
Siang itu Aeril pergi berbelanja di super market di temani Bu Diyah dan si cantik Naira.
Selain karena bahan-bahan di kulkas mulai menipis, Aeril sekalian ingin mengajak Naira keluar untuk berjalan-jalan agar Naira tak merasa bosan di rumah.
Aeril dan Bu Diyah kini berada di toko sayuran dan daging. Bermacam-macam sayuran telah ia masukkan ke dalam keranjang, setelah itu mengambil daging ayam, daging sapi dan ikan, juga di masukkan ke dalam keranjangnya. Tak lupa Aeril membeli buah sebagai cemilan sehat saat tengah bersantai dengan Naira dan sang suami jika sedang di rumah.
Setelah di rasa cukup untuk belanjaannya, Aeril mengajak Bu Diyah untuk makan siang di sekitaran Mall, karena jam memang sudah menunjukkan jam makan siang.
Aeril memesan tempat lesehan yang sedikit luas untuk membaringkan Naira yang kini tertidur dalam gendongannya.
Setelah membaringkan Naira di dekatnya, Aeril dan Bu Diyah mulai menyantap menu makan siangnya, sesekali bercengkrama dengan Bu Diyah, karena selama ini Aeril memang sangat dekat dengan Bu Diyah. Aeril bahkan telah menganggap Bu Diyah sebagai Ibunya sendiri.
"Bu Diyah, titip Naira sebentar ya, saya mau ke toilet dulu," ucap Aeril.
"Iya Neng," jawab Bu Diyah.
Dengan cepat Aeril segera menuju toilet karena ingin buang air kecil, langkahnya pun sedikit di percepat karena takut Naira keburu bangun dan menangis saat tahu tak ada Aeril di dekatnya.
Setelah selesai buang air kecil, Aeril keluar dari pintu toilet dan alangkah terkejutnya saat seseorang tiba-tiba menarik paksa lengannya lalu membawanya sedikit menjauh dari keramaian.
"Lepaskan!!" ucap Aeril mencoba melepaskan diri.
Namun pria tersebut tak mengindahkan perkataan Aeril dan masih terus membawa Aeril, hingga sampai pada tempat yang cukup sepi. Aeril bahkan kini sedikit bergetar dan di liputi perasaan takut. Otaknya terus bekerja bagaimana caranya agar bisa lepas dari cengkraman tangan seseorang yang lumayan kuat mencengkram tangan Aeril, sampai Aeril sendiri cukup kesulitan untuk melepaskan diri.
"Lepas!!! Atau saya akan berteriak."
Pria itu melepaskan tangan Aeril dan seketika menoleh ke arah Aeril dengan tatapan sendu.
Aeril bahkan terbelalak saat menyadari siapa yang telah begitu lancang membawanya ke tempat sepi seperti ini.
Mulut Aeril menganga tapi tak satu pun kata yang keluar dari bibirnya.
Terjadi keheningan di antara keduanya hingga saat Aeril merasakan sentuhan lembut di pipinya, dan saat itulah ia sadar dari lamunannya dan cepat menyentak tangan Vano dengan kasar.
"Jangan coba-coba menyentuhku," ucap Aeril penuh penekanan. Terlihat jelas di wajahnya jika dia saat ini sangat marah karena Vano telah berani menyentuhnya bahkan membawanya.
Vano bungkam, tapi matanya jelas menatap dengan penuh permohonan. Mata yang dulu begitu Aeril kagumi, wajah yang begitu Aeril puja, tapi akhirnya membuang Aeril seperti sampah.
Aeril mendengus kasar lalu membuang pandangannya ke sembarang tempat, tak ingin berlama-lama saling tatap dengan mata Vano, karena jujur hatinya bahkan saat ini belum sepenuhnya sembuh oleh luka yang di berikan Vano. Rasa sakit itu bahkan masih sangat terasa, apa lagi hari ini dengan paksa Vano membuatnya berdiri di depannya, luka yang kemarin telah berusaha ia obati rasanya gagal begitu saja.
__ADS_1
"Aku tahu kamu masih mencintaiku, bahkan matamu jelas mengatakan jika kamu masih mencintaiku," lirih suara Vano.
Aeril seketika menatap Vano nyalang. "Cintaku telah lama mati bersama anak yang sangat ku cintai. Jadi cinta apa yang sebenarnya kamu lihat?" Tanya Aeril sinis, meski dengan bibir bergetar. Air matanya kini bahkan tumpah karena kembali mengingat anaknya yang bahkan belum sempat ia susui tapi telah pergi meninggalkannya.
"Maaf," ucap Vano dengan bibir tak kalah bergetar. Tak menyangka jika anaknya telah meninggal. Vano mengira, selama ini anaknya masih hidup bersama Aeril, dan entah mengapa mendengar kenyataan yang di berikan Aeril, rasa bersalah Vano kian dalam.
"Maafmu tak akan mengembalikan anakku!!
Jika saja waktu itu kamu berbalik badan dan menolongku saat aku terjatuh karena mengejarmu, aku yakin anakku akan hidup sampai hari ini," teriak Aeril hampir histeris, karena mengingat masa yang memang belum bisa ia lupakan sampai hari ini.
