Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Melindungi suami


__ADS_3

"Abi nggak akan pernah nikah sama Vani titik," ucap Abi tegas.


"Kalau kamu nggak mau nikah sama Vani, kamu Papa pecat dari perusahaan." Pak Harun tak kalah tegasnya.


"Oke kalau memang itu yang Papa Mau, Abi siap mundur dari perusahaan. Abi lebih milih hidup miskin dari pada harus menghianati Aeril."


"Kamu keras kepala Abi," teriak Pak Harun.


Abi pun mengambil Naira dari Vani lalu meninggalkan mereka.


"Ma ... " rengek Vani.


"Sabar sayang." Bu Heni mengelus bahu putrinya.


"Iyya Van sabar, om akan membuat Abi menikahi kamu," kata Pak Harun menguatkan.


Sementara itu Aeril berjalan dengan langkah gontai menyusuri jalan yang entah dia pun bingung akan kemana. mengingat kejadian yang barusan terjadi membuatnya meremas dadanya karena merasa sesak, pandangannya pun mengabur karena air mata yang berdesak-desakan ingin keluar.


"Astaga kenapa air mata sialan ini seenaknya keluar. Memang apa yang akan aku tangisi?


Bukankah Aku menikah memang karena terpaksa tapi kenapa saat mendengar Papanya Pak Abi akan menikahkannya hatiku sakit," gerutu Aeril. Dia terus memukul dadanya agar sesak di dadanya sedikit berkurang.


Di saat yang sama seseorang menarik Aeril lalu mendekapnya erat, sangat erat bahkan Aeril tak mampu melepaskannya.


"Aeril Mas kangen," lirih suara itu tapi sukses membekukan tubuh Aeril seketika.


"Lepas!!!" Aeril meronta sekuat tenaga agar pelukan itu lepas dari tubuhnya, tapi tetap tidak bisa, entah pelukan itu yang semakin kuat atau dia yang semakin melemah.


"Maaf Aeril maaf, aku ... aku menyesal meninggalkan kamu waktu itu." Tubuh Vano pun bergetar karena tak mampu menahan tangisnya.


"Menyesal katamu padahal baru saja kamu begitu mesra dengan istrimu dan sekarang kamu datang ke sini mengatakan menyesal.


Dasar pria brengsek, lepaskan!!! Aku nggak sudi di peluk sama kamu, aku benci kamu." Aeril masih terus berusaha meronta ingin melepaskan diri tapi Vano sepertinya tak ingin melepaskannya.


BUGH!!!!


Satu pukulan mendarat di kepala Vano dan membuat ia lepas seketika dari tubuh Aeril.


"Berengsek, berani-beraninya kamu memeluk istriku," teriak Abi berang. Abi benar-benar marah saat melihat istrinya di peluk oleh Vano.


"Abi."


Belum sempat Vano berdiri Abi kembali memukulnya dengan brutal. Abi benar-benar sangat marah sampai-sampai ia tak mampu mengontrol emosinya.


Sekuat tenaga Vano menendang perut Abi dan membuat Abi terjungkal ke belakang. Kini Vano berdiri dengan kilatan emosi, menatap Abi tajam lalu membalas pukulan Abi, keduanya pun berkelahi dengan sengit tak di perdulikan jeritan Aeril yang sejak tadi meminta mereka menghentikan Aksinya.


Hidung dan bibir Abi pun kini mulai berdarah sama dengan Vano dan saat Vano ingin kembali menyerang Abi Aeril tiba-tiba memasang tubuhnya di hadapan Abi, alhasil Aeril lah yang terkena pukulan Vano.


"Ay!!!"

__ADS_1


"Aerillll!!!"


Teriak Abi dan Vano bersamaan saat melihat tubuh Aeril limbung dan Abi dengan cepat menangkap tubuhnya.


"Ay apa yang kamu lakukan," ucap Abi saat berhasil memeluk istrinya.


"Kamu akan membayar mahal untuk ini Vano. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Aeril maka aku akan menghancurkanmu sampai berkeping-keping." Abi pun menggendong tubuh Aeril dan membawanya ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


"Ay bertahanlah aku akan membawa kamu ke rumah sakit." Abi pun segera membawa mobilnya dengan kecepatan sedang karena Naira tengah tertidur dan Aeril pun pingsan.


****


"Tolong selamatkan istri saya Dokter, selamatkan dia, saya mohon," ucap Abi memelas.


"Iyya Pak Bapak tenang ya, Bapak sudah mengatakannya berulang kali, Bapak tidak perlu khawatir istri anda tidak apa-apa hanya memar."


"Duh ... si Bapak nih kayaknya bucin banget ya sama istrinya, sampai dia yang heboh." Dokter dan perawat yang merawat Aeril tertawa melihat tingkah Abi yang sangat panik.


"Nggak papa gimna Dok, lihat pipinya sampai bengkak gitu," ucap Abi masih sedikit panik.


"Iyya memang bengkak Pak tapi sudah kami beri obat pereda nyeri dan beberapa jam lagi pasti sudah kempes, jadi Bapak jangan khawatir." Setelah itu Dokter pun meninggalkan Abi dan Aeril berdua setelah sebelumnya Abi menitipkan Naira kepada Bu Diyah di rumah.


