Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 25


__ADS_3

Setelah meninggalkan Adam dan Naura di Vila terpencil itu. Gibran memutuskan untuk mampir di sebuah bar yang sudah menjadi langganan nya selama ini.


Karena terus-menerus terusik dengan kehidupan pernikahan Adam yang tak kunjung membaik, membuat Gibran sering mengunjungi bar itu untuk menenangkan pikirannya dan mencari kesenangan untuk dirinya.


"Buatkan seperti biasa.. " Pinta Gibran pada bartender pria yang sudah tidak begitu asing lagi dengan dirinya


Bartender itu bernama David. Ia sudah bekerja disana selama lebih dari tiga tahun, hubungan di antara keduanya cukup dekat karena keduanya yang sering kali mengobrol saya Gibran ada di sana. Bahkan hubungan pernikahan Adam, juga menjadi pembahasan utama di antara keduanya.


"Apa lagi yang terjadi kali ini?" Tanya David itu akrab


"Tidak ada hal khusus, hanya saja aku berhasil meninggalkan suami istri itu di vila yang kamu sebut dulu" Ucap Gibran sedikit terkekeh


"Kamu benar-benar melakukannya?" Seru David


"Ada saran sebagus itu, bagaimana mungkin aku tidak melakukannya. Lagipula, hubungan mereka benar-benar memburuk akhir-akhir ini. Adam bahkan sudah menyiapkan berkas perceraiannya"


"Berkas perceraian?" Sela seorang gadis yang sejak tadi mendengar pembicaraan keduanya


Gibran mengerutkan keningnya bingung, karena reaksi gadis di sampingnya yang begitu terkejut.


"Apa ada yang salah?" Tanya Gibran memiringkan kepalanya


"Aku bertanya soal berkas perceraian, apa Adam benar-benar melakukannya? Kapan?" Tanya gadis itu


"Tunggu dulu.. Jangan bilang kamu juga selingkuhan Adam?" Tanya Gibran


"Jaga omongan kamu. Laki-laki br*ngsek sepertinya, tidak mungkin aku lirik sama sekali. Mata Naura pasti buta, karena menyukai laki-laki sepertinya" Ucap gadis itu dengan sarkas nya


Gadis dengan rambut sepundak berwarna coklat, wajahnya cantik layaknya seorang model terkenal, tidak lain adalah Andira, sahabat dari Naura.


"Oh, jadi kamu mengenal Naura. Aku fikir kamu memiliki hubungan dengan Adam, maaf soal itu" Ucap Gibran meralat tuduhannya barusan

__ADS_1


"Tidak masalah. Jadi katakan padaku, apa mereka benar-benar akan bercerai?" Tanya Dira kembali


"Hampir terjadi, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Mereka tengah berlibur saat ini" Jawab Gibran tersenyum karena bagaimana pun itu adalah rencana yang didapatnya dari David


"Liburan?" Seru Dira segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Naura


"Siapa yang coba kamu hubungi?"


"Naura" Jawab Dira


"Percuma, di tempat itu sama sekali tidak ada sinyal" Ujar Gibran


"Hhaaahh.. " Dira membaringkan kepalanya di meja sembari memghela nafas panjang "Aku lebih suka jika keduanya benar-benar bercerai" Ucap Dira kemudian


"Hah? Bagaimana bisa kamu memiliki pemikiran seperti itu" Sanggah Gibran yang memiliki pikiran yang berbeda dengan Dira


"Apa menurutmu aku akan senang melihat sahabatku tersiksa seperti itu? Aku lebih setuju jika dia bercerai dan tidak bertemu lagi dengannya seumur hidupnya, jika perlu aku akan membuat Naura berpaling pada laki-laki lainnya yang lebih tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan baik" Ucap Dira dengan sarkas nya seraya menatap Gibran tajam


"Dasar bodoh. Apa menurutmu, Adam akan berbalik mencintainya jika kamu melakukan hal itu? Dengan kamu melakukan ini, justru membuat Naura semakin tersakiti"


"Kaliann berdua.. " Sela David mencoba menengahi pertikaian yang semakin memanas itu


"Kenapa?" Tanya keduanya secara bersamaan menatap David yang saat ini memegang minuman yang baru di buatnya di kedua tangannya


"Ohh.. Minuman untuk kalian berdua sudah selesai, jadi silahkan diminum terlebih dahulu" Ucap David meletakkan masing-masing satu gelas di hadapan keduanya


Dira menghela nafasnya panjang, berusaha mengatur suasanan hatinya yang sempat emosi karena pembahasan barusan.


