
Clara yang ditinggal sendiri di hotel perlahan membuka matanya saat terik panas matahari menerpa wajahnya dari arah jendela yang memang sengaja dibuka oleh Jeros.
Tangannya naik memijat keningnya yang terasa nyeri sebelum akhirnya ia tersadar akan kondisi tubuhnya yang saat ini tidak tertutup apapun, menampilkan tubuhnya yang dipenuhi bekas c*p*ngan yang bisa dilihatnya dengan jelas dari pantulan cermin di meja rias depan kasur.
"Apa ini? Bagaimana bisa ada begitu banyak bekas c*p*ng di tubuhku?" Ucap Clara kaget dan berniat mendekat ke cermin
Namun saat kakinya menginjak lantai, yang dirasakannya justru rasa nyeri di sekujur tubuhnha khususnya di bagian selangkah nya yang benar-benar memerah saat ia melihatnya.
"Sssstt.... " Clara meringis sembari terduduk di kasur dan memeriksa bagian selangkah nya sendiri
"Ahh.. Seberapa kasar dia melakukannya padaku? Aku sama sekali tidak mengingatnya" Ujar Clara berusaha mengingat namun tetap percuma karena ingatannya benar-benar terputus dari sejak ia berada di bar semalam
Namun meski begitu, ia tetap bisa mengingat wajah dari pria yang bersamanya.
"Setidaknya dia masih meninggalkan kartu namanya disini.. " Ujar Clara saat menoleh dan mendapati kartu nama dari Jaros
Clara lalu beranjak dari kasur, menahan rasa nyeri dibagian selangkah nya dengan jalan tertatih-tatih sembari berpegangan pada lemari dan dinding yang bisa digapai tangannya.
Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Adam yang berada di rumahnya sudah pasti mencarinya ke mana-mana karena dirinya yang menghilang semalaman.
...***...
Setelah menerima undangan pesta ulang tahun dari Kakek Adam, Nara yang awalnya merasa enggan untuk hadir pada akhirnya memilih untuk hadir. Tidak ada salahnya untuk bertemu dengan mereka dan terlebih lagi ia sedikit penasaran melihat kondisi Adam saat ini.
Meski ia sudah tahu keadaan Adam, ia tetap penasaran untuk melihatnya secara langsung. Melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat Adam mantan suaminya hancur secara perlahan karena kebodohannya.
Dimas yang disibukkan dengan pekerjaannya di rumah sakit, meninggalkan Nara bersama dengan Justin di Mall. Meski pada akhirnya ia akan menyusul kembali karena takut akan sifat keduanya yang suka berbuat onar.
......
"Aku lebih suka dengan gaun yang tadi.. " Ujar Justin yang saat ini duduk sofa memperhatikan Nara yang kebingungan memilih gaunnya
__ADS_1
"Bukankah ini terlihat cantik di tubuhku?" Ujar Nara menatap pantulan dirinya dari cermin
"Gaun itu terlalu terbuka, pilih satu yang tertutup" Protes Justin tak suka dengan model gaun itu yang terlalu mengekpos punggung Nara
"Bukankah itu lebih bagus, dengan gaun ini aku bisa membuat mereka terpanah dan menyesal karena telah menelantarkan gadis secantik diriku"
"Tidak. Bahkan dengan gaun tertutup pun, Kakak tetap bisa membuat mereka terpanah. Lagipula kak Dimas tidak akan suka jika Kakak menggunakan gaun itu" Ujar Justin tetap kekeh
Justin lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah gantungan deretan baju yang tadi dipilih keduanya.
Masih dengan gaun berwarna hitam namun model yang lebih sopan, Justin memberikannya pada Nara untuk dicoba nya. Meski menampilkan lekuk tubuh Nara, gaun itu tetap lebih baik dari gaun yang dikenakan Nara saat ini, setidaknya itu yang dipikirkan oleh Justin.
"Bukankah ini sama saja Justin? Bukankah lebih baik menunjukkan punggungku dari pada memperlihatkan lekukan tubuhku?"
