
"Bapak manggil saya?" tanya Indra yang seketika masuk ke dalam ruangan Abi setelah Abi memanggilnya untuk masuk.
"Iya Ndra, bisa mundurin jadwal meetingnya nggak?" tanya Abi sembari mengompres bibirnya.
"Oke Pak," jawab Indra tanpa banyak bertanya karena sudah melihat sendiri bagaimana keadaan Abi.
"Perlu saya panggil Dokter Pak?" Tanya Indra sebelum akan keluar dari ruangan.
"Ngak usah, makasih."
Indra pun keluar dari ruangan Abi lalu mengatur kembali jadwal meeting yang harusnya di lakukan pagi ini.
Sore hari saat di parkiran Abi melihat Indra yang akan menuju ke parkiran. Abi berniat meluruskan kesalah pahaman di antara mereka karena bagaimananpun Abi dan Indra adalah teman baik, tak etis rasanya jika persahabatannya rusak begitu saja hanya karena kesalah pahaman.
"Gilang tunggu," teriak Abi.
"Gilang!!" teriak Abi lagi, tapi tak mendapat respon dari Gilang dan terus saja berjalan menuju mobilnya.
Abi berlari ke arah Gilang dan akhirnya berhasil mencekal pergelangan tangan Gilang sebelum masuk ke dalam mobil.
"Lepas brengsek!!!" teriak Gilang.
"Dengerin dulu!!! Gue minta maaf karena udah nggak jujur dari awal, karena awalnya gue emang--"
"Emang nggak cinta sama Aeril, lo nikah sama dia karena terpaksa. Ya udah harusnya karena lo cuma terpaksa, jadi lo tinggalin Aeril buat gue, karena lo tau kalau gue lebih dulu suka sama Aeril ketimbang lo."
"Dan gue nggak perduli lo udah nidurin dia atau belum, yang jelas gue baru akan maafin lo kalau lo ngasih Aeril ke gue."
BUGHHH!!!
Satu tinjuan cukup keras menghantam rahang Gilang dan membuatnya terjatuh.
"Harusnya gue ngak usah capek-capek dateng buat ngejelasin ke lo. Nyesel gue!!!"
"Tadinya gue fikir setelah gue jelasin semuanya, lo bakalan ngerti.
Gue nikah sama Aeril karena emang terpaksa, tapi akhirnya gue sadar kalau gue jatuh cinta sama dia, dan sampai mati, gue nggak bakal nyerahin Aeril ke siapa pun karena dia bukan barang, tapi dia istri gue, milik gue!!!" Setelah mengatakan itu Abi meninggalkan Gilang dengan rahang yang mengeras akibat emosi karena perkataan Gilang.
Abi bahkan akan melawan satu dunia demi melindungi miliknya, dan rela kehilangan sahabatnya demi mempertahankan istrinya.
__ADS_1
Gilang masuk ke dalam mobil sembari meraba rahangnya yang terasa kaku akibat pukulan yang di berikan Abi, lalu memukul kemudi mobilnya dengan keras. Hatinya masih tidak terima jika Aeril sudah menikah dengan Abi, jika saja Aeril menikah dengan orang lain mungkin Gilang masih bisa merebutnya, tapi jika saingannya Abi, sudah di pastikan akan sangat sulit baginya untuk merebut Aeril dari tangan Abi, lagi pun Abi adalah sahabatnya sejak kecil dan itu juga yang menjadi pertimbangannya saat ini, tapi tak bisa di pungkiri jika Aeril satu-satunya orang yang membuat otaknya oleng dan benar-benar menginginkannya.
Selama ini Gilang tak pernah menyukai wanita seperti dia menyukai Aeril. Entah mengapa, menurutnya Aeril wanita berbeda, wanita yang selalu membuatnya merindu. Selama ini jika ia menyukai wanita biasanya tak akan bertahan lama, mudah bosan tapi tidak dengan Aeril.
Gilang mengacak rambutnya frustasi, lalu melajukan mobilnya keluar dari Area perkantoran.
"Papa udah pulang!!" Seru Aeril bersama Naira saat melihat Abi turun dari mobilnya.
Abi sejenak melupakan urusannya dengan Gilang karena melihat wajah cantik sang Istri dengan anaknya. Senyumnya ia buat selebar mungkin lalu berjalan menghampiri Aeril dan Naira.
Abi mengambil alih Naira dari gendongan Aeril lalu menciumnya dengan gemas lalu berganti mencium bibir Aeril.
"Mas ... Nanti di liat Bu Diah," ucap Aeril dengan wajah merona.
"Ya udah lanjut di kamar ya," jawab Abi di iringi senyum nakalnya.
"Isss genit." Aeril meraih tas kantor yang di bawa Abi lalu berjalan ke kamar di ikuti Abi dan Naira.
