
Pagi-pagi Aeril sudan bangun dan mempersiapkan segala kebutuhan Naira dan membereskan kamarnya. Seharusnya itu semua menjadi pekerjaan Sari tapi karena Aeril tak memiliki pekerjaan apa pun akhirnya dia dengan senang hati mengerjakannya, Wal hasil Sari lebih banyak santai dari pada bekerja dan itu membuatnya cukup senang.
Saat Aeril keluar dan membawa Naira yang sudah cantik tiba-tiba bel rumah berbunyi, Bu Diyah buru-buru keluar dari dapur untuk membuka pintu.
"Biar saya aja Bu, mumpung saya juga nggak punya kerjaan," ucap Aeril kepada Bu Diyah.
"Oh ya udah Neng, terima kasih ya." Bu Diyah akhirnya kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya membuat sarapan.
Aeril membuka pintu dan bertanya kepada orang yang bertanya di hadapannya.
"Cari siapa ya Mbak?" tanya Aeril sopan.
"Cari calon suami saya, ada nggak," jawab Vani ketus.
"Calon suami?"
"Iyya Abi calon suami saya, lola banget sih otaknya."
"Oh Pak Abi masih di kamar Mbak, tunggu saja sebentar lagi pasti turun." Setelah mempersilahkan Vani masuk, Aeril akan segera pergi dari hadapan Vani tapi Vani menghentikannya.
"Kamu siapa? apa kamu pembantu di sini" Aeril hanya tersenyum samar mendengar kata-kata wanita di hadapannya yang menurut Aeril sangat tidak sopan.
"Di tanyain malah diem aja, nggak punya sopan santun banget sih kamu." Vani mulai kesal kepada Aeril, entah mengapa Vani merasa sedikit takut dengan keberadaan Aeril di rumah Abi, meskipun Aeril tidak modis seperti dirinya tapi Aeril memiliki wajah yang cukup cantik.
"Saya Ibu susunya Naira Mbak," ucap Aeril singkat.
"Hah ... jadi kamu Ibu susu dari Naira, Abi benar-benar salah memilih Ibu susu untuk Naira karena nggak punya sopan santun."
Aeril mengernyitkan dahinya mendengar ocehan Vina, padahal yang dari tadi bersikap tidak sopan dan selalu ngegas kalau bicara adalah Vina tapi Aeril yang di tuduh tidak sopan, sungguh aneh memang wanita yang ada di hadapannya.
"Siniin Naira kamu boleh kembali ke belakang sana, masak kek, nyuci kek, gosok WC kek, itu lebih cocok untuk kamu dari pada ngurusin Naira." Vani terus merendahkan Aeril dan membuat Aeril hanya bisa mengelus dada. Mengapa akhir-akhir ini selalu ada saja orang yang tidak suka padanya.
Tanpa membalas perkataan Vani Aeril segera pergi dari hadapannya karena malas mendengar ocehan Vani yang tak berfaedah.
Naira terus menggeliat tak nyaman di dalam gendongan Vani dan itu membuat Vani sangat kesal, kalau saja bukan karena ingin mengambil hati Abi, Vani tidak akan pernah mau menggendong Naira karena Vani memang tak suka kepada anak bayi.
"Ih Naira kamu ini kenapa nggak mau diem sih, ini tante udah gendong kamu loh, jangan rese kalau nggak mau tante taro kamu di panti asuhan, mau?" mata Naira sudah berkaca-kaca karena melihat mimik muka Vani yang terlihat menyeramkan.
"Kamu ngomong apa Vin?" tanya Abi yang tiba-tiba datang tanpa Vina ketahui.
"Oh ini kak aku lagi ngajak Naira bicara, latihan buat jadi Mamanya," ucap Vani tanpa tahu malu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Apa yang kemarin saya katakan itu kurang jelas kalau saya nggak mau menikah."
"Aku nggak maksa Kak Abi untuk menikah sekarang kok, aku tahu kak Abi butuh waktu dan aku akan menunggu sampai Kak Abi siap."
Baru saja Abi ingin mengatakan sesuatu tapi Naira menangis dan itu membuat Vani kelabakan mendiamkan Naira.
"Cup cup sayang Naira mau apa, mau mainan ya?" Vani terus mencoba mendiamkan Naira dan sesekali melihat ke arah Abi agar Abi tahu kalau dia memang pantas menjadi Ibu dari Naira, tapi makin lama Naira semakin menangis kencang.
"Aeril mana? Kenapa kamu yang jagain Naira?" tanya Abi kesal.
