
Hujan yang semakin deras itu, membuat Gibran yang mengendarai mobilnya sedikit kesulitan karena penglihatan yang buram. Dira yang duduk di bangku penumpang kini tertidur karena terlalu lelah.
Beberapa jam sebelumnya, Dira memaksa Gibran agar membawanya ke vila tempat Naura berada. Berapa kalipun ia berfikir, ia tetap tidak bisa memgabaikannya.
Gibran yang awalnya berusaha menolak karena semua ini diatur oleh Ibu Adam, pada akhirnya menyerah dan mengantar Dira ke vila itu.
Namun di tengah perjalanan, hujan deras justru turun dengan begitu derasnya di daerah itu membuat Gibran memelankan laju mobilnya karena percuma untuk berhenti di tengah hujan deras itu, karena bagaimana pun tidak ada satu pun bangunan yang bisa dijadikan persinggahan selain vila itu.
....
"Berapa lama lagi kita akan sampai?" Tanya Dira membuka kedua matanya
"Sebentar lagi.. " Jawab Gibran dengan jawaban yang sama sejak tadi
"Aku sudah lelah mendengar jawabanmu itu Gibran.. " Ucap Dira geram
"Kali ini aku tidak berbohong, kita memang akan tiba sebentar lagi"
"Oh, jadi sekarang kamu mengakui jika sejak tadi kmu berbohong" Ucap Dira menatap Gibran
Selain menghela nafasnya panjang, Gibran tidak bisa berkata apa-apa lagi. Gadis yang baru ditemuinya semalam, benar-benar membuat dirinya tak bisa berkutip di hadapannya selain menerima perkataannya.
"Apa kamu tidak bisa lebih mempercepat mobilnya, bagaimana pun akan lebih sulit mengendarai mobil jika hari sudah gelap" Ucap Dira setelah melihat keluar jendela
"Akan aku usahakan" Jawab Gibran lalu dengan ragu-ragu menambah laju mobilnya
.....
Sekitar setengah jam kemudian, barulah keduanya tiba di vila tersebut.
"Kita sudah sampai" Ujar Gibran sedikit bersemangat kembali karena akhirnya ia tiba disana
"Ini lebih sederhana dari yang aku pikirkan" Ucap Dira mengerutkan keningnya karena melihat kondisi Vila yang sedikit berantakan karena terguyur hujan
Sangat berbeda dengan reaksi Naura saat tiba disana, karena perbedaan cuaca yang membuat keduanya melihat sisi berbeda dari vila itu.
Gibran dan Dira lalu masuk ke dalam setelah memarkir mobilnya. Dira melirik sekilas ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore saat mereka tiba di sana.
__ADS_1
"Ini benar-benar dingin.. " Ucap Dira sedikit menggigil kedinginan "Oh?" Fokus Dira teralihkan saat ia masuk ke dalam, dan menemukan Adam dan Naura yang tengah berpelukan didalam balutan sebuah selimut
"Apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka sedingin itu hingga mau melakukan hal seperti ini?" Tanya Dira bingung
"Sssttt.. Pelan kan suara kamu agar tidak membangunkan mereka. Sangat jarang melihat mereka seperti ini" Ucap Gibran dengan cepat menutup mulut Dira agar tidak membuat keributan
"Kalau begitu aku akan berganti pakaian, sebelum aku masuk angin" Ucap Dira lalu naik ke lantai atas mencari kamar Naura untuk digunakannya
Sementara Dira naik berganti pakaian, Gibran memilih untuk ke dapur dan mengambil air hangat untuk dirinya setelah mengganti bajunya sebentar.
.....
Setelah mengambil air hangat dan beberapa cemilan di dapur, Gibran membawanya ke ruang tamu untuk sekedar menikmati waktu santainya di tengah hujan deras itu.
Namun belum cukup 10 menit ia bersantai, Adam yang tadinya berbaring dengan Naura seketika memanggil Gibran dengan suara melengking penuh amarah.
"Gibran!" Panggil Adam lalu keluar dari selimut dan menghampiri Gibran di sofa
"A-apa? Aku tahu aku salah, tapi ini perintah dari ibumu.. "
"Naura sakit dan sekarang kamu justru bersantai disini" Ujar Adam menunjuk ke arah Naura yang masih berbaring dengan wajah pucat yang sebelumnya tidak diperhatikan oleh Gibran dan Dira
"Dia demam tinggi. Jadi sekarang tanggung jawab dan bawa dia ke rumah sakit secepatnya sebelum terjadi apa-apa dengannya"
"Naura sakit?" Sela Dira dari arah tangga yang kini sudah berganti pakaian
"Iya. Dia demam" Jawab Adam mengangguk
Dengan cepat, Dira segera menghampiri Naura dan memeriksa suhu tubuhnya.
