
"Mama!!!!" pekik Vani saat sampai di rumahnya. Dia menghentak-hentakkan kakinya lalu melemparkan tasnya ke sembarang arah karena sangat kesal.
"Kenapa sih Van, datang-datang langsung teriak." Bu Heni keluar dari kamarnya setengah berlari karena mendengar pekikan putrinya.
"Ihhh Kak Abi tuh nyebelin banget Ma, masa dia lebih milih belain pembantu itu dari pada aku, kan nyebelin." Menghempaskan bokongnya lalu bersedekap dan memasang muka cemberut.
"Pembantu apa sih Van?" Tanya Bu Heni tak mengerti.
"Itu loh Ma Ibu susu buat Naira, mentang-mentang dia yang nyusuin ih laganya udah kaya nyonya padahal cuma babu," jawab Vani jengkel.
"Hah, ya ampun ... kirain Mama ada apa kamu sampai heboh gitu."
"Ihhh Mama nih nyepelein banget sih. Kak Abi tuh selalu belain dia, padahal udah aku suruh pecat tapi masih aja di pertahanin, kan gondok akunya." Vani mencebik kesal apa lagi mengingat kejadian tadi yang dia di usir Abi demi membela Aeril.
"Udah kamu tenang aja itu urusan Mama, lagi pula Om Harun kan udah setuju menjodohkan kamu dengan Aeril jadi kamu nggak usah marah-marah gitu. Nggak mungkin juga kan Abi menyukai pembantu, kalau pun dia sampai suka, Om Harun nggak akan setuju jadi kamu nggak perlu khawatir tentang babu itu.''
"Baiklah, pokoknya Mama harus bikin aku nikah sama Kak Abi aku nggak mau tahu."
"Iyya sayang ... kamu nggak usah cemberut gitu nanti cantiknya hilang." Bu Heni mencubit pipi Vani dengan gemas. Karena Vani memang anak bungsu dan juga anak perempuan, Bu Heni sangat memanjakan Vani, apa yang Vani inginkan pasti akan di usahakan oleh orang tuanya dan itu lah yang membuat Vani menjadi manja dan egois.
''Ma nanti malem kita ke rumah Kak Vano yuk, aku mau minta di beliin mobil model terbaru, istrinya Kak Vano kan kaya raya nggak mungkin kan dia nggak mau ngasih kalau adik iparnya minta."
"Boleh juga, nanti Mama temenin kamu ke sana." Menyetujui permintaan putrinya begitu saja.
Vani pun masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang sangat bahagia karena sudah membayangkan mobil model terbaru akan menjadi miliknya.
Saat malam tiba Bu Heni dan Vani sudah tiba di depan rumah Vano dan Mia. Suasananya tampak sepi karena memang Vano dan Mia hanya tinggal berdua dan satu asisten rumah tangga dan juga satu security.
Stelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat di depan pintu akhirnya pintu di buka oleh Art Mia. Vani dan Bu Heni melenggang masuk begitu santainya ke dalam rumah seperti merekalah pemilik rumahnya.
''Bik bikinin minum sama bawain cemilan ya," perintah Bu Heni seenaknya ke Art Mia.
"Baik Bu." Art itu pun kembali ke dapur untuk membuat minuman untuk Ibu mertua majikannya.
Mia yang sedang menonton TV sembari bermanja-manja kepada suaminya seketika menoleh saat mendengar suara Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Mama," ucap Mia pelan.
"Nggak usah bangun Nak kamu kan lagi hamil, jangan terlalu banyak gerak nanti kamu capek," kata Bu Heni menghentikan menantunya yang hendak berdiri.
"Mama sama Vani tumben ke sini, apa ada yang penting?" tanya Mia basa-basi. Sebenarnya Mia sudah bisa menebak apa yang membawa Ibu mertua dan adik iparnya datang ke rumah, mereka hanya akan datang kalau ingin meminta sesuatu.
"Nggak ada sayang, Mama cuma kangen aja sama calon cucu Mama karena udah lama nggak ke sini?" jawab Bu Heni yang juga cuma berbasa basi.
"Hem ... perasaan minggu lalu baru ke sini," gumam Mia pelan tapi masih bisa di dengar Bu Heni dan Vani.
"Langsung aja deh Mas, aku juga nggak suka berbasa-basi. Aku ke sini mau minta di beliin mobil sama Mas Vano, bisa kan?" Bertanya tapi matanya sibuk ke layar ponsel, seperti orang yang tak memiliki etika.
