
Sejak pertengkarannya dengan Adam tadi, Clara kembali ke kamarnya. Berulang kali ia mondar mandir menggigit kuku-kukunya, memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang.
Pilihannya hanya tinggal dan membujuk Adam agar memaafkannya, atau pergi dari rumah itu dan mencari pria lain yang bisa dimanfaakannya.
Namun hampir setengah jam berlalu dan Clara tak kunjung mendapat jawabannya. Ia pada akhirnya, mengganti pakaiannya lalu bersiap ke bar untuk mencari tahu tentang Alex yang tiba-tiba menghilang seraya memikirkan pilihan yang akan diambilnya kedepannya.
Clara yang sudah selesai berdandan segera keluar dari kamarnya, sebelum menuruni tangga, ia menyampaikan dirinya mengintip ke dalam kamar Adam.
Terlihat Adam yang tengah duduk di tepi kasurnya dengan minuman alkohol di tangannya.
"Mengapa dia begitu berlebihan, ini tidak seperti seseorang mati karenaku" Gumam Clara sama sekali tidak merasa khawatir akan apa yang dipikirkan dan diperbuat oleh Adam saat ini
Clara lalu melanjutkan langkah kakinya dan menuruni tangga. Ia telah memesan sebuah taxi untuknya pergi ke bar.
...***...
Nara yang baru saja menyelesaikan makan siang atau lebih tepatnya makan malamnya karena hari yang sudah perlahan mulai gelap, kini duduk bersantai dengan Dimas dan Justin di balkon kamar tidurnya, mengabaikan Ayahnya yang sedari tadi merasa was-was karena kedatangan ketiganya.
"Sampai kapan kita disini?" Tanya Dimas tak ingin berlama-lama disana
"Aku berfikir untuk menginap malam ini.. " Ucap Nara bingung harus pulang atau bermalam semalam di rumah itu
"Sepertinya itu tidak mungkin Kak.. " Ucap Justin memperlihatkan layar ponselnya yang kini menampilan chat yang baru saja masuk di ponselnya
"Hmm?"
Nara lalu meraih ponsel itu dan membacanya, begitu pun dengan Dimas yang juga penasaran.
"Dia benar-benar seorang wanita mur*han" Umpat Nara saat melihat isi pesan selanjutnya yang berisi foto Clara yang tengah merangkul bahu pria lainnya sembari menikmati bir di tangannya
"Apa yang akan Kakak lakukan sekarang?" Tanya Justin tak sabar menantikan apa yang akan dilakukan Nara selanjutnya
"Cukup.. Mari berhenti sampai disini.. Ini sudah malam jadi... "
__ADS_1
Dimas yang berniat menghentikan keduanya, gagal saat keduanya dengan santai masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk mengganti pakaian nya.
"Apa yang kalian lakukan sekarang? Kalian tidak sedang berniat untuk ke bar malam ini kan?"
"Kita tentu saja harus ke bar. Apa yang kamu lakukan? Mengapa tidak bersiap-siap" Ucap Nara tanpa menoleh ke arah Dimas yang kini dibuat kesal oleh keduanya
"Nara.. Justin..!" Panggil Dimas dengan nada tajam
"Hmm?"
Tepat saat Nara menoleh menatap Dimas, tangannya yang memegang pakaian gantinya, seketika lemas dan menjatuhkan pakaian itu.
"Justin!" Tegur Dimas sekali lagi pada Justin yang masih asik memilih pakaiannya, membuat Justin pada akhirnya menurut dan berdiri di dekat Nara yang sudah memberinya kode agar menurut
"Apa kalian sadar, ini sudah jam berapa?"
"Jam 12 malam kan.. " Ujar Justin setelah memilih ke arah jam di dinding
"Dan kalian masih berfikir untuk keluar rumah?"
"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak bertindak gegabah, bagaimana pun luka Nara belum sembuh. Dia belum boleh keluar rumah lewat dari jam 9 malam khususnya jika datang ke bar yang dipenuhi makhluk h*na.. " Ujar Dimas mengingatkan
Meski biasanya Nara bersikap santai pada Dimas, ia tetap tidak bisa mengabaikan jika Dimas sudah berbicara seperti itu.
