
Setelah mengunjungi makam Ibunya, Nara lalu menemui Adam yang sedari tadi menunggu di mobilnya. Justin yang masih tak setuju, pada akhirnya menunggu di mobil karena paksaan dari Nara.
Nara kini duduk di kursi penumpang dengan Adam tepat di sampingnya. Adam yang sedari tadi diam, sedikit membuat Nara kesal dan tak tahan dengan situasi itu.
"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan? Jika kamu terus diam seperti ini, lebih baik aku pergi sekarang" Tutur Nara tak tahan lagi
"Tunggu.. " Adam meraih lengan Nara mencegahnya keluar dari mobil
Nara hanya menghela nafasnya berat, lalu kembali duduk seperti semula.
"Aku harus memanggilmu dengan nama siapa?" Tanya Adam dengan nada yang terdengar begitu halus, begitu berbeda dengan yang diperlihatkan nya selama ini
"Nara. Mulai sekarang panggil aku dengan nama itu, karena Naura yang selama ini sudah kau sakiti bukan lah diriku" Ujar Nara acuh tak acuh seraya menatap lurus kedepan
Perasaan Adam benar-benar campur aduk, wanita di depannya ini benar-benar bukan Naura yang selama ini selalu bersikap lembut terhadapnya bahkan setelah semua sikap kasarnya.
"Apa aku bisa berbicara dengan Naura?" Tanya Adam memberanikan dirinya
Nara yang mendengar pertanyaan Adam sontak menoleh menatap Adam kesal "Apa lagi yang ingin kamu lakukan? Apa selama ini belum cukup untukmu menyakitinya" Tutur Nara dengan kesalnya
"Aku sadar selama ini aku sudah menyakitinya, aku hanya ingin meminta maaf padanya. Aku janji akan melakukan apapun permintaannya, jadi.. "
"Jadi apa? Memangnya kamu pantas untuk dimaafkan. Bahkan meski pun kamu meminta maaf dan bersujud di hadapannya, kamu tidak akan pernah bisa mengganti air mata dan rasa sakit yang dirasakannya selama ini" Pekik Nara emosi
"Aku tahu.. Meski sulit baginya untuk memaafkanku, aku akan tetap memohon.. Aku benar-benar menyesali perbuatanku yang telah dibutakan oleh Clara selama ini" Tutur Adam sedikit terisak dengan mata berkaca-kaca
"Percuma kamu menangis di depanku, itu tidak akan merubah apapun. Kamu harus tahu, bahwa aku berbeda dengan Naura. Aku jauh-jauh lebih buruk dari Naura. Selama ini aku sudah berusaha sabar saat Naura diperlakukan tidak adil olehmu"
"Jadi jangan pernah berharap, aku akan memaafkan dirimu. Sebesar apapun cinta yang dirasakan Naura, maka sebesar itu juga rasa benci yang aku rasakan terhadapmu" Ucap Nara tajam penuh penekanan
Nara lalu turun dari mobil, tanpa menghiraukan Adam yang kini terdiam tak tahu harus berkata apa.
"Dan juga.. Sampai kan pada kekasih l*curmu itu untuk menikmati hidupnya saat ini. Karena aku pasti akan membalasnya berkali-kali lipat rasa sakit yang kurasakan" Tutur Nara untuk terakhir kalinya sebelum menutup pintu mobil Adam
Adam yang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Nara, kini mengerutkan keningnya bingung. Dari informasi yang diberikan oleh asistennya, tidak ada sama sekali yang menyinggung soal Clara yang melukai Naura.
__ADS_1
Hal ini membuatnya kembali teringat akan kondisi Naura yang juga sudah mengusiknya sebelumnya. Kondisi tubuhnya yang dipenuhi oleh perban tepat setelah ia menghilang hari itu.
"Kamu benar-benar sudah keterlaluan Clara" Ucap Adam meletakkan kepalanya di setir mobilnya, merutuki dirinya yang sudah benar-benar dibuat bodoh oleh Clara
......
Nara yang sudah selesai dengan Adam, memilih kembali ke mobilnya sebelum Justin kehabisan kesabaran karena menunggu.
"Apa yang dia katakan kak? Mengapa kening Kakak berkerut seperti itu?"
