
"Naura..! Berhenti menguji kesabaranku. Aku sudah cukup bersabar selama dua tahun ini, untuk bertahan di pernikahan ini" Bentak Adam dengan mata melotot ke arah Naura
"Sebenarnya siapa yang cukup bersabar disini " Batin Naura merasakan sesak di hatinya
"Aku tidak akan pernah setuju" Ujar Naura bersikeras dengan keputusannya
"Aku tidak perduli, aku sudah mengurus berkas perceraian kita. Jadi dengan atau tanpa persetujuan darimu, aku akan tetap menceraikan mu" Ucap Adam mulai terbawa emosi
Ditengah perdebatan keduanya, pintu kamar Naura yang sejak tadi memang terbuka kembali terbanting saat Davikah yang tadinya berada di bawah secara samar mendengar pertengkaran keduanya.
"Adam!" Seru ibu Adam menatap Adam meminta penjelasan akan apa yang baru didengarnya barusan
"Mama!" Ucap Naura menutup mulutnya kaget
"Adam! Jelaskan sama Mama, ucapan kamu barusan. Cerai?" Davikah berucap dengan nada tajam pada putranya itu
Adam hanya terdiam menunduk, seraya memijat keningnya yang terasa pening.
"Ikut Mama.. " Ucap Davikah menarik putranya keluar kamar
"Maa.. " Panggil Naura mencoba mengikuti
"Diam di kamar kamu Naura. Mama akan datang berbicara denganmu nanti, jadi tunggu Mama di kamar setelah Mama bicara dengan anak bodoh ini" Ucap Davikah sebelum kembali menarik lengan Adam menjauh dari kamar Naura
Naura hanya bisa menghela nafas pasrah, lalu masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur dengan posisi telentang menghadap ke atas langit-langit kamarnya.
.....
Sementara itu, Davikah membawa Adam masuk ke dalam kamar Adam. Davikah duduk di kursi, sementara Adam duduk menunduk di kasur, tak berani menatap ibunya yang saat ini sedang marah.
"Apa kamu sudah gila? Bukankah sudah Mama katakan untuk berhenti berhubungan dengan gadis itu, dia sama sekali tidak pantas untukmu"
"Tapi aku mencintainya Ma dan aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Naura. Jadi untuk apa lagi, pernikahan ini dipertahankan?"
"Wanita itu sama sekali tidak pantas untuk dicintai, apa kamu tidak bisa melihatnya?"
"Sebenarnya apa yang membuat kalian begitu membenci Clara? Tiap kali aku bertanya alasan, kalian selalu saja diam dan hanya memintaku untuk mencintai Naura. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian"
__ADS_1
"Kalau kamu penasaran, maka lakukan sendiri. Cari tahu alasan mengapa kami bersikap seperti ini. Mama bukan seseorang yang begitu kejam untuk menghalangi perasaanmu, tapi jika itu untuk Clara, Mama tidak akan pernah setuju"
"Jadi berhenti memikirkan perceraian itu, kamu seharusnya tahu apa yang akan dilakukan Kakekmu jika sampai perceraian itu terjadi"
Adam berdecak kesal mendengar ucapan Ibunya. Bagaimana pun, alasan utama Adam menerima pernikahan itu karena ancaman dari Kakeknya yang akan mengeluarkannya sebagai pewaris keluarga ini.
Setelah mengingatkan anaknya akan ancaman kakeknya dulu, Davikah akhirnya bangkit dari duduknya.
Sebelum keluar dari pintu kamar itu, Davikah kembali terhenti seraya menoleh ke arah anaknya yang tampak frustasi.
"Pikirkan baik-baik ucapan Mama. Karena bagaimana pun, kamu harusnya merasa bersyukur akan kehidupan yang diberikan padamu" Ucap Davikah begitu bersyukur
Adam mengerutkan keningnya bingung mendengar ucapan ibunya barusan yang terasa seperti isyarat.
"Diberikan padaku?" Gumam Adam terus-menerus memikirkan kata-kata itu, diantara kalimat yang diucapkan ibunya tadi
.....
Davikah yang meninggalkan kamar Adam, kini memasang raut wajah kecewa pada putranya itu. Ingin sekali ia menjelaskan semuanya, namun bibirnya terasa keluh tiap kali ia mengingat kejadian di masa lalu.
Perasaan bersalah sekaligus kasihan akan kehidupan pernikahan Naura dengan putranya, kian hari semakin bertambah. Tak kala ia menyaksikan perlakuan kasar Adam terhadap Naura.
