Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 37


__ADS_3

Setelah pembicaraan perceraian kemarin, Naura tak kunjung keluar dari kamarnya. Berulang kali Pak Agus maupun Bi Eka datang ke kamarnya untuk melihat kondisinya, karena khawatir akan kesehatan Naura, yang bagaimana pun ia baru saja sembuh.


Meski Naura sudah menjelaskan bahwa ia baik-baik saja, namun mereka tetap tidak mempercayai omongannya dan terus-menerus mendatanginya baik itu menanyakan kondisi ataupun membawakan cemilan makanan untuknya.


Jam di dinding perlahan menunjukkan pukul 3 subuh, saat Naura membuka kedua matanya yang terasa begitu berat. Sudah beberapa jam berlalu sejak pertengkarannya dengan Adam namun ia tetap tidak bisa melupakannya.


Naura sudah terbiasa dengan pertengkaran dalam rumah tangganya itu. Namun kali ini berbeda tak kalah Adam lagi-lagi memgungkit soal perceraiannya yang mana ini merupakan kali kedua dia mengucapkannya.


"Apa aku akan berpisah dengannya? Seolah-olah aku sama sekali tidak memiliki tempat apapun di hatinya"


"Sejak awal, dihatinya memang bukan tempatmu Naura"


"Tidak mungkin. Aku tidak mau kehilangan seseorang lagi. Aku tidak mau. Cukup Mama yang meninggalkan aku, aku tidak ingin sendiri lagi" Ucap Naura seraya menekuk lututnya di kasur dengan mata berkaca-kaca


"Tidak ada yang meninggalkanmu. Sejak awal kamu memang sendiri Naura. Sampai kapan kamu akan hidup seperti ini? Kamu sudah seharusnya sadar Naura"


"Tidak.. Tidak.. Berhenti.. Adam suamiku dan sampai kapan pun akan seperti itu"


"Dia tidak mencintaimu Naura. Sebesar apapun kamu mencintainya, dia tidak akan pernah membalasnya. Apa dua tahun ini masih belum cukup? Kamu sudah melihatnya dengan jelas, tatapan benci dan jijik darinya saat melihatmu, apa menurutmu itu tatapan dari seseorang yang akan mencintaimu? Apa seperti itu, Naura?" Kata-kata Nara memenuhi isi pikiran Naura


Tak ada satupun yang salah dari kata-kata itu. Naura mengetahuinya dengan jelas. Namun bagaimana pun ia berfikir, ia tetap tidak bisa menentang hatinya yang dengan goblokmya mencintai Adam.


"Kamu tidak harus berkorban terus-menerus hanya karena kamu tidak ingin melihatnya tersakiti akan kebohongan Clara. Karena sebanyak apapun pengorbanan yang kamu lakukan, semua itu tidak ada gunanya dimata Adam selama dia bersama dengan wanita itu"


"Cukup Nara. Jika kamu melakukan ini untuk mengambil alih tubuhku, maka hentikan sekarang juga" Ucap Naura menolak untuk mengikuti perkataan Nara


"Dasar keras kepala.. " Cemooh Nara sebelum akhirnya terdiam kembali


Naura yang tadinya tidak berniat menangis kini perlahan menangis. Air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung lagi. Tangannya dengan erat memeluk lututnya yang ia tekuk tadi

__ADS_1


"Lagi-lagi aku sendiri.. " Gumam Naura menundukkan kepalanya di sela lututnya dengan air mata yang masih menetes di wajahnya


Dalam keadaan seperti ini, ingatannya akan Ibunya justru perlahan kembali di ingatannya.


"Mama juga meninggalkanku sendiri seperti ini. Begitupun dengan Papa yang seolah melupakanku setelah kepergian Mama. Apa aku memang ditakdirkan untuk sendiri"


"Bukankah sudah kukatakan, berhenti memberikan cintamu pada orang lain. Kamu harusnya menerima cinta dari mereka bukan sebaliknya" Ucap Nara kembali bersuara setelah melihat pergulatan hati dan pikiran dari Naura


Naura yang sudah tidak tahan mendengar kata-kata Naura, turun dari kasurnya dan berjalan ke arah laci di meja samping kasurnya.


Dengan raut wajah paniknya, Naura menggeledah laci itu. Terdapat beberapa botol putih berisi obat tidur di laci itu. Naura mengambil satu dan menuang 3 butir obat di telapak tangannya lalu menelannya.