"Apa!!! Mobil?" Vano mengernyitkan dahi mendengar permintaan adik perempuannya.
"Iyya Mas, mobil. Kenapa keget gitu ekspresinya?"
"Mobil kamu kan masih bagus Van, baru juga beberapa bulan yang lalu beli masa iyya mau ganti,'' kata Vano heran.
"Mobil aku udah model lama Mas, aku malu kalau ketemu teman-teman suka di ledekin kalau mobilnya mobil jadul, kan malu."
"Ihhh tetap aja malu Mbak. Aku nggak mau tahu pokoknya aku mau beli mobil baru, titik."
"Iyya-iyya, emang mobil apa sih yang mau kamu beli?" tanya Vano yang memang sangat menyayangi adiknya. Apa lagi baru beberapa bulan ini ia bisa memenuhi semua permintaan adik semata wayangnya karena saat bersama Aeril Vano hanya memiliki gaji pas-pasan dan tak bisa memanjakan adiknya.
''Itu loh Kak mobil keluaran baru yang merk XX," kata Vani santai.
"Apa!!!" pekik Mia. Mendengar perkataan adik iparnya membuat Mia yang sedang bersandar pada bahu sofa seketika bangkit saking kagetnya dengan permintaan adik iparnya.
"Biasa aja kali Mbak, itu harganya ngak seberapa kok," ucap Vani santai.
"Nggak seberapa kamu bilang." Mia mulai geram.
"Mobil itu harganya hampir satu milyar, kamu bilang nggak seberapa. Apa kamu nggak mikir beli mobil yang seperti itu cuma menghambur-hamburkan uang saja," tambah Mia tak dapat mengendalikan emosi.
"Aku nggak minta sama Mbak Mia kok, aku mintanya sama Mas Vano, kenapa Mbak yang sewot." Vani benar-benar menguji kesabaran.
__ADS_1
"Oh jadi begitu, baiklah mintalah sama Masmu." Mia mencebik kesal.
Kamu kira Masmu punya uang sebanyak itu? Kalau dia nggak jadi suamiku dia nggak akan bisa memanjakan hidup kalian selama ini.
"Sabar sayang jangan emosi, kamu lagi hamil nggak baik buat kesehatan kamu sama calon anak kita." Vano mencoba membujuk istrinya lalu memintanya untuk duduk kembali agar lebih rileks.
Mia kembali duduk dan mrngatur nafasnya yang sempat tersengal karena emosi.
"Mending kamu pulang dulu deh Van nanti Mas fikirin lagi soal permintaan kamu, ya." Vano mencoba membujuk adiknya agar mau bersabar karena apa yang di mintanya sangat sulit di kabulkan. Kalau hanya sekedar jalan-jalan ke luar negri mungkin Vano masih sanggup tapi untuk harga mobil ini benar-benar menguras fikiran Vano sebagai seorang kakak.
"Aku nggak mau tahu ya Mas pokoknya aku mau beli mobil itu, titik." Mia pun bangkit lalu pergi begitu saja dengan tidak sopannya, membuat Mia mendelik kesal kepada suaminya.
"Kamu jangan pernah minta aku buat beliin dia mobil itu ya Mas karena itu nggak bakalan terjadi. Adik kamu itu udah kelewatan, dia kira nyari duit itu gampang seenak-enaknya aja minta mobil yang harganya selangit. Aku aja nggak beli mobil kayak gitu karena sayang uang, ehhh dia yang nggak kerja mintanya mobil kayak gitu, gila!!" Mia kembali mengoceh saat di kamar.
"Sabar sayang dia itu masih kecil belum dewasa, belum tahu yang baik sama yang enggak. Kamu tahu kan dia adikku satu-satunya, aku nggak bisa menolak semua permintaannya," kata Vano mecoba merayu istrinya.
"Ya udah kalau kamu punya uang kamu kasih aja," ucap Mia sinis.
Vano mengusap wajahnya kasar karena bingung. Gajinya tidak akan pernah cukup untuk membeli mobil keinginan adiknya. Mia lah yang selama ini memenuhi semua kebutuhan sosialita adik serta Ibunya tanpa protes. Tapi mendengar permintaan Vani yang ini, sudah di pastikan Mia tidak akan pernah mengabulkannya karena Mia menganggap Vani sudah benar-benar kelewatan memerasnya.
*
*
*
*
Selamat pagi, selamat beraktifitas
Sebelum mengerjakan pekerjaan rumah otor up dulu.
Jangan lupa like dan komen ya readers kece.
😘😘😘😘😘😘
__ADS_1