Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Abi yang sensi


__ADS_3

"Pak sebenarnya kita mau kemana?"


"Iku saya ke kantor, kamu bisa bermain di sana sampai Vani pergi dari rumah."


"Memangnya kenapa Pak?" Aeril kembali bertanya.


"Ya ampun pakai nanya lagi. Memangnya kamu betah denger dia ngoceh nggak jelas di rumah, saya aja denger dia ngoceh sebentar sakit kepala," keluh Abi.


Aeril tak sengaja tersenyum karena mendengar keluhan Abi.


"Kenapa senyum-senyum, emang ada yang lucu?" tanya Abi kesal.


"Hemm, enggak kok Pak. Lagian menurut saya Bapak sama Mbak Vani itu serasi kok, Bapak tampan dan Mbak Vani cantik," ungkap Aeril.


"Cantik saja nggak cukup Ay, Vani itu masih kekanak-kanakan belum dewasa. Saya juga tahu kalau dia itu nggak tulus sayang sama Naira."


"Kok Bapak bisa tahu?"


"Ya tahu lah, lihat saja pas dia gendong Naira langsung nangis kan."


"Itu kan karena Naira belum terbiasa Pak, nanti kalau sudah terbiasa Naira nggak akan menangis lagi."


"Mungkin juga sih, tapi saya memang nggak kefikiran untuk menikah karena saya cuma mencintai Delia dan hati saya nggak mungkin jatuh cinta pada wanita lain. Lagi pula kalau alasan orang-orang adalah Naira membutuhkan kasih sayang seorang Ibu, saya rasa itu salah buktinya Naira bahagia kok bersama kita, Naira nggak akan kekurangan kasih sayang karena kita semua menyayanginya," ucap Abi panjang lebar.


"Iyya anda benar Pak."


Keduanya terdiam dan larut dalam fikiran masing-masing.


Setelah sampai di depan kantornya Abi mengajak Aeril untuk masuk ke dalam, awalnya Aeril menolak karena malu tapi akhirnya setuju.


"Kamu bisa main di sini Ay sama Naira dan kalau kamu mau memberi Asi pada Naira kamu bisa masuk ruangan yang di sebelah sana," tunjuk Abi pada sebuah pintu yang ada di dalam ruangannya.


"Iyya baik Pak."


Abi mulai duduk di kursinya dan membuka laptopnya, kini Abi mulai serius bergulat dengat laptopnya. Aeril yang melihat ke sekeliling ruangan tiba-tiba pandangannya terpaku kepada sosok Abi yang tengah serius dengan laptopnya.


Ada rasa kekaguman pada Pria dengan satu anak itu, bagaimana tidak, Abi terlahir nyaris sempurna dengan tubuh atletis, rahang yang kokoh, dan hidung yang sangat mancung. Selama beberapa bulan bekerja di rumahnya baru ini lah Aeril memperhatikan Abi, pantas saja Vani sampai tergila-gila.


Sekitar dua puluh menit pintu di ketuk dan Abi segera berdiri untuk membuka pintu. Abi mengeluarkan selembar uang untuk makanan yang ia pesan melalui aplikasi online.


"Sarapan dulu, tadi belum sarapan kan?" Suara Abi membuyarkan lamunan Aeril.


"Oh iyya Pak terima kasih," ucap Aeril gugup.

__ADS_1


"Jangan kebanyakan bengong, takut kesurupan," canda Abi sembari tersenyum dan memperlihatkan barisan giginya yang rapih.


Lagi-lagi Aeril terpesona tapi dengan cepat ia menepis segala fikiran yang tidak-tidak.


Aeril membuka bungkusan yang di berikan Abi lalu mengeluarkannya ternyata isinya bubur ayam.


Aeril mulai memakannya, Abi pun memakannya di mejanya sendiri karena akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


Pukul sepuluh pagi Naira sudah tertidur di pangkuan Aeril dan Abi memintanya untuk pindah ke ruangan khusus yang memang di sediakan ketika Abi tak sempat pulang ke rumah.


Karena tak tahu harus mengerjakan apa Aeril pun ikut tertidur di samping Naira. Abi membuka pintu dan tertegun saat melihat Aeril dan Naira yang tertidur begitu lelap.


Ingin membangunkan tapi kasihan, akhirnya Abi hanya menunggu mereka bangun sembari mengerjakan beberapa tugas kantor. Tak lama Aeril dan Naira keluar dari ruangan tempat mereka tidur dan melihat Abi sedang berbicara dengan seorang pria Yang tak Aeril kenal.


"Sudah bangun Ay?" tanya Abi saat Aeril hendak kembali masuk ke ruangannya.


"Iyya Pak."


