
Pernikahan pun di gelar siang itu dengan seadanya sesuai perintah Abi. Awalnya Bu Sukma keberatan jika dengan sederhana tapi karena takut Abi berubah fikiran akhirnya Bu Sukma menyetujuinya.
"SAH!!" Ucap para saksi yang hanya beberapa di ikuti oleh para warga yang tadi pagi datang.
Pernikahan yang tak di inginkan oleh kedua mempelai tapi terpaksa di lakukan karena ketidak sengajaan.
"Semoga setelah ini Abi bisa merubah sikapnya ke kamu ya Aeril," ucap Bu Sukma saat berada di kamar Aeril. Bu Sukma begitu sedih saat tahu jika Aeril di pindahkan ke kamar Sari gara-gara insiden kemarin.
"Saya tidak mengharapkan apa-apa dari pernikahan ini Bu. Apa yang bisa di harapkan dari pernikahan yang tak kami inginkan. Pernikahan dengan di landasi cinta saja bisa hancur apa lagi pernikahan macam saya dan Pak Abi." Aeril mendesah panjang memikirkan nasibnya ke depan.
"Walaupun kalian tak menginginkan pernikahan ini tapi di sini Ibu lah yang paling bahagia karena dari awal Ibu kenal kamu Ibu sudah berharap kalau kamu lah yang nantinya akan menjadi Ibu sambung untuk Naira. Ternyata Allah mendengarkan doa Ibu dan akhirnya menyatukan kalian meski dengan cara yang tak di inginkan." Bu Sukma tersenyum sembari mengusap kepala Aeril.
"Aeril kamu di dalam?" Ketukan keras pada pintu membuat Aeril dan Bu Sukma terdiam dan saling tatap.
"Aeril!!" Suara Abi bertambah tinggi karena tak ada jawaban dari dalam.
"Iyya Pak." Aeril hendak bangun dan membuka pintu tapi di tahan oleh Bu Sukma.
"Duduklah biar Ibu yang membukanya."
Aeril mengangguk patuh dan membiarkan Bu Sukma yang membuka pintu.
"Kenapa sih Bi teriak-teriak," ucap Bu Sukma kesal setelah membuka pintu.
"Abi cari Aeril Ma."
"Aeril ada, tapi bisakah kamu bersikap lembut kepadanya? Dia sekarang istri kamu Abi."
Abi mendesah kesal mendengar perkataan Bu Sukma.
"Abi mau bicara sebentar sama Aeril," kata Abi sembari menatap Aeril tajam.
__ADS_1
"Baiklah, bicara saja."
"Aeril ikut saya ke kamar," titah Abi tanpa meminta persetujuan Aeril. Aeril hanya mengangguk patuh atas perintah Abi.
Aeril mulai di landa rasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Aeril merasa akan terjadi sesuatu yang akan kembali membuatnya menangis.
"Pergilah Nak, kamu tenang saja Ibu ada di sini. Kalau Abi berbuat kasar, Ibu yang akan memberikannya pelajaran, tenang saja pergilah.''
Meski sedikit ragu tapi akhirnya Aeril mengikuti Abi yang masuk ke kamarnya.
Dengan tubuh bergetar Aeril berusaha untuk tatap bersikap biasa saja.
Ketika masuk Abi sudah berdiri di dekat tempat tidurnya dengan bersedekap sembari menatap Aeril tajam. Aeril seketika menunduk dan mencengkram ujung bajunya dengan kuat.
"Tutup pintunya dan kemarilah," titah Abi tapi tak langsung di lakukan oleh Aeril karena merasa takut.
"Apa kamu tidak mendengarku?" tanya Abi sekali lagi."
"I,,,,iyya Pak." Setelah menutup pintu Aeril akhirnya berjalan perlahan mendekati Abi.
karena geram melihat Aeril yang berjalan lambat akhirnya Abi lah yang mendekati Aeril. Aeril seketika terdiam saat melihat Abi yang mulai mendekat.
Saat jarak mereka hanya tinggal satu langkah saja, Abi menghentikan langkahnya lalu kembali menatap Aeril dengan tajam seolah ingin mengulitinya.
"Apa kamu senang sekarang," tanya Abi pelan.
"Ma,,,,maksud Bapak." Aeril tak mengerti dengan pertanyaan Abi.
