
Satu minggu berlalu, sejak pembicaraan perceraian itu. Baik Adam dan Naura, keduanya tetap diam dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Naura yang memilih mengalihkan perhatiannya pada pakaian rancangannya yang hampir selesai. Sementara Adam yang disibukkan dengan urusan perusahaan.
Begitupun dengan Davikah, yang tetap memilih tinggal di rumah itu mengawasi keadaan keduanya. Dan karena kehadirannya jugalah, Adam dan Naura yang sebelumnya tidak pernah sarapan di meja yang sama, kini melakukannya.
Seperti saat ini, ketiganya duduk saling berhadapan di meja makan, menikmati sarapan pagi yang tampak begitu sunyi itu.
.....
"Mama udah seminggu disini dan Mama perhatikan kalian hanya sibuk dengan urusan masing-masing, karena itulah Mama mau kalian berdua pergi liburan"
"Liburan?" Adam berucap dengan alis mengeryit
"Iya. Liburan cocok untuk kesehatan mental kalian" Jawab Davikah seolah menyindir keduanya
"Tapi aku sibuk Ma, di perusahaan masih banyak pekerjaan yang harus aku urus" Tolak Adam mulai beralasan
"Memangnya kamu fikir kenapa Mama disini. Mama yang akan urus perusahaan kamu.. "Balas Davikah yang sudah memikirkan semuanya
"Jadi setelah sarapan, kalian siapkan keperluan kalian. Gibran akan datang menjemput kalian" Ucap Davikah sebelum bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan sarapannya
Naura yang juga sudah selesai dengan sarapannya, ikut naik ke atas tanpa mengucapkan satu kalimat pun pada Adam yang hanya mendengus kesal karena tak bisa berbuat atau menolak perintah dari ibunya.
...***...
Tak butuh waktu lama bagian keduanya untuk mengemas beberapa pakaian dan keperluan lainnya. Khususnya Adam yang hanya membawa beberapa helai pakaian saja.
Bagas yang sudah tiba sejak tadi, kini berbincang dengan Davikah di ruang tamu. Suara gelak tawa dari keduanya bahkan memenuhi seisi ruang tersebut.
Adam yang tiba di bawah, hanya menatap keduanya kesal. Dari dulu, ia selalu merasa kurang suka akan kedekatan keduanya yang lebih terlihat layaknya ibu dan anak, ketimbang dirinya yang terus-menerus menerima amarah dari ibunya itu.
"Naura mana?" Tanya Davikah
"Mungkin masih di atas" Ujar Adam acuh tak acuh
"Itu dia.. " Sahut Gibran menatap ke arah Naura yang kini menuruni tangga dengan koper kecil di tangannya
.....
__ADS_1
"Kalian yakin hanya ini barang bawaan kalian?" Tanya Gibran mengeryitkan keningnya begitu misterius
"Ini sudah cukup. Ini tidak seperti kami akan berlibur selama berminggu-minggu" Ucap Adam masih dengan nada cueknya
Sudut bibir Gibran sedikit terangjat mendengar ucapan Adam "Apa yang kamu tahu baju*ngan, aku pasti akan membuatmu tinggal selama berminggu-minggu disana" Ucap Gibran dalam hati
Sejak awal, rencana liburan ini memang diusulkan oleh Gibran dan langsung disetujui oleh Ibu Adam. Dengan harapan keduanya bisa saling mengakrabkan diri saat hanya ada keduanya di tempat itu.
"Baiklah terserah kalian, lagipula itu bukan urusanku. Jadi, ayo berangkat sekarang" Ucap Gibran lalu mengambil koper Naura dan membawanya keluar
"Hati-hati dijalan. Dan juga, manfaatkan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan Adam" Ucap Davikah setengah berbisik saat memeluk Naura
"Iya Ma" Jawab Naura mengangguk lalu melepas pelukannya
Ketiganya lalu masuk ke dalam mobil, dengan Gibran yang secara langsung menyetir.
"Kamu yakin bisa menyetir? Mengapa bukan supir yang kamu suruh?" Tanya Adam
"Oh, tidak masalah. Aku baik-baik saja, jadi kalian berdua hanya perlu duduk manis hingga tiba di sana" Ucap Gibran tidak perduli
"Lagipula, aku akan pulang setelah mengantar kalian" Ucap Gibran dalam hati
...***...
