Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 9


__ADS_3

Naura keluar dari rumah dengan hanya membawa ponsel dan juga lukisan tadi. Lukisan yang sebenarnya baru setengah jadi itu merupakan salah satu peninggalan dari Ibu Naura yang sudah tiada. Bahkan meskipun lukisan itu masih setengah jadi, Naura tetap bisa melihat dengan jelas akhir dari lukisan itu yang merupakan potret dari seorang ibu dan anak.


Karena alasan itu lah, Naura tidak pernah sekalipun mengizinkan orang lain terutama orang yang paling dibencinya untuk menyentuh apalagi merebut lukisan itu. Bahkan jika ia harus membiarkan Nara untuk mengambil alih tubuhnya seperti tadi.


Nara yang masih mengendalikan tubuh Naura, keluar ke jalan raya dengan mengendarai mobilnya. Tanpa tujuan yang jelas, Nara hanya mengemudikan nya sejauh yang ia bisa dengan hari yang semakin gelap dan hujan yang perlahan mulai turun dengan derasnya.


"Berhenti.. ! Aku mohon berhenti Nara..!"


"Tidak. Jika aku berhenti kamu hanya akan kembali ke rumah itu"


"Kamu harusnya tahu dengan jelas, aku bisa mengambil kembali tubuhku sesuka hatiku"


"Dan kamu harusnya tahu, bahwa aku juga bisa merebutnya sesuka hati"


Keduanya saling berdebat tanpa satu pun yang memperhatikan jalan yang semakin gelap dengan terpaan hujan deras. Hingga tanpa keduanya sadari, lampu lalu lintas kini memperlihatkan warna merah. Nara yang seharusnya berhenti malah semakin mempercepat laju mobilnya, hingga tidak menyadari kedatangan sebuah mobil dari arah samping yang juga dikagetkan akan mobil Nara.


"Nara!" Naura yang kaget dengan cepat mengambil alih kembali tubuhnya dan..


BRAAAKKK...


Mobil yang melaju dari samping itu dengan cepat menabrak mobil Naura. Kondisi jalan yang dipenuhi air hujan semakin memperparah keadaan karena jalan yah licin.


Mobil Naura dengan cepat terpental ke depan, begitu pun dengan mobil yang menabraknya yang juga mengalami kerusakan di bagian depannya.


"Ugghh.. "


Sensasi dingin perlahan menjalar dikepalanya, darah merah kental perlahan mengalir keluar dikuti kesadaran Naura yang perlahan menghilang.


...***...


Dengan bantuan dari orang yang menabraknya, Naura akhirnya bisa dilarikan ke rumah sakit terdekat. Meski mobil yang dikendarai nya rusak parah, tak ada satupun yang mengalami luka pada mobil yang menabrak Naura.


Selain orang yang menabraknya, salah satu orang yang juga datang menolong Naura adalah William. Tepat setelah Naura mengalami kecelakaan, ponselnya tiba-tiba berdering yang ternyata panggilan dari William. Tanpa pikir panjang, orang yang menabrak Naura segera mengangkat panggilannya dan memintanya untuk datang menolong.

__ADS_1


Semua kerusakan yang disebabkan oleh Naura termasuk prosedur di rumah sakit di selesaikan oleh William seorang. Ia yang pada awalnya hanya ingin menanyakan kabar tak menduga akan mendapati Naura dalam keadaan seperti itu.


Sementara itu, Naura masih belum sadarkan diri setelah mendapat beberapa jahitan di bagian kepalanya meski tidak sampai mengharuskannya untuk menjalani operasi karena luka yang diterimanya tidak terlalu parah. Naura pingsan karena kondisi tubuhnya yang memang sudah lemah sejak awal, ditambah ia yang begitu syok membuat nya berakhir pingsan tak sadarkan diri.


....


Setelah membeli beberapa buah-buahan di supermarket terdekat, William kembali ke rumah sakit untuk mengecek kondisi Naura, dengan harapan Naura akan sadar kembali.


"Apa ada yang salah dok?" Tanya William setibanya di kamar Naura dan mendapati Dokter yang memeriksa Naura tampak bingung dengan raut wajah cemasnya


"Sebelumnya maaf jika saya lancang, tapi hubungan apa yang Anda miliki dengan pasien?" Tanya dokter itu ragu-ragu


"Saya temannya dok"


Dokter itu terlihat mengerutkan keningnya, seolah belum sepenuhnya percaya pada William.


