Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Tidur Di Kamar Naira


__ADS_3

[Pa Abi bukan Anak kecil lagi yang harus selalu di atur-atur. Abi udah dewasa dan Abi berhak untuk menentukan hidup Abi sendiri] Abi menolak dengan tegas permintaan Papanya yang memintanya untuk menikahi Vina.


[Bi kamu ni selalu aja keras kepala kalau di kasih tau. Anak kamu itu butuh seorang Ibu, dan Papa lihat Vina itu baik kok, apa lagi dia masih keluarga kita.]


[Abi nggak perduli Pa yang jelas Abi nggak akan menikah dengan siapa pun, titik.]


Abi memutuskan sambungan telfonnya padahal Papanya masih ingin berbicara.


Abi melempar ponselnya ke kasur lalu meremas kepalanya, merasa sangat frustasi dengan keinginan semua orang.


Bagaimana mungkin ia menikah dengan seseorang yang tak ia cintai apa lagi belum setahun kepergian Delia, Abi bahkan belum bisa dan mungkin tidak akan bisa melupakan Delia, bagaimana mungkin akan menikah.


Abi memasuki kamar Naira, terlihat di sana Aeril masih bermain dengan Naira padahan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Naira belum tidur Ay?"


"Eh Bapak, iyya Pak Naira belum mau tidur."


"Anak Papa kenapa belum tidur, hem?" Abi mencubit pelan hidung Naira sembari tersenyum.


"Kalau gitu saya permisi keluar dulu Pak." Aeril ijin untuk keluar karena merasa tak enak mengganggu Ayah dan anak yang mungkin masih ingin bercengkrama.


"Eh, eh mau kemana? Di sini aja saya juga nggak lama kok, tadi cuma mau mengucapkan selamat malam sama Naira tapi ternyata dia belum tidur."


"Tapi Pak saya takut ganggu."


"Enggak kok, kamu nggak ganggu sama sekali."


"Kamu bisa bikin kopi nggak Ay?" tanya Abi karena sama seperti Naira sepertinya Abi pun tsk bisa tidur dan Abi ingin meminum kopi.


"Bisa Pak, kalau gitu saya buatkan dulu ya Pak." Aeril pun meninggalkan Abi dan Naira untuk membuat kopi.


Setelah kopi buatannya jadi Aeril segera membawanya ke kamar Naira.


"Ini Pak." Aeril meletakkan kopi di atas nakas lalu Aeril mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Naira.


"Terima kasih Ay," ucap Abi lalu menyeruput kopi buatan Aeril.


Aeril masih merasa tak nyaman dengan panggilan Abi meski sudah sering mendengarnya dari mulut Abi.

__ADS_1


"Sama-sama Pak."


"Kopi kamu enak," ucap Abi jujur, karena Abi memang tidak suka berbohong demi menyenangkan hati seseorang, kalau menurut Abi itu baik maka akan di kataka baik tapi jika buruk dia akan mengatakan buruk.


Aeril hanya tersenyum samar mendengar pujian Abi.


"Kamu nggak ada rencana buat nikah lagi Ay?" pertanyaan Abi membuat Aeril mendongak ke arahnya.


"Maksud Bapak?"


"Ya maksud saya kamu memang nggak kefikiran buat nikah lagi, kamu nggak mungkin selamanya hidup sendiri, iyya kan."


"Saya lebih baik hidup sendiri Pak," ujar Aeril mantap.


"Kita satu fikiran Aeril, saya juga lebih memilih hidup berdua dengan Naira dari pada harus menikah lagi, tapi keluarga saya terus mendesak saya untuk menikah. Bagaimana saya bisa menikah lagi sedangkan saya cuma mencintai Delia," papar Abi panjang lebar, tak terasa dia tengah curhat kepada Aeril.


"Nyonya Delia sangat beruntung Pak karena Bapak sangat mencintainya. Beberapa orang ada yang tidak seberuntung Nyonya Delia yang begitu di cintai oleh suaminya, salah satunya saya." Aeril mengungkapkannya dengan raut sedih.


"Maaf Aeril saya tidak bermaksud membuka luka lama." Abi sedikit menyesal karena telah membahas pernikahan kepada Aeril, padahal Abi jelas tahu kisah hidup Aeril dari Bu Diyah.


"Nggak apa-apa Pak. Saya merasa sangat beruntung karena telah di pertemukan dengan Naira karena Naira mampu membuat saya sedikit melupakan kisah hidup saya yang pahit."


