergejolak tadi.
"Aeril," ucap Aeril dengan manis dan elegan, senyumnya merekah begitu saja, meski sebenarnya palsu tapi Vano dan Abi sempat terpukau.
Abi bahkan tak pernah melihat senyum Aeril yang ternyata begitu manis meski agak sedikit berbeda, seperti senyum yang sedikit dinpaksakan tapi tetap saja manis.
"Va,,,Vano," ucap Vano gugup.
Aeril menarik tangannya seketika saat merasa Vano tak mau melepas tangannya.
Vano pun tersadar dari lamunannya saat merasakan Aeril menarik sedikit keras tangannya.
Astaga ada apa denganku, kalau Aeril tidak melepaskannya mungkin orang-orang akan heran melihat tingkahku.
Setelah berbasa-basi sebentar Abi dan Aeril pun meninggalkan Vano dan Mia lalu berbaur dengan tamu yang lainnya.
"Ay kamu nggak papa? muka kamu pucat, apa kamu sakit?" tanya Abi, karena sejak tadi tingkah Aeril berbeda dan wajahnya pun pucat.
Saya nggak papa, apa kita bisa pu--"
"Abi kemarilah ikut Papa, Papa kenalin sama kolega bisnis Papa." Tiba-tiba Pak Harun datang dan membuat Aeril tak melanjutkan kata-katanya.
"Pa kenalin dulu dia Aeril," ucap Abi.
"Halo Aeril saya Papanya Abi," sapa Pak Harun ramah.
"Aeril," sapa Aeril lembut.
"Ikut Papa dulu sebentar keburu teman Papa pulang, dia cuma sebentar di indonesia. Saya tinggal dulu ya Aeril." Pak Harun membawa Abi pergi dari hadapan Aeril tanpa mendengarkan apa yang akan di katakan Abi.
"Siniin Naira saya yang gendong." Tiba-tiba Vani datang dan mengambil Naira begitu saja lalu membawanya pergi.
Harusnya aku nggak datang ke tempat ini.
Aeril mendesah pelan, perasaanya mulai tak enak dan di saat yang bersamaan sebuah tangan menarik paksa tangannya dan mau tak mau dia mengikutinya karena tangan itu tak mau melepaskan tangan Aeril lalu saat sampai di taman baru lah tangan Aeril di hempaskan dengan kasar.
"Ibu," ucap Aeril pelan.
"Kenapa, heran? cuihh kamu fikir dengan kamu berpenampilan seperti ini kamu akan sekelas dengan para orang kaya yang ada di sini?
Jangan mimpi!!! Sekalinya kampungan ya kampungan aja. Dengan tidak tahu malunya datang ke sini tanpa di undang. Saya yakin kamu pasti menyuap satpam yang berjaga dengan tubuhmu itu iyya kan?" caci Bu Heni.
"Jaga mulutmu Ibu," teriak Aeril.
"Hey babu, sopanlah kepada ibuku atau aku akan menampar mulutmu yang kurang ajar itu," sahut Vani yang datang untuk membela Ibunya.
"Oh dia Ibumu, pantas saja." Aeril mendelik.
"Apa maksudmu?" tanya Vani.
__ADS_1
"Pantas saja kamu sudah sedewasa ini tapi masih miskin sopan santun."
"Dasar babu kurang ajar." Bu Heni merangsek maju melayangkan tangannya ke wajah Aeril tapi secepat kilat Aeril menangkap tangan mantan Ibu mertuanya.
"Jangan coba-coba menyentuh wajahku Ibu, anda bukanlah Ibu mertuaku yang harus aku hormati dan harap tau aku bukanlah Aeril yang lemah seperti dulu jadi jangan coba-coba melakukan hal yang akan membuat Ibu menyesal nantinya." Dada Aeril turun naik menahan emosinya, bahkan ia pun tak sadar dengan kata-katanya sendiri.
"Heh babu kurang ajar berani kamu berbuat kasar pada Ibu, seandainya saja aku tidak tengah menggendong Naira maka aku lah yang akan memberikanmu pelajaran," ucap Vani emosi.
"Tunggu saja aku akan melaporkanmu kepada kak Abi biar kamu di pecat." Vani pun meninggalkan Aeril dan Ibunya.
Aeril menghempaskan tangan Bu Heni. Bu Heni pun sangat syok melihat Aeril yang kini berani melawannya, bagaimana mungkin gadis lemah seperti Aeril bisa berubah kasar seperti sekarang, dulu Aeril hanya akan menangis jika Bu Heni memperlakukannya dengan kasar tapi sekarang semuanya telah berubah.
"Lihatlah Kak Abi, Om Harun, baby sitternya Naira itu kurang ajar, dia menghina Ibu bahkan hampir menampar Ibu jika saja aku tidak datang tepat waktu," ucap Vani yang memutar balikkan fakta.
"Harusnya Kak Abi pecat babu kurang ajar seperti dia," tambah Vani.
"Vani cukup!!!! Dia bukan Babu, dia istri saya dengar kamu," ucap Abi lantang.
"APA!!!" pekik Vani syok.
Semua yang ada di situ menganga sempurna seolah tak percaya.
"Kak Abi bercanda kan?" tanya Vani mulai melemah.
"Abi apa yang kamu katakan?" Kini Pak Harun pun bertanya.
"Iyya Pa, Abi sudah menikah dengan Aeril."
"Dengan wanita yang sudah menghina dan hampir menampar Mamanya Vani?"
"Abi yakin Aeril tidak akan pernah berbuat kasar seperti itu, Abi kenal dia dan Abi juga sangat mengenal Tante Heni dan juga Vani." Abi melihat Bu Heni dan juga Vani secara bergantian dengan tatapan tajam.
Vani seketika menunduk dan salah tingkah saat Abi menatapnya dengan tajam.
"Ceraikan dia sekarang juga karena Papa akan segera menikahkan kamu dengan Vani minggu depan," ucap Pak Harun dengan tegas.
DEG!!!
Seketika lutut Aeril menjadi lemas medengar perkataan Pak Harun, hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri padahal dia tidak mencintai Abi tapi entah mengapa hatinya sakit. Perlahan Aeril pun mundur dan menjauh dari orang-orang yang tengah berdebat dengan sengit di taman lalu setelah keluar dari gerbang Aeril pun pergi meninggalkan acara tanpa pamit pada Abi.
*
*
*
*
Bagaimana para Readersπππ
__ADS_1
Yang bilang kurang panjang, sini tak ciumππππ