"Ya udah tunggu sebentar ya ini sedikit lagi kerjaannya." Aeril hanya mengangguk lalu kembali masuk bersama Naira.


"Ehem ... " goda Gilang, sahabat Abi yang menjabat sebagai HRD di perusahaan Abi.


"Kenapa, sakit tenggorokan?"


"Nggak usah songong, kita memang teman tapi di kantor harus jaga sikap," kata Abi ketus.


"Hehh ya ampun Pak Abi yang terhormat kenapa galak banget, santai aja kan saya cuma mau tau. Sepertinya Ibu susu Naira udah bikin Bapak oleng."


"Memangnya truk, bisa oleng."


"Ada masalah kecil di rumah makanya Naira sama Aeril saya bawa, soalnya kalau di rumah kayak nggak tenang gitu," tambah Abi lagi.


Gilang mengernyit heran masih tak mengerti, lalu Abi menjelaskan panjang lebar dan barulah Gilang mengerti.


"Ya ampun saya kira kamu beneran ada sesuatu sama tuh cewek, uh lega rasanya."


"Kenapa bisa lega?" tanya Abi heran.


"Ya karena gue bisa deketin dia kapan saja, nggak ada masalah karena lo bukan siapa-siapanya."


"Gila lo!! Aeril nggak bakal suka pria macam lo yang buaya darat."


"Kita kaum pria wajar kali milih-milih karena kita masih mencari yang terbaik, kalau udah ketemu yang terbaik otomatis sifat buaya kita pasti hilang, bener nggak?"

__ADS_1


"Salah!!!!" ucap Abi tegas.


"Salah dari mananya?"


"Ya jelas salah lah Gilang. Wanita itu harusnya kita lindungi dan sayangi, bukan buat bahan coba-coba, ngerti nggak lo."


"Eh selama ini gue selalu ngelindungin wanita-wanita yang ada dalam pelukan gue kok, bahkan saking pedulinya gue selalu kasih mereka kehangatan." Gilang tersenyum menyebalkan.


"Mesum lo dasar!! Nih ambil berkasnya buruan lu keluar dari sini, eneg gue."


"Ih Pak Abi sensi banget sih. Tapi seriusan Bi kayaknya gue jatuh cinta pada pandangan pertama deh sama tuh cewek, sumpah."


"Buaya lo, keluar sana!!!" usir Abi.


"Huh dasar sensi lo, kelamaan nggak dapet jatah malam sih," ledek Gilang sembari berlari karena takut dapat amukan dari Abi.


"Dasar Buaya sengklek," umpat Abi.


Abi lalu membereskan semua berkas-berkas yang ada di hadapannya karena rencananya hari ini Abi hanya bekerja setengah hari saja karena akan mengajak Naira berbelanja baju.


Abi mengetuk ruangan yang di pakai Aeril bersama Naira.


Tak lama Aeril segera keluar bersama Naira yang tampaknya sudah segar kembali.


"Apa kita sudah akan pulang Pak?"


"Iyya tapi sebelum itu kita mampir dulu nyari beberapa pakaian untuk Naira karena sepertinya pakaiannya mulai mengecil, atau Nairanya Papa yang mulai membesar." Abi menggoda sembari mencubit hidung Naira karena merasa gemas akan pertumbuhan putrinya.


"Baik Pak." Aeril hanya mengangguk patuh lalu mengikuti Abi dari belakang.


Setelah sampai di pusat perbelanjaan Abi mengajak Aeril untuk mencari baju-baju untuk Naira. Abi yang tak terlalu paham dengan pakaian anak menyerahkan semuanya kepada Aeril.


Setelah mendapatkan baju-baju untuk Naira, kini Abi meminta Aeril untuk masuk ke dalam sebuah toko pakaian dan menyuruhnya membeli pakaian yang dia butuhkan.


"Nggak usah Pak, pakaian saya masih banyak kok," ucap Aeril malu karena merasa tak pantas dengan kebaikan majikannya.


"Udah sana, siniin Naira. Kamu pilih yang kamu suka ya, saya tunggu di luar."


"Tapi Pak."


Abi segera berlalu setelah memberikan sebuah kartu kepada Aeril.


Aeril masuk perlahan karena masih bingung akan membeli apa. Setelah memilih beberapa pakain dan akhirnya Aeril membeli tiga baju yang menurutnya nyaman dan bisa leluasa menyusui Naira.

__ADS_1


Setelah selesai membayar pakaiannya Aeril menghampiri Abi yang sudah berada di mobil bersama Naira. Tanpa Aeril sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikannya sejak tadi. Tatapan penuh kerinduan, tatapan penuh cinta dan tatapan penuh penyesalan.


__ADS_2