"Bukan apa-apa" Ujar Nara masuk ke dalam mobil seraya menyandarkan kepalanya di pundak Justin
"Kak?"
"Dia ingin berbicara dengan Naura" Ujar Nara karena Justin yang menatapnya meminta untuk menjelaskan yang sebenarnya
"Berani sekali dia.. Kakak tidak membiarkannya kan? Bagaimana dengan Kak Naura?" Tanya Justin khawatir karena sifat Naura yang terlalu lembut, yang bisa dengan mudah dimanfaatkan oleh orang seperti Adam
"Tidak.. Naura belum pernah muncul sejak kejadian itu.. Dia benar-benar menutup dirinya.. " Ucap Nara lirih
"Kakak baik-baik saja?" Tanya Justin
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir" Ucap Nara menenangkan Justin yang menatapnya khawatir
"Ayo jalan pak" Pinta Nara kemudian
Keduanya lalu pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Adam yang masih terdiam merenungi semua kesalahan-kesalahan dan kebodohannya selama ini.
.....
Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk tiba di kediaman keluarga Naura. Kediaman yang sudah begitu lama tidak dikunjungi oleh Naura, terutama setelah pernikahannya.
Hubungannya dengan ayahnya yang renggang sejak kejadian masa kecilnya dulu, membuat Naura ragu untuk datang. Ia bahkan meragukan kasih sayang ayahnya terhadapnya. Karena itulah, ia yang jarang berhubungan dengan ayahnya dan memilih untuk menjauh.
"Kak?" Panggil Justin merangkul lengan Nara saat Nara berdiri diam di dekat mobilnya seraga memperhatikan rumahnya
__ADS_1
"Ayo masuk" Ucap Nara membuyarkan lamunannya, lalu masuk ke dalam bersama dengan Justin
Kabar kedatangan Nara hari ini, telah sampai di telinga ayahnya. Karena itulah, Ayah Nara sudah berada di ruang tamu saat Nara dan Justin masuk ke dalam rumah.
Tanpa mengucapkan kata sapaan apapun, Nara dan Justin duduk di depan ayahnya yang hanya diam memperhatikan sejak tadi, dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
"Bii.. " Panggil Nara pada pembantu di rumah itu
"Iya Non.. " Jawab salah seorang pembantu datang menghampiri Nara
"Tolong buatkan aku makan siang Bi, aku baru saja kembali dari makam Mama, dan aku sangat lapar sekarang" Pinta Nara sesopan mungkin
"Kamu dari makam Ibumu? Mengapa tidak mengabari Ayah sebelumnya" Tutur Ayah Reva
"Kenapa aku harus mengabari Papa, ini tidak seperti aku akan membuat masalah disana" Ucap Nara acuh tak acuh
"Nara!" Tegur Ayah Nara sedikit emosi
"Kenapa Pa? Aku datang kesana karena ingin mengunjungi Ibuku. Apa salah jika seorang anak mengunjungi makam ibunya sendiri"
"Ayah ingin berbicara dengan Naura. Biarkan dia keluar" Ucap Ayah Nara tanpa menghiraukan perkataan Nara sebelumnya
Nara berdecak pelan melihat sikap Ayahnya yang masih terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya padanya.
"Apa menurut Papa, dia akan keluar setelah semua yang terjadi? Dia bisa merebut kembali tubuh ini dengan sesuka hatinya jika dia memang ingin melakukannya, tapi sampai detik ini dia tetap tidak melakukannya"
"Jangan lupa Pa, orang pertama yang mendorong Naura masuk ke rumah itu tak lain adalah Papa sendiri. Orang yang paling disayanginya, justru yang membuatnya mengalami penderitaan seperti itu"
"Jadi jangan pernah berharap untuk bertemu dengan Naura"
"Papa sadar akan hal itu. Karena itulah Papa benar-benar ingin bertemu dengannya dan menebusnya" Ucap Ayah Nara memohon
Nara semakin tak habis fikir. Seharian ini orang-orang terus meminta untuk bertemu dengan Naura dan siap untuk menebus kesalahan mereka.
Dan itu hal yang paling dibenci oleh Nara. Mereka seharusnya tidak melakukan hal itu jika pada akhirnya akan mengemis permintaan maaf seperti itu.
__ADS_1