"Bukankah kamu bisa memerintahkan mereka, mengapa kalian begitu terobsesi untuk turun tangan langsung. Tanpa mengotori tangan kalian pun, kalian tetap bisa memberinya pelajaran" Tutur Dimas dengan cara yang lebih halus ketimbang keduanya yang selalu bertindak ekstrim
Nara dan Justin yang mengira akan mendapat omelan dari Dimas kini berubah ekspresi tidak menyangka saat Dimas mengatakan hal itu.
"Kamu benar-benar membuatku takut. Aku pikir kamu akan mulai mengomeli kami tanpa henti.. " Ucap Nara merasa lega
Di sisi lain, ia juga merasa jika apa yang dikatakan Dimas lebih baik ketimbang ia turun tangan langsung. Akan lebih baik jika ia bermain-main terlebih dahulu dengan Clara, lalu secara perlahan-lahan menyingkirkannya.
"Jadi apa rencanamu? Kamu pasti tidak akan berkata seperti ini, jika tidak memiliki rencana bukan?" Tanya Nara sudah menebak isi pikiran Dimas
__ADS_1
"Aku tidak memikirkan rencana apapun.." Tutur Dimas lalu berbaring di kasur dengan begitu santainya
"Hhaaahh.. Jadi untuk apa Kakak menahan kami jika Kakak tidak memilikinya" Ucap Justin kesal
"Aku memang tidak memilikinya, tapi seperti yang aku katakan tadi, kalian masih memiliki preman-preman itu, mengapa tidak kalian manfaatkan mereka, bukankah itu kompensasi karena menyelamatkan hidup mereka"
"Aahhh.... Setelah dipikir-pikir, itu memang ide yang bagus.. Aku akan segera mempersiapkannya" Ujar Justin tiba-tiba bersemangat seraya mengambil laptop yang sempat dibawahnya tadi
"Apa yang ingin kamu lakukan dengan laptop ini?" Tanya Nara menyandarkan bahunya di pundak Justin yang kini sibuk dengan laptopnya
"Oh.. Aku sedang mempersiapkannya Kak. Mereka hanya perlu mengikuti perintah dari kita, jadi kita hanya akan menonton dari layar belakang saja"
"Aahh.. Ide yang bagus, tumben otak kamu lancar" Ujar Dimas berbalik dengan tangan menopang kepalanya
"Apa sebenarnya yang kalian rencana.. -"
Pertanyaan Nara belum selesai, saat Nara melihat apa yang sedang dikerjakan Justin dan secara langsung mengerti rencana Justin.
"Bagaimana ini.. Aku tiba-tiba merasa begitu bersemangat karena ini.. Kamu benar-benar cerdas.. " Ucap Nara kegirangan seraya mengacak-acak rambut Justin dengan bangganya
"Jadi bagaimana kita akan memulainya?" Tanya Nara tak sabar lagi, meski selama ini ia memang sudah berencana menjatuhkan Clara secara perlahan, namun ia masih belum benar-benar memikirkan rencana jelasnya
"Bukankah wanita itu sedang mencari orang yang bisa memuaskan keinginannya? Mengapa bukan kita yang melakukannya" Sahut Dimas memberi masukan
"Kita bisa memerintahkan para preman itu untuk bersikap layaknya tuan muda kaya, yang bingung harus menghabiskan uangnya dimana"
"Ide bagus. Lagipula, Kak Dimas punya banyak tabungan, menghabiskannya untuk satu orang wanita bukan masalah untuknya" Ucap Justin dengan wajah liciknya bahkan di hadapan Dimas yang kini merutuki dirinya
"Aku akan menghubungi mereka sekarang.. " Ucap Nara mengambil ponsel Justin dengan begitu antusias
"Tapi, apa Clara tidak akan mengenali mereka? Bukankah mereka dulunya suruhan Clara?" Tanya Dimas baru teringat hal penting itu
"Tidak akan. Clara hanya pernah bertemu dengan salah satu dari mereka dan orang yang ditemuinua tengah dirawat di rumah sakitmu.. " Ucap Nara masih tak habis pikir karena salah satu preman yang ditangkap oleh mereka masih berbaring di rumah sakti karena luka di tubuhnya
__ADS_1
"Aku hampir melupakannya.. " Ujar Dimas menyentuh dagunya dengan smirk di wajahnya
Nara lalu melanjutkan menghubungi mereka, sementara Justin sibuk dengan situs yang baru di buatnya, yang nantinya khusus digunakan untuk Clara seorang.