Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Memberi kesempatan untuk hubungan


__ADS_3

Aeril terus memegangi dadanya selama berjalan menuju kamar Naira, ia tak mengerti mengapa jantungnya berdebar tak karuan.


Astaga ada apa dengan jantungku? Aku harus memeriksakan jantungku ke Dokter spesialis jantung. Aku takut jantungku akan lepas kalau seperti ini terus.


Aeril mengambil pakaian di dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju karena seluruh pakaiannya yang basah. Setelah selesai Aeril melakukan tugas yang tadi sempat tertunda karena insiden di kamar Abi.


Aeril membuatkan Naira bubur dengan campuran beberapa sayuran dan ikan salmon. Setelah semuanya siap Aeril menyimpannya ke dalam lemari makanan dan bergegas untuk melihat Naira apakah sudah terbangun atau belum, tapi saat akan melewati meja makan Aeril melihat Abi yang sedang duduk di meja makan untuk sarapan tapi sangat kesulitan saat hendak menyuap sarapannya lantaran tangan kanannya yang masih terluka.


Tanpa pikir panjang Aeril menghampirinya lalu membantu Abi untuk sarapan.


Aeril mengambil alih piring yang ada di hadapan Abi.


"Nggak usah Ay, saya aja saya bisa kok. Kamu pasti lagi repot ngurusin Naira," ucap Abi berbasa-basi padahal sebenarnya dia memang menginginkannya.


"Nggak pa-pa kok Pak lagian Naira juga belum bangun jadi saya bantu Bapak dulu buat sarapan."


"Mas Ay bukan Ba-pak," kata Abi tapi dengan menekan kata Bapak.


Aeril tak menjawab hanya terus menyuapi Abi perlahan dan Abi sangat menikmati itu. Sekian lama baru ini ia merasakan di suapi seorang wanita.


"Aku rela terluka setiap hari biar di suapin terus sama kamu Ay." Aeril mendesah pelan mendengar perkataan Abi tapi tak menjawab apa pun perkataan Abi.


"Sudah selesai, saya mau melihat Naira dulu di kamar takutnya dia bangun dan menangis," ucap Aeril setelah selesai meyuapi Abi.


Lalu Aeril bergegas ke kamar Naira dan benar saja Naira sudah bangun dari tidurnya dan siap-siap untuk menangis karena tak melihat siapa pun di sekelilingnya.


"Sayang ... cup, cup jangan nangis ya di sini kan ada ..." Aeril menggantung kalimatnya bingung akan menyebut dirinya apa, Tante atau Mama.


"Mama," sambung Abi seraya tersenyum ke arah Aeril.


"Kamu sekarang adalah Mamanya Naira Ay, kenapa masih malu untuk menyebut dirimu Mama untuk Naira?"


"Em ... "


"Belum terbiasa juga, seperti panggilan Mas? manggil Mas Gilang aja mudah kenapa sama suami sendiri nggak mau?" Abi menggenggam tangan Aeril sudah lama Abi bersabar menunggu Aeril menerima semuanya tapi hari ini Abi ingin mengungkapkan semua yang ada di hatinya.

__ADS_1


"Ay mari kita memulai semuanya dari awal, meski kita menikah bukan atas kemauan kita tapi kita berdua sudah mengikrarkan janji di hadapan Allah dan itu sah di mata Allah." Aeril tertunduk mendengarkan kata-kata Abi yang memang betul adanya.


"Saya tahu mungkin kamu masih trauma dengan pernikahan yang sebelumnya tapi hidup harus tetap berlanjut Ay. Mari kita coba pelan-pelan aja, nggak perlu terburu-buru saya juga nggak akan maksa kamu untuk mencintai saya, saya cuma minta kamu untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk membuktikan kalau saya serius dengan hubungan ini."


Aeril mendongak menatap manik mata Abi dan melihat ada ketulusan di sana. Tak lama Aeril pun mengangguk perlahan dan itu membuat Abi tersenyum sangat bahagia, reflek Abi ingin memeluk Aeril tapi Aeril memundurkan tubuhnya kebelakang.


"Maaf Ay maaf, aku sangat bahagia karena kamu mau memberikan kesempatan pada hubungan kita. Aku janji akan berusaha untuk menjadi suami yang baik buat kamu kedepannya." Abi begitu bahagia, senyum di bibirnya terus mengembang saat ini.


Aeril tersenyum melihat tingkah Abi saat ini yang persis seperti anak kecil yang mendapatkan mainan Baru. Tapi senyum Aeril perlahan memudar kala mengingat pernikahannya dengan Vano dulu yang awalnya juga sangat manis tapi berakhir dengan kepahitan yang sampai sekarang belum hilang sepenuhnya dari hati Aeril.


