Cinta Untuk Si BabySitter Cantik

Cinta Untuk Si BabySitter Cantik
membujuk Aeril (2)


__ADS_3

Saat subuh tiba perlahan-lahan Tubuh Abi berangsur pulih tak lagi sedingin sebelumnya. Memeluk Aeril ternyata ampuh membuatnya tak lagi merasakan dingin yang luar biasa karena hawa panas dari tubuh Aeril menjalar ke seluruh tubuh Abi.


Tak bisa di pungkiri malam ini pun menjadi malam ternyaman dan ternyenyak yang Abi rasakan setelah kepergian Delia, karena semenjak kepria Delia Abi tak bisa tidur dengan nyenyak.


Aeril perlahan membuka mata saat suara Adzan terdengar dari masjid. Aeril begitu kaget karena saat bangun Abi masih saja memeluknya dan yang lebih parah tangan Aeril pun balas memeluk Abi.


Astaga apa yang aku lakukan.


Aeril menurunkan tangan Abi perlahan dari tubuhnya karena merasa sangat tak nyaman dengan situasi ini. Aeril melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati, sedangkan Abi yang merasakan pergerakan pada tangannya seketika membuka mata.


"M,,,,maaf Ay, aku nggak sengaja."


Aeril tak menjawab perkataan Abi. Aeril lebih memilih pergi dari pada berdekatan dengan Abi karena masih merasa sangat kecewa.


Sementara Aeril sibuk di dapur Abi masih bergelung dengan selimutnya dan belum ingin bangun karena merasa tak nyaman dengan perutnya.


Astaga apa dia akan tetap di sini? Apa dia tidak memikirkan Naira di rumah? Batin Aeril.


Aeril membuatkan Abi kopi lalu berencana memintanya pergi serelah menghabiskan kopinya, karena Aeril merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan Abi di sini.


Setelah selesai meracik kopi untuk Abi, Aeril pun membawa dan meletakkannya di dekat Abi.


"Ay." Abi memegang tangan Aeril saat Aeril hendak beranjak ke dapur.


"Minumlah kopinya Pak lalu pulanglah," kata Aeril ketus.


"Ay aku mohon ikut pulang ya," mohon Abi.


"Saya nggak bisa Pak."


"Tapi Ay."


"Cepat minum kopi Bapak lalu Bapak bisa pergi dari sini," ucap aeril sarkas


"Ay."


"Saya mohon Pak."

__ADS_1


Abi pun diam karena tak tahu harus berkata apa lagi. Tiba-tiba kepala Abi terasa pusing dan merasa mual lalu dengan cepat Abi meminum kopinya berharap Mualnya akan segera hilang. Setelah meminum kopinya Abi pun menyandarkan dirinya pada tembok yang bercat putih.


Sekitar lima belas menit bukannya mualnya hilang kini malah perutnya menjadi sakit. Abi merasakan sesuatu bergejolak di dalam perutnya yang seakan ingin keluar. Semakin di tahan semakin ingin keluar, karena sudah tak tahan akhirnya Abi berlari ke toilet lalu memuntahkan isi perutnya yang hanya air karena sejak kemarin Abi memang hanya meminum air dan belum sempat menelan makanan.


Abi terus memuntahkan isi perutnya yang hanya air bahkan kopi yang barusan ia minum pun ia keluarkan semua. Aeril yang mendengar Abi muntah di kamar mandi menghentikan aktifitasnya lalu menghampirinya di kamar mandi.


Abi keluar dari kamar mandi dengan kepala sempoyongan, satu tangannya berpegangan pada tembok agar ia tak jatuh, tapi semakin lama perutnya semakin sakit dan pandangannya pun berkunang-kunang.


Aeril yang melihatnya dengan sigap menahan tubuh Abi agar tak terjatuh lalu memapahnya untuk kembali ke tempat tidur, meski agak risih karena Abi hanya memakai handuk yang di lilit di pinggangnya, tapi Aeril tak memiliki pilihan lain karena tak mungkin membiarkan Abi sampai terjatuh.


"Tunggu di sini sebentar akan saya bawakan makanan," ucap Aeril lalu bergegas ke dapur untuk mengambil makanan.


"Harusnya kemarin Bapak pulang dan tak melakukan hal bodoh seperti kemarin. Memang Bapak anak kecil yang saat hujan malah hujan-hujanan, kekanak-kanakan sekali," omel Aeril tapi tangannya terus bergerak menyuapi Abi, Abi pun hanya menurut seperti anak kecil yang sedang mendengar Ibunya memarahinya tanpa membantah sedikit pun.


