
Pukul empat subuh Aeril terbangun dan merasakan tubuhnya tak bisa bergerak, setelah sadar seepenuhnya barulah ia tahu mengapa ia tak bisa bergerak, ternyata Abi masih memeluknya begitu erat seolah tak ingin melepaskan.
Aeril ingin segera bangun dan membersihkan diri tapi Abi menambah erat pelukannya sehingga Aeril kesusahan keluar dari pelukan Abi.
"Masih pagi Ay, nanti aja bangunnya," ucap Abi saat menyadari Aeril ingin melepaskan diri.
"Mau mandi ini udah mau subuh," kata Aeril.
"Nggak mau pokoknya mau begini terus," rengek Abi manja.
"Astaga ternyata Bapak bisa bertingkah manja," kekeh Aeril tapi lekas menutup mulutnya.
Tak menyangka jika seorang Abi yang jutek dan nyebelin ternyata bisa bersikap manja.
Tiba-tiba dengan sigap Abi sudah berada di atas Aeril dengan tatapan setajam elang yang tengah melihat mangsanya.
Aeril ingin memekik tapi sigap ia tahan karena takut membangunkan Naira.
"Ihhh turun," ucap Aeril sebal sembari melirik ke arah Naira. " Nanti Naira kebangun."
"Kalau kamu manggil Bapak lagi, aku bakalan hukum kamu lebih parah dari semalam."
Aeril melotot ke arah Abi mendengar ucapannya. Mengingat semalam betapa Abi tak membiarkannya untuk tertidur barang sekejap, Abi terus membuatnya terjaga tak perduli dengan raut wajah Aeril yang begitu kelelahan menghadapinya, hingga akhirnya setelah tiga kali permainan Aeril tumbang dan menyerah, barulah Abi melepaskannya, dan apa katanya? hukuman akan lebih berat dari semalam. Aeril menggelengkan kepala cepat tak bisa membayangkan yang lebih parah dari semalam.
"Kenapa, mau??" tanya Abi saat melihat ekspresi Aeril.
"Nggak!!!"
"Kalau gitu jangan panggil Bapak."
"Iyya."
"Iyya apa?" goda Abi.
"Iyya M,,,Mas."
"Mas apa?"
"Iyya Mas Abi sayang." Setelah mengatakan itu Aeril mendorong Abi ke samping lalu cepat-cepat turun untuk ke kamar mandi.
"Nakal ya sekarang." Abi pun tak kalah cepat menyusul Aeril ke kamar mandi dan sebelum Aeril menutup pintu kamar mandinya dengan rapat Abi menahannya dengan kaki.
"Jangan ... aku mau mandi," ucap Aeril gugup.
"Aku juga mau mandi." Abi mengerling nakal.
__ADS_1
"Gantian ... aku dulu," rengek Aeril manja.
Abi makin bersemangat ingin masuk mendengar rengekan Aeril yang manja.
"Mandi bareng aja yuk." Abi pun kini telah berhasil menerobos masuk dan mengunci kamar mandi agar Aeril tak bisa berkutik.
"Ihh Pak--" Aeril segera membekap mulutnya karena selalu keceplosan memanggil Pak kepada Abi.
"Aku akan menghukummu di sini," bisik Abi dan membuat Aeril bergetar.
"Apaan sih," ucap Aeril manja.
Tanpa aba-aba Abi menggendong Aeril di dalam kamar mandi.
"Ihh ... mau ngapain? Turunin Mas Abi ... "
Tak ingin salah ucap dan di beri hukuman yang lebih berat, Aeril begitu berhati-hati memanggil Abi.
"Ya Allah manisnya ... " Abi pun berjalan menuju bathtub. Aeril begitu malu dan menenggelamkan wajahnya ke dada Abi.
"Kenapa sayang ... ?" tanya Abi.
"Mau turun ... " rengek Aeril.
"Baiklah." Abi pun menurunkan Aeril di bathtub yang telah terisi penuh air dan bunga-bunga juga wewangian.
"Buka sayang ... kenapa harus malu." Abi melepaskan kedua tangan Aeril dari wajahnya dan menatapnya.
Abi menarik Aeril dan membawanya ke pangkuan dengan posisi Aeril membelakangi Abi, lalu Abi memeluknya dari belakang dengan erat.
"Terima kasih," ucap Abi di iringi kecupan-kecupan kecil di bahu mulus Aeril.
