Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
menyusui Naira


__ADS_3

Tepat pukul sembilan malam Abi tiba di depan kontrakan Aeril setelah sebelumnya berputar-putar untuk menanyakan alamat yang di maksud.


Tok tok tok


Abi mengetuk pintu di saat Aeril sudah siap-siap untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aeril terdiam sejenak untuk memperjelas pendengarannya.


Siapa yang bertamu malam-malam begini?


Apa Bu Diyah?


Karena tak juga di bukakan pintu, Abi kembali mengetuk pintu dengan ritme yang lebih cepat karena sudah merasa kesal dan tidak sabar.


Aeril mengintip dari jendela untuk memastikan siapa yang datang di saat malam seperti ini.


Aeril mengernyit heran saat melihat wajah seseorang yang sedang berdiri di depan pintunya.


Bukannya itu pria yang tadi siang, ada perlu apa dia kesini? Atau jangan-jangan dia mau balas dendam atas kejadian tadi siang.


Dengan ragu-ragu Aeril membuka pintu rumahnya.


''A,,,,ada perlu apa ya Pak datang kemari?


Kalau tentang kejadian tadi siang saya benar-benar minta maaf Pak," ucap Aeril ketakutan.


''Ikut saya sekarang." Abi mencengkram tangan Aeril hendak membawanya.


''Tapi kita mau kemana Pak, ini sudah malam.''


''Nggak usah banyak tanya, kalau kamu mau selamat cepat ikut saya tanpa membuat keributan."


''Tapi Pak tolong jelaskan dulu Bapak mau membawa saya kemana? Kita nggak saling kenal, saya nggak mungkin ikut sama orang yang saya tidak kenal."


''Kalau kamu tidak menuruti saya malam ini, saya pastikan besok kamu akan langsung di pecat dari tempat kamu bekerja,'' ancam Abi.


"Ta,,,pi."


''Saya bukan tipe pria mesum yang akan merusak kehormatan seorang wanita. Kalau tidak terpaksa saya juga tidak akan datang ke tempat Wanita yang nggak becus seperti kamu."


''Apa maksud Bapak bicara seperti itu?''


Tanpa menjawab pertanyaan Aeril Abi membawanya masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan tatapan protes Aeril.


''Pakai sabuk pengamannya kalau kamu nggak mau celaka."


Aeril cepat-cepat memasang sabuk pengaman karena takut apa yang di katakan oleh Abi terjadi.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Aeril tak hentinya berdoa agar seseorang yang di sampingnya tak berbuat jahat.


Sedangkan Abi menatap lurus ke jalanan dan serius menyetir. Abi sangat khawatir dengan Naira karena sudah sejak tadi ia tinggalkan.


Tak sampai satu jam Abi pun sampai di halaman rumah sakit dan setelah memarkirkan mobilnya, Abi pun bergegas turun.


''Kamu bukan tuan Putri yang harus saya layani kan,'' ucap Abi ketus.


Aeril segera turun karena tatapan Abi sudah sangat menyeramkan.'


''Ikut aku," perintah Abi setelah Aeril turun.


''Nggak usah banyak bertanya, cukup ikut saja di belakangku. Jangan coba-coba untuk kabur karena saya pastikan kamu akan menyesal kalau sampai melakukannya,'' ucap Abi lagi.


''Baik Pak.'' Aeril lalu mengikuti langkah Abi menuju ruangan dimana Anaknya di rawat.


''Abi kamu dari mana saja Nak, Naira sudah sangat lemah karena sejak tadi menangis.'' Bu sukma menangis ketika Abi baru saja sampai di ruangan itu.


''Maaf Ma, tadi Abi mencari alamat Wanita yang Mama maksud.'' Abi menggeser tubuhnya agar Aeril terlihat oleh Ibu mertuanya.


''Tolong cucu Ibu Nak, dia sangat menderita


sejak tadi dia terus menangis, kami semua mencoba memberinya susu tapi selalu di tolak."


Tanpa berfikir panjang Aeril menghampiri Bayi mungil itu lalu menggendongnya, menatapnya penuh kasih sayang. Tak terasa Bulir bening itu jatuh begitu saja di mata indah Aeril.


''Tapi Bu apa dia mau?'' tanya Aeril ragu.


''Coba saja Nak mudah-mudahan cocok.'' Bu Sukma meyakinkan Aeril.


