Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 44


__ADS_3

"Bukankah sudah kukatakan untuk datang dalam 10 menit.. Sst.. " Seru Nara saat melihat sosok penolongnya datang dengan raut wajah cemasnya


"Berhenti berbicara, kamu sudah kehilangan begitu banyak darah, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" Tanya pria itu dengan cepat merobek pakaian Nara, mencoba menutup lukanya agar darah berhenti mengalir keluar


"Aku baru saja membunuh seseorang haha.. " Ucap Nara lagi-lagi diakhiri dengan tawa penuh kepuasan


Pria itu lalu menatap Nara tak habis pikir. Selama bertahun-tahun keduanya belum pernah bertemu dan setelah bertemu ia justru mendengar kata-kata itu darinya.


"Dasar gila.. " Cemooh pria itu seraya mengangkat tubuh Nara ala bridal style masuk ke dalam mobilnya yang berada tak jauh dari tempat keduanya


Nara hanya tertawa mendengar pria itu mencepa dirinya. Satu-satunya pria yang bisa dengan cepat membedakan Naura dan Nara bahkan tanpa bertanya sekalipun.


Pria itu tak lain adalah Dimas, dokter pribadi Nara, salah satu orang selain ayahnya yang tahu akan rahasia Naura yang memiliki alterego. Ia dan Nara cukup akrab untuk saling berbagi rahasia seperti ini. Meski itu sedikit berbeda jika bersama dengan Naura yang selalu enggan menceritakan perasaannya.


......


Dimas membawa Nara ke rumh sakit tempat dia bekerja. Meski sedikit jauh dari tempat tadi, ia sama sekali tidak memiliki pilihan lain karena Nara yang secara langsung meminta hal ini.


Butuh waktu hampir setengah jam lebih untuk Dimas tiba di rumah sakit bahkan dengan kecepatan tinggi seperti tadi.


Nara yang sudah memperlihatkan raut wajah pucat, masih tetap berusaha mempertahankan kesadarannya.


"Berbaringlah.. " Pinta Dimas setelah membantu Nara duduk di atas kasur pasien


"Bantu aku berbaring.. " Pinta Nara balik "Aku ini pasien, kepalaku sakit, sebaiknya kamu segera memeriksanya" Sambung Nara saat Dimas berbalik memelototinya


"Aku serius. Preman itu memukul tubuhku dengan kayu, mereka bahkan menamparku beberapa kali.. " Ucap Nara sekali lagi karena Dimas yang masih memperlihatkan raut wajah ketidakpercayaan nya setelah selama ini di tipu oleh Nara yang selalu bersikap layaknya korban meski ia yang sebenarnya pelaku, meski saat ini Nara juga mengatakan sedikit kebohongan akan dirinya yang dipukul dengan kayu


"Bukankah sudah kukatakan untuk berhenti berbicara, lukamu kembali terbuka.. " Ucap Dimas menutup mulut Nara rapat-rapat dengan lakban yang baru diambilnya


"Hmmppp... Hmmppp.. "


"Ya.. Ya.. Kamu bisa mengunpatiku setelah aku mengobati lukamu, jadi diamlah sebentar Nara.. " Ucap Dimas mengabaikan Nara yang mencoba melepas lakban di mulutnya namun terhalang saat Dimas juga memasang lakban itu di kedua pergelangan tangannya


Keduanya memiliki jarak umur sekitar 10 tahun, namun meski begitu Dimas sudah seperti sahabat bagi Nara karena hanya Dimas satu-satunya yang bisa membantu Nara saat ia terluka dulu.

__ADS_1


.....


20 menit berlalu..


Dimas yang dengan cekatan nya menjahit luka Nara juga telah selesai memperbannya, ia lalu merapikan alat-alat yang digunakannya tadi. Baru lah setelah itu, ia kembali membuka lakban yang ia pasang tadi.


"Woaahh... Dimas! Bagaimana bisa kamu hmmp.. "


Dimas kembali membungkam mulut Nara dengan memasukkan permen kesukaannya yang memang selalu siap sedia di atas mejanya.


"Jadi apa yang terjadi? Kamu benar-benar membunuh seseorang?" Tanya Dimas kembali memastikan ucapan Nara sebelumnya


"Belum sampai meninggal, hanya sedikit sekarat.. " Jawab Nara dengan senyum bangganya


Mendengar jawaban Nara membuat Dimas hanya bisa menggelengkan kepala tak habis fikir dengan karakternya itu.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana dengan Naura? Bukankah seharusnya dia mencegahmu untuk keluar?"


