
"Ada apa denganmu? Mengapa sejak tadi, kamu hanya diam?" Tanya Dimas pada Justin yang sejak tadi diam tanpa mengucapkan sepatah katapun
"Aku merasa jijik.. Aku benar-benar akan muntah, jika melihat ini lebih lama lagi" Ujar Justin merasa mual melihat adegan di layar laptopnya saat ini
Sebuah adegan yang mungkin akan membuat laki-laki lainnya berna*su, namun tidak dengannya. Sama seperti yang dirasakan Justin, Dimas juga merasakan hal yang sama.
Dari sejak keduanya memulai, keduanya sudah berulang kali memalingkan wajah tak sanggup melihatnya lagi, dan berpaling kembali hanya disaat keduanya ingin melihat jumlah penontonnya.
"Sebaiknya jangan biarkan Nara melihatnya.. " Ujar Dimas meremas keningnya yang terasa pening
"Aku memang berencana melihatnya, ia tidak harus mengotori matanya dengan melihat sampah seperti ini"
"Dia bahkan tidak layak disandingkan dengan sampah, Justin.. Jangan terlalu menyanjung nya karena dia sama sekali tidak pantas " Ujar Dimas mengolok-ngolok wanita yang tak lain adalah Clara yang sedari tadi berada di dalam layar laptop itu menghabiskan waktu bersama dengan preman yang disewa oleh Ketiganya
....
Jeros yang telah berhasil membuat Clara mabuk dan meminum minuman yang baru dipersiapkan nya itu, kini berada di sebuah hotel disalah satu kamar VIP-nya tengah menikmati malam yang panas dan menggairahkan.
Clara yang selalu menganggap bar sebagai tempat bermainnya, nyatanya bukanlah seorang peminum yang baik. Sama seperti terakhir kali, Clara bisa dengan cepat tumbang hanya setelah meminum 2 gelas alkohol.
Hal ini tentu saja, menjadi kesempatan Nara dan yang lainnya untuk memjebaknya masuk ke dalam permainan ketiganya.
Situs yang baru di buat Justin, dalam sekejab sudah memiliki penonton yang datang dengan suka hati setelah mendapat undangan dari Justin, yang sebelumnya sudah mencari tahu informasi mereka dan haya mengirim undangan pada mereka yang memang menyukai kesenangan seperti itu.
Clara yang benar-benar sudah kehilangan akalnya, benar-benar bersikap layaknya j*lang yang siap melakukan apapun yang diperintahkan Jeros mengingat ia yang sudah kehilangan akal saat ini karena minuman pemberian Jeross sebelumnya.
....
Tak sanggup menonton adegan yang begitu menjijikkan itu, Dimas pada akhirnya memilih berdiri.
"Mau kamana Kak? Ini masih belum selesai?" Tanya Justin menatap Dimas
__ADS_1
"Aku benar-benar mual, biarkan aku beristirahat, lagipula ada kamu yang akan menyelesaikannya" Ujar Dimas menutup mulutnya mual
"Ini tidak adil. Aku juga tidak suka melihat ini, bagaimana bisa Kak Dimas meninggalkanku begitu saja" Protes Justin yang memang sejak tadi berusaha menahan diri untuk tidak melempar benda pipih itu
"Lalu? Apa kamu ingin Nara yang menyelesaikannya?" Tanya Dimas yang lagi-lagi memanfaatkan Nara saat ingin mengontrol Justin
"Aahhh.. Benar-benar kejam.. Lagi-lagi Kakak seperti itu.. Kak Dimas tahu, aku tidak mungkin melakukan hal yang merugikan Kak Nara.. " Ujar Justin cemberut tak bisa berbuat apa-apa jika Dimas sudah berkata seperti itu
Justin hanya bisa merutuki nasibnya yang begitu sial karena dipertemukan seseorang selicik Dimas. Meski dirinya juga tidak berbeda jauh dengan sifat Dimas.
...***...
Keesokan paginya, Adam yang sejak semalam menghabiskan waktunya dengan meminum alkohol, kembali tersadar saat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 2 siang.
Ia lalu keluar dari kamar, lalu menuruni tangga dengan tangan memijat keningnya yang masih terasa pening karena efek dari alkohol. Ini pertama kalinya ia seperti ini, belum lagi ia sudah menjadi pengangguran yang semakin membuatnya merasa hampa karena jadwalnya yang seketika kosong tidak seperti biasanya.
Adam lalu mengambil satu botol air minum di kulkas, lalu duduk di kursi seraya meneguk air botol itu, berusaha menjernihlan kembali isi pikirannya yang masih begitu kacau, sama seperti penampilannya yang masih acak-acakan dengan wajah sembab.