Aeril membawa Naira sedikit menjauh dan membelakangi orang-orang yang ada di ruangan itu. Perlahan-lahan Aeril membuka kancing bajunya sementara tangan yang satunya masih menggendong sang Bayi.


''Ma aku sebenarnya nggak yakin sama dia,'' bisik Abi.


''Jangan bicara seperti itu Bi, kita harus positif tingking."


Dengan tangan bergetar Aeril mencoba menyusui bayi yang ada di dalam gendongannya. Kebetulan sejak tadi memang Aeril merasa sangat tidak nyaman dengan payu daranya yang bengkak dan sakit.


Bu Sukma menghampiri Aeril dan melihat cucunya menghisap secara perlahan tapi srmakin lama semakin kuat seolah kekuatan Naira kembali. Bu Sukma merasa sangat bahagia karena melihat cucunya mulai ada tenaga.


Setelah hampir satu jam, Aeril memindahkan Naira ke sebelah kiri agar Naira menghisap yang sebelah kiri. Awalnya Naira tak ingin melepasnya tapi dengan di bantu oleh Bu Sukma akhirnya Naira mau di pindahkan meski Naira sempat menangis.


''Cucu nenek.'' Bu Sukma membelai kepala Naira karena merasa sangat bahagia. Sejak kelahirannya baru inilah Naira tertidur begitu tenang.


''Terima kasih Nak karena kamu sudah menolong Naira, Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada." Bu Sukma menggenggam jemari Aeril.

__ADS_1


Setelah di rasa Naira sudah cukup menyusu, Aeril memindahkan bayi cantik itu ke tempat tidurnya dengan sangat hati-hati.


Aeril terus memandanginya dan sesekali mengusap ujung matanya yang basah.


''Ibu tahu kamu pasti sedang mengingat anakmu saat ini. Kamu boleh mengganggap Naira seperti putri kamu sendiri Nak.''


''Naira sangat beruntung Bu karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya."


''Saya harus segera pulang Bu, besok saya harus bekerja,'' ucap Aeril saat melihat jam dinding yang ada di dalam ruangan.


''Tapi Nak .. ''


''Abi!'' Bu Sukma memberi kode kepada Abi agar mencegah kepergian Aeril.


''Saya permisi Bu.'' Aeril pun berlalu.


''Abiiiii, kenapa di biarin pergi?''


''Terus apa yang harus Abi lakukan?''


''Ya kejar lah Abi ... masa gitu aja nggak tahu sih.''


Abi menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung. Ingin mengejar tapi merasa gengsi sebab sudah sempat bersikap ketus kepada Aeril.


''Cepetan Bi ... Ya ampun ini anak. Kalau Naira nangis lagi gimana coba?''


''Baiklah Ma,'' ucap Abi lesu lalu bergegas mencari Aeril.


Abi menyusuri lorong rumah sakit tapi tak menemukan Aeril. Abi lalu turun ke lobi rumah sakit tapi tak juga menemukan Aeril.


Di mana sih Wanita itu? menyusahkan orang saja. Omel Abi dalam hati.


Tak ada pilihan lain Abi segera menaiki mobilnya untuk mencari Aeril. Setelah keluar dari area rumah sakit Abi melihat di halte dekat rumah sakit Aeril sedang berdiri sembari bersedekap.


''Apa yang kamu lakukan di situ?


Masuklah!'' Perintah Abi.


"Tidak Pak terima kasih, saya bisa pulang sendiri,'' ucap Aeril kesal karena Abi tidak pernah bersikap lembut, selalu saja ketus.


''Di tengah malam seperti ini tidak akan ada lagi kendaraan yang lewat di sekitar sini.'' Abi mencoba memelankan suaranya agar Aeril setuju ikut dengannya, tapi Aeril masih bergeming lantaran kesal karena beberapa kali pertemuan dengan Abi yang berujung kekesalan.


''Baiklah kalau kamu tak mau ikut ya tak masalah tapi jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu denganmu di sini dan tak ada yang menolongmu.'' Abi berpura-pura akan pergi.


''Ba,,,baiklah aku akan ikut.'' Aeril membuka pintu belakang Abi lalu segera duduk.

__ADS_1


Abi mengangkat sudut bibirnya sedikit karena akhirnya Aeril menuruti keinginannya.


__ADS_2