Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Over dosis


__ADS_3

''Mama tidak akan bertanya apa yang sudah kamu lakukan kepada Aeril sehingga dia pergi dari rumah, tapi setelah ini kalau ada sesuatu yang terjadi maka kamu sendiri lah yang harus menyelesaikannya," ucap Bu Sukma kepada Abi. Terlihat raut kekecewaan dari wajah Bu Sukma.


Abi hanya diam, tak mampu menjawab apa yang di katakan Ibu Mertuanya. Awalnya Abi hanya ingin membuat perjanjian dengan Aeril perihal pernikahannya tapi entah mengapa saat Aeril masuk ke dalam kamarnya Abi kehilangan kendali dan mengatakan sesuatu yang sangat keterlaluan sehingga Aeril sakit hati.


Abi mendesah frustasi karena Naira mulai menangis dan tak mau diam semenjak Aeril meninggalkan rumah. Meski tak ada hubungan darah tapi Aeril dan Naira seolah memiliki ikatan batin dan bisa merasakan satu sama lain.


Sari terus mencoba menenangkan Naira bergantian dengan Abi tapi Naira tetap saja menangis.


"Carilah Neng Aeril Den, cuma Neng Aeril yang bisa menenangkannya," kata Bu Diyah saat melihat Naira tak bisa berhenti menangis.


Dengan ragu-ragu Abi menghubungi ponsel Aeril dan berharap Aeril akan mengangkatnya lalu pulang setelah mengetahui keadaan Naira. Panggilannya tersambung tapi tak di angkat oleh Aeril, malah Abi mendengar suara ponsel Aeril ada di kamarnya. Abi berjalan cepat ke arah kamar Aeril yang dulu di pakai Sari lalu membuka kamarnya. Setelah di cari ternyata ponsel itu ada di dalam lemari beserta pakaian yang dulu di beli oleh Abi, Aeril tak membawanya satu pun.


Abi duduk di atas tempat tidur Aeril menyesali sikapnya selama ini yang selalu kasar dan tak bisa menjaga mulutnya jika sedang marah.


Aku harus mencari Aeril sampai dapat, Naira sangat membutuhkannya.


Abi lalu keluar dari kamar Aeril untuk segera mencarinya. "Sari kamu jaga Naira saya mau mencari Aeril."


"Tapi Pak."


"Pokoknya saya percayakan Naira ke kamu, oke." Abi pun pergi meninggalkan Sari yang sangat kesal.


"Ihhh si Aeril ni, udah nggak ada aja masih nyusain. Sebbel!!" Sari begitu kesal dan berharap Abi tidak akan pernah menemukan Aeril agar dia leluasa mendekati Abi.


Abi sudah mencari kemana-mana sampai hampir larut malam tapi tak juga menemukan Aeril. Abi memeriksa ponselnya tapi tak melihat ada panggilan dari Sari, Abi sedikit lega itu artinya Sari mampu menenangkan Naira saat Abi keluar tadi.


Karena sudah sangat lelah akhirnya Abi memutuskan mencari Aeril besok lagi dan akan segera pulang kerumahnya.


Sesampainya di rumah Abi buru-buru membersihkan diri lalu segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur karena merasa sangat lelah. Abi melihat ponsel Aeril di atas nakas lalu mengambilnya, saat di buka foto Naira dan Aeril yang terpasang sebagai wallpaper di layar ponselnya, Abi seketika tersenyum.


Kapan dia mengambil gambarnya?


Abi memeriksa galery ponselnya ada banyak foto Naira di sana, dan tiba-tiba saja Abi merindukan Naira dan ingin melihatnya.

__ADS_1


Abi berjalan perlahan menuju kamar Naira dan saat Abi membuka kamarnya terlihat Sari sudah tertidur begitu pulas tapi tak ada Naira di samping Sari. Saat Abi mendekat ternyata Naira berada di Boks Bayi di samping tempat tidur.


Abi perlahahan mendekati Boks bayi ingin melihat Naira sebentar lalu kembali ke tempatnya untuk tidur. Saat sampai Abi membelalakkan matanya karena mulut Naira telah berbusa.


"NAIRA!!!!"


Abi segera menggendong Naira dan mencoba membangunkannya tapi Naira tak juga membuka matanya dan membuat Abi begitu panik saat ini.


"SARI, SARI." Setelah di panggil berkali kali barulah Sari bangun dari tidurnya. Saat Sari membuka mata Sari terperanjat kaget karena Abi sudah ada di hadapannya dengan raut wajah cemas luar biasa.