"Tubuhnya sampai sepanas ini, bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Dira mulai merasa panik sekaligus khawatir
"Jangan menatapku, aku sudah berusaha semampuku untuk merawatnya. Jika ada yang harus disalahkan, maka salahkan dia karena begitu saja meninggalkanku dengan Naura disini"
Dira seketika paham akan tindakan Adam hari ini. Sangat tidak mungkin untuk Adam memeluk Naura hanya karena kedinginan. Hal seperti itu hanya akan terjadi, jika kondisi Naura sedang tidak baik-baik saja seperti saat ini.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, tubuhnya benar-benar panas"
__ADS_1
"Aku sudah memberikannya obat dan mengompressnya kemarin malam, tapi entah apa yang dipikirkan oleh nya hingga ia dengan begitu nekat nya keluar di tengah hujan seperti ini sore tadi" Ucap Adam geram dengan sikap Naura siang tadi
Karena bagaimana pun, ia belum sempat melampiaskan kekesalanya karena melihat kondisi Naura.
"Kalau begitu, tolong bawa dia ke kamar terlebih dahulu. Aku akan merawatnya hingga besok pagi. Jika demamnya tak kunjung turun, kita akan pulang besok pagi. Karena berkendara di malam hari dan dengan cuaca yang seburuk ini, cukup berbahaya untuk kita" Ucap Dira memutuskan untuk tinggal saat ini setelah pertimbangan matang-matang
"Apa lagi yang kamu lakukan?" Tanya Gibran saat Adam dengan santainya duduk di sofa dan tidak menghiraukan perintah dari Dira
"Aku yang mengangkatnya?" Tanya Adam menunjuk dirinya
"Iya. Karena kamu suaminya" Ucap Gibran menenkankan kata suami
Adam menghela nafasnya panjang, lalu berdiri dan mengikuti ucapan Dira. Ia mengangkat tubuh Naura ala bridal style naik ke atas kamarnya.
Lagi-lagi ia merasa takjub dengan berat tubuh Naura yang begitu ringan, seolah ia tidak sedang mengangkat beban apapun.
"Kenapa raut wajahmu seperti itu? Atau kamu kaget karena dia seringan itu?" Tanya Dira dengan nada sinis
Adam lalu menoleh menatap Dira dengan kening berkerut karena ucapan Dira tadi yang dengan jelas menunjukkan kebenciannya akan dirinya.
"Aku tidak sedang dalam mood untuk bertengkar denganmu" Ucap Adam kemudian, karena ia dan Dira selalu berakhir bertengkar dari sejak kuliah dulu
"Dasar br*ngsek.. " Umpat Dira seraya membuka pintu kamar Naura dengan begitu kasarnya membuat Adam menatapnya kesal tidak terima di cela seperti itu
"Baringkan dia dengan selembut mungkin, seperti kamu memperlakukan wanita gila itu"
"Andira" Tegur Adam kesal
"Shhht.. Kamu akan menggangu nya jika suara kamu sekeras itu" Ucap Dira tak perduli dengan kemarahan Adam sama sekali
"Huh"
Adam berdecak kesal, lalu berbalik pergi tak ingin terus menerus berdebat dengan Dira.
"Oh iya.. Aku ingatkan padamu untuk secepatnya menjauh dari Naura. Jika kamu memang ingin bersama dengan wanita gila itu, kamu seharusnya melepaskan Naura"
"Kamu pikir semudah itu melakukannya, memangnya apa yang kamu tahu"
__ADS_1
"Sepertinya Aku mulai meragukan perasaanmu itu, jika hanya karena warisan kamu tetap bersama dengan Naura, maka kamu seharusnya mempertanyakan kembali perasaanmu itu terhadap wanita gila itu. Karena jika kamu mencintainya, kamu seharusnya tidak memikirkan harta yang tidak seberapa itu. Bukankah itu yang dinamakan Cinta, Adam" Ucap Dira dengan kata-kata pedasnya yang semakin membuat Adam diam tak berkutip