"Apa menurutmu aku akan tetap hidup jika dia yang menempati tubuh ini. Dia hanya gadis lemah yang hanya tahu cara mencintai pria bodoh seperti Adam"


"Apa yang akan kalian lakukan di masa depan nanti, kalian benar-benar berbeda 180° "


"Tidak perlu memikirkan masa depan yang tidak jelas itu. Kamu sebaiknya membantuku mengatasi preman yang aku tikam"


"Aku tahu kamu akan mengatakan itu, aku sudah meminta orang-orangku untuk mencari tahu mengenai mereka" Ucap Dimas berbangga diri karena bergerak lebih dahulu tanpa harus di beritahukan oleh Nara


"Aku tahu siapa dalangnya, perintahkan mereka untuk mencari di rumah sakit terdekat juga. Mereka seharusnya datang ke rumah sakit terlebih dahulu"


"Kamu tahu siapa dalangnya?"


"Hmm.. Dia Clara, selingkuhan Adam" Ucap Nara berdecak kesal


"Jadi apa yang akan kamu lakukan? Kamu seharusnya tidak akan membiarkan hal ini begitu saja"


"Aku ingin beristirahat dulu. Aku tidak sekuat itu untuk langsung berlari membalas gadis s*alan itu. Luka di kepala dan perutku masih terasa begitu sakit. . " Jawab Nara seraya membaringkan tubuhnya di kasur kembali, berniat untuk tidur

__ADS_1


"Sebaiknya kami istirahat di rumah.. " Ucap Dimas menyarankan


Nara yang tadinya sudah menutup matanya kembali membuka matanya, lalu menjulurkan tangannya agar Dimas menggendongnya keluar.


"Orang-orang akan salah paham jika kamu terus-terusan bergelayutan padaku" Tutur Dimas mengingat saat datang tadi, beberapa menatap heran kepadanya karena membawa gadis berlumuran darah


"Kakiku sakit, aku tidak bisa berjalan" Ucap Nara merengek


"Baiklah.. Baiklah.. " Ucap Dimas lalu mengangkat tubuh Nara dan mendudukkan nya di kursi roda yang kebetulan ada di ruangan itu


"Ciihh.." Nara berdecak kecil karena Dimas yang membawanya dengan kursi roda


Mengejek Dimas sudah menjadi kebiasaan bagi Nara, mengingat sifat Dimas yang sulit untuk mengalah terhadapnya. Selain itu, sifat Dimas yang terlalu lurus membuat Nara semakin ingin menyesatkan nya. Bahkan di umurnya yang sudah kepala tiga itu, Dimas juga tak kunjung memiliki seorang gadis pun di sisinya.


.....


"Kemana kamu akan membawaku?" Tanya Nara yang saat ini berbaring di kursi tengah mobil


"Tentu saja kerumahmu, memangnya kemana lagi" Jawab Dimas yang saat ini sibuk mengemudikan mobilnya


"Putar balik, bawa aku ke rumah mu. Aku tidak ingin kembali ke rumah itu" Ucap Nara


"Hah??"


"Aku tidak ingin kembali ke rumah itu. Tidak ada siapapun di rumahku, karena Adam tengah bersama dengan gadis itu jadi bawa aku ke rumahmu. Dimas?"


Dimas lalu menoleh menatap Nara yang tedengar bersungguh-sungguh dengan kata-kata nya.


"Baiklah.. " Ucap Dimas menghela nafasnya pasrah setelah melihat raut wajah memohon dari Nara


"Kapan kamu akan menceraikannya, dia sama sekali tidak pantas untukmu. Sejak awal aku sudah sangat menentang perjodohan ini. Sifatnya yang angkuh itu membuatku muak hanya dengan menatap wajahnya. Dia bahkan memperlakukanmu dengan begitu buruk, bahkan setelah ibumu mengorbankan nyawanya untuknya"


"Dimas?" Panggil Nara yang kini memaksa untuk duduk setelah mendengar kata-kata Dimas barusan "Apa yang baru saja kamu katakan? Ibuku mengorbankan nyawanya?"


Dimas sontak menginjak rem mobilnya setelah menyadari kata-kata nya barusan. Ia berbalik dan menoleh ke arah Nara yang kini menatapnya meminta penjelasan.

__ADS_1


__ADS_2