
Karena tangannya belum bisa banyak bergerak Abi memutuskan untuk libur ke kantor untuk sehari dan hari ini dia sedang duduk santai di ruang tamu menikmati secangkir kopi dan biscuit.
Di saat tengah memeriksa email yang ada pada laptopnya tiba-tiba ponselnya berdering, dan saat di lihat ternyata Gilang. Abi berdecak kesal.
"Ni orang persis kayak hama, selalu muncul di saat yang tak di inginkan," gerutu Abi, lalu menerima panggilan dari Gilang.
"Hem ...," ucap Abi malas.
"Pak Abi lagi apa?" tanya Gilang basa-basi.
"Kepo banget, mau tau aja urusan orang," jawab Abi ketus.
"Ha,ha,ha!! Mending cari istri deh lo Bi biar emosi lo bisa mereda, soalnya kalau gue perhatiin lo sekarang jadi sensian kalau di ajak ngomong," cerocos Gilang dan masih terus tertawa.
"Bawel!!! Udah cepet bilang kenapa lo nelfon gue pagi-pagi? Kurang kerjaan," sungut Abi.
"Ini Bi gue mau minta ijin."
"Iyya gue ijinin sekalian lo pergi seminggu juga nggak pa-pa, kalau perlu ke luar negara sekalian biar nggak ganggu hidup gue lagi, pusing gue kalau tiap hari liat muka lo terus, bisa migrain gue," oceh Abi.
"Wahhh beneran Bi? Baik banget sih lo jadi sahabat, ngerti banget yang gue mau, pengen ***** deh rasanya," kelakar Gilang.
"Ih najis, amit-amit dah. Mending di ***** Kingkong sekalian dari pada sama kadal raksasa kayak lo," teriak Abi dan sontak membuat Gilang tertawa terbahak-bahak karenanya.
Naira yang melihat Gilang tertawa terbahak-bahak ikut tertawa karena merasa sangat lucu padahal Naira tidak tau apa yang sedang Gilang tertawai.
"Eh ... Naira ketawa ya, lucu ya sayang," goda Gilang dan menjawil pipi gembul Naira.
"Eh apa lo bilang? Naira?
Naira lagi ada sama lo ya?" tanya Abi panik.
Perasaan tadi Naira di sini sama Aeril, nggak mungkin kan si Gilang tiba-tiba nongol terus bawa mereka kabur.
Gilang kembali tertawa mendengar pertanyaan Abi dan Naira pun tertawa semakin keras.
"Iyya, itu Naira anak gue!! Sialan lo, kapan nyulik Naira lo?"
"Barusan aja Bi sama Aeril juga. Makanya kan tadi gue bilang gue mau minta ijin, eh ... lo bilang nggak pa-pa sekalian seminggu kalau perlu ke luar negara, seneng banget gue Bi punya temen kayak lo yang pengertian banget sama temen. Lope-lope deh buat lo Bi pokoknya.
Ya udah ya Bi, makasih atas ijinnya, bye." Gilang pun menutup panggilannya dan itu membuat Abi sangat kesal.
"Astaga bisa-bisanya dia bawa Aeril sama Naira, dasar kadal raksasa," umpat Abi kesal.
Abi pun mondar-mandir di ruang tamu mencari cara agar Aeril pulang dengan cepat.
Sementara itu di mobil Gilang.
__ADS_1
"Tuh kan Mas Gilang juga bilang apa, pasti boleh sama Abi karena Abi itu sahabatnya Mas Gilang pasti ngijinin kita keluar, malahan Abi nyuruh kita buat pergi seminggu," kekeh Gilang. Aeril hanya tersenyum mendengar perkataan Gilang.
"Aeril temenin Mas Gilang cari hadiah buat anak sepupunya Mas ya, minggu depan ada acara syukuran Bayi di rumahnya, Mas nggak tau mesti ngasih hadiah apa. Aeril mau bantuin Mas Gilang cari hadiahnya kan?" tanya Gilang, lebih tepatnya meminta Aeril untuk mengiyakan permintaannya.
"Iya Mas," jawab Aeril.
Setelah mengatakan itu Gilang kembali fokus menyetir dan Aeril pun hanya diam.
Di tengah keheningan itu tiba-tiba ponsel Aeril berdering di saku bajunya, dengan cepat Aeril melihat siapa yang telah menelfonnya.
"Papa Naira?"
Jantung Aeril tiba-tiba berdebar kencang hanya membaca namanya saja.
Dengan perasaan takut Aeril mengangkat panggilan dari Abi.
"Iyya," kata Aeril pelan.
