
Pagi-pagi sekali Dira membangunkan Adam dan juga Gibran untuk segera pulang dan membawa Naura ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Meski kondisi Naura sudah sedikit membaik ketimbang kemarin, tapi tetap saja Dira merasa begitu khawatir karena bagaimana pun ia tahu betul kondisi tubuh Naura yang lemah sejak dulu.
"Bukankah keadaannya sudah membaik, mengapa kamu begitu panik seperti ini?" Tanya Gibran ikut panik karena Dira yang sejak tadi mendesaknya untuk mengemudi dengan cepat
"Naura bersikap aneh.. " Ucap Dira bingung akan apa yang dilihatnya pagi tadi
"Apa maksud kamu?" Tanya Gibran seraya menoleh ke belakang memeriksa Naura yang saat ini tertidur karena obat tidur yang diberikan oleh Dira secara diam-diam tadi
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi dia bersikap aneh pagi tadi, dia tidak terlihat seperti Naura yang aku kenal" Ucap Dira mengingat kembali kejadian tadi
Adam yang mendengar percakapan keduanya, sedikit menoleh menatap ke arah Naura. Karena bagaimana pun, Adam pernah sekali melihat sisi lain dari sikap Naura.
"Aku semakin tidak mengerti maksud kamu" Ucap Gibran tidak paham
.....
(Flashback on)
Beberapa jam sebelumnya...
Dira yang baru saja memasak bubur untuk Naura, terhenti sebelum ia sempat masuk ke dalam. Secara samar, ia mendengar suara Naura yang tengah memaki dari dalam kamarnya.
"Naura!" Panggil Dira langsung membuka pintu kamar Naura untuk memeriksanya
"A-apa yang terjadi?" Tanya Dira tiba-tiba gugup setelah bertatapaj dengan Naura yang saat ini menatapnya dingin
"Ah.. Ternyata kamu, apa itu bubur untukku?" Ucap Naura dengan sudut bibir naik melengkung naik
"Iya. Aku membuatnya untukmu" Jawab Dira lalu perlahan mendekat kepada Naura meski ia sedikit ragu karena sikap Naura yang berbeda dari biasanya
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Dira kemudian
"Tidak terjadi apa-apa. Naura baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya" Ucapnya yang semakin membuat Dira merasa aneh seolah berbicara dengan orang lain
"Naura?"
"Dia baik-baik saja, kami hanya sedikit bertengkar. Jadi tidak perlu khawatir" Ucap Naura atau lebih tepatnya Nara yang saat ini mengambil alih tubuh Naura
"Dia? Kami?"
Dira semakin dibuat bingung dengan apa yang terjadi, ia merasa yakin jika ia sedang tidak berbicara dengan Naura. Tapi di sisi lain, akal sehatnya seolah menolak hal yang sedikit tidak masuk akal ini.
__ADS_1
Nara yang baru saja berbicara, kembali tertidur setelah memakan bubur yang dibawa Dira dan juga obat termasuk obat tidur yang sengaja di campur Dira tadi.
(Flashback off)
......
"Lupakan. Aku akan bertanya padanya saat dia sadar nanti" Ucap Dira tak ingin memikirkannya lagi karena satu-aatunya cara untuk mengetahuinya hanya melalui Naura secara langsung
Adam yang sejak tadi diam di belakang, Tiba-tiba ikut berbicara, tepat setelah Dira berkata untuk melupakannya.
"Apa dia bersikap lebih dingin?" Tanya Adam seraya memperhatikan Naura
"Oh, kamu pernah melihatnya?" Tanya Dira spontan tanpa ia sadari
"Iya" Jawab Adam lirihlirih, mengingat kembali kejadian di ruang lukis sebelum Naura mengalami kecelakaan
"Kamu tahu, Naura biasanya memiliki kesan lembut, namun yang aku lihat pagi tadi benar-benar berbeda, dari pada menyebutnya lembut, ia lebih terlihat licik di mataku" Ucap Dira kembali mengingatnya sesaat setelah ia berniat melupakannya
"Terlihat seperti seseorang yang bermuka dua.. " Ucap Adam menatap ke luar jendela
Dira yang mendengar ucapan Adam sontak menoleh dan melotot ke arahnya "Jaga ucapan kamu, br*ngs*k" Umpat Dira seperti biasa
"Kalian akan mengganggu Naura jika melanjutkan pembicaraan ini" Tegur Gibran menengahi keduanya sebelum Dira lepas kendali mengucapkan apapun yang ada di pikirannya
Hanya butuh waktu 4 jam lebih untuk Gibran mengendarai mobil hingga tiba di rumah sakit. Adam dan Dira yang tidak berhenti berdebat, membuat Gibran melaju dengan kecepatan tinggi sebelum keduanya benar-benar lepas kendali.