Naira pun tumben tengah malam tidak terbangun untuk menyusu sehingga Abi dan Aeril tak ada yang sadar sampai subuh tiba.


Sekitar jam stengah lima pagi Naira terbangun dan sudah merasa sangat lapar sehingga merengek dan membuat Aeril terbangun dari tidurnya.


Karena masih sangat mengantuk Aeril hanya mendekat ke arah Naira lalu membuka kancing bajunya lalu menyusuinya tanpa sadar jika Abi juga tertidur di samping Naira.


Sekitar setengah jam Abi pun terbangun dari dari tidurnya dan alangkah terkejutnya saat matanya tak sengaja melihat ke arah Aeril, sedangkan Aeril pun tak kalah terkejutnya ketika melihat seseorang yang ada di hadapannya.


"Wuaaaaaa!" Teriak keduanya bersamaan.


Abi langsung saja memalingkan wajahnya ke arah lain sedangkan Aeril langsung bangkit dari tidurnya dan membenarkan bajunya.


Naira yang mendengar teriakan Abi dan Aeril seketika menangis kencang karena merasa kaget. Aeril segera menggendong Naira agar ia berhenti menangis.


"Maa Ay, maaf." Setelah minta maaf Abi segera keluar dari kamar Naira dan menuju ke kamarnya.


Abi terus merutuki kebodohannya yang menginap di kamar Naira dan tak sengaja melihat lagi sesuatu yang tak seharusnya ia lihat, sialnya Aeril juga memergokinya.

__ADS_1


Apa yang akan ia lakukan jika nanti ia bertemu dengan Aeril, pasti akan merasa sangat canggung.


Setelah bersiap-siap Abi menuruni tangga dengan niat akan segera ke kantor tanpa sarapan dulu karena ingin menghindari Aeril.


"Loh Den Abi nggak sarapan dulu?" tanya Bu Diyah yang heran karena tak biasanya Abi melewatkan sarapan.


"Enggak Bu, nanti aja di kantor soalnya saya lagi buru-buru," jawab Abi lalu segera keluar dan menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya, ingin segera buru-buru kabur.


"Aneh banget sih Den Abi, biasanya nggak mau ngelewatin sarapan, kenapa sekarang nggak mau sarapan?" gumam Bu Diyah.


"Aeril sarapan dulu Neng, biyar anaira Ibu jagain."


"Iyya Bu nanti aja." Aeril tampak celingak celinguk seperti mencari sesuatu.


"Neng Aeril cari apa? kenapa celingak celinguk?" tanya Bu Diyah yang juga di bikin heran oleh Aeril.


"Oh enggak Bu, saya nggak cari siapa-siapa.


Em ... Pak Abi sudah berangkat Bu?" Aeril malah balik bertanya dengan ragu-ragu.


"Sudah Neng dari tadi, Ibu juga heran nggak biasanya Den Abi melewatkan sarapan tapi kok tumben tadi nggak mau, kayak buru-buru gitu."


"Oh gitu ya Bu, ya udah saya titip Naira ya Bu mau sarapan soalnya udah laper banget."


Karena mengetahui Abi tak ada akhirnya Aeril sarapan dengan perasaan lega.


Naira pun kini bersama dengan Bu Diyah dengan anteng dan tak rewel.


"Kamu sama Pak Abi kenapa tadi subuh? Aku denger sampai teriak-teriak gitu," tanya Sari ketus.


"Nggak usah mulai deh Mbak Sari, nggak usah ngerusak suasana sarapan. Aku tadi cuma kaget karena Pak Abi tidur di dekat Naira," jawab Aeril mencoba menjelaskan.


"Dasar gatel," umpat Sari.


Aeril masih mencoba untuk sabar dan melanjutkan makannya.


"Sok kecakepan di depan Pak Abi, dasar murahan." Kali ini Aeril tak mampu menahan emosinya karena ucapan Sari sudah benar-benar keterlaluan.


"Kamu kenapa sih Mbak Sari? Aku tuh nggak pernah godain Pak Abi dan aku sama sekali nggak tertarik dengan Pak Abi, jadi kalau Mbak Sari suka sama Pak Abi ya ambil aja, nggak usah nyinyir terus," tandas Aeril lalu pergi dari hadapan Sari dengan suasana hati yang sangat kesal.

__ADS_1


"Dasar munafik," gerutu Sari.


__ADS_2