
"Akhir-akhir ini aku benar emosi melihat sikapmu, tapi melihatmu memasang ekspresi sesal seperti itu benar-benar membuatku terhibur.. Haruskah aku menghiburmu?" Tutur Gibran semakin merasa puas melihat Adam terpuruk menyesali keputusannya tepat di depan matanya saat ini
"Diamlah.. " Tegur Adam masih membaca semua informasi-informasi untuk kesekian kalinya hanya untuk memastikan semua nya sudah begitu pasti dan tidak bisa disangkal nya kembali
"Sebaiknya kamu pulang ke rumah, berlutut dan meminta maaf di kaki Ibumu. Kamu seharusnya yang paling tahu bagaimana sifat Ibumu. Dia yang selalu menjaga harga dirinya, justru dipermainkan oleh kekasihmu"
"Cukup Gibran.. Aku sedang tidak ingin mendengar provokasi darimu" Ujar Adam menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca
"Aku tidak sedang memprovokasi mu Adam. Aku hanya menyuruhmu melakukan hal yang seharusnya kamu lakukan sebagai seorang anak. Apa kamu belum sadar juga? Berapa kali kamu sudah menyakiti perasaan Ibu kandungmu sendiri dengan kata-kata kasarmu selama ini"
Adam tak lagi dapat membalas ucapan Gibran. Entah sudah yang keberapa kalimya, Gibran memaki dirinya karena kebodohannya. Dan harus ia akui, jika ia memang sudah begitu bodoh karena tak bisa melihat sisi lain dari Clara selama ini. Ia terlalu dibutakan akan cinta yang bahkan dirinya pun ragu untuk mengakuinya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Gibran saat Adam bangun seraya membawa berkas dokumen di tangannya
Tak ada jawaban satupun darinya, bagai tertusuk duri, dada Adam benar-benar terasa sesak tak sanggup untuk berbicara lagi. Ia benar-benar telah berbuat salah, pilihannya untuk memihak pada Clara membuatnya kehilangan orang-orang yang begitu tulus mencintainya selama ini. Tak terkecuali pada Naura yang selama dua tahun pernikahan selalu bersabar bahkan disaat mendapat perlakuan kasar darinya.
Dengan perasan yang sudah kacau balau, Adam meninggalkan perusahaan dan masuk ke dalam taxi, meninggalkan mobil yang tadi digunakannya di perusahaan.
...***...
Nara yang bangun kesiangan pagi tadi, kini berada di dalam perjalanan menuju rumahnya. Berulang kali Nara menggerutu karena Dimas yang sengaja mematikan alarmnya hanya karena tak ingin ia pulang ke rumahnya. Jika bukan karena Justin yang datang membangunkkannya, Nara mungkin masih berada di dalam selimutnya menikmati tidurnya yang terpotong semalam.
"Berapa lama lagi kita akan sampai?" Tanya Nara sedikit menguap
"5 menit lagi.. " Jawab Justin setelah melihat petunjuk maps
Sebelum datang ke rumah orang tuanya, Nara memutuskan untuk datang ke kuburan ibunya terlebih dahulu. Sejak kejadian penculikan dulu, Nara tak lagi pernah berkunjung ke kuburan ibunya begitupun dengan Naura.
"Menurutmu, apa ibuku akan senang melihat anaknya memiliki dua kepribadian seperti ini?" Tanya Nara tiba-tiba terpikirkan hal tersebut
__ADS_1
"Tolong jangan merendahkan diri sendiri Kak. Dimata ku, Kakak jauh lebih baik dari semua orang diluar sana" Ucap Justin memeluk lengan Naura erat
"Tapi aku pernah membunuh orang lain"
"Jadi kenapa? Kakak melakukannya hanya untuk membela diri, tidak seperti mereka yang melakukannya untuk kesenangan diri sendiri" Ucap Justin tiba-tiba teringat akan kenangan masa lalunya
"Jadi tolong berhenti merendahkan diri sendiri Kak, karena bagiku Kakak lebih berarti dari segalanya" Ucap Justin semakin mengeratkan pelukannya
Hanya Nara satu-satunya orang yang menjadi alasan Justin tetap ada hingga saat ini. Bahkan jika semua orang membenci ataupun mengutuk sifat Nara, Justin tetap akan berdiri untuknya dan membelanya sama seperti yang telah diperbuat Nara untuknya sebelumnya.
