
Pukul lima subuh Aeril membuka mata dan hampir saja menjerit saat melihat posisinya yang saat ini memeluk Abi.
Astaga ... apa aku sudah tidak waras sampai memeluk Pak Abi.
Perlahan Aeril melepaskan pelukannya agar tak mengganggu tidur Abi. Baru saja akan turun dari tempat tidur tiba-tiba Abi menarik tangan Aeril sehingga ia jatuh tepat di atas Abi.
"Ini masih pagi Del, nanti aja bangunnya," ucap Abi dengan mata yang masih terpejam, tapi tangannya memeluk erat Aeril.
Aeril mencoba melepaskan pelukan Abi dari tubuhnya tapi Abi malah makin menambah erat pelukannya. "Mau kemana sih sayang ... tunggu bentar lagi, masih pengen peluk kamu Delia."
Tiba-tiba ada rasa seperti tercubit di dalam sana mendengar Abi mengucap Nama Delia.
Astaga ... Delia kan memang cintanya Pak Abi jadi nggak perlu kaget Aeril.
"Delia ... kenapa diem aja." jarak wajah Abi dan Aeril kini hanya berjarak beberapa centi, hembusan nafas Abi bahkan menyapu seluruh wajah Aeril dan itu menciptakan debaran pada jantungnya dan hampir menggila.
"Saya Aeril Pak." Aeril menarik paksa tubuhnya dari dekapan Abi dan membuat Abi bangun seketika.
"Loh Ay kamu kenapa?" tanya Abi bingung.
"Nggak pa-pa Pak, saya mau ke kamar mandi." Aeril bergegas turun dari tempat tidur lalu masuk kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Aeril membuka pintu kamar mandi dan tersentak kaget karena Abi sudah berdiri di hadapannya.
"Ya Allah!!!!" pekik Aeril dan sedikit mundur.
"Ay hati-hati. Kamu kenapa kaget gitu ngeliat saya, kaya ngeliat hantu aja."
"Nggak pa-pa Pak, saya cuma kaget aja soalnya Bapak tiba-tiba berdiri di depan pintu."
Keduanya pun terdiam.
"Ay,"
"Iyya,"
"Saya kebelet, bisa tolong minggir saya mau masuk." Abi memegang perutnya sambil nyengir.
"Oh iyya maaf, silahkan." Aeril pun keluar dari kamar mandi.
Aeril lalu turun ke dapur untuk membuat sarapan untuk Abi. Meski ada Bu Diyah tapi Aeril akan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Bukankah ia telah menyetujui jika ingin memberikan kesempatan untuk hubungannya dengan Abi, meski belum ada cinta di dalam hatinya.
"Neng biar Ibu aja yang bikin sarapan," pinta Bu Diyah.
"Nggak usah Bu biar aku aja, Ibu ngerjain yang lain aja."
__ADS_1
"Ya udah Neng Ibu nyuci aja di belakang." Bu Diyah pun membiarkan Aeril yang menyiapkan sarapan untuk Abi.
Setelah selesai Aeril menata Nasi goreng yang tadi ia buat di atas meja. Nasi goreng dengan telor ceplok juga dengan toping ayam suwir dan sosis.
Aroma nasi goreng menguar sampi ke kamar Abi dan itu membuat Abi cepat-cepat keluar dari kamar bersama Naira yang sudah rapi dan cantik.
"Ya ampun ... Naira udah cantik aja, siapa yang mandiin hem?" tanya Aeril gemas sekaligus heran karena Naira sudah seperti habis mandi.
"Papanya dong, ya kan sayang," kata Abi sembari mengajak Naira berbicara.
"Wahhh Papa bisa mandiin anak ternyata, bersih nggak nih," goda Aeril.
" Bersih dong, emang Mama aja yang bisa, Papa juga bisa dong, mandiin Mama aja bisa," ucap Abi sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Aeril.
Aeril mendelik sebbal lalu mengambil Naira dari tangan Abi dan memangkunya di kursi meja makan.
"Naira makan dulu ya sayang. Hari ini makan bubur ayam," ucap Aeril lalu menyiapkan makanan untuk Naira.
Perlahan Aeril menyuapi Naira yang sibuk dengan mainan yang ada di tangannya. Beruntung Naira bukan tipe anak yang pilih-pilih pada makanan. Naira menyukai makanan apa pun yang di berikan Aeril.
