Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 33


__ADS_3

Setelah dari rumah Clara, Adam langsung bergegas ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Naura, sebelum ia mendapat omelan dari Ibu ataupun Kakeknya karena bersikap cuek.


Selama di perjalanan menuju ke kamar Naura, Adam tanpa sengaja berpapasan dengan William dan Dira yang juga baru saja tiba di rumah sakit untuk menjenguk Naura kembali.


"Apa lagi yang kamu lakukan di sini? " Tanya Adam dengan nada sinis, tak suka akan keberadaa William


"Bukan urusanmu" Jawab William berusaha cuek


Setelah mengatakan hal itu, William mempercepat langkah kakinya yang hanya beberapa langkah saja sebelum ia tiba di ruangan Naura.


Melihat hal itu, membuat Adam dengan cepat ikut mempercepat langkahnya hingga sejajar dengan William.


"Tentu saja itu urusanku, karena dia istriku. Jadi aku berhak memutuskan siapa yang bisa dia temui saat ini" Cegat Adam mencengkram lengan William yang saat ini sudah memegang gagang pintu kamar Naura


"Memangnya sejak kapan kamu memperlalukan Naura layaknya istrimu?"


"Bahkan jika hubunganku tidak baik-baik saja, itu bukan berarti kamu bisa dengan begitu bebas menemui istri seseorang. Jangan lupa identitasmu sendiri" Ucap Adam mengingatkan William akan dirinya yang seorang artis


Dimana pun dan kapan pun William berada, akan ada banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya termasuk dalam situasi saat ini.


"Sejak awal aku memang tidak pernah memikirkan reputasiku, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku" Ucap William dengan smirk nya seraya menepuk pundak Adam


Barulah setelah itu, William membuka pintu kamar Naura dan masuk ke dalam. Adam yang tidak terima, dengan cepat mengikuti William dari belakang.


"William..!" Tegur Adam sedikit berteriak saat masuk ke dalam ruangan


Dira yang sejak tadi diam mengikuti dan memperhatikan pertengkaran keduanya, kini mengepalkan tangan kesal, tak sanggup lagi mendengar omong kosong keduanya.


"Kalian berdua!" Seru Dira dengan nada penuh penekanan


Baik Adam maupun William, keduanya menoleh secara bersamaan menatap ke arah Dira.


"Keluar sekarang juga dari ruangan ini" Perintah Dira tajam


"D-dira?"


"Keluar! " Seru Dira sekali lagi masih dengan nada tajam


"Berapa umur kalian? Kalian bahkan bertengkar layaknya anak kecil dan itu di depan seseorang yang sedang terbaring sakit. Apa otak kalian berhenti berfungsi, huh! "


Dira mengomeli keduanya, seraya mendorong keduanya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Jangan berfikir untuk masuk ke dalam, jika kalian masih bersikap kekanakkan seperti itu" Ucap Dira geram lalu menutup pintu kamar kasar


Brakk...


Naura yang sejak tadi memang sudah sadar, kini terkekeh kecil melihat pertikaian ketiganya.


"Ugh.. Mereka benar-benar kekanakkan" Ucao Dira menggelengkan kepalanya tak habis pikir


"Jika seseorang melihatnya, mungkin mereka berfikir jika suami dan selingkuhanku bertengkar saat sedang menjenguk ku" Ucap Naura tiba-tiba terbesit pikiran seperti itu


"Naura!" Seru Dira menatap Naura lirih setelah duduk di kursi samping tempat tidurnya


Naura yang masih ingin bercanda sebentar dengan Dira pada akhirnya berhenti karena suasana serius saat ini.


"Apa ada yang ingin kamu katakan padaku? Aku sudah mengungci pintunya jika saja kamu merasa was-was untuk menceritakannya" Ucap Dira


Naura yang sudah menduga akan tujuan dari kedatangan Dira saat ini, sudah memantapkan dirinya terlebih dahulu untuk memberitahukan akan apa yang terjadi pada dirinya khususnya keberadaan Nara yang hanya diketahui oleh orang tua dan dokter pribadinya.