Hingga tanpa terasa, waktu sudah berlalu 5 jam. Mobil yang di kendarai oleh Gibran, perlahan masuk ke daerah yang sepi tanpa penduduk, hanya ada pepohonan di sekitar jalan. Bahkan mobil yang lewat, bisa terhitung dengan hitungan jari dari sejak ketiganya melewati jalan itu.
"Kamu mau membawaku kemana, Gibran? Jangan bilang kamu tersesat?" Tanya Adam khawatir
"Tidak. Aku sama sekali tidak tersesat. Jalan menuju kesana memang hanya jalan ini saja" Jawab Gibran dengan senyumnya
"Disini tidak ada sinyal?" Sela Naura setelah memeriksa layar ponselnya
"Entahlah.. Aku sudah lama tidak kesini, jadi aku tidak begitu mengenal tempat ini" Jawab Gibran
Adam memicingkan matanya menatap Gibran yang sejak tadi bersikap mencurigakan, terutama setelah melihat lingkungan sekitar yang tanpa ditanya pun, lingkungan itu pasti terpencil dan jauh dari keramaian.
"Tidak perlu menatapku tajam seperti itu, aku juga baru tahu jika tempat ini akan se terpencil ini" Ucap Gibran meski dalam hati ber-oh-ria
"Entah mengapa sejak tadi aku merasakan khawatit " Batin Naura menatap ke arah luar jendela mobil
__ADS_1
....
Setelah perjalanan yang begitu melelahkan itu, ketiganya akhirnya tiba di sebuah vila sederhana namun terlihat begitu cantik dengan taman bunga di sampingnya.
"Kita sudah sampai" Ujar Gibran menghentikan mobilnya di pekarangan vila itu
Rasa lelah yang tadi dirasanya kini perlahan menghilang, bukan hanya sebuah taman disana, terdapat juga sebuah kebun stroberi di belakang vila itu dan pastinya sebuah danau.
"Kalian bisa berkeliling di sekitar, ada kebun stroberi dan juga danau di belakang. Barang-barang kalian biar aku yang turunkan" Ujar Gibran menawarkan diri, Lagi-lagi dengan senyum misterius di wajahnya
"Baiklah.. " Ujar Adam meregangkan tangannya yang terasa kamu karena duduk selama lima jam
Naura yang sejak tadi sudah terpesona, tanpa pikir panjang lansung bergegas pergi tepat setelah Gibran mengatakannya.
Naura memilih mengunjungi kebun stroberi terlebih dahulu, sementara Adam memilih ke arah Danau untuk sekedar beristirahat di bangku yang berada disana, sekedar melepas rasa mual dari perjalanan tadi.
.....
Gibran yang berhasil membuat keduanya pergi, dengan cepat menurunkan barang-barang keduanya. Senyum liciknya kini terukir dengan jelas di wajahnya. .
"Aku tidak menyangka akan berjalan semulus ini, bukankah kalian begitu mudah ditipu" Gumam Gibran terkekeh seraya membawa koper keduanya tepat kedepan vila tersebut
Setelah meletakkan koper keduanya, Gibran dengan cepat masuk ke dalam mobil, bersiap untuk pergi.
"Aku sangat penasaran dengan reaksi mereka saat kembali nanti, tapi aku harus pergi secepat mungkin.. " Gumam Gibran masih terkekeh
Gibran dengan cepat mengemudikan mobilnya menjauh dari vila itu. Sejak awal tugasnya hanyalah mengantar keduanya, karena itulah ia memilih menyetir sendiri ketimbang membawa supir.
.....
Beberapa saat setelag kepergian Gibran, Naura yang baru selesai melihat kebun stroberi nya, memutuskan kembali dan berapa terkejutnya dia saat mobil yang dikendarai nya tadi bersama dengan Gibran, sudah tidak berada di sana.
"Jangan bilang dia meninggalkan kami disini" Ucap Naura menghela nafasnya panjang seraya memijat keningnya khawatir akan apa yang akan terjadi selanjutnya
"Ada apa? Dimana Gibran?" Tanya Adam berjalan mendekatu Naura
"Sepertinya dia meninggalkan kita disini" Jawab Naura menduga
"B*jingan itu, ini lah kenapa aku merasa aneh sejak tadi.. " Umpat Adam tak habis pikir karena tidak menyadarinya sampai akhir
__ADS_1