Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Memberi pelajaran


__ADS_3

Kurang lebih satu bulan Vani menunggu tapi Vano tak juga mengabarinya tentang permintaannya waktun itu. Bukan sengaja Vano tak mengabari Vani tapi Vano benar-benar sibuk bulan ini di kantor mertuanya, bahkan Vano jadi sering pulang malam karena harus menyelesaikan semua tugas di kantor.


Vano bekerja begitu keras juga cekatan karena itulah yang membuat mertuanya semakin menyukai Vano dan akhirnya mengangkatnya menjadi direktur di perusahaan mertuanya.


"Hari ini di rumah aja ya Mas seharian, hampir sebulan full kamu pulang malam terus dan nggak punya waktu buat aku sama calon anak kita," ujar Mia pagi itu setelah selesai sarapan.


Hari ini hari minggu dan Vano memutuskan untuk di rumah menemani istrinya dari pada berjalan-jalan di luar. Mia juga beberapa hari ini mulai mengeluh karena Vano yang terus sibuk di kantor.


"Iyyah sayang ... apa sih yang enggak buat istriku tersayang." Vano mencubit gemas pipi sang istri yang kini mulai bermanja di dadanya.


"Isss gombal banget."


"Eh beneran sayang," ucap Vano sembari memeluk istrinya.


"Ehem ..." Suara deheman seseorang membuar Mia seketika melepaskan pelukannya kepada Vano.


"Vani?" Mia menatap malas ke arah Vani yang datang pagi-pagi ke rumahnya. Mia dapat menangkap aura-aura pertengkaran akan segera terjadi di rumahnya.


"Maaf ya aku ke sini bukan buat mengganggu acara-acara romantis Mbak Mia tapi aku mau nagih janji Mas Vano buat beliin aku mobil baru," ucap Vani tanpa basa-basi terlebih dahulu dan membuat Mia memutar bola mata malas.


Mia tak menyangka adik Vano memiliki sifat yang menyebalkan, padahal dulu sebelum menikah dengan Vano Vani tidak terlihat manja seperti sekarang, dulu Vani begitu manis dan Mia sempat berharap Vani akan menjadi adik ipar yang baik nantinya. Ternyata prediksinya salah besar, Vani ternyata sangat manja dan menyebalkan dan yang paling membuat Mia mulai jengah adalah kebiasaan Vani yang selalu menghambur-hamburkan uang yang di mintanya kepada Vano.


''Kapan Masmu janji mau beliin mobil?" tanya Mia kesal.


"Permintaan aku itu keharusan dan aku nggak mau tahu Mas Vano harus beliin aku mobil itu sekarang juga, titik." Mia makin kesal melihat tingkah Vani yang memaksakan kehendaknya.


"Kamu urus deh Mas adik kamu, aku males mau ke kamar aja istirahat. Takutnya kalau aku ngeladenin adik kamu aku bisa khilaf." Setelah mengatakan itu Mia pun berbalik dan masuk ke dalam kamarnya.


"Vani sabar dong, ini Mas lagi berusaha ngumpulin duit buat beli mobil yang kamu mau," kata Vano yang juga mulai sedikit kesal kepada Vani yang tak sabar, juga tak bisa sopan.


"Sabar sampai kapan Mas, aku sampai nggak keluar buat ngumpul sama temen-temen aku gara-gara belum beli mobil itu."


"Ya kamu sabar dulu dong, uang segitu butuh waktu ngumpulinnya,'' kata Vano tegas.


''Ngapain mesti nungguin Mas ngumpulin kalau bisa minta duitnya istri Mas, dia kan kaya raya nggak mungkin kalau dia nggak punya duit segitu,'' ucap Vani memaksa.


"Ya nggak bisa gitu juga dong Van. Masa iyya Mas minta duit Mia buat kamu beli mobil sih."

__ADS_1


"Ya kenapa enggak, dia kan istri Mas Vano jadi uang dia ya uang Mas Vano juga lah, apa salahnya."


"Tapi Mia nggak mau ngasih kalau buat beli mobil itu, pemborosan katanya."


"Ihhh Mbak Mia nih pelit banget sih sekarang."


"Ya makanya kamu sabar nanti Mas ngumpulin duit dulu."


"Nggak mau pokoknya aku mau sekarang!! Kalau Mas nggak mau mintain ke Mbak Mia biar aku yang minta ke dia." Tanpa aba-aba Vani berjalan ke arah kamar Mia hendak meminta uang untuk membeli mobil yang dia inginkan.


"Vani tunggu, Vani jangan," Panggil Vano agar adiknya tak ke kamar Mia karena kalau sampai dia ke sana sudah pasti mereka akan bertengkar.


Vani tak menggubris panggilan Vano dan terus berjalan menuju kamar kakak iparnya.


"Mbak Mia!!!! Jadi kakak ipar jangan pelit-pelit dong. Jangan suka nimbun harta, harta nggak di bawa mati, mending Mbak Mia bagi-bagi ke adik iparnya biar lebih bermanfaat," oceh Vani dengan begitu beraninya meneriaki Mia di depan kamarnya.