"I,,,iyya Pak, ada apa?" tanya Sari gelagapan.


"Ini Naira kenapa nggak mau bangun, terus mulutnya juga tadi berbusa, Naira kenapa Sari?" teriak Abi frustasi.


"Sa,,,,saya nggak tahu Pak, tadi pas sudah saya kasih susu Naira tidur pulas. Apa mungkin nggak cocok sama susunya Pak." Sari mencoba berkilah padahal di dalam hatinya dia begitu cemas.


Apa mungkin aku memberi obat tidurnya terlalu banyak sehingga jadi seperti ini. Dalam hati Sari.


''Cepat gendong Naira kita harus ke rumah sakit," perintah Abi.


Sari begitu merutuki kebodohannya karena telah memberikan Naira dosis yang lebih tinggi dari pada kemarin-kemarin. Sari begitu kesal karena Naira tak berhenti menangis dan tanpa sadar Sari memberikan dosis yang lebih tinggi.


Saat sudah berada di dalam mobil Abi menghubungi Ibu mertuanya dan memberi tahu soal keadaan Naira saat ini.


Saat mengetahuinya Bu Sukma begitu syok mendengar keadaan cucunya. Cepat-cepat Bu Sukma mematikan telfonnya dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang di beri tahukan Abi.


Setelah sampai Abi bergegas turun dan berlari meminta bantuan kepada Dokter agar anaknya segera di berikan pertolongan.


"Tolong anak saya Dokter saya tidak tahu apa yang terjadi kepadanya, saya mencoba membangunkannya sejak tadi tapi dia tak mau bangun, mulutnya juga berbusa." Abi menangis saat menjelaskan itu kepada Dokter karena fikiran-fikiran buruk sudah bermunculan di dalam kepalanya.


"Tolong Bapak tenang, saya akan menolong anak Bapak, Bapak bisa tunggu di luar dan saya akan menolong anak Bapak."


"Saya mohon Dokter tolong anak saya, saya akan berikan berapa pun yang Dokter mau. Saya nggak bisa hidup tanpa anak saya Dokter."

__ADS_1


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Pak, jadi tolong tenanglah dan banyak-banyak berdoa Pak." Setelah mengatakan itu Dokter pun membawa Naira masuk ke dalam ruang ICU.


"Abi!!" Bu Sukma datang bersama Suaminya dan menghampiri Abi yang terlihat sangat frustasi.


"Naira Ma, Naira nggak mau bangun dari tadi Ma, Abi nggak tahu apa yang terjadi saat Abi memeriksanya di kamar mulutnya sudah berbusa dan nggak mau bangun." Abi kembali menangis tak mampu menahan perasaan juga fikiran-fikiran buruk yang terus menghantuinya.


"Tenangkan dirimu Bi, banyak-banyak berdoa dan percayakan semuanya ke Dokter." Bu Sukma mencoba menenangkan Abi meski ia sendiri sangat cemas dengan keadaan cucunya.


"Pak saya permisi ke toilet dulu," ucap Sari dengan gemetar.


Bersamaan dengan itu Dokter pun keluar dari dari ruang ICU.


"Pak anak Bapak mengalami over dosis akibat obat tidur dan kami akan segera mengeluarkannya dari tubuh anak Bapak." Setelah mengatakan itu Dokter pun pergi.


"A,,,,apa!!! Obat tidur?" Abi seketika melihat ke arah Sari yang wajahnya sudah berubah pias.


"Saya nggak melakukan apa-apa Pak, sungguh, Ini pasti kerjaannya Aeril," ucap Sari gelagapan.


"Saya nggak menuduh kamu Sari, tapi saya peringatkan sebelum semuanya jelas, siapa yang melakukan itu kepada anak saya kamu nggak boleh kemana pun juga, mengerti!!"


"Baik Pak," Sari begitu cemas dan ingin mencoba kabur saat ini juga tapi Abi terus mengawasinya.


"Halo Indra, saya mau kamu cari tahu siapa yang memberikan obat tidur kepada Naira. Jebloskan dia ke dalam penjara siapa pun itu, mengerti!!" Teriak Abi.


Sari yang mendengar itu seketika ambruk tak sadarkan diri.


*


*


*


*

__ADS_1


Author lebih greget ke si Abi dari pada Sari.


Tinggalin jejak ya karena Author seneng bgt baca komenan para readers yang kece badai. Wajib komen pokoknya 😘😘😘


__ADS_2