
Sejak tiba di rumah, Naura sibuk berbincang dengan Dira di telepon. Dira yang awalnya menelpon karena tidak bisa hadis siang tadi, terpaksa berkata jujur saat Naura mengungkit soal William yang memiliki perasaan terhadapnya.
"Berhentilah tertawa, bagaimana pun dia itu sepupu mu" Ucap Naura seraya memakai krim malam di wajahnya
"Bagaimana mungkin aku tidak tertawa, aku sudah lama ingin melihatnya terpuruk seperti itu.."
"Sudahlah, berhenti membicarakan tentangnya. Mari bahas soal desain ku" Ucap Naura tak ingin mengolok-olok William lagi
"Aku menyukainya. Semua yang kamu buat, aku menyukainya. Jadi kamu hanya perlu duduk manis di rumah, sisanya aku yang akan mengurusnya" Ucap Dira percaya diri dengan kemampuannya
"Aku serahkan padamu"
"Oh iya, bagaimana dengan usulan ku yang kemarin. Apa kamu benar-benar tidak akan mempertimbangkannya? Jika William benar-benae berfokus mengenakan pakaian rancanganmu, itu berarti cepat atau lambat berita tentangmu akan menyebar"
"Aku sudah memikirkannya. Aku akan menyetujui saran darimu, tapi aku hanya ingin menerima beberapa pelanggan saja dalam satu tahun"
"Beberapa?"
"Iya. Aku hanya akan menerima beberapa pelanggan saja, aku tidak ingin Adam curiga terhadapku"
"Lagi-lagi kamu memikirkan baj*ngan kurang ajar itu" Umpat Dira
"Diraa.. " Tegur Naura yang hanya bisa mengggelengkan kepala pasrah
"Baiklah.. Bagaimana dengan limitied edition? Produk terbatas yang hanya akan muncul berdasarkan musim saja? Kamu hanya perlu mendesain satu atau mungkin dua pakaian yang akan diluncurkan saat itu dan tentu saja hanya akan dibuat beberapa pakaian saja"
"Terserah padamu saja.. Lagipula aku hanya akan mendesain saja.. Masalah lainnya aku serahkan padamu" Ucap Naura seraya merebahkan tubuhnya di kasurnya
"Yah.. Kamu hanya perlu duduk manis menunggu kabar baik dariku. Aku pasti akan membuat baju rancanganmu terkenal di kalangan atas" Ucap Dira menyombongkan kemampuannya karena bagaimana pun ia adalah seseorang yang cukup terkenal di dunia fashion karena fashionnya yang unik
"Baiklah.. Terserah padamu saja.. " Ucap Naura terakhir kalinya sebelum perhatiannya teralihkan pada pintu kamarnya yang tiba-tiba saja diketuk dari luar
Tok.. Tok.. Tok..
Tanpa berkata apa-apa, Naura langsung mengakhiri panggilannya. Dan segera bergegas membuka pintu kamarnya.
"Iya Paman.. " Ucap Naura membuka pintu kamarnya
Namun betapa terkejutnya dia, saat melihat orang yang berdiri di depan kamarnya bukanlah Pak Agus melainkan suaminya sendiri, Adamsom Louis.
"A-adam? Apa ada yang kamu butuhkan?" Tanya Naura seketika gugup
__ADS_1
"Mama menyuruh kita menghadiri pesta pertunangan Nicolas Franz besok, anak dari rekan bisnis Mama. Beritahu Pak Agus untuk menyiapkan gaun atau apapun yang kamu butuhkan. Dan jangan sampai lupa.. " Ucap Adam masih dengan nada ketusnya
"Baik. Aku akan mengingatnya" Jawab Naura sedikit menunduk
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Adam langsung berbalik pergi meninggalkan Naura yang masih berdiri di pintu kamarnya menatap kepergian Adam.
"Dia masih tetap begitu dingin.. " Gumam Naura lirih "Apasih yang aku harapkan" Sambungnya seraya masuk kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur
Naura memejamkan kedua matanya yang sudah begitu lelah karena aktivitasnya seharian ini. Ia begitu jarang meninggalkan rumah, karena itulah ia akan lebih kelelahan saat kembali dari luar meski hanya menghabiskan beberapa jam saja di luar.
Namun sesaat kemudian, Naura kembali bangun terduduk "Aku belum boleh tidur, aku harus mempersiapkan gaun untuk kugunakan" Ucap Naura dengan begitu antusias
Naura lalu dengan cepat turun dari kasurnya dan berlari ke arah lemarinya untuk memeriksa gaun yang dimilikinya.
