
Dddrrrr... Dddrrttt...
Untuk kesekian kalinya, ponsel Adam yang berada di atas meja kembali bergetar. Adam yang sejadi tadi tertidur, akhirnya terbangun setelah bunyi dering yang ke tujuh kalinya.
"Halo?" Jawab Adam setelah menerima panggilan tersebut
"Adam!"
Adam sontak terbangun saat mendengar teriakan ibunya dari seberang.
"Ada apa Ma?" Tanya Adam kembali
"Kamu bertanya ada apa? Pulang kamu sekarang, Mama nggak mau tahu pokoknya kamu harus tiba dalam 10 menit di rumah"
"Tapi Ma.. Tuutt.. " Ucapan Adam terpotong saat panggilan teleponnya dimatikan secara sepihak oleh Ibunya
Adam lalu melirik ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 subuh pagi. Ia hanya bisa menghela nafas yang panjang, lalu turun dari tempat tidur seraya meraih kunci mobilnya di atas meja.
"Clara!" Panggil Adam sembari berjalan keluar dari kamar itu, mencari keberadaan Clara
"Iya? Kamu mau kemana? Kamu mau pulang?" Jawab Clara lalu bertanya kembali setelah melihat Adam yang sudah memegang kunci mobilnya
"Iya. Mama baru saja menelpon dan memintaku untuk pulang" Jawab Adam pasrah terutama karena mensengar suara Ibunya yang terdengar begitu emosi
"Baiklah.. Kamu hati-hati di jalan, jangan lupa menghubungiku" Ujar Clara menggandeng lengan Adam keluar
"Aku pergi kalau gitu.. " Adam berucap seraya masuk ke dalam mobilnya
Selepas kepergian Adam, Clara dengan cepat masuk ke dalam rumahnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi para preman yang kemarin di bayarnya.
Dari sejak semalam, setelah ia mengangkat panggilan dari Naura, ia sudah merasa gelisah jika saja rencananya ketahuan dan malah berbalik padanya. Terutama karena para preman itu tak kunjung menjawab panggilan dari Naura setelah ia menjawab panggilan itu.
__ADS_1
Hal ini membuat Clara semakin gelisah, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena Adam yang masih berada di rumah itu.
Namun karena Adam yang sudah pergi, Clara dengan terburu-buru segera mendatangi bar milik Alex untuk meminta bantuan padanya.
...***...
Di sisi lain, Adam yang sudah tiba di rumahnya setelah mengemudi dengan kecepatan tertingginya, kembali dibuat bingung saat orang tuanya bersama dengan Gibran menunggunya dengan raut wajah cemas dan panik di ruang tamu rumahnya.
"Ada apa Ma? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Adam menghampiri ibunya
"Dari mana saja kamu?" Tanya Davikah tajam pada putranya
"Aku.. " Adam terbata tak berkutik karena tak berani menyebut nama Clara di depan ibunya
"Dari rumah Clara? Begitu? Kamu bermalam semalaman dengannya disaat Naura menghilang dan tidak ada kabar sama sekali"
"Apa maksud Mama? Naura hilang? Sejak kapan?" Ucap Adam balik bertanya
"Sejak kemarin dan ponselnya sama sekali tidak aktif. Aku sudah mencoba menghubungi ayahnya, namun ia Naura tidak berada di sana" Jawab Gibran yang sudah semalaman mencari keberadaan Naura
"Aku sudah mengecek semuanya Adam, Naura memang berada di hotel kemarin, tapi ia meninggalkan hotel satu jam setelah kamu pergi" Ujar Gibran
"Temukan dia sekarang juga, bagaimana jika terjadi sesuatu terhadapnya" Ucap Davikah khawatir
"Aku harus mencari kemana Ma, aku sama sekali tidak tahu dimana dia berada"
"Adam! Dia itu istrimu, apa kamu tidak bisa bersikap lebih perhatian. Bagaimana bisa kamu begitu acuh disaat Naura menghilang seperti ini" Pekik Davikah mulai emosi melihat tingkah anaknya
"Mengapa kalian begitu berlebihan seperti ini, dia bisa saja tengah bersama dengan temannya atau mungkin tengah menghabiskan waktu bersama dengan kekasih barunya itu" Ucap Adam yang entah sadar atau tidak tengah menghinah Naura
"Adam!" Seru Davikah emosi mendengar penuturan Adam yang begitu merendahkan Naura
__ADS_1
"Maa! Sebenarnya siapa yang anak Mama, Aku atau Dia. Mengapa Mama begitu memaksakan pernikahan ini, aku sudah berulang kali mengatakan jika aku ingin bercerai, mengapa kalian begitu sulit untuk menerimanya" Seru Adam dengan nada tinggi tak kalah dari ibunya
"Perhatikan ucapan kamu Adam" Tegur Gibran yang juga ikut terbawa emosi
"Kalian yang harusnya sadar disini. Berapa kali aku harus mengatakannya agar kalian mengerti. Aku sama sekali tidak mencintainya, baik sekarang ataupun di masa depan nanti, aku tidak akan pernah mencintai wanita munafik sepertinya. Jadi berhenti memaksaku untuk mempertahankan pernikahan ini" Ucap Adam sekali lagi dengan nada tinggi seraya menatap ibunya tajam
Plaakkk...