"Kita hanya berpisah beberapa tahun dan kamu sudah tumbuh sedewasa ini tanpa aku sadari" Ucap Nara mengacak-acak rambut Justin gemas
"Kalau begitu tolong berhenti mengusap rambutku seperti anak kecil Kak" Protes Justin yang semakin membuat Nara gemas
"Baiklah.. Tapi sebagai gantinya aku akan mulai mencubit pipimu mulai sekarang" Ucap Nara terkekeh pelan seraya mencubit pipi Justin yang kini memerah hanya dengan sedikit sentuhan
"Aahh.. Lakukan sesukamu.. " Ucap Justin terlihat pasrah meski dalam hati ia benar-benar menyukainya
......
Setelah percakapan singkat dan menggemaskan itu, keduanya lalu tiba di tempat dimana Ibu Nara dikuburkan.
Nara lalu masuk dengan seikat buket bunga mawar putih di tangannya. Meski ia jarang mengunjungi Ibunya, Nara tetap saja ingat akan bunga kesayangan sang Ibu.
"Aaiisshhh.. "
Tepat disaat keduanya tiba di kuburan Ibu Nara, Justin langsung berdecak kesal karena melihat seseorang yang dibencinya berada di disana.
Tak hanya Justin, ekspresi Nara juga ikut kesal saat melihat pria yang beberapa hari yang lalu masih berstatus suaminya, duduk di depan makam ibunya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini? Hah?" Tanya Justin mendahului Nara
Justin menghampiri Adam, lalu mencengkeram kerah bajunya dengan kasarnya.
"Siapa kamu?" Tanya Adam kaget saat melihat seorang pria asing mencengkeram kerah bajunya begitu saja
Adam melirik ke arah Nara yang baru melangkahkn kakinya satu namun teehnti saat Justin sudah terlebih dahulu melakukannya.
"Perhatikan pandanganmu sebelum aku mencongkel bola matamu, kamu sama sekali tidak pantas melirik nya seperti itu" Tegur Justin tak suka bahkan Adam melirik Nara
Adam yang tak ingin berdebat dengan orang yang baru dilihatnya, melepas paksa genggakan Justin dari kerah bajunya.
"Naura? Apa aku bisa berbicara denganmu?" Tanya Adam mengabaikan kata-kata Justin barusan
Nara terdiam. Sejak perceraiannya dengan Adam hari itu, Naura tak lagi pernah menampakkan dirinya seolah ia benar-benar sudah merelakan hidupnya dan membiarkan Nara menguasai tubuhnya sepenuhnya.
"Apa kamu tidak menghiraukan kata-kata ku barusan? Sudah kukatakan untuk, jaga pandanganmu darinya. Kamu tidak berhak menatapnya, dan jauh tidak pantas untuk berbicara dengannya" Ucap Justin sedikit emosi seraya mendorong tubuh Adam menjauh
Adam yang pada awalnya datang karena ingin meminta maaf dan berterima kasih pada Ibu Naura. Sungguh tak menyangka jika akan bertemu dengan Naura disana, membuatnya merasa diberi kesempatan untuk berbicara dan meminta maaf pada Naura akan semua sikapnya selama ini.
"Aku akan berbicara denganmu setelah aku selesai menyapa Ibuku. Jadi sebelum itu, tolong menjauh dari sini" Ucap Nara dengan nada dingin tanpa menoleh ke arah Adam barang sedikit pun
Karena melihat wajah Adam hanya akan membuatnya kesal dan ia benar-benae tidak ingin memperlihatkan sisi mengerikannta itu di hadapan makam ibunya.
"Tapi Kak.. " Protes Justin tak setuju, namun kembali pasrah saat Nara menatapnya agar tetap tenang
"Baiklah.. Aku akan menunggumu" Sela Adam lalu berlalu pergi dan memilih menunggu Nara di parkiran
Selepas kepergiannya, Justin kembali menatap Nara bingung "Kenapa Kakak melakukannya? Kakak tidak harus meladeni pria br*ngsek sepertinya"
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lagipula aku masih sda hal yang harus aku katakan padanya" Ucap Nara mengusap wajah Justin untuk menenangkannya