
"Ini bunga dari siapa Mas?" tanya Aeril saat bersiap-siap akan tidur.
Aeril baru sempat menanyakannya karena tadi ada insiden Abi yang sempat merajuk dan Aeril berusaha merayunya dan jadilah rasa penasarannya terhadap satu buket bunga mawar ia pending dulu.
Abi yang masih sibuk dengan laptopnya seketika menengok ke arah Aeril.
"Oh itu ... Dari fans," jawab Abi asal, lalu kembali fokus ke laptopnya.
"Oh," kata Aeril lalu naik ke tempat tidur tapi membelakangi Abi. Hatinya sungguh kesal.
Fans siapa lagi? Gerutu Aeril dalam hati.
Abi yang menyadari kekesalan Aeril seketika tersenyum lalu menutup laptopnya. Setelah menaruh laptopnya di atas nakas, Abi membuka laci lalu meraih sesuatu yang sore tadi ia beli untuk Aeril.
"Aku hanya bercanda, jangan marah. Tidak mungkin ada wanita yang ngefans dengan pria menyebalkan sepertiku," ucap Abi sembari memeluk Aeril dari belakang.
Karena tak ada respon dari Aeril, Abi meraih tangan kanan Aeril lalu memasang sebuah cincin di jari manis Aeril.
Tetap tak ada respon dari Aeril, Abi merasa begitu gemas dan otak jahilnya mulai memerintahkan tangannya ke kancing baju Aeril.
"Mas!!!" pekik Aeril pelan, lalu menengok ke arah Abi dengan mata yang mendelik.
"Apa?" balas Abi sembari menahan senyum.
"Tangannya itu loh, bisa di kondisikan nggak?" tanya Aeril kesal.
"Enggak," jawab Abi enteng.
"Ishhhh." Aeril mendesis kesal.
Abi yang melihat Aeril kesal, seketika menariknya ke dalam pelukan, merapatkan wajah Aeril ke dada bidangnya lalu mendekapnya erat.
"Itu bunga buat kamu sayang ..."
"Kamu kira ada wanita yang nge-fans sama suami kamu yang jutek, kaku, batu, dan menyebalkan ini," ucap Abi sembari menggesek-gesekkan hidungnya di atas hidung Aeril.
"Ya siapa tahu kan."
"Kamu udah tahu sendiri gimana sifat aku selama ini ke kamu, di luaran sana aku lebih parah."
"Benarkah?" Aeril pura-pura kaget sembari menutup mulutnya.
Abi yang gemas menarik tangan Aeril yang menempel pada bibirnya dan menggantikan bibir Abi yang menutup bibir mungil Aeril.
"Mas ih ..." Aeril memukul dada Abi lalu menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
Abi tertawa melihat kelakuan Aeril.
"Malah ketawa ihhh."
__ADS_1
"Habisnya kamu gemesin banget sayang ...," ucap Abi dengan memeluk erat sang istri.
"Bunga sama cincinnya cantik, terima kasih Mas," ucap Aeril malu-malu sembari menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Tutup matamu," perintah Abi kepada Aeril.
"Hah," kata Aeril tak mengerti.
"Tutup mata sayang ...," kata Abi mengulangi perkataannya yang tadi.
"Buat apa?" tanya Aeril tak mengerti.
"Tutup aja dulu, nggak usah kebanyakan nanya."
Tanpa membantah lagi Aeril menutup mata. Abi segera mengambil sesuatu yang tadi ia beli bersama dengan cincin yang tadi ia pasangkan di jari manis Aeril. Perlahan Abi membuka kotak yang satu lagi yang berisi kalung lalu memasangkannya di leher putih Aeril.
"Mas ini apa?" tanya Aeril meraba lehernya yang kini terpasang sebuah kalung dengan bandul berbentuk double love yang sangat cantik.
"Itu hadiah kecil untuk seseorang yang istimewa."
"Ini terlalu banyak Mas, cincin aja udah cukup kok, kenapa di kasih kalung juga. Aku bahkan nggak bisa ngasih kamu hadiah apa pun," ucap Aeril sembari menatap Abi dengan raut wajah bersalah karena tak memiliki apa pun untuk membalas hadiah dari Abi.
Abi kembali memeluk Aeril. "Cukup berikan aku hatimu Ay, itu saja sudah lebih dari cukup."
Aeril membalas pelukan Abi dengan tak kalah eratnya.
"Juga tubuhmu Ay," tambah Abi, sembari tersenyum nakal.