Dengan mata berkaca-kaca menahan tangis, Davikah mengetuk pintu kamar Naura sebelum membukanya.
"Naura, Apa kamu tertidur?" Tanya Davikah seraya masuk ke dalam menghampiri Naura yang tengah berbaring
"Mama disini.." Ucap Naura membuka kedua matanya saat mendengar suara Ibu mertuanya
"Bagaimana dengan Adam Ma?" Tanya Naura penasaran akan hasil pembicaraan keduanya
"Kamu tidak perlu khawatir. Perceraian itu tidak akan terjadi. Bagaimana pun, kamu satu-satunya menantu yang diakui keluarga ini" Ucap Davikah menenangkan Naura seraya menggenggam tangannya memberi keyakinan
"Makasih Ma.. " Ucap Naura merasa bersyukur karena meski perlakuan begitu kasar terhadapnya, ia tetap bisa menerima kasih sayang dari keluarga ini
"Tidak Naura.. Seharusnya Mama yang meminta maaf" Ucap Davikah tanpa sadar meneteskan air mata saat menatap senyum di wajah Naura yang terlihat begitu tulus
"Mama kenapa? Mama baik-baik saja?" Tanya Naura sedikit panik
__ADS_1
"Mama minta maaf Naura. Bahkan disaat Mama tahu semua perbuatan Adam, Mama hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa" Tutur Davikah terisak
"Aku baik-baik saja Ma. Jadi Mama tidak perlu khawatir" Ucap Naura memeluk tubuh Ibu mertuanya berusaha menenangkannya
"Tapi tidak denganku Naura, aku berutang banyak terhadapmu" Ucap Davikah dalam hatinya
Pelukan hangat yang seharusnya menenangkannya, justru membuat hati Davikah terasa sesak dan pilu. Meski terbalut kain, Davikah bisa dengan jelas merasakan tubuh Naura yang begitu kurus memeluk tubuhnya.
"Maafkan aku, Diandra" Ucap Davikah dalam hati sebelum membenamkan wajahnya di pundak Naura berusaha menahan tangis yang bisa sewaktu-waktu pecah
Sementara itu, Naura hanya bisa menepuk punggung ibu mertuanya meski ia tidak begitu mengerti alasan sebenarnya dari air mata itu.
...***...
William yang baru saja tiba setelah mengantar Naura pulang ke rumah, kini berbaring di sofa ruang tamu, berulang kali menghapus pesan yang seharusnya di kirimnya ke Naura namun terhenti karena bingung harus mengatakan apa padanya.
Ia menatap kata "Kamu baik-baik saja?" Di layar ponselnya, hanya tersisa satu langkah terakhir yaitu menekan tombol kirim.
"Ini hanya karena aku khawatir, seharusnya tidak akan ada masalah jika aku bertanya" Gumam William
Namun beberapa detik kemudian, ia kembali mengacak-acak rambutnya kesal karena tak bisa menekan tombol kirim itu.
Hingga kemudian, dari arah belakang Naufal yang baru saja tiba di rumah dan mendapati William yang begitu frustasi di ruang tamu. Ia lalu mendekat secara diam-diam dan melirik ke layar ponselnya.
Senyum licik seketika terukir di wajah Naufal, lalu dengan cepat menekan tombol kirim sebelum adiknya menyadari kedatangannya.
"Ohh Sh***.. " Umpat William langsung terduduk menatap Kakaknya tajam
"Apa kamu baru saja mengumpatiku? Lagipula tidak ada salahnya kamu bertanya, jadi apa yang membuatmu begitu frustasi dengan sebuah pesan"
"Apa yang Kakak tahu.. "
"Aku memang tidak tahu apa-apa tentangnya. Tapi setidaknya, aku lebih pintar darimu"
"Aku yakin saat ini mereka tengah bertengkar. Karena itulah kamu seharusnya lebih mengambil inisiatif mendekatinya"
"Inisiatif?"
__ADS_1
"Hmm.. Meski saat ini dia hanya menganggapmu sebagai temannya, tapi tidak ada yang tahu jika sewaktu-waktu ia berbalik menyukaimu, terutama setelah semua perhatian yang kamu berikan selama ini" Ucap Naufal memberikan nasehat
"Aku mengerti" Ucap William singkat lalu bangkit dan naik ke atas kamarnya meninggalkan Naufal yang hanya tersenyum menyeringai melihat kisah cinta rumit adiknya itu