Vano mulai panik melihat tingkah adiknya yang sangat berani kepada Mia, padahal Vano tahu kalau akhir-akhir ini Mia mulai tak respek kepada keluarganya karena terlalu sering merongrong minta uang. Mia mulai terlihat jengah apa lagi soal mobil yang di minta oleh Vani, Mia dengan jelas mengatakan kalau dia tidak akan mau membelikannya untuk Vani.


"Mbak Mia!! harta Mbak Mia itu juga harta Mas Vano karena Mbak adalah istrinya Mas Vano jadi Mas Vano juga berhak atas harta Mbak Mia, sekarang pokoknya aku minta Mbak Mia transfer ke rekening aku karena hari ini aku mau beli mobilnya, titik." Vani terus berteriak karena Mia tak juga keluar kamar sejak tadi membuat Vani begitu geram.


Vano mencoba membujuk Vani agar menghentikan aksinya tapi Vani tak mau mendengarkan dan terus saja berteriak.


"MBAK MIA!!!!!!" teriak Vani kesal karena sejak tadi tak di gubris oleh Mia.


BYURRRRRR!!!


Satu ember air sukses menyiram kepalanya Vani dan membuatnya basah kuyup.


"Wuaaaa," teriak Vani sekaligus kaget karena mendapatkan serangan secara tiba-tiba.


Mia berdiri di depan pintu sembari memasang muka tak bersahabat ke arah Vani.


"Mbak Mia apa-apaan sih." Vani mencak-mencak kesal melihat seluruh tubuhnya basah kuyup.


"Itu hukuman untuk adik ipar yang kurang ajar seperti kamu," hardik Mia dengan menatap tajam ke arah Vani.


"Beraninya Mbak Mia nyirem aku pakai air," geram Vani dan menantang ke arah kakak iparnya.

__ADS_1


"Syukur-syukur kamu aku sirem nggak pakai air panas, kalau aku sirem pakai air panas tamat riwayat kamu," ucap Mia sarkas.


"Apa!!!! Mbak Mia mau menyiramku dengan air panas?" ulang Vani yang begitu emosi mendapatkan perlakuan kejam dari kakak iparnya.


"Iyya, sayangnya nggak ada air panas.


Setidaknya jika menggunakan air panas otak kamu yang kekanak-kanakan itu akan matang dan kamu nggak akan bersikap seperti sekarang."


"Mbak Mia nggak bisa semena-mena sama aku kayak gini. Mas Vano kenapa diem aja sih, harusnya Mas Vano ngajarin istri Mas Vano biar nggak jahat sama aku," rengek Mia ke Vano.


"Udah deh Van nggak usah ngerengek sama Mas Vano, mending sekarang kamu pulang dari pada kamu tetap di sini aku bisa lebih khilaf lagi."


"Mas Vano ... lihat Mbak Mia sangat keterlaluan."


"Kamu nggak boleh gitu dong sayang, Vani kan belum dewasa jangan terlalu keras sama dia, ya." Vano mencoba membujuk istrinya yang sedang di landa emosi.


"Karena kamu terlalu memanjakan dia makanya di usia dia yang seharusnya sudah dewasa tapi masih bersikap ke kanakan. Kalau kamu nggak bisa ngajarin adik kamu, aku sanggup kok ngajarin dia gimana caranya bersikap sopan kepada kakak iparnya."


"Nggak perlu, aku nggak butuh ajaran dari Mbak Mia, aku cuma butuh uang Mbak Mia, itu aja nggak perlu bertele-tele."


"Haloooo, kamu butuh uang? kerja, jangan jadi benalu," sarkas Mia.


"Mia!!!!" bentak Vano.


"Apa??? Kamu nggak terima aku ngucapin itu. Kalau kamu nggak terima kamu juga bisa keluar dari rumah ini." Amarah Mia begitu besar karena Vano membentaknya demi Vani yang selalu bersikap kurang ajar.


"Maksud kamu apa Mia, kenapa sekarang kamu jadi kasar begini?" Vano mencoba melembutkan nada suaranya agar Mia tak bertambah emosi.


"Itu semua karena adik kamu yang kurang ajar ini dan kamu berani membentakku. Memangnya dia siapa berani-beraninya mengatur dan meminta uang seenaknya saja, apa dia fikir dia yang selama ini mencari uang untukku lalu seenaknya memintanya."


Mia menutup pintu kamar dengan membantingnya begitu keras sampai Vano dan Vani terperanjat kaget di buatnya.


"Mas ... " rengek Vani


"Mending kamu pulang Van dari pada keadaannya tambah kacau."


"Ihhh Mas Vano jahat!!!" Vani pun pulang dengan perasaan yang sangat kesal. Tak dapat mobil, basah kuyup pula, sungguh hari yang sangat sial baginya.

__ADS_1


__ADS_2