Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 43


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan? Kita tidak bisa membunuhnya" Teriak salah seorang pria yang langsung menghampiri dan mencengkeram kerah baju pria yang menikam Nara tadi


"A-aku hanya terbawa suasana.. " Ucap pria itu gugup


Nara yang sejak tadi memukuli mereka dengan begitu mudahnya, membuatnya gelap mata dan langsung mengeluarkan pisau di sakunya, sama seperti yang sering di kerjaannya.


.....


Nara yang kini merasakan sakit yang luar biasa, segera mencabut pisau itu keluar dari tubuhnya membuatnya kembali berteriak kesakitan.


"Aaarrgghh.. "


Pakaian yang dikenakan Nara perlahan memerah tak kala darah mengalir keluar dari pinggangnya yang terkena tusukan tadi. Ia hanya bisa menggunakan tangannya menutupi pinggangnya, agar tak kehilangan darah lebih banyak lagi.


Nara lalu menatap para preman itu ngeri, begitupun dengan tatapan para preman yang juga ikut merasa ngeri melihat Nara yang baru saja mencabut pisau dari tubuhnya.


"Kalian pikir, rasa sakit ini akan menghentikanku, bahkan jika tubuhku remuk sekalipun, aku tidak akan pernah membiarkan kalian mempermainkanku sesuka hati kalian seperti ini" Pekik Naura penuh emosi namun tetap dengan smirk di wajahnya


Seorang wanita dengan tubuh yang terlihat seolah akan hancur itu, tanpa diduga membuat keempat pria berotot itu merinding. Namun meski begitu, itu tidak berarti membuat keempat nya menyerah begitu saja.


"Tangkap dia, dengan luka seperti itu, dia tidak akan bisa melarikan diri" Perintah pria yang terlihat seperti pemimpin itu


Nara yang tidak bisa tinggal disana lebih lama lagi, memutuskan untuk mempercepat gerakannya. Kali ini ia tidak menggunakan balok, melainkan pisau yang dicabut dari perutnya tadi.


"Majulah.. Jangan berfikir bahwa aku wanita yang mudah di tindas, aku sama seperti kalian, aku juga pernah membunuh seseorang.. " Ucap Nara menantang

__ADS_1


"K-kamu pernah membunuh?" Nara yang sejak tadi diam tak berkutik menyaksikan kegilaan Nara, seketika kaget saat mendengar kata-kata Nara barusan yang sama sekali tak terdengar seperti kebohongan


"Aku tidak ada waktu berbicara denganmu, jika kamu ingin mengetahuinya maka ingat kembali kejadian 16 tahun lalu saat kamu berusia 9 tahun" Ucap Nara tak ingin berbasa-basi dengan Naura saat ini


.....


Meski darah menetes dari perutnya, Nara tetap mempertahankan gerakannya dan dengan lincah nya menangkis pukulan dari para preman itu, berulang kali ia berhasil membuat luka sayatan di bagian tangan dan paha para preman itu.


Namun karena Nara yang sudah tidak tahan berlama-lama disana, dengan sigapnya balik menusuk pria yang tadi menusuknya. Sejak tadi, tujuannya hanya satu yang mana membalas tusukan yang didapatnya dari pria itu. Berbeda dengan dirinya yang menerima tusukan di area pinggangnya, Naura membalasnya dengan menusuk tepat di bagian perutnya membuat pria itu langsung bertekuk lutut karena tusukan yang dilancarkan Naura jauh lebih dalam dari yang diterimanya tadi.


"Aku akan memberi kalian pilihan, biarkan aku pergi atau tetap bertahan denganku hingga aku tak sadarkan diri? Tapi jika aku tetap disini, kalian seharusnya paham apa yang akan terjadi? Aku tidak selemah yang kalian pikirkan, aku bahkan tidak perduli dengan nyawaku, jadi untuk apa aku perduli dengan nyawa kalian" Tutur Nara tajam yang diakhiri dengan gelak tawa yang terdengar begitu menyeramkan karena Nara yang kini dipenuhi darah di tangan dan tubuhnya


"Bi-biarkan dia pergi.. " Ucap pria yang baru ditusuk oleh Nara


Pria itu meringkuk menutupi perutnya karena darah yang tak kunjung berhenti mengalir keluar.