"Tapi gaun ini lebih tertutup, tidak seperti gaun yang kamu pakai itu. Rasanya aku ingin merobeknya saat melihatnya. Bukan hanya punggung, tapi juga bagian dada yang terbuka.. "
"Kak Dimas pasti akan setuju denganku jika melihatnya, karena rasanya aku akan mencongkel mata siapapun yang melirikmu nantinya" Ujar Justin yang membuat pegawai yang berdiri di ruangan itu sedikit bergidik ngeri
"Perhatikan kata-katamu Justin, itu bukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan di tempat seperti ini" Tegur Nara tak habis pikir dengan kebiasaannya yang suka berbicara kasar, meski tidak berbeda jauh dengan dirinya sendiri
"Baik Nona" Ujar pegawai itu sedikit membungkuk sopan
Nara lalu masuk ke ruang ganti untuk mengganti kembali pakaiannya. Hanya butuh 5 menit baginya untuk berganti pakaian.
"Ayo pergi Kak, aku sudah membayar semua belanjaan Kakak" Ujar Justin setelah Nara keluar dari ruang ganti
Nara hanya mengangguk sebelum akhirnya berjalan keluar dari toko dengan Justin yang lagi-lagi menggandeng lengannya manja.
"Orang-orang akan mengira jika kamu kekasihku" Ujar Nara mengusap rambut Justin
"Tidak masalah. Akan lebih bagus lagi jika mereka benar-benar beranggapan seperti itu"
__ADS_1
"Aku lapar.. Ayo makan terlebih dahulu, sebelum mencari jas untukmu" Ucap Nara mengalihkan saat perutnya tiba-tiba berbunyi
"Terserah Kakak. Aku akan ikut kemanapun Kakak pergi" Ujar Justin
Nara hanya menghela nafas pasrah. Karena sifat Justin yang selalu mengikuti perkataannya tanpa sedikit pun bantahan ataupun perasaan tidak suka, seolah jika Nara memintanya untuk mati, Justin mungkin juga akan melakukannya.
...***...
Setelah dari hotel, Clara langsung pulang ke rumah nya. Tidak seperti sebelumnya, Clara tampak bersifat cuek dan tidak perduli lagi dengan apa yang akan difikirkan oleh Adam tentang dirinya yang menghilang semalaman.
Clara masuk ke dalam rumah dengan jalan yang masih sedikit tertatih. Ia langsung beranjak naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Namun sebelum ia tiba di lantai dua, Clara dibuat kaget saat mendengar suara Ad dari arah ruang tamu yang ternyata sejak tadi memperhatikan dirinya dari sejak ia melangkah masuk.
"Dari mana saja kamu?" Tanya Adam dengan suara berat miliknya
"Bukan urusan kamu" Jawab Clara berbalik sejenak sebelum akhirnya kembali melangkahkan kakinya
"Aku belum selesai Clara" Teriak Adam
Clara hanya diam tidak perduli dan memilih masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
"Aarrgghhh.. " Karena emosi Adam menendam vas bunga yang berada di samping sofa membuatnya jatuh berserakan di lantai
Perasaan sesal benar-benar menyelimuti dirinya saat ini. Melihat kondisi Clara saat memasuki rumah, tanpa bertanya pun, Adam sudah bisa menebaknya sendiri.
"Aku benar-benar bodoh selama ini.. Bagaimana bisa aku mempertahankan wanita seperti nya di sisiku selama bertahun-tahun.. " Ujar Adam meremaa rambutnya frustasi
Di tengah penyesalannya itulah, Adam kembali teringat akan pesta ulang tahun Kakeknya yang akan diselenggarakan besok.
Meski hubungannya dengan keluarganya sudah memburuk karena masalah perceraiannya, ia akan tetap hadir. Karena bagaimana pun ia tetap bagian dari keluarga itu.
__ADS_1
Dengan kesempatan ini jugalah, Adam berharap untuk bisa bertemu dengan Naura meski hal itu sedikit tidak mungkin karena saat ini yang menguasai tubuh itu adalah Nara.
"Aku tidak perduli, baik Nara ataupun Naura, aku akan tetap menemuinya. Aku pasti akan menebus semua kesalahanku selama ini terhadapnya" Ujar Adam sebelum akhirnya bangkit meninggalkan rumah itu