"Ay kenapa murung begitu, tadi kamu sempat tersenyum, kenapa sekarang jadi sedih?" tanya Abi yang melihat mimik muka Aeril.


"Awalnya pernikahan saya juga sangat bahagia dan kehidupan kami juga begitu manis tapi seiring waktu berjalan semuanya berakhir kepahitan," ucap Aeril dengan suara bergetar. Abi menutup bibir Aeril dengan jari telunjuknya sembari menggelengkan kepalanya.


"Jangan menyebut hal buruk mulai sekarang Ay, aku nggak mau ada keburukan yang terjadi di dalam hubungan kita dan aku tidak akan memberikan celah untuk keburukan masuk ke dalam kehidupan kita. Aku bersumpah demi Allah Ay, apa pun yang terjadi aku akan terus menjaga hubungan kita agar tak goyah."


Aeril mencoba tersenyum meski tak bisa di pungkiri hatinya belum mampu untuk percaya kepada hubungan yang saat ini ia jalani.


"Ma ... " Naira merengek kepada Aeril dan itu membuat Aeril tersadar dari lamunannya.


Naira merentangakan tangannya kepada Aeril ingin segera di gendong, dengan cepat Aeril meraih tubuh Naira yang sekarang sudah semakin besar dan berat tapi itu semua membuat Aeril bahagia.


"Naira mau mandi apa makan dulu? Mandi dulu ya baru makan." Aeril mengajak Naira berbicara sesekali di ciumnya wajah cantik itu. Abi tersenyum melihat betapa Aeril menyayangi Naira.


Aeril melepas semua pakaian Naira lalu membawanya ke kamar mandi dan memandikannya. Naira sangat suka bermain air dan tak akan menangis jika Aeril menyiram kepalanya dengan air.


Setelah selesai mandi Aeril memakaikan Naira minyak telon agar tubuhnya terus hangat lalu memakaikan bedak dan terakhir memakaikannya baju.


"Naira cantik banget sih Nak, anak siapa sih ini?" Aeril begitu gemas melihat Naira yang kini sudah cantik dan wangi.


"Naira cantik sekali, pasti nurun dari Mama Delia, iyya kan?" Aeril melirik Abi yang sejak tadi terus memperhatikannya.


"Mirip Papanya dong, karena Papanya tampan makanya anaknya cantik, iyya kan sayang," sela Abi lalu mencubit gemas pipi Naira.


"Percaya diri sekali," ucap Aeril.

__ADS_1


"Memang benar Ay, karena Papanya tampan makanya anaknya cantik." Abi tersenyum manis ke arah Aeril dan di balas dengan mengerucutkan bibir.


Ihhhh pengen banget nyium. Dalam hati Abi


Abi begitu bahagia melihat Aeril yang kini sudah sedikit lebih ceria di banding sebelum-sebelumnya.


"Ay nanti malam tidur di kamar kita ya."


"Hah."


"Karena kita sudah sepakat untuk memberi kesempatan kepada hubungan kita maka kita awali dengan kamu pindah kamar ke kamar yang saya tempatin, mau kan Ay?" tanya Abi pelan.


"Em ... saya pikir-pikir dulu ya Pak," jawab Aeril bingung karena belum terfikir akan satu tempat tidur dengan Abi.


"Dan yang terutama ganti panggilan kamu untuk saya." Abi bersedekap pura-pura kesal karena Aeril belum juga berhenti memanggilnya Bapak.


"Di ganti apa?"


"Hem ... bisa panggil Mas, atau sayang, atau kanda juga boleh. Kalau kamu manggil saya kanda nanti kamu saya panggil dinda, gimana?"


Aeril geli sendiri mebayangkan jika harus memanggil kanda kepada Abi, tak pernah terbayangkan olehnya karena Aeril bukan tipe wanita lebay yang suka memberi nama panggilan kepada suami.


"Itu berlebihan sekali Pak, saya jadi geli sendiri membayangkannya," kata Aeril.


"Harus belajar Ay agar hubungan kita bisa semakin erat, gimana?"


"Em ... saya akan usahakan Pak."


CUP!!!


Abi mencium pipi Aeril dengan cepat lalu bangkit dan berlari menuju pintu, tapi sebelum keluar Abi berbalik menatap Aeril sembari tersenyum.


"Itu hukuman karena kamu masih manggil Pak. Besok-besok kalau belum berubah, hukumannya saya tambah." Abi lalu membuka pintu dan kabur dari kamar Naira.


Jangan di tanya bagaimana ekspresi Aeril saat ini, wajahnya sudah seperti kepiting rebus di tambah jantungnya yang berjumpalitan seolah ingin melompat keluar karena mendapat serangan tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2