Abi semakin mendekatkan dirinya kepada Aeril dan itu membuat Aeril semakin takut.
"Munafik!!! Dari awal kamu memang menginginkan ini kan?" Kilatan api amarah jelas terlihat di mata Abi.
__ADS_1
Aeril hanya diam karena semakin tak mengerti dengan perkataan Abi.
"Sudah lama kan kamu merencanakan semua ini! Rencana untuk menikah dengan saya, iyya kan? Awalnya kamu menggunakan Naira, berpura-pura menyayangi Naira tapi kamu gagal karena kamu ketahuan tidak tulus menyayangi Naira, karena rencana kamu tidak berhasil maka kamu menciptakan sandiwara menjijikkan seperti ini."
"Cukup Pak!" Dada Aeril naik turun menahan sesak akibat tuduhan Abi yang bertubi-tubi.
Aeril sudah menyangka kajadian seperti ini akan terjadi karena dari awal Abi memang tak pernah menyukainya tapi di hina seperti ini sudah sangat keterlaluan bagi Aeril.
"Apa Bapak kira saya menginginkan pernikahan ini, apa Bapak kira saya menyukai Bapak? Pak Abi salah besar kalau menganggap saya sangat menginginkan pernikahan ini. Bapak kira siapa yang ingin menikah dengan pria yang pemarah seperti Bapak.
Kalau bukan karena Naira sedetik pun saya tidak akan bertahan di sini." Entah dapat keberanian dari mana Aeril mengucapkan begitu banyak kata yang memang benar adanya.
Aeril pun keluar dari kamar Abi dengan begitu terluka. "Sebenarnya untuk apa aku di sini? Aku memang bodoh karena masih saja bertahan di sini. Dan aku tidak akan menjadi orang yang bertambah bodoh karena terus tinggal di sini. Memangnya dia siapa yang selalu saja seenaknya memarahi dan memaki orang sesuka hati." Aeril terus menggerutu di sepanjang jalan menuju kamarnya.
"Aeril kamu kenapa menangis sayang, apa yang telah Abi lakukan?" tanya Bu Sukma panik karena melihat Aeril yang masuk ke kamarnya sambil menangis.
"Saya nggak apa-apa Bu saya cuma merasa tidak pantas berada di rumah ini. Harusnya saya tidak pernah tinggal di sini."
Aeril memasukkan baju-bajunya ke dalam tas yang dulu ia bawa saat awal ke rumah Abi.
"Loh Aeril kenapa kamu masukin baju kamu ke dalam tas, kamu mau kemana Nak?" Bu Sukma tambah panik saat melihat Aeril memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.
"Saya nggak bisa tinggal di rumah ini lagi Bu, kalau saya terus di sini saya takut membahayakan keadaan Naira. Lagi pula Naira sudah besar dia pasti bisa tanpa saya." Aeril sudah selesai membereskan pakaiannya dan akan segera meninggalkan kamarnya.
"Tunggu Nak kasihan Naira." Bu Sukma menahan Aeril untuk pergi. Baru saja ia berbahagia karena Aeril berhasil menjadi Ibu sambung untuk Naira tapi kebahagiaannya seketika sirna karena Aeril yang akan segera pergi dari rumah Abi.
"Maafkan saya Bu, saya benar-benar tidak bisa tinggal di sini lagi." Tak menghiraukan Bu Sukma Aeril akhirnya pergi karena tekatnya sudah bulat. Buat apa terus bertahan jika hanya menambah luka di hati.
''Neng tolong fikirkan sekali lagi, kasihan Naira dia nggak bisa hidup tanpa Neng Aeril." Bu Diyah juga mencoba membujuk Aeril agar tak pergi dari rumah Abi.
"Maafkan saya Bu, tolong jaga Naira dengan baik karena saya tidak bisa tinggal di sini lagi." Setelah mengatakan itu Aeril pun krluar dari rumah Abi. Meski ada rasa tak tega kepada Naira tapi Aeril tak bisa berbuat apa pun jika Abi yang tak menginginkannya tinggal di rumah itu.
__ADS_1
Jangan di tanya bagaimana perasaan Sari saat melihat kejadian itu? Ia melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil di lantai dua.
"Seharusnya kamu dari dulu memang pergi dari sini, karena kamu tidak pantas berada di sini," ucap Sari ketika melihat Aeril keluar dari gerbang rumah Abi.