
Adam menatap pantulan dirinya dari cermin. Wajahnya basah setelah berulang kali dibilas nya. Tanganya naik memijat keningnya memikirkan perbuatanya barusan.
"Lagi-lagi seperti ini, aku menjauh bahkan sebelum aku menyadarinya" Gumam Adam kebingungan dengan dirinya sendiri
Sudah menjadi hal yang wajar bagi sepasang kekasih untuk saling berciuman. Tapi entah mengapa tubuhnya selalu bergerak diluar kendalinya tiap kali ia akan berciuman dengan Clara.
"Aku harus meminta maaf padanya.. " Ucap Adam lesu sembari keluar dari kamar mandi dan kembali menghampiri Clara yang ia yakini tengah murung karena penolakannya lagi
Sesuai dugaannya, Clara kini duduk meringkuk murung di sofa.
"Maaf.. " Ucap Adam saat tiba di dekat Clara, tangannya naik mengelus rambut Clara lembut
"Hmm... Tidak apa-apa" Jawab Clara dengan senyum kecil di wajahnya
"Kamu sebaiknya istirahat sekarang"
"Kenapa? Kamu sudah akan pulang?"
"Iya. Aku harus pulang sekarang" Jawab Adam beralasan
"Baiklah. Kamu hati-hati di jalan. Jangan lupa menghubungiku saat tiba di rumah" Ucap Clara sembari mengantar Adam keluar dari rumah
Adam hanya mengangguk mengiyakan, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Ia menghela nafasnya berat, ia masih memikirkan dirinya yang terus-menerus menolak Clara jika itu berkaitan dengan sentuhan fisik yang lebih intim.
Adam benar-benar tidak bisa memikirkan alasan jelasnya karena bagaimana pun Clara adalah satu-satunya kekasihnya dari sejak kuliah. Setelahnya ia benar-benar tidak pernah berhubungan dengan wanita lainnya. Bahkan dengan Naura yang sudah berstatus sebagai istrinya sekalipun.
.....
Lalu lintas malam hari yang lumayan sepi membuatnya bisa dengan lancar mengendarai mobilnya di jalanan besar itu. Jika sebelumnya memerlukan waktu setengah jam lebih, kali ini ia hanya memakan waktu hampir 20 menit untuk tiba di rumahnya itu.
Adam melirik sekilas ke arah bagasi dimana mobil Naura kini terparkir disana.
"Sejak kapan aku memikirkannya" Gumam Adam kembali menoleh acuh tak acuh akan hal yang berhubungan dengan Naura
Namun langkah kakinya seketika terhenti, saat ia mendapati Naura yang tengah tertidur pulas di sofa ruang tamu.
Berusaha mencoba tidak perduli, Adam memilih melangkahkan kakinya dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Namun entah apa yang merasuki nya tiba-tiba, belum sampai di lantai dua, Adam berbalik dan menghampiri Naura di ruang tamu tadi.
"Hei.. Bangun.. Naura.. " Ucap Adam menendang sofa itu berusaha membangunkannya
Namun Naura sama sekali tidak bereaksi terhadap panggilan Adam. Melihat hal itu membuat Adam geram dan mengacak-acak rambutnya kesal.
Adam terdiam sejenak memperhatikan Naura, lalu kemudian menjulurkan tangannya dan mengangkat tubuh Nahra naik ke kamarnya ala bridal style.
"Oh astaga.. Apa yang merasuki tuan hari ini?"
Bi Eka yang dari kejauhan sempat menyaksikan perilaku majikannya itu sedikit kaget sekaligus merasa senang melihat perhatian tiba-tiba dari majikannya itu.
...
"Apa dia memang sekurus ini? Bagaimana bisa dia seringan ini" Batin Adam tak habis fikir dengan berat badan Naura yang begitu ringan
Adam membaringkan tubuh Naura di kasur, tak lupa memakaikannya selimut.
"Haihh.. Sejak kapan aku jadi sebaik ini.. " Guman Adam meremas keningnya bingung dengan sikapnya
"Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah datang ke kamarnya sebelumnya"
"Dia masih menggambar? " Ucap Adam saat melihat perlengkapan melukis di kamar itu "Tapi apa gunanya, jika kamu hanya akan berbuat curang seperti dulu" Sambung Adam berbalik menatap Naura
Kesalahpaman di masa lalu yang menjadi alasan terbesar dari sikap cuek dan dinginnya Adam terhadap Naura. Hanya dengan memikirkannya membuat Adam kembali merasa kesal.