Naura menggenggak tangan Dira erat sembari tersenyum hangat "Aku memiliki kepribadian lain yang selama ini aku sembunyikan Dira" Ujar Naura pada akhirnya


"Sudah kuduga" Ujar Dira seraya menghela nafasnya


"Sejak kapan ini terjadi?" Tanya nya kemudian


"Sejak aku kecil, mungkin lebih tepatnya setelah ibuku meninggal. Nara muncul dan merebut tubuhku secara paksa"


"Nara?"


"Hmm.. Kamu bisa memanggilnya Nara"


"Bagaimana aku bisa mengetahui jika yang saat ini berbicara denganku adalah Naura?"


"Itu mudah. Sikap dan karakter kami sangat berbeda jauh. Mungkin kamu sudah melihatnya, tapi Nara memiliki sikap yang buruk dan lebih kejam dari apa yang terlihat"


"Jujur saja, aku sedikit meragukan pendengaran ku saat ini. Hal seperti ini mungkin sudah sering terjadi, namun melihatnya dengan mata kepalaku sendiri masih membuatku kaget seolah tidak percaya"


"Itu hal wajar untuk dilakukan. Bahkan jika itu aku, aku juga akan meragukan kejadian seperti ini"


"Jadi, siapa saja yang mengetahuinya? Melihat reaksi Adam kemarin, sepertinya dia belum menyadarinya"


"Iya. Dia memang tidak menyadarinya dan aku tidak berniat untuk memberitahunya hal ini" Ucap Naura lirih karena ia yang dulu pernah sekali memperlihatkan sisi lainnya pada Adam

__ADS_1


"Rahasia ini hanya diketahui oleh Ayah dan dokter pribadiku. Mungkin karena ini jugalah, ayahku perlahan menjauhiku" Ucap Naura miris


"Aku harap kamu bisa tetap berada di sisiku, bahkan ketika Nara mengambil alih tubuhku" Pinta Naura penuh harap


"Dasar bodoh. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu" Ucap Dira menyentil kening Naura pelan


"Itu karena kamu belum mengalaminya"


Sesaat setelah Naura mengatakan itu, sorot matanya perlahan berubah dingin, diikuti sudut bibirnya yang naik memeprlohatkan smirk di wajahnya.


"Aku tidak seburuk itu Naura, aku hanya melakukan hal yang sewajarnya saja. Bagaiaman bisa kamu menyebutku kejam"


"N-nara?" Tebak Dira sedikit kaget dengan perubahan sikap Naura hanya dalam hitungan detik saja


"Kita bertemu kembali" Ucap Nara tersenyum


"Ini tetap terasa begitu aneh saat mengalaminya kembali" Gumam Dira bingung harus bersikap seperti apa


"Tidak perlu gugup seperti itu, aku hanya keluar menyapamu sebentar, karena Naura tidak akan membiarkanku menguasai tubuh ini" Ucap Nara mengelus rambut Dira layaknya seorang adik


"Setidaknya untuk saat ini.. " Sambung Nara bersikap misterius sebelum akhirnya berganti dengan Naura kembali


....


Di sisi lain, Adam dan juga William yang duduk menunggu di luar kini saling memalingkan wajah masing-masing ke arah yang berlawanan.


Keduanya tetap diam meski, berulang kali mendapat tatapan bingung dari perawat ataupun dokter yang lewat di depan ruangan itu.


"Sebaiknya ini kali terakhir kamu menemui Naura" Ucap Adam tiba-tiba memperingati


".... "


William tidak menjawab, ia hanya diam memainkan ponselnya tidak perduli dengan peringatan Adam yang sama sekali tidak berguna untuknya.


"Hei.. Apa kamu tuli, aku berbicara denganmu.. " Tegur Adam kesal


"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, dengan atau tanpa persetujuan dari mu aku akan tetap menemui Naura"


"Orang yang memiliki selingkuhan sepertimu, tidak pantas untuk menegurku apalagi membuatku menjauh dari Naura" Ucap William tajam


Setelah mengucapkan itu, William lalu memperbaiki topi dan maskernya lalu pergi meninggalkan Adam yang kini mengepalkan tangannya kesal.

__ADS_1


__ADS_2