Sebuah tamparan beras mendarat di pipi kanan Adam. Raut wajah ibunya memerah karena amarah. Dadanya terasa sesak dengan air mata yang sejak tadi tertahan di sudut matanya menyaksikan perubahan sifat anaknya yang semakin keterlaluan.
"Jaga ucapan kamu Adam. Naura bukan wanita yang bisa kamu perlakuan dengan kejam seperti ini.. " Seru Davikah tajam seraya menunjuk tepat di wajah putranya
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu Ma.. Atas dasar apa kalian memperlakukan Clara seperti itu dan malah mendukung wanita munafik itu. Apa perbuatannya selama ini masih kurang jelas? Atau kalian yang memang sengaja menutup mata?" Kecam Adam tak kalah menohok dan sama sekali tak mau kalah dari Ibunya
"Bukan kami yang buta, tapi kamu yang buta. Kamu bahkan tidak bisa membedakan antara permata asli dan palsu. Betapa bodohnya kamu. Wanita yang begitu tulus mencintaimu justru kamu hancurkan dan injak-injak layaknya sampah? " Sela Gibran ikut mengkritik kebodohan Adam yang benar-benar buta dalam melihat wanita
"Dia pantas mendapatkan itu. Aku tidak membutuhkan cintanya sama sekali. Dia tahu jelas akan hal itu. Satu-satunya yang aku cintai adalah Clara. Jadi dengan atau tanpa dukungan dari keluarga ini, aku akan tetap menikahi Clara setelah dia menyetujui perceraian ini"
"Aku menyetujui perceraian ini"
Ketiganya seketika menoleh ke arah pintu masuk rumah. Naura berdiri dengan dibantu Dimas, ia datang dengan tubuh kurus, wajah pucat dan perban di beberapa tubuhnya berusaha menopang dirinya yang hampir jatuh dengan sisa-sisa tenaganya agar tidak ambruk di tempat itu. Raut wajahnya datar dengan sorot mata kosong menatap ke arah pria yang baru saja mengucap cerai akan dirinya.
Ini bukan pertama kalinya Adam mengungkit soal perceraian itu. Namun apa yang bisa ia lakukan, perasaan cinta dan takut seolah menjerat dirinya untuk tetap memaklumi sikap kasar dari suaminya.
"N-naura. Apa yang terjadi denganmu Nak? Ada apa dengan perban ini? Kamu sakit? A-apa yang baru saja kamu katakan? Tidak ada perceraian disini. Mama sama sekali tidak menyetujuinya" Ucap Davikah terbata seryaa menghampiri Naura khawatir setelah melihat perban di tubuhnya
"Tidak Ma. Aku baik-baik saja. Apa yang dikatakan Adam memang benar, seharusnya sejak lama aku menyetujui perceraian ini" Tutur Naura tak lagi terpengaruh akan bujukan dari Davikah
"Apa lagi yang kamu mainkan disini? Apa kamu masih belum puas berpura-pura ?"
"Cukup Adam. Hentikan omong kosong kamu, sampai kapan pun satu-satunya menantu dari keluarga ini adalah Naura" Bentak Davikah menatap tajam ke arah anaknya
__ADS_1
"Maaf Ma. Tapi aku.. Lelah. Aku muak dengan semua ini. Aku sudah cukup bersabar selama dua tahun pernikahan ini. Tapi apa yang aku dapatkan? Hanya cacian dan makian yang aku dapatkan. Tak pernah seharipun aku merasa aman saat berada di rumah ini, selain rasa takut aku tidak merasakan apapun lagi. Bahkan aku lupa seperti apa rasa sakit itu. Aku terlalu bodoh karena tidak menyadarinya selama ini.." Naura tertawa sinis, menertawakan dirinya yang perlahan jatuh dalam jurang kegelapan tanpa dasar
--> Maaf guys, chapter ini agak beda dikit sama yang di prolog, soalnya gak nyadar pas susun alur tau"nya udah melenceng dikit, tapi dikit kok🙃