Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
Menolak Perjodohan


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin Abi melarang tegas Sari untuk mendekati Naira, hanya Aeril yang harus mengurus Naira dua puluh empat jam sedangkan Sari bertugas membereskan kamar Naira juga segala keperluannya.


Sekarang Naira sudah mempunyai kamar Baru. Kamar bercat putih dengan aksen pink di tambah dengan pernak pernik berwarna pink membuat Aeril tak perlu bolak balik ke kamar Abi.


Siang itu Aeril tengah bermain dengan Naira di kamar, Bayi kecil itu terlihat sangat bahagia saat bersama Aeril, terlihat dari bibirnya yang terus merekah.


''Aeril," panggil Bu Sukma. Bu Sukma datang sebulan sekali untuk menengok sang cucu karena merasa Aeril mampu untuk mengurus Naira akhirnya Bu Sukma pulang ke rumahnya karena masih memiliki keluarga sendiri yang membutuhkannya.


"Ibu ... ? Kapan datang Bu?" Aeril beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Bu Sukma lalu menciumnya tangannya.


"Baru saja Nak, gimana Naira rewel nggak?"


tanya Bu Sukma seraya memnghampiri Naira yang tengah asik menggumamkan sesuatu.


''Alhamdulillah enggak Bu, dia anteng banget jarang rewel," jawab Aeril yang juga ikut duduk di samping Naira.


"Syukurlah. Cucu Nenek nggak rewel ya pinter banget sih cucu Nenek, cantik lagi." Bu Sukma begitu gemas melihat sang cucu yang sangat sehat juga montok.


Di saat tengah mengajak Naira berbicara, Bu Diyah datang.


"Bu Sukma ada tamu di luar," kata Bu Diyah.


''Siapa Bu?"


"Itu Bu Heni sama anak gadisnya," jawab Bu Diyah


"Oh ya sudah nanti saya temui, tolong sekalian bikin minum buat mereka ya Bu."


"Baik Bu." Bu Diyah pun pamit untuk kembali ke belakang.


"Aeril kamu mau ikut ke depan nggak?" tanya Bu Sukma.


"Nggak usah Bu saya mau beresin kamar Naira, nanti kalau Naira rewel baru saya ambil."


"Ohh ya sudah, saya keluar dulu ya."


"Iyya Bu."


Bu Sukma keluar sembari mengendong Naira untuk menemui Bibi dari Abi. Sebenarnya Bu Sukma sedikit malas menemui Bu Heni karena Bu Heni itu tipe-tipe wanita yang sombong dan kadang ketus kalau berbicara.


"Bi ada Tante Heni di bawah, temuin ya

__ADS_1


ini Mama juga mau turun sama Naira." Bu Sukma mampir ke kamar Abi untuk mengajaknya turun.


" Iyya Ma," ucap Abi malas. Saat hari minggu Abi sangat malas untuk di ganggu tapi takut di kira sombong akhirnya Abi mengiyakan perintah Ibu mertuanya.


"Loh ada Bu Sukma di sini?" tanya Bu Heni saat Bu Sukma sudah hampir sampai di sofa ruang tamu.


"Iyya Bu, nengokin cucu," ucap Bu Sukma ramah.


"Oh," balas Bu heni singkat. Aura-aura tak bersahabat sepertinya sudah keluar.


"Anaknya sudah meninggal saja masih suka main kesini," bisik Bu Heni kepada Vina yang sedari tadi hanya sibuk main ponsel.


"Bu Heni bilang apa?" tanya Bu Sukma pura-pura tidak tahu padahal Bu Sukma mendengar apa yang Bu heni katakan, hanya saja Bu Sukma malas meladeninya.


"Oh nggak bilang apa-apa Bu Sukma. Oh iyya mana Abi?"


"Masih di kamarnya sebentar lagi akan turun."


"Oh gitu, ini Vina pingin banget ketemu Abi katanya udah lama nggak ketemu."


"Oh ... " jawab Bu Sukma.


Tiba-tiba Abi turun dan saat itu pula Vina sibuk merapikan rambut dan juga bajunya.


Dari dulu Bu Sukma sudah tahu kalau Vina sangat suka dengan Abi tapi Abi tak pernah tertarik dengan Vina, selain karena sudah memiliki Delia Abi adalah tipe pria yang tak suka jika wanita kecentilan.


"Kak Abi apa kabar?" Vina langsung saja menghambur dan memeluk Abi tak perduli dengan ekpresi Abi yang sangat tidak nyaman.


"Baik Vin." Abi mencoba melepaskan pelukan Vina dari tubuhnya tapi sepertinya Vina memeluknya begitu kencang seolah tak ingin lepas.


"Kak Abi aku turut berbela sungkawa atas meninggalnya kak Delia ya, maaf waktu itu aku nggak bisa datang karena nggak enak badan," ucap Vina dengan gayanya yang manja.


