Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Pindah Kamar


__ADS_3

"Ay kamu mau apa?" tanya Abi ketika melihat Aeril menyiapkan sesuatu di dapur.


"Mau menyiapkan makanan, katanya mau makan," ucap Aeril.


"Enggak!! Saya nggak mau makan," kata Abi.


"Tadi nyuruh saya cepat pulang katanya mau makan?"


"Sekarang saya udah nggak laper lagi?"


Aeril mendesah pelan mendengar perkataan Abi.


"Ay saya mau bicara, bisa?" Aeril membalasnya dengan anggukan kepala.


Abi tersenyum lalu meraih tangan Aeril tanpa sadar dan membawanya naik ke atas. Sepanjang perjalanan Aeril terus memandang tangannya yang di genggam Abi dan itu mulai menciptakan jantungnya kembali berdebar tak karuan.


Saat sampai di depan kamar Abi, Abi berhenti dan Aeril pun mencoba melepaskan tangannya.


"Maaf Ay saya nggak sadar kalau lagi gandeng tangan kamu." Abi menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Di kamar saya aja ya, nggak apa-apa kan?


Takutnya kalau di kamar Naira dia jadi bangun."


"Em ... "


"Tenang aja, kamu nggak akan saya apa-apain Ay, sampai kamu mengijinkannya," terang Abi dan Aeril pun bisa bernafas lega mendengarnya.


Saat Abi masuk Aeril pun mengikutinya dari belakang. Suasana menjadi canggung saat di kamar Abi. Dulu sebelum menikah Aeril tak pernah merasa canggung seperti ini tapi sekarang suasananya berbeda dan itu membuat Aeril salah tingkah saat Abi menatapnya intens.


"Kenapa Bapak natap saya seperti itu?" Tanya Aeril gugup karena takut Abi akan melakukan sesuatu seperti yang ada di dalam fikirannya, meski itu menjadi kewajibannya tapi sungguh Aeril merasa belum siap.


"Kenapa kamu gugup begitu Ay? saya nggak akan makan kamu sekarang kok, tenang aja," jawab Abi.


''Duduklah," pinta Abi sembari menepuk kasur tempat ia duduk.


"Em ... saya berdiri aja, nggak pa-pa kok."


Abi menarik tangan Aeril dan mendudukkannya di atas tempat tidur.


"Ay ... kamu takut sama saya?" tanya Abi. Aeril menggeleng pelan.


"Terus kenapa kamu nggak mau duduk sama saya?" Abi menatap mata Aeril, dengan cepat Aeril menundukkan pandangannya.


Abi tersenyum melihat Aeril yang salah tingkah. "Kamu gemesin banget kalau lagi kayak gini," goda Abi.


"Ehem." Aeril berdehem agar sedikit menghilangkan rasa groginya.


"Ay ... saya nggak suka kamu dekat-dekat Gilang. Kamu sekarang istri saya dan orang-orang di sini pun tau hal itu. Saya nggak mau ada yang menjelekkan kamu nantinya."


"Kemarin itu Mas Gilang sedikit memaksa, karena saya merasa tidak enak dan dia bilang akan ijin sama Bapak."


Abi seketika mendekatkan wajahnya ke wajah Aeril dan spontan saja Aeril memejamkan matanya karena kaget.


"Ay kamu nggak lupa kan kalau kamu sampai memanggil saya Bapak maka kamu akan saya berikan hukuman." Abi menyeringai.


"Maaf Pak," ucap Aeril sepontan.


CUP!!!

__ADS_1


Tanpa aba-aba Abi kembali mencium pipi Aeril dan kini Abi dapat melihat dengan jelas wajah Aeril yang seketika merona dan Abi sangat suka melihatnya.


Aeril membuka mata lalu berdiri dan kembali menunduk lalu buru-buru kabur dari kamar Abi karena merasa sangat malu.


Astaga ... kenapa bibir ini nggak bisa nyebut Mas Abi, kan jadinya dapat hukuman.


Aeril terus menggerutu saat berlari ke kamar Naira, sedangkan Abi tersenyum bahagia melihat tingkah Aeril.


Tunggu saja Ay aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya.


Malam hari Abi menyusul Aeril ke kamar Naira karena sudah lama menunggu tapi tak ada tanda-tanda Aeril akan datang ke kamarnya.


Saat membuka kamar, Aeril yang tengah menyusui Naira kelabakan mencari sesuatu untuk menutup *********** yang pasti jelas terlihat oleh Abi.


"Maaf Ay maaf." Abi segera menutup pintu lalu berdiri di depan pintu menunggu Aeril siap.


Lama Abi menunggu tapi Aeril belum juga memanggilnya. " Ay boleh masuk nggak?" tanya Abi menambah sedikit volume suaranya agar Aeril mampu mendengarnya.


Tak lama Aeril membuka pintu lalu mempersilahkan Abi masuk. Abi lalu duduk di sisi Naira yang sedang tertidur pulas.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aeril hati-hati.


"Katanya malam ini mau pindah kamar," kata Abi lalu tersenyum ke arah Aeril.


"Ya ampun ... " Aeril menepuk jidatnya karena lupa dengan permintaan Abi yang sudah ia iyyakan.


"Astaga Ay ... jangan bilang kamu lupa."


"Iyya memang lupa." Aeril tersenyum malu.


"Ya udah saya bantuin mindain barang yang mau kamu bawa ya."


"Ya udah saya gendong Naira kamu bawa barang-barang yang dia perluin malam ini ya."


