
Beberapa saat setelah kedatangan William di rumah sakit, orang tua Adam termasuk Kakeknya juga datang dengan raut wajah cemas.
"Bagaimana keadaan Naura?" Tanya Davikah pada Adam yang duduk di kursi tunggu
"Dia baik-baik saja sekarang" Jawab Adam
"Apa yang kamu lakukan disini? Mengapa tidak masuk ke dalam?" Tanya Kakeknya berniat masuk ke dalam
"Oh, di dalam ada.. "
Belum sempat Adam menyelesaikan ucapanannya, Kakek dan Ibunya sudah membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalam.
"Setidaknya dengar saat aku berbicara.. " Gumam Adam ikut masuk ke da ruangan itu yang dirasanya akan sangat canggung
...
"Oh?" Davikah tertegun diam menatap sosok pria jangkung di depannya, yang sudah tidak asing lagi karena ia yang pernah sekali melihatnya saat mengantar Naura kembali ke rumah
"Naura, bagaimana perasaanmu? Kamu baik-baik saja? Apa kata Dokter nak?" Tanya Kakek Adam khawatir hingga tidak memperdulikan keberadaan William, berbeda dengan ibu Adam yang sudah terlebih dahulu mengenalnya
"Aku hanya demam Kek. Maaf membuat Kakek khawatir seperti ini" Jawab Naura dengan raut wajah pucat nya
Setelah mendengar jawaban Naura, Kakek Adam langsung merasa sedikit lega.
"Apa ayahku mengetahuinya?" Tanya Naura tiba-tiba mengungkit ayahnya
"Tidak. Kakek belum mengabarinya karena terlalu khawatir. Apa kamu mau mengabarinya?"
"Tidak perlu Kek. Lagipula aku akan pulang hari ini.. " Ucap Naura
"Pulang? Apa kamu masih belum cukup membuat orang lain merasa khawatir? Berhenti bersikap sok kuat seperti itu" Tegur Adam dengan sarkas nya
"Naura, bukankah sebaiknya kamu tinggal disini hingga keadaan kamu pulih total. Tidak baik terlalu memaksakan diri" Ucap William memberi saran dengan nada lembut, sangat berbeda dengan Adam yang justru membentak Naura
"Baiklah.. " Ujar Naura menyetujui dengan nada lirih
Bukannya ia tidak ingin berada di rumah sakit, hanya saja ia sudah terlalu muak dengan bau obat-obatan di rumah sakit. Ini bukan pertama atau kedua kalinya ia berada di rumah sakit.
Dari sejak kecil, khususnya setelah ibunya meninggal. Rumah sakit adalah tempat yang paling sering dikunjunginya karena kesehatannya yang memburuk.
Alasan inilah yang membuat Naura benci rumah sakit, karena aroma obat-obatan dan pandangan dari orang lain yang tak jarang memperlihatkan pandangan menyerah dalam hidup mereka.
....
__ADS_1
Dira yang melihat suasana canggung karena Naura yang justru menjawab perkataan William, segera memegang bahu William.
"William, ayo pergi. Biarkan Naura istirahat untuk saat ini" Ucap Dira sedikit berbisik meski masih terdengar di telinga yang lainnya
"Naura, kabari aku jika terjadi sesuatu. Aku akan datang berkunjung lain kali" Ucap William pada Naura tanpa mnggiraukan tatatapan tajam dari Ibu dan Kakek Adam
"Kakek, tante, kami pamit pergi" Ujar Dira pamit lalu menarik lengan William keluar dari ruangan itu
......
Setelah kepergian keduanya, Kakek Adam yang sejak tadi diam, langsung bertanya pada Naura.
"Sejak tadi Kakek penasaran, siapa laki-laki itu? Dia terlihat dekat denganmu Naura" Tanya Kakek Adam
"Oh, dia sepupu Dira Kek. Aku kebetulan berkenalan saat bertemu dengan Dira" Jawab Naura namun tidak menyebutkan soal William yang menaruh rasa terhadapnya
Namun tanpa dia sebutkan, siapa pun di ruangan itu tahu dengan jelas akan tatatapan dari William yang dengan jelas menunjukkan perasaannya tadi.
Adam yang sedari tadi memasang raut wajah masang, memilih keluar dari ruangan itu. Gibran yang melihatnya, mengikuti dari belakang. Meninggalkan Kakek dan Ibu Adam bersama dengan Naura.
Adam kembali duduk di kursi tunggu di depan ruangan Naura dengan wajah menunduk ke lantai.