"Untuk?" tanya Aeril dengan suara serak karena kelakuan Abi benar-benar membuatnya hampir hilang kendali.
"Semuanya," jawab Abi singkat lalu menengadahkan kepala Istrinya dan meraup bibir manis itu dengan lembut. Abi dengan rakus mengulum bibir itu, lidahnya menerobos masuk ke dalam bibir mungil Aeril, bermain lama di sana merasakan manisnya semua yang ada di sana, tangannya pun tak diam saja, bergerilya hampir ke seluruh tubuh sang istri.
Aeril berkali-kali men***ah manja di buatnya, membuat Abi semakin liar di buatnya. Pagi Itu kamar mandi menjadi saksi penyatuan cinta dua manusia yang tengah bergelora seolah tak pernah puas meski sudah berkali-kali melakukannya.
Aeril dan Abi kini telah selesai mandi dan memakai handuk lalu keluar dari kamar mandi.
Di saat Aeril tengah memilih baju di dalam koper tiba-tiba Abi memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya.
"Mas ... " ucap Aeril kegelian.
"Iyya sayang ... " Tak berniat melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Mau pakai baju, nanti Naira keburu bangun," keluh Aeril tapi tak berusaha melepaskan pelukan sang suami karena menyadari jika sang suami tengah menunjukkan cintanya.
"Nggak usah pakai baju," kekeh Abi, membuat Aeril melotot sempurna.
"Nggak liat nih bekas ciuman, udah kayak sisik ikan. Kalau mau lagi, nggak kebayang ni badan udah kayak apa bentuknya." Aeril memanyunkan bibirnya.
"Abis kamu gemesin banget sayang, bikin mau lagi dan lagi." Abi terus memeluk Aeril.
"Ini udah mau pagi Mas, ampun deh." Aeril tepok jidat melihat tingkah suaminya.
"Baiklah istriku sayang ... " Abi mengecup kening Aeril singkat. " Terima kasih." Abi menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Aeril.
"Untuk?" tanya Aeril yang kini telah membalas pelukan suaminya.
"Semuanya. Karena udah mau jadi Ibu untuk Naira dan menjadi Istri yang sesungguhnya."
Aeril tak menjawab hanya menambah erat pelukannya ke Abi.
"Cepatlah pakai baju atau aku bisa khilaf dan kembali memakanmu," bisik Abi.
Aeril seketika melepaskan pelukannya dan mencubit pinggang Abi.
"Awwww, sakit tauuu." Abi mengusap-usap pinggangnya yang di cubit Aeril.
"Rasain, siapa suruh mesum." Aeril segera mengambil pakaian lalu setengah berlari ke arah kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Heii!!!! Mesum sama istri sendiri itu sah-sah saja," teriak Abi sembari mengekeh geli.
Abi dan Aeril menghabiskan waktunya di Villa dengan bahagia. Tak sia-sia Abi mengajak Aeril untuk liburan, karena akhirnya Aeril luluh dengan semua ketulusan yang Abi berikan.
Siang hari mereka habiskan untuk jalan-jalan menikmati suasana puncak dan malam hari akan mereka habiskan di atas ranjang dengan gairah yang memanas.
Aeril bahkan hampir kewalahan menghadapi hasrat Abi yang begitu tinggi dan seolah tak akan redup. Tapi sebisa mungkin Aeril menerimanya sebagai bentuk rasa cinta yang perlahan hadir di dalam hatinya dan tak ingin membuat sang suami kecewa.
"Terima kasih sayang." Abi mengecup bibir Aeril setelah sebelumnya membuat Aeril lelah tak berdaya. Aeril menyerah pada permainan yang ketiga dan membungkus tubuhnya dengan selimut lalu tertidur begitu pulas.
Abi tersenyum begitu bahagia menatap istrinya yang kini telah tertidur begitu pulas lalu ikut masuk ke dalam selimut bersama istrinya karena jika tak tidur maka bisa di pastikan akan kembali khilaf dan akan membuat sang istri cemberut karena kewalahan menghadapi Abi. Abi pun tak mengerti saat memandang Aeril jiwa lelakinya selalu saja tak mampu ia kendalikan, berbeda dengan pernikahannya dulu.
*
*
*
*
__ADS_1
Maafin otor yang gak ada ahlak ini ya karena menghilang lama. Banyak kesibukan di dunia nyata yang bikin nggak sempet nulis.
Sekali lagi maaf ya🙏🙏🙏🙏😘😘😘😘😘