"Clara..!" Panggil Adam baru teringat akan Clara
Tak kunjung mendapat jawaban, Adam pada akhirnya naik ke lantai dua, di kamar Clara untuk mengeceknya. Bagaimana pun diingatannya, Clara adalah gadis pendiam yang selalu menghabiskan waktu di rumah, merancang pakaiannya, meski saat ini kesan Clara sudah memburuk di pikirannya, Adam masih tetap berusaha mempercayainya.
"Kemana lagi dia pergi!" Ujar Adam bertanya-tanya saat ia membuka pintu kamar Clara dan tidak menemukannya disana
Dari sejak perceraiannya, tak ada satu pun hari yang damai yang dialami Adam. Semuanya hanya tentang kekecewaan. Khususnya Clara yang kian hari seolah memperlihatkan sisi lain yang tidak diketahui oleh Adam, namun terlihat biasa oleh orang lain seperti keluarganya, yang sudah bertahun-tahun lamanya memperingati dirinya.
...***...
Sementara itu, Nara bersama dengan Dimas dan juga Justin, saat ini duduk santai di meja makan seraya menikmati makanan penutup yang baru dipesan oleh Nara setelah ketiganya makan siang, berhubungan ketiganya secara bersama melewatkan sarapan pagi karena hanyit dalam tidur masing-masing. Khususnya Justin yang semalam memang begadang hingga pukul 3 subuh.
"Woooaahh.. Ini baru semalam dan situs ini sudah seramai ini? Kamu benar-benar sudah bekerja keras" Ucap Nara mengusap rambut Justin yang sejak tadi bersikap manja pada Nara layaknya bocah 5 tahun
__ADS_1
"Pada dasarnya, orang-orang memang menyukai hal-hal v*lgar seperti ini. Mereka bahkan rela menghabiskan uang mereka hanya untuk menjadi pelanggan VIP" Ujar Justin menjelaskan
"Lalu bagaimana dengan Clara?" Tanya Nara kemudian
"Mereka meninggalkannya di hotel itu. Aku sudah memerintahkan mereka untuk meninggalkan kartu nama mereka, seharusnya Clara tidak akan begitu curiga jika kita merekamnya"
"Kartu nama?"
"Justin yang membuatnya semalam" Ujar Dimas menunjuk Justin yang hanya mengangguk lesu
Nara semakin mengusap rambut Justin dengan senangnya. Dengan adanya Justin dan juga Dimas, rencana balas dendam nya sudah pasti akan berjalan mulus untuk kedepannya.
....
Di tengah percakapan ketiganya, Ayah Nara tiba-tiba saja menghampiri ketiganya dan duduk di kursi.
"Apa lagi yang kalian rencanakan sekarang?" Tanya Ayah Nara tidak bisa berfikir positif jika ketiganya yang disebutnya sebagai oembuat onar berkumpul dan tertawa dengan girangnya seperti itu
Bahkan ayah Nara sudah tidak kaget lagi, jika mereka menjawab sedang merencakan pembunuhan karena ketiganya sudah pasti akan melakukannya jika sudah mengatakannya.
"Kami sedang merencakan pembunuhan, selingkuhan dari mantan suamiku"
Baru saja Ayah Nara memikirkannya, Nara sudah menjawabnya seperti itu.
"Nara!" Tegur Ayah Nara benar-benae tak ingin anaknya mengotori tangannya lagi
"Aku hanya bercanda Pa. Tidak perlu menatapku tajam seperti itu. Bagaimana mungkin aku membunuhnya, kami bahkan baru memulainya.. " Ujar Nara dengan seringai nya
Ayah Nara hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak lagi dalam posisi bisa mengatur Nara saat ini. Dan lagipula, tujuannya menghampiri ketiganya bukan karena itu tapi karena masalah lainnya.
"Lakukan semau kalian, tapi jangan sampai tertangkap. Selain itu, Ayah ingin memberikan ini"
__ADS_1
"??" Nara menatap bingung sekaligus penasaran pada undangan yang baru diraih oleh Dimas itu
"Itu Undangan dari Kakek Adam. Lusa adalah hari ulang tahunnya. Ayah tahu bagaimana perasaanmu saat ini, karena itulah Ayah tidak akan memaksamu. Tapi setidaknya, pikirkan tentang kondisi Kakek Adam. Dia benar-benar ingin bertemu denganmu" Tutur Ayah Nara sebelum beranjak pergi meninggalkan ketiganya