"Oh iyya iyya nggak apa-apa, bisa tolong lepasin tangan kamu nggak."


"Oh iyya maaf kak aku lupa saking aku senengnya ketemu kak Abi." Akhirnya Vina melepaskan pelukannya dengan sedikit kecewa.


Bu Sukma yang melihat itu hanya tersenyum.


Benar-benar keluarga yang tak gampang menyerah, dulu saat Delia masih hidup saja selalu tebar pesona di hadapan Abi dan sekarang saat Delia sudah tiada dia sangat berani memeluk Abi. Bu Sukma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat pemandangan di hadapannya.


"Bu Sukma sini Anaknya Abi saya juga mau gendong," ucap Bu Heni ketus.

__ADS_1


Bu Sukma lantas memberikan Naira kepada Bu Heni.


"Vina sini deh coba gendong Naira sebentar."


"Oh iyya Bu." Vina segera meraih Naira untuk di gendong dan sepertinya dia agak kualahan karena tak biasa memegang anak Bayi.


"Lihat Vina deh Bi dia itu udah pantes ya jadi Ibu, udah cocok jadi Ibunya Naira," ucap Bu Heni seraya tersenyum.


"Ih Ibu ni apaan sih," Kata Vina dengan ekpresi yang di buat malu-malu.


"Loh ya bener lihat tuh Naira aja anteng kamu gendong berarti Naira suka sama kamu." Bu Heni semakin gencar mempromosikan anaknya.


"Aku belum kepikiran buat nikah Tante, aku lagi fokus buat menjaga dan membahagiakan Naira." Abi jelas memberikan penolakan karena ia memang twk kepikiran untuk menikah lagi, baginya hidup dengan Naira saja sudah cukup.


"Loh kalian bisa kok merawat Naira bersama-sama, iyya kan Vin."


"Iyya Bu aku pasti akan merawat Naira dengan penuh kasih sayang seperti anak aku sendiri." Vina terus mengajak Naira bermain di dalam gendongannya agar terlihat meyakinkan oleh Abi.


"Bi, Papanya Vina dengan Papamu sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan Vina." Bu Heni dengan bangganya mengatakan itu kepada Abi padahal tidak tahu jika Abi akan setuju atau tidak.


"Maksud tante apa ya? Delia belum ada satu tahun meninggal tante dan kalian sudah berencana untuk menikahkan aku lagi. Aku bukan anak kecil yang bisa kalian atur seenaknya." Abi berusaha untuk meredam amarahnya kepada Ibu dan anak yang ada di hadapannya.


"Tapi Bi, Naira itu butuh seorang Ibu. Setidaknya kalau bukan buat kamu kamu harus memikirkan Naira dia juga butuh sosok seorang Ibu."


"Naira tidak kekurangan kasih sayang kok selama ini, tante nggak usah khawatir memikirkan kami."


Situasi mulai sedikit panas dan Bu Sukma berencana untuk pergi dari ruang tamu.


"Bu Sukma mau kemana? Tamu datang kok cuma di suguhkan air cemilannya mana," ujar Bu Heni kepada Bu Sukma. Bu Heni ingin memperlihatkan posisi Bu Sukma yang sebenarnya di rumah ini.


"Mama bukan pembantu di rumah ini, kalau mau minta sesuatu tante panggil saja Bu Diyah jangan memerintah Mama," tandas Abi yang merasa tak terima Ibu mertuanya di perintah sembarangan.


Jangan di tanya ekpresi Bu Heni sekarang, ia sangat kesal karena Abi selalu membela Ibu mertuanya.


"Tante cuma minta tolong kok, masa ada tamu nggak di suguhkan apa-apa," elak Bu Heni namun matanya menatap tajam ke arah Bu Sukma tapi Bu Sukma tak gentar ia menatap balik Bu Heni dengan tatapan yang tak kalah tajam.


"Tante kesini cuma mau memberitahu kabar itu aja Bi, tante harap sih kamu mau memikirkannya apa lagi kita ini masih keluarga. Keluarga akan lebih menyayangi anak kamu dari pada orang luar, apa lagi orang yang tidak sederajat dengan kita."


Bu Sukma tahu jika Bu Heni sedang menyindirnya karena Bu Sukma memanglah bukan orang kaya seperti Abi, tapi karena cinta Abi menikahi Delia yang berasal dari keluarga biasa saja.


"Saya menolak dengan tegas tante perjodohan ini, saya tidak kefikiran untuk menikahi siapapun termasuk Vina. Kalau tante tidak punya urusan lagi mending tante pulang, Abi mau istirahat."

__ADS_1


Bu Heni merasa terhina dengan sikap Abi, padahal Bu Heni sudah sangat yakin jika Abi akan setuju dengan permintaannya, nyatanya Bu Heni malah terhina.


Lihat saja aku akan membuat kamu menikah dengan putriku Bi, tunggu saja tanggal mainnya.


__ADS_2