Astaga ... dia begitu cantik saat marah-marah seperti ini.


Abi terus memandang Aeril tanpa bisa mengalihkan pandangannya, Delia bahkan tak pernah membuatnya seperti anak kecil karena Delia yang justru sangat manja kepadanya dan perlakuan Aeril membuatnya tak bisa berkata apa-apa selain tersenyum.


"Makanannya sudah habis sekarang Bapak harus minum obat biar cepat sembuh." Aeril memberikan obat dan juga air kepada Abi.


"Ay mau pakai baju," ucap Abi sebelum Aeril pergi dari hadapannya.


"Baju Bapak baru mau saya laundry. Mending Bapak pakai selimut saya aja dulu sampai baju Bapak selesai saya laundry."


Abi hanya mengangguk patuh tak banyak bicara seperti biasanya, sedangkan Aeril bergegas membawa pakaian Abi untuk di laundy agar bisa cepat kering dan bisa di pakainya kembali. Sebenarnya bisa saja Abi menghubungi Indra untuk membawakannya baju tapi ia ingin menikmati saat bersama Aeril dan terus berusaha membujuknya agar mau ikut pulang bersamanya.


Setelah beberapa saat Aeril datang membawa pakaian Abi dan bersamaan dengan itu Abi tengah menerima panggilan dari Ibu mertuanya.


"Iyya Ma."


"Apa!!!"


"Iyya Ma Abi segera kesana, iyya ma iyya." Abi pun menutup ponselnya.


Aeril tak bertanya apa pun kepada Abi hanya memberikan pakaian yang tadi ia bawa ke laundry.


"Ay, Naira kritis." Abi tak mampu menahan air matanya mengingat kondisi Naira yang terus memburuk dan tak bisa membujuk Aeril untuk ikut.

__ADS_1


"Aku pasrah kalau kamu memang nggak


mau ikut Ay karena aku tau kesalahanku memang fatal, aku pantas kamu hukum seperti ini." Abi tak mampu menyembunyikan perasaan sedihnya di hadapan Aeril.


"Aku salah karena aku mempercayai apa yang aku lihat tanpa mencari tahu kebenarannya, dan karena kebodohanku yang mempercayai Sari kini Naira kritis gara-gara Sari. Aku nggak tau lagi apa yang harus aku lakuin tapi yang jelas aku minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam, dan terima kasih untuk semalam karena kamu masih mau menolongku."


Aeril terpaku di tempatnya mendengar cerita Abi. Aeril mengira setelah kepergiannya semua akan baik-baik saja tapi nyatanya tidak. Mungkin Aeril bisa mengabaikan Abi tapi tidak dengan Naira.


"Aku permisi Ay." Abi pun pergi dengan perasaan sedih. Sedih karena mengingat Naira di tambah Aeril yang tak bersedia ikut dengannya.


Abi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena takut terjadi apa-apa dengan Naira tapi sialnya di tengah perjalanan sedang ada kecelakaan dan membuat kendaraan macet total. Abi memukul keras kemudinya karena sangat frustasi dan membayangkan yang tidak-tidak tentang Naira.


Kurang lebih satu jam mobil pun sudah mulai berjalan dan akhirnya lalu lintas kembali lancar. Tanpa membuang waktu Abi segera menuju rumah sakit karena begitu khawatir dengan Naira.


Sesampainya di rumah sakit Abi terhenyak saat melihat Aeril sudah berada di sana tengah menyusui Naira. Perasaan haru begitu membuncah memenuhi hati Abi, Abi mengira Aeril tak akan pernah datang karena saat di rumahnya tak ada tanda-tanda jika Aeril akan ikut bersamanya.


"Bi lihatlah Naira bisa melewati masa kritisnya karena Aeril sudah datang." Bu Sukma menghampiri Abi lalu memeluknya.


Abi pun tak mampu menahan rasa bahagianya melihat Naira yang kini telah melewati masa kritisnya karena Aeril.


"Terima kasih Ay," lirih Abi.


*


*


*


*


Harusnya ini di up kmaren malem tapi kok ya gak bisa-bisa, yang ke kirim cuma satu, ternyata kuota abissss. Alamat langsung tidur.


Dua hari gak punya kuota, gelisah, males ngapa-ngapai dan yang paling parah males nulis!! Ternyata liat jempol sama komenan kalian tuh bkin semangat.


dua hari gak nengok readers rasanya kangen bingittttt, sumpah✌️✌️✌️


Jangan lupa jempol sama komen ya readers yang kece, karena otor seneng bgt baca komenan kalian. 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2