Pria yang terlihat seperti pemimpin itu berdecak kesal seraya memalingkan wajahnya "Kamu bisa pergi" Ucapnya kemudian dengan nada penuh kekecewaan


"Hahahhaa.. Kalian seharusnya tidak mencari gara-gara denganku atau paling tidak cari tahu lawan kalian terlebih dahulu sebelum menyentuhnya.. " Tutur Nara tertawa keras


"Berikan aku ponsel kalian..!" Pinta Nara sekali lagi sebelum keluar dari tempat itu


"Jangan keterlaluan?"


"Ini tidak seperti aku akan melaporkan kalian ke polisi, aku tentu saja membutuhkan ponsel untuk keluar dari tempat ini. Jadi berikan aku ponsel kalian, aku pasti akan menggantinya jadi kalian tidak perlu khawatir" Pinta Nara sekali lagi dengan nada penuh penekanan

__ADS_1


"Dasar wanita gila.. " Umpat pria itu kesal seraya menyodorkan ponselnya tanpa melihat kearah Nara yang kini berbalik pergi setelah mengucapkan Terima kasih hanya dengan senyumnya


"Bawa dia ke rumah sakit terdekat.. " Perintahnya kemudian setelah Nara keluar dari ruangan itu


Tanpa berlama-lama lagi, ketiganya langsung membopong pria yang ditikam barusan naik ke atas mobil, mereka benar-benae mengabaikan keberadaan Nara yang masih berada di luar bangunan itu. Karena saat ini, prioritas mereka adalah mengobati Nara sekaligus meminta penjelasan pada Clara akak kerugian yang diterima mereka.


Bahkan meskipun mereka adalah preman yang suka mengerjakan hal-hal kotor seperti itu, mereka tetap saja menciut jika itu menyangkut nyawa terutama jika berhadapan dengan wanita gila yang tidak perduli dengan nyawanya sama sekali. Karena bagaimana pun, selama ini mereka tidak pernah benar-benar membunuh orang lain meski wajah mereka lebih terlihat seperti seorang pembunuh.


......


Nara yang baru saja meninggalkan bangunan itu, berjalan menjauh sekitar 20 menit dari bangunan terbengkalai itu. Ia berhenti di sekitar hutan dekat jalan raya yang tampak sepi itu. Bersembunyi di antara semak belukar sekedar berhati-hati jika para preman itu kembali dan menangkapnya.


Tanpa membuang waktu lagi, Nara langsung menghubungi Adam. Bahkan meskipun ia benci untuk meminta pertolongan terhadapnya, ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak bisa bertemu dengan ayahnya dalam keadaan seperti ini khususnya saat Nara yang mengambil alih tubuh Naura.


"Adam?" Panggil Nara saat panggilannya terhubung


"Aku butuh bantuanmu sekarang, aku.. "


"Dia tidak bisa, dia masih tertidur di sampingku" Sela seorang wanita yang tak lain adalah Clara, bukannya Adam yang merupakan pemilik dari ponsel itu


"Aahhh... Hahahahahaa... " Nara tertawa keras saat mendengar suara Clara "Ternyata kamu, sebaiknya kamu jalani hidupmu dengan baik saat ini, karena jika sampai kita bertemu, aku pastikan akan membuat hidupmu menderita" Ancam Nara sebelum akhirnya mematikan panggilan yang dianggapnya sia-sia itu


"Apa kamu melihatnya Naura, disaat kamu mati-matian mempertahankan hidupmu disini, suami yang begitu kamu cintai itu justru tengah menghabiskan malam yang panas dengan wanita selingkuhannya itu.. Cciiihh.. Dasar br*ngsek" Ucap Nara menertawakan kebodohan Naura


Mendengar kata-kata Nara, membuat Naura yang biasanya menyanggahnya dan membela suaminya, justru terdiam hari ini.

__ADS_1


"Lupakan.. Tidak ada gunanya membahas hal ini saat ini, kita harus meminta bantuan sebelum meregang nyawa disini" Tutur Nara mengabaikan Naura yang bersikap tak seperti biasanya hari ini


Nara lalu mencoba menghubungi seseorang kembali, yang mana hanya dia pilihan terakhirnya saat ini.


__ADS_2