"Aku siapin air panas buat kamu mandi ya Mas."
"Boleh," kata Abi sembari terus menciumi Naira yang kini mulai kegelian.
"Awww!!" pekik Abi pelan saat tangan Aeril tak sengaja menekan sudut bibir Abi saat memeriksanya.
"Aduh, duh maaf Mas. Bibir kamu kenapa?" tanya Aeril dengan terus menatap sudut bibir Abi yang membuatnya sedikit aneh.
"Eng-ini ... Tadi jatuh pas mau masuk ke kantor, buru-buru soalnya," jawab Abi sambil nyengir seolah tak terjadi apa-apa.
"Bener ... Kamu bukan habis di pukul?" tanya Aeril lagi.
"Y-ya enggak lah, siapa juga yang mau mukul aku, mana ada yang berani," jawab Abi mulai gugup.
"Mas ..."
"Enggak Ay, ini cuma jatuh aja kok, nggak perlu khawatir, serius." Abi mencoba mengelak dan membuang pandangan ke sembarang arah, tak mau bersitatap dengan mata Aeril.
"Tapi--"
"Aku mau mandi dulu, tolong kamu pegang Naira dulu ya." Abi buru-buru menyerahkan Naira ke tangan Aeril lalu bergegas ke kamar mandi agar terhindar dari Aeril yang terus menginterogasinya.
__ADS_1
"Aneh, dia kenapa sih," gumam Aeril sembari menatap punggung Abi yang berjalan ke arah kamar mandi.
Setelah mandi dan makan malam Abi segera berbaring dan memejamkan matanya karena begitu lelah. Aeril yang melihatnya sedikit heran, karena tak biasanya Abi bersikap demikian. Biasanya meski lelah Abi tetap akan menyempatkan untuk bercengkrama dengan Naira dan Aeril sebelum akhirnya tertidur.
Meski penasaran tapi Aeril lebih memilih untuk menidurkan Naira yang sejak tadi sedikit rewel karena mengantuk.
Pukul sebelas malam Abi memeluk Aeril yang tengah tertidur menghadap Naira. Karena pelukan yang tiba-tiba, membuat Aeril yang belum terlalu nyenyak seketika membuka mata dan menghadap Abi.
"Kenapa bangun, hem?" tanya Aeril pelan saat Abi memandangnya.
Awalnya Aeril mengira Abi menginginkan sesuatu darinya, tapi saat melihat matanya, jelas Aeril tak melihat mata yang tengah berhasrat saat ini.
"Nggak bisa tidur," jawab Abi.
"Apa ada masalah? Sejak tadi aku perhatikan, Mas nggak seperti biasanya."
Bukannya menjawab Abi malah menundukkan pandangannya lalu meraih jemari Aeril lalu menciumnya.
"Mas ... Jangan bagi kebahagiaanmu saja, tapi bagilah apa pun masalah yang membuatmu merasa tak nyaman, seperti saat ini."
Abi lalu menceritakan apa yang hari ini begitu mengganjal di fikirannya, bahkan sampai pemukulan yang di lakukan Gilang. Awalnya Abi ingin menutupi masalahnya tapi sebagai suami Abi tak ingin menutupi apa pun pada Aeril.
"Aku rela kehilangan sahabatku asal kamu tetap bersamaku Ay. Aku nggak bisa ngelepasin kamu, karena kamu bukan barang tapi istri yang sangat aku cintai," ucap Abi sembari menatap Aeril.
Aeril mengelus bagian sudut bibir Abi yang masih menyisakan sedikit bengkak meski telah samar. "Maaf Mas ... Karena aku, kamu sampai bertengkar dengan sahabat kamu sendiri." Aeril merasa sangat bersalah dengan apa yang menimpa Abi.
"Aku bahkan akan melawan seluruh dunia demi kamu Ay, jadi tetaplah di sisiku karena aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
"Aku juga sangat mencintaimu Mas, aku janji akan selalu mendukung apa pun keputusanmu dan menjadi kekuatanmu di saat nantinya kamu merasa lemah."
"Terima kasih sayang," ucap Abi dengan suara seraknya, suara yang Aeril sangat hafal apa yang membuat suara suaminya menjadi serak.
Dasar suami mesum!!!!🤭🤭🤭
Dah ya readers segini aja, part gaje.
Seharian sibuk sama dunia nyata sampe sampe megang HP aja nggak sempet, jadi jangan kecewa kalo part ini nggak dapet feel, karena aku pun begitu.
Nulis ini cuma buat readers kece yang selalu setia nunggu nunggu kelanjutan cerita ini. Jadi harap maklum ya🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Author mau bobo syantik dulu ya Byeeee😘😘😘😘