Namun entah mengapa, perilakunya tampak begitu aneh malam ini. Ia yang sebelumnya terus menerus mendorong Naura menjauh, namun tidak malam ini. Adam tetap diam bersandar di meja menatap ke arah Naura yang tengah tertidur pulas.
Hingga kemudian, ia melihat ke arah bibir ranum Naura membuatnya teringat akan penolakannya pada Clara.
Sedikit ragu-ragu, Adam mendekati kasur Naura. Ia mendekatkan wajahnya perlahan masih dengan ke ragu-raguannya, namun ia tidak berhenti hingga pada akhirnya ia benar-benar menempelkan bibirnya pada Naura.
Kedua matanya tertutup merasakan sentuhan asing namun begitu lembut pada bibirnya.
"Astaga.. Apa yang barusan aku lakukan" Batin Adam segera menarik kembali bibirnya menjauh
Adam memukul jidatnya berulang kali karena tindakannya barusan. Ciuman pertamanya, bukan dengan gadis yang ia cintai. Namun dengan seorang gadis yang selama ini dibencinya dan bahkan ia tidak menghindar sama sekali.
__ADS_1
"Aku pasti sudah gila.. " Gumam Adam merutuki dirinya sembari keluar dari kamar itu
Fakta bahwa ia baru saja mencium Naura sudah membuatnya kaget dan lagi ia menciumnya dalam keadaan tidur. Hal itu semakin membuatnya merasa seperti seorang bajingan yang baru saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.
...
Beberapa saat setelah Adam keluar dari kamar Naura. Naura yang sejak tadi menutup matanya seketika bangun terduduk sembari memegangi bibirnya.
"A-apa yang terjadi barusan? Adam mencium ku? Tapi kenapa?" Tanya Naura kaget
Dari sejak Adam mengangkatnya naik ke kamarnya, Naura sudah tersadar dari tidurnya dan memilih untuk tetap berpura-pura tidur.
"A-apa aku harus merasa senang.. " Ucap Naura lirih sembari berbaring kembali memeluk gulingnya
"Itu hanya sebuah ciuman, lagipula ia pasti sudah sering melakukannya dengan wanita itu" Nara yang sudah beberapa hari ini tidak muncul kembali menampakkan dirinya
"Aku tidak perduli.. " Balas Naura tidak menghiruakan perkataan alteregonya
Meski selama ini Nara belum pernah lagi keluar, tapi itu bukan berarti ia tidak bisa mengambil alih tubuh itu. Karena bagaimana pun keduanya tetaplah pemilik tubuh itu, yang membedakan hanyalah kepribadian dari keduanya yang begitu bertolak belakang.
...***...
Keesokan paginya, sama seperti sebelumnya Naura bangun pagi-pagi hanya untuk mempersiapkan sarapan untuk Adam.
Sejak bangun tadi, wajah Naura tak berhenti merona karena mengingat kejadian semalam. Ia benar-benar penasaran seperti apa raut wajah Adam nanti, yang entah akan berubah atau masih tetap sama seperti sebelumnya.
"Tuan sudah bangun.. "
Dari kejauhan, Naura yang tadi sibuk menyajikan makananya segera menoleh kearah Pak Agus yang baru saja menyapa Adam.
"Hmm.. " Adam hanya bergumam sembari mengangguk melihat pak Agus dan kembali melanjutkan langkahnya ke dapur untuk mengambil air melihat gelas kosong yang dipegangnya
"Kamu haus? Perlu aku ambilkan air minum?" Tanya Naura saat Adam tiba di dekatnya
Adam yang belum sepenuhnya mengumpulkan kesadarannya, seketika tersadar sepenuhnya saat melihat wajah Naura yang langsung mengingatkannya akan perbuatannya semalam.
"Iya" Jawab Adam berusaha mengontrol raut wajahnya agar tidak terlihat aneh
__ADS_1
"Sepertinya dia benar-benar tidak perduli" Batin Naura menuangkan air pada gelas Adam yang hanya memasang wajah datar seolah tidak ada yang terjadi