
Setelah selesai sarapan Abi mengernyit heran saat melihat Aeril tengah mengobrol dengan seorang pria di taman. Karena penasaran Abi menghampirinya untuk memastikan siapa gerangan yang datang ke rumahnya pagi-pagi.
"Pagi pak Abi," sapa Gilang dengan npenuh percaya diri. Abi menggeleng melihat siapa tamunya di pagi ini.
"Kepagian!" sahut Abi malas.
"Eh ya ampun pak Abi pagi-pagi udah jutek aja, kayaknya sajennya kurang," ledek gilang.
"Nggak lucu. Ngapain lo pagi-pagi udah nyasar di sini? Nggak ada angin nggak ada hujan kok bisa ke sini lo, kesetanan apa?" cecar Abi.
"Astaga pak Abi bisa nggak tamunya di suruh masuk dulu, di sediain kopi gitu atau nggak sarapan, eh ... malah di kasih pertanyaan yang bertubi-tubi."
"Haduh, kayak nggak punya rumah aja minta sarapan di rumah orang."
"Rumah sih udah punya Pak cuma yang masakinnya yang belum ada," ucap Gilang sembari melirik Aeril.
"Cari pembantu lah biar ada yang masak, gitu aja kok repot," ucap Abi ketus.
"Kalau pembantu mah nggak bisa di ajak tidur bareng Bi."
"Ya udah cari istri, nggak usah pakai bertele-tele segala."
"Ini juga lagi usaha, makanya mohon dukungannya pak Abi ya, ya." Lagi-lagi Gilang melirik Aeril dengan senyum yang semanis mungkin.
"Nah bau-bau buaya nih kayaknya," ucap Abi.
"Enggak lah, kali ini mah serius Bi," bisik Gilang.
"Halah modus lo, ya udah sini masuk." Abi kemudian membawa Gilang masuk ke ruang tamunya.
"Asik ... nah gitu dong masa tamu di biarin berdiri di depan, kan pegel."
"Cerewet, siapa yang suruh ke sini."
"Ih Abi tega banget sih ngomong gitu." Gilang bergaya seolah merajuk.
__ADS_1
"Halah lebay, nih minum kopi biar otak lo segar." Abi menyodorkan kopi yang baru saja di buat Bu Diyah untuk Gilang.
"Kirain lo bakalan biarin gue kehausan, padahal kan jarang-jarang gue ke sini." Gilang menyeruput kopinya.
"Emang lo ke sini ada perlu apa? Lo itu kan hobi bangun siang, ke kantor aja suka telat. Nah kok sekarang bisa ke sini pagi-pagi?
Bangun jam berapa lo, atau jangan-jangan lo nggak tidur ampe subuh?"
"Lo bener banget Bi, gue nggak bisa tidur semaleman gara-gara mikirin Aeril. Dia bisa jadi penyemangat gue Bi, belum kenalan aja gue udah bisa ke kantor pagi-pagi apa lagi kalau gue sampai nikah sama dia, gue jamin perusahaan lo gue bikin makmur Bi, suer deh."
"Modus loh!! Yang harus lo tau ya, dia itu Ibu susunya Naira dan gue nggak akan ngelepasin dia sebelum Naira umur dua tahun, ngerti lo," ucap Abi tegas.
"Parah banget lo Bi, cewek secantik dia mau di penjara buat ngasuh anak lo, atau jangan-jangan lo juga suka lagi sama dia?" goda Gilang dan itu membuat Abi melemparnya dengan bantal sofa.
"Gila lo! udah ayok buruan kita berangkat, makin lama lo di sini makin ngawur." Abi mengambil tas kerjanya lalu siap-siap berangkat ke kantor.
"Tega banget lo Bi, kopi gue aja belum abis, udah gitu gue juga belum sempet ngobrol serius sama Aeril."
"Bodo amat." Abi berlalu dari hadapan Gilang.
"Tunggu Bi, ya ampun ni orang nggak bisa ngeliat temennya seneng." Gilang menyusul di belakang Abi karena takut tertinggal.
"Ah Abi padahal gue masih mau mandangin bidadari gue juga, jahat lo."
"Bodo," umpat Abi.