Vano menatap Aeril dengan mata basah. ya, perkataan Aeril mampu membuat Vano merasakan apa yang Aeril rasakan saat itu dan membuatnya kini mengutuk kebodohannya karena telah meninggalkan wanita sebaik Aeril dan membuatnya kehilangan anak mereka.
"Kenapa kamu menangis? Apa karena kamu tahu jika anakku telah tiada? Harusnya kamu bahagia, karena bukankah kamu memang tidak pernah menginginkan anakku sama seperti Ibumu, jadi untuk apa menumpahkan air mata yang sebenarnya hanya sia-sia." Aeril tak mampu lagi menahan semua yang ada di dalam hatinya dan menumpahkan segalanya di hadapan Vano. Selama ini ia terus memendam rasa sakitnya sendiri dan tak bisa meluapkannya.
Vano menghambur memeluk tubuh Aeril mencoba menenangkan wanita yang dulu pernah menjadi belahan jiwanya, dan hari ini ia bisa merasakan betapa terlukanya Aeril.
''Lepaskan aku brengsek!!! Aku sangat membencimu ... Aku bahkan tak ingin melihat wajahmu lagi." Aeril sekuat tenaga meronta, ingin melepaskan diri dari Vano, tapi Vano memeluknya begitu erat dan nyatanya tenaga Aeril tak cukup untuk keluar dari pelukan pria yang telah menorehkan luka terdalam di hatinya.
"Lepaskan aku," lirih suara Aeril yang terdengar begitu memilukan.
"Maafkan Aku ... Aku akan menebus semua kesalahan--"
Belum sempat Vano melengkapi kata-katanya, pukulan dengan tenaga penuh sudah mendarat di wajahnya setelah sebelumnya telah di tarik paksa oleh Abi.
Rahang kokoh Abi kini mengeras bahkan giginya terdengar gemeletuk karena hatinya terbakar oleh emosi saat melihat Vano memeluk Aeril.
Belum sempat Vano sadar dari situasi yang tiba-tiba menimpanya, Abi kembali maju dengan membabi buta menghajar Vano tanpa ampun, bahkan Vano sendiri kuwalahan untuk menghindari serangan Abi yang kini di luar kendali.
Aeril sempat diam untuk sesaat untuk mengerti situasi yang sebenarnya terjadi, tapi saat melihat Vano terkulai tak berdaya dan Abi masih menghajarnya, barulah Aeril maju untuk menghentikan Abi.
"Mas, berhenti," teriak Aeril, tapi Abi tak memperdulikannya dan terus menghajar Vano.
"Mas berhenti, kumohon ..." Aeril memeluk Abi dari belakang agar Abi menghentikan aksinya yang bisa di pastikan akan membunuh Vano jika terus berlanjut.
Abi menghentikan aksinya lalu terdiam sejenak. Setelah merasa Abi sedikit tenang Aeril melepaskan pelukannya, dan Abi membalik tubuhnya perlahan menghadap Aeril.
Aeril kini melihat raut putus asa pada wajah Abi, matanya memerah menatap Aeril.
Seketika Aeril menghambur memeluk Abi, karena Aeril takut Abi menjadi salah paham akan situasi yang menimpanya.
__ADS_1
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Abi lirih.
Aeril menggeleng cepat lalu mendongak melihat Abi yang hanya menatap lurus ke depan.
"Ini nggak seperti yang kamu bayangkan Mas," jawab Aeril sembari terisak.
"Apa kamu menghentikanku untuk melindunginya?" Nada pertanyaan Abi mulai putus asa.
"Mas ... Apa kamu meragukanku?" Di tatapnya Abi yang kini juga menatap Aeril dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Hatinya seperti di koyak saat mendengar pertanyaan Abi yang seolah meragukannya, hanya saja Aeril menahannya dan mencoba mengerti akan situasi hati Abi yang saat ini mungkin tengah di landa keraguan.
Abi berbalik menghadap Vano yang kini keadaannya sudah tak bisa di definisikan dengan kata-kata. Jika saja Aeril tak menghentikan Abi, mungkin Vano kini tinggal nama.
"Ini kedua kalinya kamu menyentuh istriku, jika kamu berfikir akan menyentuhnya untuk yang ketiga kalinya, maka saat itu juga aku akan membunuhmu!!!" teriak Abi berang, lalu menarik lengan Aeril agar mengikutinya untuk pergi dari tempat itu.
*
*
*
*
*
Maaf ya readers, aku bener-bener sibuk dan nggak bisa ngeluangin waktu buat nulis di karnakan kesibukan yang benar-benar menguras waktu dan tenaga.
Yang mau intip keseharian otor ngapain aja dan di sibukkan dengan pekerjaan apa?
Cusss mampir ke fb otor ya
Nafisa ica
Tapi di sana otor nggak pernah ngaplut tentang novel di karenakan otor bukan penulis hebat, yang karyanya keren.(takut malu-maluinπππ)
Jdi jangan heran kalo mampir ke sana nggak nemu apa-apa selain keseharian otor aja, ya sekedar nambah teman aja sih kalo mau.
Dah ya, lope-lope deh pokoknya buat yang selalu setia nungguin kisah Abi sama neng Aeril. Byeee ... otor mau bobo cantik dulu yaaa.
ππππππ
__ADS_1