
Adam dan Naura memutuskan masuk ke dalam villa, setelah kepergian Gibran karena hanya itu satu-satunya yang dapat mereka lakukan ditempat yang tidak ada penghuninya itu.
"Bahkan tidak ada sinyal disini.. " Ucap Adam geram seraya mengacak-acak rambutnya kesal
Berulang kali ia bolak-balik di sekitar ruangan itu, dengan tangan terangkat seraya menggoyang-goyang kan ponselnya untuk mencari sinyal namun percuma. Karena ditempat itu benar-benar tidak ada sinyal.
Naura yang sudah pasrah akan apa yang terjadi, memilih memgecek dapur. Karena bagaimana pun, tidak ada tempat selain vila itu ditempat itu.
"Sesuai dengan dugaanku, mereka benar-benar sudah meremcakana semuanya dengan baik" Ucap Naura setelah memeriksa persediaan bahan makanan di dapur yang lumayan banyak untuknya dan Adam menghabiskan waktu selama sebulan disana
Naura yang sudah berada di dapur, memutuskan untuk memasak beberapa makanan untuk makan siangnya nanti.
....
45 menit kemudian..
Naura yang telah selesai dengan masakannya, mulai menyusunnya di meja makan setelah membaginya menjadi dua bagian karena entah Adam akan memakan masakannya atau tidak.
Naura mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari keberadaan Adam yang sejak tadi berkeliling mencari sinyal.
"Ughh.. " Naura menelam ludahnya kaget saat pandangannya tiba-tiba terkunci pada Adam yang juga menatapnya
"Bagaimana ini, apa dia akan memarahi ku lagi" Batin Naura khawatir terutama setelah melihat ekspresi dingin dari Adam saat ini
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Adam setibanya di dekat Naura
"I-ini.. Jika kamu tidak keberatan, aku sudah membuat makan siang untukmu" Jawab Naura menyodorkan makanan yang baru dibuatnya itu
"Dia pasti akan langsung menolaknya.. " Batin Naura tidak begitu berharap
Namun berbeda dengan pikirannya, Adam justru diam sembari duduk di kursi itu. Ia melirik makanan buatan Naura, lalu meraih piring tersebut bersiap untuk makan siang. Tanpa penolakan atau pun celaan seperti yang dilakukannya sebelumnya.
"Oh?" Naura menutup mulutnya kaget, tidak menyangka jika Adam akan bersedia duduk di meja yang sama dengannya dan bahkan mencicipi makanan buatannya
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Adam lalu menyantap makan siang ituitu, Membuat Naura tiba-tiba gugup, karena menantikaj respon dari Adam.
"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu ingin mempertahankan pernikahan ini?" Tanya Adam begitu tiba-tiba
"Karena aku mencintaimu.. " Jawab Naura lirih
"Tapi kamu tahu sendiri, wanita yang aku sukai adalah Clara" Ucap Adam tidak mengerti dengan jalan pikiran Naura
"Aku tahu" Jawab Naura seraya meletakkan sendok makannya
"Apa karena hal ini, kamu melakukan hal seperti itu di masa lalu?" Tanya Adam kembali mengungkit kejadian masa lalu
Kejadian yang menjadi alasan terbesar Adam begitu membenci Naura bahkan setelah keduanya resmi menikah.
"Jika seandainya aku bisa membuktikan ucapanku, apa kamu akan mempercaiku?" Tanya Naura balik bertanya seraya menatap Adam dengan raut wajah sendu
"Memangnya bagaimana kamu akan membuktikannya? Bukankah sudah kukatakan.. "
Adam terdiam, ini lah mengapa ia lebih mempercayai Clara karena bagaimana pun ia secara langsung melihat bagaimana Clara saat mendesai pakaian itu.
"Aku bisa saja membawakanmu buktinya, tapi dari yang aku lihat, kamu tidak akan pernah bisa mempercayaiku. Bukankah begitu?" Tanya Naura tersenyum miris
Karena bahkan jika dia membela dirinya sendiri dan membawa bukti bawah dirinya tidak bersalahannya, Adam hanya akan kembali menuduhnya berbohong karena memalsukan bukti. Terutama jika Clara sudah terlebih dahulu menghasut Adam.
