
"Bagaimana dengan perusahaan ayahmu? Apa kamu sudah tidak memikirkannya lagi?" Entah sadar atau tidak, Davikah yang sudah diselimuti perasaan amarah, mengungkit akan perusahaan ayah Naura yang baru saja berjalan normal setelah mendapat bantuan dari perusahaan keluarga Louis selama dua tahun ini
Naura tertegun diam. Selama beberapa tahun ini, hubungannya dan ayahnya menjadi semakin renggang setelah kepergian ibunya. Bahkan pernikahan ini, juga berawal dari persetujuan ayahnya dan Ibu Adam.
"Hentikan omong kosong kamu! Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan? Perusahaan kamu bilang? Apa itu sepadan dengan pengorbanan ibunya?" Teriak Dimas menatap Ibu Adam penuh amarah
"Dimas!" Tegur Naura tak ingin membuat Dimas ikut campur urusan ini
"Naura, kamu tidak seharusnya diam di situasi seperti ini.. " Ucap Dimas masih tak suka dengan sifat Naura yang terlalu lemah
"Na-naura? Maafin Mama. Mama tidak bermaksud seperti itu, Mama hanya tersukut emosi karena itulah Mama mengungkit soal perusahaan.. " Ucap Davikah menyesali perkataan nya barusan
Namun belum sempat Naura membalas ucapan permintaan maaf itu, ia lagi-lagi disela saat akan berbicara.
"Lakukan sesukamu. Harta dan reputasi tak bisa dibandingkan dengan kebahagiaan dari anakku. Aku selalu berfikir dia hidup dengan baik di keluarga ini, tapi kenyataanya sangat berbanding terbalik dengan yang aku lihat saat ini"
Dari arah pintu masuk, ayah Naura masuk bersama dengan William di belakangnya. Sebelum mengantar Naura pulang ke rumah, Dimas menyempatkan dirinya memberitahu ayah Naura termasuk fakta bahwa Naura yang sudah mengetahui penyebab kematian Ibunya.
Sementara itu, William yang sudah mencoba menghubungi Naura dari sejak Naura menghilang dari pesta, memutuskan datang secara langsung ke rumah itu untuk memeriksanya. Namun tanpa sengaja, ia berpapasan dengan ayah Naura dan secara tak sengaja juga mendengar pertengkaran dari Naura dan yang lainnya di ruang tamu runah itu.
"Aku sangat bodoh hingga menyerahkan putriku pada seorang pria kejam sepertimu. Kebaikan yang diberikan oleh istriku beberapa tahun yang lalu, justru kamu balas dengan tangisan. Apa kamu tidak memiliki hati nurani? Bahkan jika kamu tidak menyukainya, kamu tidak seharusnya membuatnya menderita seperti ini" Tanpa sadar air mata Darius menetes menyaksikan kondisi putrinya yang begitu memprihatinkan. Putrinya yang ceria sangat berbeda dengan yang ada dihadapannya saat ini
Tak ada senyum sedikit pun di wajahnya. Sorot matanya kosong, memperlihatkan rasa sakit yang begitu dalam. Tubuhnya yang dulu begitu dirawat nya, kini dipenuhi luka dan lebam memerah keunguan.
"Cukup Pa hiks.. " Naura jatuh tersungkur di lantai, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Pikirannya kacau. Hatinya benar-benar hancur saat ini. Entah kesalahan apa yang dulu pernah dilakukannya hingga ia harus menerima penderitaan dan penghinaan seperti ini
...
Di tengah perhelatan hati dan pikirannya, Nara tiba-tiba muncul di pikiran Naura "Bukankah sudah kukatakan untuk berhenti? Berhenti bersikap keras kepala dan biarkan aku yang menyelesaikannya. Dia sama sekali tidak mencintaimu, dia tidak menghargaimu sedikitpun, semua pengorbananmu di masa lalu tak akan pernah ternilai dimatanya"
__ADS_1
"Aku.. Lelah.. Aku ingin beristirahat.. Aku muak dengan semua ini.. " Ucap Naura dengan perasaan kecewa yang begitu dalam di hatinya
"Tidak apa-apa. Mulai sekarang, aku yang akan melakukannya. Kamu hanya perlu diam dan melihatku membalas perbuatan mereka satu per satu" Ucap Nara memeluk Naura yang saat ini menangis
Naura yang sudah benar-benar lelah dengan semua kebodohannya selama ini, memutuskan untuk merelakan tubuhnya untuk digunakan Nara.