"Maaf.. Sepertinya aku sedikit sensitif jika itu mengenai Naura" Ujar Dira seraya kembali duduk di kursinya dan meneguk minuman itu dalam sekali teguk saja


"Tidak masalah... " Ucap Gibran mengerti karena wajar jika keduanya berdebat karena perbedaan pendapat

__ADS_1


"Jadi, bagaimana keadaan Naura? Apa dia baik-baik saja? Adam tidak memukulnya bukan?" Tanya Dira merasa khawatir


Sebelum datang ke bar itu, Dira sempat bertemu dengan William. William menceritakan semua yang terjadi pada Dira di pesta sebelumnya. Karena itulah, Dira merasa sedikit bersalah karena bagaimana pun ia yang menyarankan gaun itu dan bahkan membuat William datang ke pesta itu. Meski pada akhirnya, William akan tetap datang karena Nichol yang merupakan sahabat dari kakaknya, Naufal.


"Entahlah.. Aku tidak pernah bisa mengetahui kondisi Naura yang sebenarnya, karena dia yang begitu pandai menyembunyikan rasa sakitnya"


"Karena itulah aku katakan untuk memisahkan mereka. Naura sama sekali tidak perduli dengan dirinya sendiri, jika ia terus menerus mempertahankan pernikahan ini, ia hanya akan menghancurkan dirinya sendiri"


"Jika kamu benar-benar perduli dengannya, maka seharusnya kamu tidak membiarkannya hidup seperti ini terus-menerus" Sambung Dira


Gibran meremas jidatnya bingung, semakin ia memikirkannya, ia semakin terpengaruh akan kata-kata Dira. Tujuannya untuk membalas budi justru membuat Naura secara tidak langsung tersakiti.


"Setidaknya, di luar sana masih banyak yang bisa menghargai dirinya terutama bakatnya yang selama ini dipendam nya tanpa bisa ia perlihatkan sesuka hatinya" Ucap Dira sedikit linglung lalu berdiri setelah meneguk minuman terakhirnya


Dira lalu keluar dari bar tersebut setelah berbicara panjang lebar. Gibran yang masih memikirkan perkataannya barusan, memilih untuk tinggal disana sedikit lebih lama.


"Ada apa? Apa kamu memikirkan perkataan gadis barusan? Bagaimana pun semua yang dikatakannya itu fakta. Siapapun yang melihatnya pasti akan berpendapat yang sama dengan gadis tadi" Ucap David setuju dengan pendapat Dira barusan


"Aku tidak pernah memikirkannya, aku pikir dengan aku membiarkannya berada di sisi Adam sesuai dengan keinginannya, sudah cukup untukku membalas budi. Tapi sepertinya itu keputusan terbodoh yang pernah aku buat" Ucap Gibran menyesali keputusannya


"Sudah terlambat untuk menyesal Gibran, semuanya sudah terjadi"


"Haiihh.. Padahal aku sudah sering melihat memar di tubuhnya tapi apa yang aku lakukan sekarang.. Ibunya pasti akan sangat sedih melihat anaknya tersakiti secara fisik dan batin seperti itu.. " Ucap Gibran semakin merasa bersalah


"Sebaiknya kamu pulang sekarang, kamu perlu menjernihkan pikiranmu" Ucap David tak ingin melihat Gibran berakhir mabuk dan membuat kekacauan di bar tersebut seperti sebelumnya


"Yah.. Aku akan pulang sebelum aku mabuk disini.. " Ucap Gibran sadar diri, membuat David hanya tertawa kecil karena Gibran dengan cepat menangkap maksud ucapannya


Gibran memesan sebuah taxi untuk pulang karena bagaimana pun ia baru saja meminum alkohol. Namun tepat sebelum taxi yang ia kendarai berbelok dari jalanan bar itu, pandangannya tiba-tiba tertuju pada gadis yang duduk di bangku pinggir jalan. Dia yang tak lain adalah Dira, gadis yang baru diajaknya berdebat di bar tadi.


"Tolong berhenti sebentar pak" Pinta Gibran pada supir taxi itu lalu turun dan menghampiri Dira di bangku tersebut

__ADS_1


__ADS_2