Keduanya memasuki mobil Abi lalu mobil pun melaju perlahan membelah jalanan yang telah di padati kendaraan. Meski masih pagi jalanan kota metro politan ini sudah di penuhi kendaraan yang berlalu lalang dan saat lampu merah suara klakson akan saling bersahut-sahutan.
Mobil Abi pun telah sampai di depan gedung kantornya lalu memarkirkannya.
Gilang pun turun setelah Abi selesai memarkirkan mobilnya. Keduanya terpisah saat sampai di lobi kantor dan masuk ke ruangan masing-masing.
Saat di kantor entah mengapa Abi terus memikirkan Gilang yang sedang gencar mendekati Aeril. Entah mengapa ada rasa sedikit tak rela di dalam hatinya padahal Abi jelas tahu Aeril cuma Ibu susu sementara untuk Naira dan akan pergi saat Aeril sudah menemukan hidupnya yang baru.
Tapi bagai mana jika Naira ketergantungan pada Aeril dan tak ingin melepasnya, apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1
"Pak Abi, halooo," sapa Gilang setengah berteriak.
"Apaan sih lo, selalu aja datang di saat nggak lagi butuhin," ucap Abi kesal.
"Lo emang nggak butuh gue tapi berkas-berkas ini butuh tangan ajaib lo Pak Abi," balas Gilang dan langsung duduk di kursi depan Abi.
"Emang Bapak peri ajaib?"
"Lo kenapa sih Bi akhir-akhir ini banyak melamun kalau gue perhatiin. Lihat nih kerutan di bawah mata lo udah berlipet-lipet," ledek gilang.
"Emang gue tante-tante yang takut sama kerutan," balas Abi.
"Ya lagian Lo itu melamun ... aja, padahal tadi gue udah panggil-panggil tapi nggak denger, coba kalau gue nggak teriak pasti lo nggak bakal denger."
"Benarkah akhir-akhir ini aku sering melamun?" tanya Abi dalam hati.
"Woyyy! tuh kan ngelamun lagi." Gilang mengibaskan tangannya di depan Abi karena sahabatnya itu kembali melamun.
"Apaan sih lo! Udah siniin berkasnya gue tanda tangan biar lo cepet pergi dari muka bumi ini," ucap Abi kesal.
"Ihhh Abi tega banget, kalau gue mati gue jamin orang pertama yang gue hantuin adalah lo. Tau kenapa? karena gue belum sempet nikah sama bidadari pujaan gue eh ... gue udah mati duluan gara-gara sumpah lo." Gilang terus mengoceh tapi Abi tak memperdulikannya karena tengah sibuk memeriksa berkas yang di bawa Gilang.
"Eh ngomong-ngomong soal bidadari gue, dia lagi ngapain ya sekarang? Duh udah kangen aja. Bi minta nomer ponselnya dong, gue kangen nih pingin ngobrol sama bidadari pujaan hati gue,"
"Lebbay lo, nih udah gue tanda tanganin semua. Sekarang enyah lo dari hadapan gue, bosen gue tiap hari ketemu lo terus," usir Abi.
"Iyya gue pergi tapi bagi nomer ponsel dia dulu, gue nggak bakal bisa tenang sebelum denger suara dia Bi," rengek Gilang, persis anak kecil minta jajan.
"Nggak punya," jawab Abi singkat.
"Bohong banget lo Bi, masa iyya dia nggak punya ponsel. Jangan-jangan lo emang suka ya sama dia makanya lo nggak mau kasih nomer ponselnya dia," cerocos Gilang tanpa henti dan membuat kepala Abi tambah pusing.
"Berisik banget lo ya, kalau gue bilang nggak ada ya nggak ada, maksa banget sih," dengus Abi kesal.
"Ya udah kalau lo emang nggak mau ngasih, besok gue ke rumah lo lagi terus minta sendiri sama bidadari pujaan hati gue." Setelah mengatakan itu Gilang pun buru-buru keluar dari pintu dengan di susul lemparan pulpen yang untungnya tak mengenai Gilang.
__ADS_1
"Dasar pria menyebalkan, hobi banget maksa.
Apa dia setiap hari akan ke rumah untuk tebar pesona kepada Aeril? Bisa eneg lama-lama kalau setiap hari ngeliat muka dia," gerutu Abi.