Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 54


__ADS_3

Selepas kepergian Alex setelah mengantar Ckara, Adam langsung membawa Clara masuk ke dalam kamarnya lalu membaringkan nya di kasur mengabaikan aroma menyengat alkohol dari tubuh sang kekasih.


Semua fakta-fakta yang baru di ketahui nya kembali bermunculan di pikiran Adam saat ini. Ia yang sebelumnya masih meragukan hal tersebut, kini mulai bertanya-tanya akan sifat Clara yang sebenarnya.


Ini bahkan baru beberapa jam sejak ia memberitahu Clara akan keluarganya yang membuangnya dan sekarang Clara justru dengan begitu beraninya datang ke bar bahkan disaat dirinya masih berada di rumah itu.


Adam yang semakin di buat frustasi, lantas meraih ponsel di saku celananya lalu menghubungi asisten pribadinya yang dulu membantunya di perusahaan.


"Bawakan semua informasi terkait Clara. Semua informasi tentangnya dari sejak kuliah hingga saat ia berada di luar negeri. Lakukan secepatnya, aku sendiri yang akan datang mengambilnya di kantor besok" Perintah Adam tepat setelah panggilannya terhubung


Adam lalu mematikan ponselnya sembari berjalan keluar dari ruangan itu. Sedikit rasa sesal perlahan dirasakannya karena terlalu bodoh untuk mengetahui sisi lain dari Clara selama ini. Meski di hati kecilnya ia masih berharap jika Clara tak seburuk yang diceritakan orang tuanya.


...***...


Justin dan Nara yang baru saja kembali dari luar, masuk ke dalam rumah dengan langkah sepelan mungkin agar tidak disadari oleh Dimas. Keduanya terlalu lelah untuk mendengar ocehan tengah malamnya sama seperti sebelumnya.


Keduanya yang awalnya mengira Dimas sudah tertidur karena lampu yang ada di rumah sebagian besar sudah dimatikan, kembali dikejutkan saat tiba-tiba semua lampu yang tadinya mati, menyala secara bersamaan.


Keduanya sontak menghentikan langkahnya dan berdiam diri di tempat, mempersiapkan diri masing-masing untuk mendapat omelan dari Dimas.


Dan benar saja, Dimas kini menuruni tangga dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


"Dari mana saja kalian? Bukankah sudah kukatakan untuk pulang sebelum jam 9 malam. Jam berapa sekarang?"


Justin lalu menunduk melirik ke arah jam tangannya yang saat ini sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam.


"Jam satu tengah malam.. " Jawab Justin dengan suara yang sedikit rendah


"Diam. Aku tidak menyuruhmu berbicara.. " Seru Dimas menatap Justin tajam, yang langsung menundukkan kepalanya


"Bukankah tadi kamu bertanya.. " Gumam Justin pelan namun tetap bisa didengar oleh Dimas


"Diamlah.. " Tegur Nara menarik baju Justin agar tidak berdebat dengan Dimas

__ADS_1


"Justin! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membawanya pulang sebelum jam 9 malam. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya? Apa yang akan kamu lakukan? Luka di perutnya itu masih belum kering sepenuhnya, bagaimana jika terjadi infeksi? Kamu tidak bisa terus-menerus membiarkan Nara bertindak semaunya. Ngerti?"


"Iya.. " Jawab Justin meski dalam hatinya memaki Dimas


Nara yang sedari tadi diam, berfikir jika Dimas tidak akan memarahinya. Namun semuanya seketika sirna, saat Dimas yang baru saja mengomeli Justin, berpaling ke arahnya.


"Dan kamu Nara. Bahkan jika kamu tidak merasakan sakit di tubuhmu, kamu juga tetap harus berhati-hati karena Naura tidak sekuat dirimu. Kamu harus selalu ingat bahwa kamu adalah seorang pasien saat ini. Jadi sebelum lukamu sembuh sepenuhnya jangan pernah berfikir untuk membalas dendam. Ngerti?"


"Iya. Aku tahu.. " Ucap Nara membangunkan bibirnya


"Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian, jadi bersihkan diri kalian dari bau alkohol yang memuakkan ini. Aku tunggu 15 menit di meja makan" Ucap Dimas dengan penuh penekanan


Dimas lalu berbalik pergi menunju ke meja makan karena tak ingin mendengar bantahan dari keduanya yang kini memasang rait wajah memelas nya.