Abi pun menunggu Aeril siuman yang saat ini masih tertidur akibat pengaruh obat. Abi terus menggenggam tangan Aeril sampai akhirnya ia pun tertidur.


Sekitar jam satu malam Aeril terbangun dan melihat di sekelilingnya dan terkejut saat melihat Abi tertidur sembari menggenggam tangannya.


Di pandanginya Abi untuk beberapa saat, Aeril mengingat apa yang terjadi sebelumnya saat Vano hendak memukul Abi dia maju dan menghentikan Vano tapi naas malah dia yang terkena sampai jatuh pingsan.


Abi yang mendapat sentuhan di tangannya seketika membuka mata lalu berdiri.


"Ay kamu udah sadar, kamu nggak papa kan?


Apa ada yang sakit, saya panggil Dokter ya buat periksa kamu?" tanya Abi bertubi-tubi, membuat Aeril tersenyum melihat tingkah Abi yang begitu panik.


Aeril menahan tangan Abi yang hendak keluar memanggil Dokter.


"Saya nggak papa, jangan khawatir," ucap Aeril pelan.


"Bagai mana saya nggak khawatir Ay, kamu tadi pingsan dan nggak gerak sama sekali." Abi menyentuh pipi Aeril.


"Lihatlah ini sampai bengkak, apa sakit?" tanya Abi lagi. Aeril menggelengkan kepala pelan.


"Lagian kamu ngapain sih pake berdiri di depan saya, kamu kira kamu jagoan.


Jangan sekali-sekali berbuat itu lagi," omel Abi.


"Iyya Pak, saya nggak papa," ucap Aeril tapi langsung menutup mulutnya.


"Duh ... ya Allah pengen banget ngasih hukuman tapi kamunya lagi sakit, jadi khusus malam ini kamu saya bebasin dari hukuman," kata Abi gemas.

__ADS_1


Aeril memajukan bibirnya tapi tiba-tiba Abi memeluknya membawa kepala Aeril bersandar di perutnya.


"Jangan berbuat seperti itu lagi, saya paling nggak suka lihat kamu terluka. Saya bahkan sampai jadi bahan tertawaan oleh dokter karena saya yang heboh karena terlalu panik."


"Tenanglah saya nggak nggak papa.''


Untuk pertama kalinya Aeril merasa tenang di dalam pelukan seseorang. Bisakah malam ini waktu di hentikan agar aku tetap merasakan kenyamanan setelah sekiann lama tak merasakannya.


Ayolah Aeril, nasibmu akan berakhir sama seperti bersama Vano. Jangan biarkan bibit-bibit cinta itu tumbuh karena akhirnya kamu akan kembali terluka.


Aeril mencoba mengurai pelukan Abi tapi sepertinya Abi tak ingin melepaskannya.


"Biarkan seperti ini Ay, saya membutuhkannya," kata Abi lirih.


"Padahal saya yang pingsan, kenapa em ... Ba-pak yang butuh pelukan," kekeh Aeril meski pelan.


"Karena kamu nggak akan meluk saya, jadi mending saya aja yang meluk kamu."


"Issshh dasar."


Akhirnya Abi melepaskan pelukannya setelah cukup lama memeluk Aeril. Tak bisa di pungkiri malam ini Abi begitu bahagia karena Aeril sepertinya sudah mulai membuka hati untuknya.


"Loh ini belum di obatin, kayaknya lukanya lebih parah dari saya." Aeril menyentuh sudut bibir Abi yang masih bengkak.


"Yang mana Ay?" tanya Abi.


"Yang ini." Aeril kembali menunjuk luka Abi.


"Yang mana lagi?" Abi mengerjai Aeril agar Aeril terus menyentuh wajahnya.


"Ini." Aeril menyentuh semua bagian luka Abi yang lebam tapi Abi masih terus bertanya.


"Huh modus banget sih." Aeril menghentikan sentuhan tangannya.


"Suka soalnya, selama ini kan kamu bahkan seperti menjaga jarak dari saya. Saya rela terluka setiap hari demi bisa mendapatkan sentuhan dari tangan kamu."


Aeril terdiam.


Mungkin ini akan menjadi sentuhan terakhir sebelum kita benar-benar akan terpisah.


Aku nggak sanggup menjalin hubungan tanpa restu orang tua, lebih baik aku mundur sebelum bibit-bibit cinta yang ada di hati terus tumbuh dan pada akhirnya akan layu sebelum berkembang.


*


*


*


*

__ADS_1


Bagaimana para readers? Ini spesial buat para readers yang rajin gedor-gedor minta tambah up. Perjuangan bgt ini ngetiknya, ngumpet-ngumpet dari dua bocil yang suka gangguin kalo emmaknya pegang HP, tapi demi kalian aku bisa bisain deh, soalnya kalianlah penyemangatku ( Iuuuu Authornya gombal)


Eh biarin, Author emang punya hobi gombal, gobalin suami pastinya.😘😘😘😘😘


__ADS_2