"Apa menurut dokter, dengan reputasiku ini, aku akan dengan begitu bebasnya menipu seorang dokter" Ucap William


"Ikut dengan saya" Ucap Dokter itu membawa William masuk ke dalam kamar Naura


"Apa terjadi sesuatu dengannya?" Tanya William khawatir terutama setelah melihat raut wajah cemas dokter itu


"Saya tidak yakin harus mengatakannya atau tidak, tapi sepertinya saya harus mengatakannya" Dokter itu berucap sembari menggulung lengan baju Naura hingga lengannya


"Ada beberapa luka lebam seperti ini di tubuhnya dan lebam ini sama sekali bukan disebabkan karena kecelakaan nya barusan. Luka lebam ini sudah memerah keunguan yang berarti terjadi beberapa hari yang lalu" Ujar Dokter itu menjelaskan alasan dari rasa cemas dan ke hati-hatiannya barusan


Tanpa sadar, tangan William mengepal saat melihat luka lebam di lengan Naura. Tanpa ditanya pun, ia sudah tahu pelakunya. Hanya saja, ia tidak menyangka jika Naura akan mendapat siksaan fisik seperti itu.


"Maaf Dok.. Tapi tolong rahasiakan hal ini untuk sementara, aku sendiri yang akan mendiskusikannya dengan keluarganya"


"Baik. Kalau begitu saya pergi" Ucap Dokter itu lalu berbalik pergi meninggalkan William yang kini duduk di kursi


William menggenggam tangan Naura. Tanpa sadar, air matanya jatuh menetes membayangkan rasa sakit yang dirasakan oleh Naura selama ini.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa sekuat ini Naura.. Bahkan jika kamu begitu mencintainya, kamu tidak harus mengorbankan dirimu seperti ini" Ucap William lirih sembari menatap wajah pucat Naura


Tiba-tiba Naura perlahan menggumamkan sesuatu, William yang menyadarinya lantas mencondongkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Naura.


"Sakit.. Aku mohon.. Tolong aku.. Adam.. "


William sedikit tertegun mendegar nama yang diucapkan oleh Naura barusan. Bahkan saat Adam merupakan penyebab dari rasa sakitnya, Naura tetap saja kembali padanya.


Dengan senyum kecut di wajahnya, William kembali mendekatkan kepalanya di telinga Naura dan berbisik disana "Aku disini, William. Bukan Adam" Ucap William sembari menepuk pundak Naura mencoba menenangkan


Dengan perasaan khawatir bercampur kecewa, William tetap setia mendampingi Naura. Mengusap keringat dingin di keningnya dan menjaganya hingga pagi buta.


Setalah berada di samping Naura semalaman, barulah William menghubungi Dira dan memberitahukan kondisinya. Dira yang mendapat kabar itu, dengan cepat ke rumah sakit untuk mengecek kondisi Naura.


....


Dira yang baru tiba di rumah sakit, dengan cepat mengecek kondisi Naura. Saking khawatirnya, ia bahkan menggunakan pakaian tidurnya dan tidak berganti pakaian sama sekali.


"Bagaimana keadaannya?"


"Kurang baik. Ini bukan tentang luka kecelakaan nya, tapi luka yang didapatnya dari seseorang" Jawab Adam sembari menggulung lengan baju Naura memperlihatkan lebam yang diperlihatkan dokter semalam


Dira hanya diam di tempatnya menatap luka lebam di lengan sahabatnya itu. Sejak awal ia sudah menyadarinya, mengingat Naura yang terus-menerus meringis saat ia menggenggam lengannya.


"Jangan bilang kamu sudah tahu?"


"Iya. Aku sudah mengetahuinya sejak awal" Jawab Dira lirih


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, bagaimana bisa kamu membiarkan Naura terluka seperti ini?"


"Apa yang harus aku lakukan? Kamu pikir berapa kali aku bertengkar dengannya karena masalah ini" Ucap Dira balas menatap William kesal


William hanya berdecak kesal sebelum akhirnya pergi dari ruangan itu. Melihat gadis yang begitu dicintainya terluka seperti ini, semakin membuatnya emosi karena tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2