Adam lagi-lagi terdiam, karena ia memang tidak bisa menyanggahnya.
.....
Kejadian itu bermula saat Adam, Naura dan Clara masih berstatus seorang mahasiswa. Naura dan Clara yang berada di jurusan yang sama, secara kebetulan mendaftar sebagai perwakilan yang akan mengikuti sebuah fashion desainer yang diikuti oleh kampus mereka.
Namun karena beberapa kejadian, Naura akhirnya memilih untuk mundur setelah mengetahui fakta bahwa, desain yang seharusnya ia kumpulkan justru terlihat begitu persis dengan desain Clara.
Tanpa waktu untuk menjelaskan dan membuktikan ketidakbersalahannya, Naura secara sepihak dituduh melakukan plagiat. Terutama karena Adam yang secara langsung mengajukan dirinya sebagai saksi bahwa Clara sama sekali tidak menjiplak desainnya.
__ADS_1
Mengingat kejadian itu, membuat Clara hanya bisa berdecak kesal. Sejak awal buku desain yang setiap hari di bawanya kemanapun ia pergi, justru menghilang tepat sebelum ia mengumpulkan karyanya.
Senyum licik penuh kemenangan yang dulu diperlihatkan oleh Clara, masih terngiang di pikirannya. Karena itulah, ia tidak pernah sekalipun menyerah akan pernikahan itu, karena ia memilih untuk menaha rasa sakit itu ketimbang membiarkan Clara mendapatkan apa yang dinginnkannya, meski hal ini akan terlihat begitu egois bagi Adam.
.....
Karena memikirkan kejadian masa lalu yang kurang mengenakkan hatinya, selera makan Naura seketika menghilang.
"Maaf.. Aku sudah kenyang. Aku akan naik terlebih dahulu, untuk piringnya kamu bisa membiarkannya seperti itu. Aku akan turun dan membersihkannya nanti" Ucap Naura sebelum akhirnya bangkit dan naik ke lantai atas
Adam yang sedari tadi hanya diam, kembali memikirkan ucapan Naura barusan.
"Apa aku benar-benar seperti itu?" Tanya Adam pada dirinya sendiri
Selama ini ia tidak pernah benar-benar memikirkannya, namun jika dipikirnya kembali. Apa yang dikatain Naura barusan bukanlah hal yang tidak berdasar.
Dari saat kejadian itu terjadi, ia sudah menutup matanya dan memilih membela Clara tanpa berniat mendengar penjelasan Naura barang sedikit pun. Semuanya terjadi karena alasan Clara yang menggambar desain itu tepat disampingnya. Karena itulah, ia langsung memojokkan Naura begitu saja.
Hal ini membuat Adam kembali memikirkan perkataan ibunya yang memintanya untuk mencari tahu sendiri alasan dari keluarganya begitu membenci Clara selama ini.
"Semakin memikirkannya, aku semakin dibuat pusing. Jika saja disini ada sinyal, aku pasti langsung menyuruh Andre memeriksanya" Keluh Adam menatap sinyal di ponselnya yang sejak tadi hanya memperlihatkan tanda silang
"Tapi jika seandainya hal itu benar.. " Gumam Adam memikirkan kemungkinan jika ucapan Naura benar dan justru Clara yang berbohong
"Aihh.. Apa yang sedang kupikirkan sekarang, bagaimana bisa aku meragukan Clara.. " Ucap Adam kembali seraya mengacak-acak rambutnya frustasi
....
Adam yang semakin dibuat bingung, pada akhirnya berhenti memikirkannya. Ia menyelesaikan makan siangnya. Lalu membawa piring bekas makanannya dan juga Naura ke tempat cuci piring.
Meski Naura berkata untuk membiarkannya, Adam tetap memilih untuk mencucinya sendiri, sekaligus untuk menjernihlan pikirannya agar tidak memikirkan hal ini lagi.
Bagaimana pun, sebelum ia melihat bukti yang pasti, ia tidak akan pernah dengan begitu mudahnya percaya dengan Naura, gadis yang sudah bertahun-tahun ini dianggapnya munafik. Karena mempercayai Naura, sudah menjadi hal yang begitu mustahil untuk hidup Adam selama ini.
__ADS_1