"Apa ini? Semua gaun yang aku punya sudah begitu usang, Orang-orang pasti akan mengkritik ku jika aku memakai ini" Ucap Naura menghela nafas panjang karena gaun-gaun lama yang dimilikinya
"Tidak bisa begitu, aku harus menghubungi Dira"
Naura lalu beranjak dan mengambil ponselnya di atas kasur, lalu menghubungi Dira kembali.
"Hmm.. Aku akan segera tertidur jika kamu tidak menghubungiku kembali" Ucap suara dari benda pipih itu
"Hah? Apa yang terjadi kali ini? Kecelakaan? Ah tidak mungkin, kamu masih di rumah? Apa Adam memukulmu? Hm?" Tanya Dira dengan semua pertanyaannya yang kini ikut panik karena Naura
"Bukan seperti itu, aku harus menghadiri pesta besok dan aku sama sekali tidak memiliki gaun" Tutur Naura menceritakan yang sebenarnya terjadi
"Oh astaga.. Aku pikir ada kejadian apa hingga kamu sepanik itu" Ucap Dira melihat keningnya karena mendengar jawaban tak terduga dari Naura
"Aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Naura dengan suara memelasnya
"Aku baru saja mendapat hadiah gaun dari seseorang, kamu bisa datang dan melihatnya besok. Lagi pula kamu seorang desainer, tidak akan masalah untuk merubah sedikit jika ada yang salah dengan gaunnya" Ucap Dira menawarkan gaunnya sendiri
Gaun yang merupakan salah satu hal yang ia minta dari William beberapa hari yang lalu yang kebetulan baru saja tiba hari ini. Namun karena Naura yang memintanya, Dira dengan lapang dada merelakan gaun limited edition nya itu pada sahabat satu-satunya itu.
"Makasih.. Kamu memang sahabat baikku. Aku pasti akan menggantinya.. " Ucap Naura merasa penuh syukur dan kembali bersemangat karena mendapat gaun baru
"Apapun untukmu Naura.. Datanglah besok pagi ke apartemenku.. Aku juga akan membantumu memilih tas dan perhiasan untuk kamu gunakan.. "
"Huaa.. Aku benar-benar merasa tersentuh.."
"Hmp.. Untuk kedepannya kamu tidak boleh mengabaikan kata-kata dari sahabat baikmu ini"
__ADS_1
"Iya-iya, aku tau itu. Sekarang kamu bisa beristirahat, aku juga akan segera tidur. Aku benar-benar lelah sekarang.. " Ucap Naura saat rasa kantuknya kembali merasuku dirinya
"Tunggu.. Pesta apa yang akan kamu datangi besok?"
"Ini hanya sebuah pesta pertunangan dari seseorang di Keluarga Franz, aku tidak begitu mengenalnya"
"Nicholas Franz?" Gumam Dira pelan
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Kamu bisa beristirahat sekarang. Kamu harus menyimpan tenagamu baik-baik"
Naura hanya mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan Dira. Namun ia memilih untuk tidak bertanya lagi, karena ia yang sudah benar-benar mengantuk saat ini.
....
Di sisi lain, Dira yang mendengar nama Nicholas Franz seketika bersemangat, tidak sabar untuk segera memberitahu informasi penting itu pada sepupunya William.
Tanpa berlama-lama, ia dengan cepat menghubungi William yang saat ini sudah menjadi mesin ATM berjalannya.
"Katakan dengan cepat, karena aku sedang sibuk saat ini.. " Ucap suara dari seberang sesaat setelah panggilannya terhubung
"Naura akan menghadiri pesta pertunangan besok, menurutmu pesta siapa yang akan dia hadiri?" Tanya Dira berusaha bersikap misterius
"Apa mungkin Nicholas Franz? Dia satu-satunya yang aku tahu akan bertunangan besok"
"Tepat sekali, dia memang akan menghadiri pesta itu"
"Yakk.. Mengapa baru memberitahuku hal itu"
"Aku kan sudah memberitahumu"
"Tapi aku masih belum bersiap-siap"
"Apa yang perlu kamu persiapkan lagi, bukannya kamu memang akan menghadiri pesta itu besok?"
"Tentu saja itu berbeda.. "
Tuutt..
William mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. Membuat Dira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sepupunya yang kini dimabuk cinta sepihak itu. Meski begitu, tidak ada salahnya membantunya sedikit.
__ADS_1