"Anak pintar. Kamu seharusnya sadar saat aku mengingatkanmu dulu" Ucap Nara sebelum akhirnya berganti alih dengan Naura
...
Melihat Naura yang hampir terjatuh dilantai, William dengan cepat menangkap tubuh Naura ke dalam pangkuannya.
"Naura.. Kamu baik-baik saja? Jawab aku Naura?" William memeluk tubuh Naura yang saat ini tersungkur di lantai dengan mata tertutup
Namun beberapa detik kemudian, Naura kembali membuka kedua matanya. Sorot mata yang berbeda jauh dengan dirinya yang sebelumnya "Aku baik-baik saja. Dan juga, panggil aku Nara mulai dari sekarang. " Tutur Naura lalu bangkit berdiri dengan dibantu oleh William dan Dimas yang sedari tadi memasang raut wajah khawatir akan kemunculan Nara
Namun setelah mendengar ucapan Naura barusan, ia langsung menghela nafasnya berat karena entah apa yang akan dilakukan Nara selanjutnya.
"N-nara?" Darius seketika membatu di tempat, ia sadar jika gadis yang saat ini berdiri di depannya bukan Naura melainkan Nara. Alter ego dari putrinya yang selama ini tidak pernah dilihatnya, terutama karena Dimas yang juga secara langsung memanggil Naura dengan sebutan Nara
"Iya. Ini aku Pa. Naura baik-baik saja, jadi Papa tidak perlu khawatir" Ujar Nara pada ayahnya yang mulai mengkhawatrikannya
Nara lalu menatap Adam tajam dengan seringai nya "Kamu bebas. Kamu bisa menikah dengannya sesuka hatimu. Mulai sekarang, tidak ada hubungan apapun lagi di antara kita" Tutur Nara menyetujui perceraian itu
Deg..
Sesaat setelah Naura mengatakannya, Adam merasakan perasaan aneh di hatinya. Ia tidak merasa senang sedikit pun. Selain perasaan aneh dan asing itu, tak ada lagi yang dirasakannya saat ini.
"T-tunggu Naura.. "
__ADS_1
"Tidak perlu menahanku lagi Ma. Sebuah pernikahan dilakukan oleh dua orang, jika hanya satu yang menerima dan terus-terusan berkorban maka itu bukan lagi pernikahan" Tutur Nara dingin sebelum memutuskan naik ke kamarnya kembali dengan dibantu oleh Dimas
"Om? Apa yang terjadi? Nara?" Tanya Willian kebingungan seryaa menatap Ayah Naura meminta penjelasan akan apa yang baru saja dilihatnya
Bukan hanya William, Adam yang saat ini telah terpenuhi keinginannya, justru malah berdiri mematung di tempatnya memikirkan Naura yang baru saja menyetujui perceraiannya.
" Dia bukan lagi Naura yang kamu kenal sebelumnya. Dia adalah Nara, Alter ego dari putriku" Jawab Darius merasakan pahit dalam hatinya karena ia satu-satunya yang tahu karakter dari Nara
"Alter ego? Dua kepribadian?" Tanya William bingung
"Itu benar. Dia yang saat ini, memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Naura, layaknya hitam dan putih" Jawab Darius untuk terakhir kalinya sebelum pergi meninggalkan rumah itu
William yang masih penasaran beeniat untuk naik ke atas menyusul Naura.
"Mau kemana kamu?" Tanya Adam mencegat William naik ke atas
"Naura baru saja menyetujui perceraian kalian. Jadi tidak ada alasan bagimu untuk mencegahku seperti ini, karena aku masih berusaha menahan diriku untuk tidak memukulmu saat ini" Ucap William menepis tangan Adam dengan kasarnya sebelum melanjutkan langkah naik ke atas menghampiri Naura
.....
Gibran yang sejak tadi diam memperhatikan, dengan raut wajah emosinya menghampiri Adam dan...
Buugggg...
Tubuh Adam jatuh tersungkur di lantai, saat Gibran melancarkan satu oukulan tepat di wajah Adam.
"Dasar bodoh! Kamu benar-benar manusia yang tidak tahu berterima kasih.. " Umpat Gibran emosi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Adam
"Maa? Apa maksud Gibran barusana?" Tanya Adam menatap Ibunya
__ADS_1
Namun jawaban didapatnya, melainkan raut wajah kecewa dari ibunya yang juga memilih pergi menyusul Gibran dan mengabaikan anaknya yang benar-benar bodoh karena terperdaya tipu daya dari Clara selama ini.