"Kamu di mana Ay? Pergi kok nggak bilang-bilang, saya tu nyariin kamu tau nggak," oceh Abi di sebrang sana.
"Em ... tadi mas Gilang yang ngajak." Aeril melirik ke arah Gilang yang juga memandangnya.
"Siapa? Abi ya?" tanya Gilang.
Aeril hanya mengangguk pelan.
"Pulang sekarang juga Ay, saya mau makan tapi tangan saya kan lagi sakit jadi butuh bantuan kamu," ucap Abi dengan nada ketus.
"Bukannya Bapak tadi udah makan ya?" tanya Aeril heran karena Abi mengatakan ingin makan padahal baru saja habis makan.
"Iyya tapi saya mau makan lagi."
"Kok tumben?"
"Terserah saya dong, perut-perut saya terserah mau di kasih makan berapa kali aja.
Udah nggak usah kebanyakan protes, mending kamu pulang sekarang," titah Abi.
"Tapi Pak ... "
Belum selesai Aeril berbicara tapi ponselnya di rebut Gilang lalu gilang menon aktifkan ponsel Aeril.
"Mas Gilang HP saya kok di ambil."
"Jangan dengerin kata Abi, dia itu kekanak-kanakan. Kamu kan juga manusia biasa yang butuh refresing dan calon pendamping juga, kalau dia terus ngekang kamu gimana kamu bisa punya pasangan hidup."
"Maksudnya?" tanya Aeril tak mengerti dengan ucapan Gilang.
__ADS_1
"Aeril saya suka sama kamu, saya nggak bisa menunda lagi untuk mengatakannya karena saya takut kamu di sambar orang dan sepertinya Abi mulai suka sama kamu, meskipun dia sahabat saya tapi saya nggak mau keduluan sama Abi untuk menyatakan perasaan saya." Gilang menepikan mobilnya di pinggir jalan agar leluasa mengatakan perasaannya kepada Aeril.
"Tapi Mas ... "
"Saya tau Aeril kamu belum bisa menjawab sekarang karena kamu masih terikat kontrak kerja sama Abi sampai Naira tak membutuhkan kamu lagi, hanya saja saya tetap ingin mengatakannya sekarang agar saat kamu sudah habis kontrak kamu akan memikirkan permintaan saya yang ini.
Saya janji tidak akan meninggalkan kamu seperti mantan suami kamu, saya janji akan membahagiakan kamu Aeril."
"Tapi Mas saya nggak bisa."
"Saya tau kamu belum bisa sekarang, saya juga nggak maksa kok buat kamu jawab sekarang, saya cuma mau ngasih tau kamu aja tentang perasaan saya agar suatu saat kalau kamu sudah bebas kamu bisa mempertimbangkan permintaan saya."
Aeril hanya terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa. Gilang memang membawa keceriaan dalam hidupnya tapi di sisi lain dia sudah menikah dengan Abi dan tak mungkin menghianati hubungannya dengan Abi meski belum ada rasa cinta di hatinya untuk Abi.
"Aeril kita udah sampai," Gilang menyentuh bahu Aeril dan membuyarkan lamunannya.
"Oh udah sampai ya Mas? Kalau gitu saya masuk dulu," pamit Aeril.
"Aeril tunggu," panggil gilang saat Aeril hendak menurunkan kakinya.
"Saya harap kamu mau memberi saya kesempatan saat kamu sudah siap nanti," ucap Gilang dengan wajah memohon.
"Saya ... "
"Aeril ayo masuk, saya sangat lapar tau." Abi tiba-tiba datang sebelum Aeril menyelesaikan kalimatnya untuk Gilang.
"Iyya Pak. Mas Gilang saya masuk dulu ya," ucap Aeril kepada Gilang. Gilang hanya mengangguk dan tersenyum meski dalam hatinya sedikit kecewa karena belum mendapat kejelasan dari Aeril.
"Dan lo Kadal raksasa!!! Mending sekarang lo balik ke kantor, kerjaan lo banyak di sana malah asik jalan-jalan, gue pecat baru tau rasa lo," ucap Abi setelah Aeril masuk ke dalam rumah.
"Bawel lu Bi, tunggu ya gue bakal nyariin janda bohay buat lo biar lo nggak esmosian dan nggak ngurung si Aeril melulu," tukas Gilang
"Cerewet lo, dasar Kadal raksasa."
Setelah keduanya puas adu mulut sebagai seorang sahabat, Gilang pun meninggalkan rumah Abi.
*
*
*
*
Ada yang bilang bab 41 nggak bisa kebuka, bener gak sih readers?
Otor jdi kepikiran nih🤔🤔🤔🤔
__ADS_1