"Iya Pa ... " Aeril seketika menutup mulutnya.


"Terusin aja Ay, aku akan dengan senang hati memberikan hukuman," kata Abi seraya tersenyum menyebalkan.


"Isss apaan sih?" Aeril memukul bahu Abi, sesuatu yang baru pertama kali ia lakukan.


"Ehh udah berani pukul-pukul ya sekarang," ucap Abi lagi.


Tanpa menjawab Aeril pun mengambil beberapa Barang Naira yang mungkin akan dia pakai malam ini lalu pergi mendahului Abi yang tengah tegelak karena melihat tingkah Aeril.


Setelah sampai di kamar Abi Aeril mengambil Naira dari gendongan Abi lalu meletakkan Naira di tengah-tengah kasur, rencananya Aeril akan tidur di pinggir saja karena masih merasa canggung dengan Abi.


"Ay, em ... Naira jangan taro di tengah ya," pinta Abi saat Aeril siap-siap untuk membaringkan tubuhnya.


"Ta-pi ... kenapa?" tanya Aeril sedikit gugup.


"Em ... saya takut nindih Naira, soalnya saya belum pernah tidur sama anak kecil, udah gitu saya kalau tidur sering gerak gitu, takutnya Naira ketindih Ay," papar Abi.


Aeril pun berfikir sejenak." Baiklah biar saya yang di tengah," ucap Aeril meski sebenarnya dia belum ingin, tapi demi keselamatan Naira ia rela melakukan apa pun.


"Yes!!!" Abi bersorak dalam hati karena rencananya berhasil.


Aeril lalu memindahkan Naira di sampingnya tapi memasang bantal guling di samping Naira agar Naira tidak terjatuh dari atas tempat tidur.


Baru saja Aeril merebahkan tubuhnya tiba-tiba ia bangun dan duduk saat Abi mematikan lampu kamar.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ay?" tanya Abi sedikit kaget.


"Sa-ya ... takut gelap," ucap Aeril.


"Oh, baiklah lampunya nggak akan saya matikan." Abi pun kembali menyalakan lampu kamar.


"Terima kasih."


"Iyya, ya udah tidur gih."


Aeril pun mengangguk lalu merebahkan tubuhnya dan Abi membantu Aeril memakaikannya selimut.


Di luar sedang hujan deras di sertai petir sesekali, membuat Aeril belum bisa tertidur meski sudah satu jam lebih memejamkan mata.


"Lampunya nggak mati Ay, kenapa masih belum tidur?" tanya Abi yang sejak tadi juga belum tertidur karena Aeril yang terus bergerak di sebelahnya.


"Atau mau saya bikin tidur," ucap Abi lagi sembari menyeringai.


Aeril melirik Abi kesal. "Isss, enggak!!!!" Aeril lalu menutup selimut seluruh tubuhnya hingga kepala lalu memejamkan matanya rapat-rapat, sedengkan Abi kembali tertawa melihat tingkah Aeril.


Sekitar lima belas menit tiba-tiba petir menggelegar dan itu membuat Aeril reflek membuka selimut yang menutupi kepalanya. Bersamaan dengan itu lampu tiba-tiba padam dan membuat suasana menjadi gelap gulita.


Aeril berbalik ke arah Abi lalu memeluknya erat. Aeril memang sangat takut dengan kegelapan dan itu akan membuat dia akan memeluk apa pun yang ada di sekitarnya.


Abi membalas dengan memeluk Aeril untuk menenangkannya. Wangi rambut Aeril membuat Abi ingin sekali menciumnya dan kini membangkitkan sesuatu di dalam sana yang membuat Abi menelan saliva dengan susah.


Lampu kini telah menyala tapi Aeril masih memeluk Abi dengan mata terpejam.


"Ay ... lampunya udah hidup," kata Abi dengan suara serak.


Aeril membuka matanya dan segera melepaskan pelukannya dari Abi lalu membuang muka karena merasa sangat malu.


"Maaf," ucap Aeril pelan.


"Iyya nggak pa-pa Ay, saya nggak masalah kamu mau peluk saya sampai pagi juga, cuma saya takut aja khilaf dan nggak bisa mengontrol diri, dan kamu pasti tau lah apa yang akan saya lakukan jika saya khilaf."


Aeril kembali membungkus dirinya dengan selimut, tak ingin mendengarkan ucapan Abi yang melantur.


Abi lalu melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang ramping Aeril membuat Aeril terus menggeliat ingin melepaskannya.


"Biarkan seperti ini Ay, saya udah janji nggak akan meminta hak saya jika kamu belum siap dan saya akan memegang janji saya, tapi ijinkan saya untuk meluk kamu malam ini," bisik Abi pada telinga Aeril, bahkan deru hangat nafasnya mampu Aeril rasakan dan itu membuat Aeril merinding seketika.


Aeril membiarkan Abi memeluknya malam ini dan akhirnya keduanya pun terlelap begitu cepat terhanyut ke dalam mimpi masing-masing.


*


*


*


*


Hujan sehari semalem bikin otak buntu karena bawaannya pingin bobo Syantik aja.


Maaf ya readers kalo up'nya nggak maksimal.


😘😘😘😘 buat para readersku yang selalu setia ngasih jempol dan komen-komen yang selalu bikin otor cemunguttt.


Bye,,,,, otor mau bobo lagi soalnya suasananya lagi dingin-dingin empuk 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2