"Ada apa denganmu?" Tanya Gibran sembari duduk di samping Adam
Sejak kedatangan William tadi, Adam terus-menerus merasa tidak senang. Perasaan itu semakin jelas saat Naura lebih mendengar ucapan William saat di ruangan tadi.
"Siapa yang ingin berdebat denganmu, aku hanya menanyakan keadaanmu. Tidak lebih, jadi berhenti berburuk sangka terhadapku"
"Lagipula aku sudah tidak perduli dengan keinginanmu, jika kamu ingin bersama dengan Clara, maka lakukan saja. Aku tidak akan menghentikanmu lagi" Sambung Gibran seraya menyandarkan punggungnya di kursi
"Kenapa? Bukankan kamu yang selama ini memaksaku"
"Karena aku hanya fokus mendukung keinginannya, tanpa memperhatikan dirinya yang tersakiti" Ucap Gibran pahit
Entah mengapa perasaan Adam terasa begitu sesak mendengar kata-kata Gibran barusan. Ia tidak pernah tahu apa yang membuat keluarganya begitu perduli dengan Naura ketimbang dirinya. Namun beberapa hari ini, ia terus-menerus merasa jika ada rahasia yang terus disembunyikan keluarganya darinya.
Ketimbang menceritakannya secara langsung, mereka justru mendorongnya untuk mencari tahu sendiri.
"Aku akan pulang lebih dahulu, kabari aku jika terjadi sesuatu" Ucap Gibran seraya bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Adam yang masih duduk dengan berbagai pikiran di otaknya saat ini
Di tengah kekalutannya, ponsel Adam kembali berdering. Nama Clara muncul di layar ponsel Adam.
"Aku masih di rumah sakit Clara" Ucap Adam setelah mengangkat panggilan dari Clara
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang terjadi?"
"Tidak. Aku hanya memikirkan beberapa hal saja" Jawab Adam
"Apa kamu akan datang kesini? Aku sudah membuatkan makan siang untukmu" Ucap Clara bersemangat
Adam yang mendengar nada semangat dari Clara, dengan terpaksa menyetujuinya karena tidak ingin mengecewakannya.
"Baiklah. Aku akan kesana setelah pulang dari rumah sakit" Ucap Adam sebelum akhirnya menutup panggilan teleponnya
Adam duduk diam sejenak, lalu setelah itu ia berdiri berniat pergi menemui Clara.
"Mau kemana kamu?" Terdengae suara Davikah diiringi suara pintu tertutup
"Aku mau pulang Ma" Jawab Adam
"Berhenti berbohong Adam, Mama sudah mendengar pembicaraanmu tadi. Bukankah kamu ingin bertemu dengan Clara" Ucap Davikah tak sengaja menguping saat ingin berbicara dengan putranya tadi
"Karena Mama sudah mengetahuinya, maka aku akan pergi sekarang" Ucap Adam tidak perduli
"Adam!" Panggil Davikah setengah berteriak
"Maaf Ma, Aku benar-benar pusing sekarang. Jika ada yang ingin Mama bicarakan, maka kita bicarakan di rumah saja" Ucap Adam sebelum melangkah pergi meninggalkan ibunya
...***...
Selama diperjalanan hingga tiba di rumah Clara, Adam tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Gibran dan juga perlakuan William. Berapa kalipun ia berfikir, ia terus menerus merasa aneh seolah ada sesuatu yang salah. Namun ia sama sekali tidak bisa memikirkan apa yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Sejak tadi kamu hanya melamun saja" Tanya Clara penasaran
"Gibran tidak lagi memaksaku mempertahankan pernikahanku"
"Benarkah? Bukankah itu bagus untuk kita, apa dia mulai mendukung hubungan kita?" Tanya Clara dengan girangnya
"Tidak. Dia hanya tidak perduli lagi" Ucap Adam
"Apapun itu, aku senang karena akhirnya dia tidak akan memaksamu lagi. Jadi kapan kamu akan bercerai?"
"Ayo tunggu setelah aniversary pernikahanku" Jawab Adam lirih
"Baiklah. Lagipula aku sudah menunggu selama 3 tahun, jadi tidak ada masalah jika harus menunggu beberapa hari lagi" Ucap Clara seraya memeluk tubuh Adam erat
"Tidak seharusnya aku ragu-ragu seperti ini, Clara sudah lama menungguku" Batin Adam merutuki dirinya
__ADS_1