"Apa yang kamu lakukan Naura? Apa kamu ingin membunuhku" Protes Nara tak suka dengan tindakan Naura


Meneguk 3 butir obat tidur, sudah cukup berbahaya untuknya. Alasan utama mengapa Nara memilih untuk tidak merebut tubuh Naura secara paksa, karena tiap kali Naura merebut tubuhnya kembali, ia akan melakukan segala cara termasuk meminun obat tidur.


Setelah menelan obat tidur itu, Naura kembali ke kasurnya, berbaring dengan posisi meringkuk memegangi kedua lututnya.


.....


Esok paginya, Naura yang tertidur setelah meminun obat tidur tak kunjung bangun bahkan setelah jam 1 siang.


Berulang kali ponsel Naura berdering karena panggilan dari Dira yang sedari pagi mencoba menghubunginya namun tak kunjung mendapat balasan.


Barulah setelah jam 5 sore, Naura akhirnya terbangun setelah dibangunkan secara langsung oleh Bi Eka yang sudah begitu mengkhawatir kan keadaanya.


Kejadian seperti ini, sudah bukan yang pertama kalinya terjadi. Sejak pernikahannya, Naura semakin rajin mengkonsumsi obat tidur dan seiring berjalannya waktu hal ini menjadi kebiasaan Naura khususnya setelah kedatangan Clara yang membuat Naura terkadang mengkomsumsinya secara berlebihan.


"Makasih Bi.. " Ucap Naura pada Bi Eka yang datang membangunkannya sembari membawakan makanan untuknya karena sudah melewatkan makan pagi dan siangnya

__ADS_1


"Bagaimana dengan Adam Bi?" Tanya Naura kemudian


"Tuan sudah berangkat ke kantor Non" Jawab Bi Eka


"Oh iya. Kalau gitu aku mandi dulu Bi" Ucap Naura lalu berjalan ke kamar mandi


Bi Eka yang memperhatikan raut wajah Naura tadi, merasa sedikit prihatin lantaran wajah pucat dengan mata sembab Naura yang ia yakini karena pertengkarannya kemarin dengan Adam.


"Apa Nona baik-baik saja?" Tanya Bi Eka tepat sebelum Naura masuk ke kamar mandi


Naura lalu berhenti dan menoleh menatap Bi Eka dengan senyum yang sedikit di paksakan di wajahnya "Aku baik-baik saja Bi" Jawab Naura kemudian


"Tapi Non Naura tidak terlihat baik-baik saja" Ucap Bi Eka dalam hati


Semakin ia melihat kondisi Naura, semakin ia ingin mendorongnya keluar dari rumah itu. Gadis ceria nan baik hati, justru berakhir menderita di rumah yang begitu menyesakkan itu.


Seorang gadis yang hanya mendambakan kasih sayang dari suaminya, harus menelan pahit sakitnya pernikahan karena cinta yang sepihak.


"Entah kapan Nona akan dasar, jika pernikahan ini tidak lagi layak untuk dipertahankan" Gumam Bi Eka mengutarakan pendapatnya setelah menyaksikan lika liku permasalahan dalam rumah tangga itu


Meski ia pada dasarnya bekerja untuk keluarga Adam, ia tetap tidak tega jika melihat gadis seperti Naura yang sudah dianggapnya layaknya anak sendiri menderita seperti itu. Namun meski ia berpendapat seperti itu, ia tetap tidak bisa mengungkapkannya karena takut menyakiti perasaan Naura yang selalu optimis dalam mempertahankan pernikahan itu.


.....


Sementara itu, Naura yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, masih berdiri di depan cermin memperhatikan wajahnya khususnya dibagian mata yang terlihat sembab karena semalam.


"Aarrghhh.. Kamu benar-benar kacau Naura" Gerutu Naura meremas rambutnya


Ia yang seharusnya menjaga penampilannya justru berakhir seperti itu hanya karena pertengkarannya dengan Adam dan dilanjutkan dengan dia yang malah terprovokasi oleh kata-kata Nara semalam.

__ADS_1


"Apa yang harus ku lakukan sekarang.. Seharusnya aku tidak seperti ini di hari sepenting ini " Ucap Naura kebingungan diliputi perasaan sesal


__ADS_2