"Ayo.. Antar aku ke kamar, sebelum dia kembali mengomeli kita.. " Ucap Nara memegang lengan Justin


Meski biasanya Nara bersikap tidak sopan pada Dimas, namun ia tidak pernah melupakan fakta bahwa Dimas lebih tua darinya. Karena itulah, meski ia selalu bersikap santai, ia tidak pernah sekali pun tidak menghiraukan kata-kata Dimas.


.....


"Apa Kakak tidak kedinginan? Mengapa pakaian Kakak setipis ini? Apa perlu aku ambilkan selimut?" Tanya Justin saat melihat baju tidur Nara yang begitu tipis dan pastinya sedikit seksi


"Aku tidak apa-apa.. " Ujar Nara santai lalu kembali memegang lengan Justin agar membantunya berjalan ke meja makan


Dimas yang sedari tadi menunggu kedatangan keduanya, langsung meletakkan benda pipih di tangannya saat keduanya tiba disana.


"Ada apa dengan pakaianmu itu? Apa kamu tidak merasa kedinginan?"


Seperti yang diduga nya. Respon yang diberikan Dimas, persis sama dengan respon yang didapatnya dari Justin tadi.


"Tidak. Aku justru merasa kepanasan" Ucap Nara dengan santainya memperlihatkan kulitnya yang seputih susu itu meski di beberapa tempat masih terdapat luka lebam keunguan


"Justin, bawakan aku selimut sekarang juga" Perintah Dimas, yang langsung dianggukinoleh Justin yang kini berlari ke kamarnya mengambil selimut

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Sudah kukatakan jika aku kepanasan.. "


"Kalau begitu aku akan menurunkan suhu AC nya" Ucap Dimas lalu mengambil tombol remot ACnya dan menurunkannya hingga 16°C


"Pakaikan dia selimutnya.. " Ujar Dimas saat Justin tiba dengan selimut di tangannya


Nara hanya bisa menghela nafasnya pasrah menuruti keinginan keduanya yang sedari tadi sama sekali tidak menghiraukan pendapatnya.


....


Setelah permasalahan pakaian tipis Nara terselesaikan, ketiganya kembali duduk dengan tenang di meja makan, Lagi-lagi dengan Nara yang membuat Justin menyuapi nya makanan.


"Aku akan pulang besok.. " Ucap Nara setelah manelan makanan yang sejak tadi dikunyah nya


"Kenapa? Apa Kakak tidak suka berada disini? Ahh.. Sudah kuduga, hidup dengan manusia menyebalkan sepertinya memang menyusahkan" Seru Justin tiba-tiba mencemooh Dimas karena sifatnya yang suka mengomel sama seperti tadi


"Semakin lama kamu semakin keterlaluan Justin, apa maksudmu manusia menyebalkan.. Haaah? " Protes Dimas sembari menatap Justin kesal dengan alis berkerut


"Kalian berdua.. Cukup.. Hentikan sekarang juga.. Ack.. " Teriak Nara mencoba melerai namun berakhir meringis


"Kakak (Kamu) baik-baik saja?" Keduanya bertanya secara bersamaan


"Aku baik-baik saja. Jadi berhenti berdebat. Aku memang ingin pulang ke rumah, tapi itu bukan berarti aku akan tinggal disana"


"Ternyata hanya berkunjung.. "


"Hm.. Aku masih harus bertemu dengan ayahku, sejak kejadian hari itu, aku masih belum bertemu dan menyapanya dengan benar" Ucap Nara tak sabar melihat reaksi ayahnya saat bertemu dengannya yang memang sejak kecil dulu sudah begitu menghindarinya


"Aku akan ikut dengan Kakak, kemana pun Kakak pergi, aku pasti akan ikut" Ucap Justin kembali bersikap manja


"Dasar bocah tengik.. " Ucap Dimas berdecak kesal karena Justin yang semakin sulit di kontrolnya sejak ke dagangan Nara


"Bagaimana denganmu?"

__ADS_1


"Aku masih ada pekerjaan di rumah sakit. Tapi ingat! Kalian harus selalu mengabariku apapun yang kalian lakukan. Jangan membuat masalah, terutama kamu Nara" Ucap Dimas kembali mengingatkan untuk tidak bersikap keras kepala dan bertindak semaunya


__ADS_2