Naura yang masih belum sadarkan diri, segera di bawah masuk ke kamar pasien untuk mendapat perawatan yang lebih baik.
Sembari menunggu dokter memeriksa keadaan Naura, Gibran tak lupa mengabari oang tua Nevan mengenai kondisi Naura.
....
Dddrrrtt.. Dddrrrttt...
Ponsel Adam yang sudah dua hari ini tidak aktif, seketika bergetar sesaat setelah ia duduk di kursi tunggu pasien.
Dira yang menyadarinya, sontak menatap Adam kesal "Dasar br*ngsek" Umpat Dira lagi-lagi dengan kata br*ngsek yang sudah begitu melekat pada Adam
"Dira!" Tegur Gibran
Adam yang mendapat tatapan tajam dari Dira, hanya mengabaikannya. Ia bangkit dari duduknya setelah mengangkat panggilan telepon yang tak lain berasal dari Clara.
__ADS_1
"Halo!" Jawab Adam sebelum berlalu pergi meninggalkan keduanya
"Aaarghhh.. Mereka benar-ebnar harus bercerai. Aku sendiri yang akan memaksa Naura, berani sekali dia selingkuh disaat Naura masih sakit seperti ini" Ucap Dira kesal dengan tangan mengepal
Setelah mengucapkan itu, Dira langsung meraih ponselnya dan mencoba menghubungi William.
"Dimana kamu sekarang? Batalkan jadwalmu hari ini sekarang" Tanya Dira langsung setelah panggilannya terhubung dengan William
"Apa maksudmu?" Tanya William tak mengerti
"Kamu akan tahu setelah tiba di sisimu. Jadi jemput aku di rumah sakit sekarang. Jangan lupa membawa buah-buahan, kalau perlu sekalian bawakan buket bunga untukku" Pinta Dira
"..."
"Kenapa kamu diam? Naura di rumah sakit sekarang, apa kamu tidak ingin menjenguknya?" Tanya Dira mengatakan sebenarnya karena William yang diam tidak merespon permintaannya tadi
"Aku kesana secepatnya, kirim alamatnya lewat pesan" Balas William dengan cepat tanpa berpikir panjang lagi
Dira yang mendengarnya hanya tersenyum puas karena tak sabar melihat pertunjukan menarik saat William tiba di sini.
"Bukankah ini lucu? Adam bergegas pergi setelah mendapat panggilan dari selingkuhannya itu. Begitupun dengan William yang bergegas kesini setelah mendengar kondisi Naura"
"Mereka benar-benae harus bercerai. Aku tidak sabar menyaksikan Adam terpuruk menyesali perbuatannya ini.. " Sambung Dira tertawa ngeri
Gibran yang melihatnya hanya menggelengkan kepala tak habis pikir, namun di sisi lain ia menyetujui perkataan Dira.
....
Setelah menunggu beberapa saat, William tiba lebih cepat dari dugaan. Sebuah buket buat dan juga bunga ikut menemani kedatangannya. Dira yang melihatnya hanya tersenyum puas.
"Kamu benar-benar membawa bunga" Ucap Dira saat William menghampirinya dengan raut wajah cemas
"Apa yang terjadi padanya kali ini? Apa ini perbuatan Adam?" Tanya William
"Maksudmu apa menuduhku?" Tanya Adam yang baru saja tiba dan tanpa sengaja mendengar pertanyaan William barusan
"Karena hanya kamu yang pernah menyakiti Naura, jadi sangat wajar jika orang lain mencurigai dirimu. Termasuk aku" Ucap William tidak merasa takut sama sekali
"Jaga ucapan kamu, kamu tidak dalam kondisi bisa ikut campur urusan rumah tangga orang" Ucap Adam tajam dengan jari menunjuk tepat di wajah William
"William.. " Cegat Dira saat William akan membalas ucapan Adam
__ADS_1
"Naura hanya demam, tapi untuk lebih jelasnya kamu bisa bertanya pada dokter nanti" Ucap Dira menenangkan William