"Biarin, mesum sih!!!" Aeril membalik tubuhnya menghadap Naira yang sempat kaget dan hampir menangis mendengar pekikan Abi yang lumayan keras.
"Semua pria normal di dunia ini memang hanya membutuhkan itu saja dari istrinya Ay, memang apa lagi?" ucap Abi dan di susul kekehan gelinya.
"Iya tahu, tapi nggak usah terlalu fulgar, bisa nggak si Mas ...," jawab Aeril gemas.
"Fulgar di hadapan sang istri, salahnya di mana Ay?"
"Ya nggak salah, cuma ... malu Mas." Aeril menutup wajahnya yang kini bersemu merah menahan malu.
Abi merapatkan tubuhnya lalu tangannya masuk ke dalam baju Aeril, lalu mengusap-usap perut ramping Aeril, salah satu bagian kesukaan Abi dari Aeril.
"Mas!!" Aeril membalik perlahan tubuhnya lalu membulatkan matanya ke arah Abi tanda protesnya.
"Jangan protes!!! Aku suka bagian ini, karena kelak anak kita akan ada di sini." Abi terus mengelus perut sang istri lalu bangkit dan menciumnya.
Aeril menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa sangat malu. Sedangkan Abi kini memeluk perut sang istri.
"Mas Naira masih kecil, Mas nggak berfikir buat nambah anak dulu kan?" tanya Aeril pelan.
Abi menghentikan aktifitasnya lalu kembali mensejajarkan tubuhnya dengan Aeril.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Aku suka kalau kita punya anak banyak. Kalau nanti kamu kerepotan aku akan cari baby sitter buat bantu kamu, tapi tenang aja, aku akan cari baby sitter yang berkualitas."
"Bukan itu masalahnya Mas, aku cuma nggak mau Naira sampai kekurangan kasih sayang dari kita kalau sampai nanti dia punya adik, seenggaknya tunggu sampai dia siap jadi seorang kakak, baru kita fikirkan buat adiknya."
"Apa kamu sesayang itu pada Naira sampai memikirkan semua itu Ay?" Abi merasa terharu dengan pemikiran Aeril yang memikirkan semua tentang Naira.
"Tentu saja. Apa kamu meragukan ketulusanku Mas?"
Abi menggeleng. "Enggak sayang, aku sangat percaya padamu, sangat."
Keesokan harinya saat tiba di kantor.
Bugh!!!!!
Satu tinjuan berhasil mendarat di pipi Abi saat turun dari mobil di depan gedung perkantorannya.
Gilang yang sudah di kuasai emosi sejak kemarin hari ini benar-benar menumpahkan emosinya kepada Abi.
"Brengsek lo Bi!!! Lo tau kalau gue udah lama suka sama Aeril, tapi kenapa lo embat juga.
Dasar munafik," teriak Gilang dan bersiap melayangkan tinjunya yang kedua, tapi dengan sigap Abi menahannya.
"Tunggu dulu gue jelasin," elak Abi, sembari menahan tangan Gilang yang hampir saja mengenai wajahnya lagi.
"Alah, mau ngejelasin apa lo? penjelasan lo nggak bakalan ngobatin rasa sakit hati gue."
"Harusnya dari awal lo bilang kalau lo suka sama Aeril, jadi gue nggak perlu ngarep berlebihan sama Aeril," cecar Gilang, sembari menghempaskan tangannya yang di pegang oleh Abi.
"Makanya dengerin gue dulu, biar gue jelasin semuanya."
"Nggak perlu!!!!
Gue kecewa sama lo."
Gilang pun pergi meninggalkan Abi yang di hampiri security yang datang karena melihat perdebatan di antara Abi dan Gilang.
"Pak Abi nggak papa?" tanya security yang menghampiri Abi.
"Nggak papa Pak." Abi meraba sudut bibirnnya yang pecah dan berdarah karena pukulan dari Gilang yang lumayan keras.
Abi cepat-cepat masuk ke dalam kantornya untuk segera mengompres lukanya dengan es batu, karena hari ini ada meeting penting dengan klien. Abi tak ingin jika lukanya sampai membengkak dan mengganggu meetingnya nanti.
*
*
*
*
__ADS_1
Hay readers, aku up lagi setelah beberapa abad aku nggak up di karenakan ... Otakku lagi oleng.
Jadi mohon aku jangan di timpuk, karena aku paling takut sama amukan readers, sumpah🤭🤭🤭🤭🤭