"Aaaaaa." Abi menyodorkan sendok yang berisi nasi goreng di depan mulut Aeril.
Aeril menatap heran apa yang di lakukan Abi saat ini, Aeril menaikkan sebelah alisnya meminta penjelasan.
"Kenapa?" tanya Aeril heran.
"Ya ikutan sarapan lah Ay, kamu juga pasti laper kan? Selagi kamu menyuapi Naira, biar aku yang nyuapin kamu biar kita bisa kenyang bareng-bareng," jelas Abi.
"Tapi saya belum laper kok, nanti saya akan makan setelah menyuapi Naira."
"Ay ... nggak boleh nolak rejeki loh, nanti Allah murka kamu bisa kena Azab," ucap Abi.
"Apaan sih," kata Aeril.
"Yeee nggak percaya, di azab beneran kapok loh. Udah ni cepetan makan, aaaaa." Abi tetap kekeuh ingin menyuapi Aeril meski Aeril sempat menolak, dan akhirnya menyerah karena Abi terus memaksa.
Pagi ini suasana sarapan berbeda dari biasanya, lebih menyenangkan karena ketiganya kenyang berbarengan.
''Ay nanti malam kita di undang ke acara anniversary sekaligus syukuran bayinya sepupu saya Vano, kamu ikut ya soalnya saya malas kalau pergi cuma sendiri. Mau nggak pergi tapi nggak enak soalnya istrinya Vano itu sahabat saya, mau ya," pinta Abi setelah mereka selesai sarapan.
DEG
Vano?
Aeril tersentak kaget mendengar nama Vano tapi mencoba untuk berfikir positif, orang yang bernama Vano banyak, nggak mungkin Vano yang di maksud Abi adalah Vano mantan suaminya.
__ADS_1
"Ay ... " panggil Abi karena melihat Aeril yang tengah melamun.
"Hah, iya."
"Kok malah ngelamun sih Ay, kamu denger nggak apa yang tadi saya katakan?" tanya Abi.
"Iyya denger," jawab Aeril cepat.
"Mikirin apa sih Ay? kalau saya nggak usah terlalu kamu fikirin kan saya ada di sini dan nggak bakal kemana-mana kok," kekeh Abi kembali memcairkan suasana yang tadi sempat hening.
"Apaan sih." Aeril mencibir.
"Iyya emang bener Ay. Jadi gimana, mau ya Ay, plissss," ucap Abi dengan wajah memohon.
Setelah berfikir cukup lama akhirnya Aeril menganggukkan kepalanya tanda ia setuju untuk menemani Abi untuk pergi ke acara keluarganya, toh ia sekarang istrinya Abi dan tugas seorang istri harus mematuhi semua permintaan suaminya.
"Ya udah nanti malam setelah pulang kantor aku jemput kamu di salon langganan Delia," kata Abi sumringah.
"Hah kok salon?" Tanya Aeril tak mengerti.
"Iyya Ay nanti sore saya suruh supir buat nganter kamu ke salon untuk perawatan dan kamu tak boleh menolaknya.
Bukan karena kamu nggak cantik Ay kamu udah cantik banget kok tapi aku mau kamu kelihatan fres aja saat ke pesta nanti. Selama ini kan kamu sibuk ngurusin Naira sampai kamu lupa memanjakan diri kamu sendiri," papar Abi panjang lebar.
"Tapi saya nggak ke salon juga nggak pa-pa kok," tolak Aeril halus, tak ingin terlalu merepotkan Abi.
"Ay kamu nggak boleh nolak permintaan saya titik," ucap Abi tegas dan Aeril tak bisa menolaknya.
*Malam ini Papa akan pulang ke indonesia dan langsung ke acara Vano, aku mau kamu terlihat layak di depan Papa mau pun semua orang sebagai istri Abi manyu putra pranata, aku nggak akan membiarkan siapa pun mencibir kamu Ay karena kamu memang layak menjadi istriku*.
*
*
*
*
Siap-siap ya readers Aeril bakalan ketemu mantannya si panu kadas kurap 😁😁😁
jadi ikutin terus cerita otor yang up'nya lagi angot-angotan gara-gara sibuk baca novel juga 🤭🤭🤭
pokoknya aku sayang kalian deh yang selalu setia baca cerita receh otor.
😘😘😘😘😘😘 buat kalian semua.
__ADS_1