"Nggak tau tadi dia nitipin Naira ke aku katanya dia capek."
"Ay!" teriak Abi.
"AERIL!!" karena tak keluar Abi sampai berteriak. Aeril pun lari dari halaman belakang karena mendengar teriakan Abi.
"Iyya Pak ada apa?" Aeril sedikit tersengal karena berlari dari belakang.
"Kenapa Naira kamu titipin ke Vani?" tanya Abi sedikit marah.
"Tadi Mbak ini yang min ... " Belum selesai kata-kata Aeril Vani langsung saja memotongnya.
"Maksudnya Mbak apa ya?"
"Nggak usah banyak tanya nih diemin Naira. Dasar babu nggak becus, maunya makan gaji buta."
"Cukup Vin, kamu nggak berhak berkata kasar sama Aeril."
"Tapi kak."
"Ay bawa Naira main ya."
"Baik Pak." Aeril segera mengambil Naira yang sedari tadi sudah mengulurkan tangannya kepada Aeril.
"Kak Abi kenapa malah belain dia sih, nanti dia tambah seenak-enaknya dan nggak becus kerja kalau di lembekin."
"Dia selalu kerja dengan baik kok," bela Abi karena merasa cara kerja Aeril bagus.
"Ih kak Abi tu nggak tahu aja, pembantu model dia itu kerjanya nggak ada yang becus, terus yang lebih parahnya yang aku tau wanita model dia itu suka menggoda para pria-pria kaya Kak. Saran aku sih mending Kakak buruan pecat dia sebelum terjadi hal-hal yang nggak Kakak inginkan," oceh Vani panjang lebar yang membuat Abi semakin muak.
"Udah ceramahnya?"
__ADS_1
"Maksud Kakak?"
"Kalau udah ceramahnya, sekarang kamu bilang apa mau kamu sebenarnya datang kesini," jelas Abi to the point, karena Abi sangat benci sesuatu yang bertele-tele.
"Aku nggak punya maksud yang penting sih Kak, cuma pingin ngeliat Kakak berangkat ke kantor terus jagain Naira biar aku semakin dekat dengan dia, karena sebagai calon Ibunya aku harus membiasakan diri untuk selalu dekat Naira," jawab Vani super PD.
Abi memijit pelipisnya karena terasa berdenyut mendengar ocehan Vina pagi-pagi.
"Udah deh Vin, Naira nggak butuh penjagaan dari kamu. Kamu lihat pengasuhnya dia aja ada dua di sini, jadi kamu nggak usah buang-buang tenaga kamu buat ngurus dia. Mending kamu pulang terus ngapain gitu di rumah terserah kamu, kerjain yang bermanfaat."
"Enggak pokoknya aku tetap mau di sini jagain Naira titik." Vina benar-benar keras kepala dan tak mau mendengarkan Abi, membuat Abi sangat jengkel.
"Kamu sadar nggak, tadi aja cuma sebentar Naira kamu pegang dia udah nangis kencang. Kamu tahu artinya apa? Naira nggak suka berada dalam gendongan kamu, dia nggak nyaman."
"Ya karena dia belum terbiasa Kak, kalau aku tiap hari di sini apa lagi nginep di sini, aku jamin Naira pasti bakalan suka sama aku."
"Terserah kamu lah aku nggak perduli." Abi pergi dari hadapan Vani karena sudah sangat malas mendengar ocehannya. Belum jadi Istri saja sudah bikin migrain apa lagi kalau jadi istri beneran, mungkin Abi akan mengalami Stroke.
"Loh Kak Abi mau kemana, nggak sarapan dulu?"
"Sudah kenyang," jawab Abi ketus
"Ihhh Kak Abi tuh kalau jutek gitu makin manis aja tau nggak."
Abi mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi lalu menaikinya, saat sudah akan keluar pagar Abi melihat Aeril dan Naira yang sedang bermain di taman.
"Ay sini," panggil Abi, seketika Aeril menoleh dan mendekati mobil Abi.
"Iyya Pak."
"Cepat Naik," perintah Abi.
"Mau kemana Pak?" tanya Aeril bingung.
"Nggak usah banyak tanya, naik aja."
"Baik Pak." Tanpa banyak bertanya Aeril naik di sebelah Abi.
Vani yang menyaksikan Abi mengajak Aeril pergi menghentak-hentakkan kakinya kesal karena Abi lebih peduli kepada Aeril dari pada dia.
Dasar babu, lihat saja aku akan bikin tamat riwayatmu.
__ADS_1