
Setelah tanpa sengaja keceplosan saat di mobil tadi, Dimas dan Nara kini berada di rumah Dimas. Nara yang tadinya benar-benar lelah dan hampir tertidur, seketika lenyap tergantikan rasa penasaran yang sudah begitu memuncak sejak di perjalanan tadi.
Sebelum berbicara dengan Nara, Dimas menyempatkan dirinya untuk mengambil segelas air putih di dapurnya untuk menenangkan Nara yang pastinya akan emosi jika mendengar cerita selengkapnya nanti.
Meski ayah Naura sudah menekankan untuk menyembunyikan hal ini, namun karena Dimas yang terlanjur keceplosan, ia tidak memiliki pilihan lain selain menceritakannya sebelum Nara berbuat yang tidak-tidak hanya untuk mengetahui rahasia itu.
"Berhenti membuang-buang waktuku dan ceritakan sekarang Dimas!" Seru Nara tak sabar mendengar penjelasan Dimas
Dimas menghela nafasnya berat, ia benar-benar tidak ingin menceritakan hal ini namun meski ia tidak ingin melakukannya ia tetap harus melakukannya. Satu-satunya yang harus ia pikirkan saat ini adalah bagaimana membuat Nara tetap tenang setelah mendengar semuanya nanti.
"Kamu harus janji untuk tidak bertindak gegabah. Kamu harus mendengar semuanya dengan tenang. Oke? "
"Dimas" Tegur Nara tak yakin akan tetap tenang
"Janji dulu Nara, aku tidak akan menceritakannya jika kamu hanya akan berakhir emosi" Kekeh Dimas tak mau kalah
"Baiklah.. Aku akan berusaha" Jawab Nara mencoba menahan dirinya
....
Setelah mendengar hal itu, Dimas lalu menceritakan apa yang diketahuinya mengenai kematian dari Ibu Nara.
"Dulu aku sudah pernah mengatakannya, aku adalah murid dari Ibumu. Dia pernah membantuku dan aku sangat-sangat menghargai dirinya. Aku menjadi dokter seperti ini, juga karena kepergian Ibumu"
"Aku masih dibangku SMA saat aku mendengar kabar kematiannya. Dia tidak meninggal karena kecelakaan seperti yang kamu ketahui, tapi dia meninggal saat berusaha menolong seorang anak laki-laki dalam kobaran api"
"A-anak laki-laki itu, jangan bilang Adam?" Tanya Nara dengan nada suara yang sedikit bergetar
"Ya. Dia adalah Adam. Selain Adam, Gibran juga berada di sana. Keduanya terjebak di salah satu ruangan di sekolah yang mengalami kebakaran itu. Mungkin kamu tidak mengingatnya, tapi dulu kamu dan keduanya bersekolah di sekolah yang sama"
"Aku sama sekali tidak mengingatnya.. " Ucap Nara memegang keningnya berusaha mengingat ingatan yang sudah dilupakannya itu
"Itu wajar, karena sama seperti dirimu, Adam juga tidak mengingatnya. Namun berbeda dengan Gibran, dia masih mengingat kejadian itu dengan begitu jelas"
__ADS_1
"Hahahaaha.. " Nara menyandarkan tubuhnya ke sofa seraya tertawa, menertawakan kebodohan Nara yang ternyata menerima kasih sayang palsu dari keluarga itu selama ini
Semua yang diterimanya dari keluarga Adam, tak lain adalah bentuk balas budi karena pengorbanan ibunya. Dan yang lebih parah, Adam yang menjadi penyebab kematian Ibunya justru menjadi penyebab kehancuran Naura selama ini.
"Nara? Kamu baik-baik saja? " Tanya Dimas khawatir karena ia sama sekali tidak bisa menebak isi pikiran Nara
"Kamu mendengarnya Naura? Kamu memberikan cintamu dengan tulus padanya selama ini, tapi ternyata semuanya hanya palsu! Palsu Naura! " Ucap Nara menekankan kata palsu
"Kamu selalu merasa berutang budi karena keluarga Adam membantu perusahaan Papa, tapi sebenarnya semuanya hanyalah kompensasi karena Mama yang telah menyelamatkan nyawa Adam.. Bukankah ini sangat lucu.. Hahaha"
"Naura? Kamu pasti mendengarku, keluar sekarang juga!" Pinta Dimas semakin khawatir jika Nara terus menerus berada di tubuh itu
Satu-satunya pilihannya saat ini adalah meminta Naura untuk merebut tubuhnya kembali ketimbang membiarkan Nara menggila dengan tubuh itu.
"Dimas! " Tegur Nara tak suka dengan sikap Dimas
"Naura!" Panggil Dimas sekali lagi mengabaikan teguran dari Nara yang kini menatapnya tajam
"Apa semua yang kamu katakan itu benar? Ibuku meninggal karena menyelamatkan Adam?"
"Naura?" Tanya Dimas memastikan kembali meski ia sudah yakin hanya dengan nada suaranya
"Iya. Ini aku" Jawab Naura mengangguk
Dimas lalu menghela nafasnya lega karena akhirnya ia berhadapan dengan Naura yang lebih bisa diajak berbicara ketimbang Nara yang selalu bersikap seenaknya.
"Apa yang akan kamu lakukan? Aku menceritakan ini hanya dari sudut pandang ku saja, kalau kamu benar-benar ingin mengetahui semuanya, maka tidak ada salahnya untuk bertanya pada ayahmu secara langsung"
"Aku tidak tahu.. A-aku ingin beristirahat sekarang, aku akan memikirkannya besok.." Ucap Naura dengan mata berkaca-kaca
Naura lalu bangkit berdiri dan berjalan ke salah satu kamar di lantai satu yang sejak dulu sering di gunakannya saat datang ek rumah Dimas.
Naura berjalan dengan langkah tertatih menahan sakit di sekujur tubuhnya meski tak separah yang hatinya rasakan setelah mendengar penyebab kematian ibunya yang sebenarnya.
__ADS_1
Dimas yang menyaksikan kepergian Naura merasakan sesak di dadanya. Mungkin jika itu Nara, ia pasti sudah akan kembali ke rumah itu dan meluapkan rasa kesalnya. Namun berbeda dengan Nauara yang bahkan dalam keadaan seperti ini, ia tetap berusaha menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan orang lain.
.....
Naura merebahkan tubuhnya di kasur perlahan, ia berbaring telentang menghadap ke atas karena luka tikaman di perutnya yang baru saja di obati Dimas tadi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang.. " Gumam Naura dengan air mata yang kininturun setelah ditahannya dari sejak berada di ruang tamu tadi
"Setujui perceraian itu" Ucap Nara sama sekali tak ingin menerima penolakan saat ini "Aku pasti akan mengungkapkan diriku jika kamu masih tetap bertahan di keluarga itu" Sambung Nara kemudian
Air mata Naura semakin deras membuatnya beberapa kali cegukan karena berusaha menahan tangisnya yang sama sekali tak bisa di bendung nya.
"Berikan aku waktu.. Aku akan memutuskannya saat pulang ke rumah.. Aku janji Nara.. " Pinta Naura memohon
"Apa yang perlu kamu pertimbangkan lagi Naura? Laki-laki itu, suami kamu tengah bersama dengan wanita yang dicintainya itu dan Mama meninggal karena dirinya? Apa yang coba kamu pertahankan disini?"
"Hikkss... Hikkksss.. "
Naura yang tadinya berusaha menahan suara tangisnya kini lepas kendali dan membiarkan seisi ruangan itu di penuhi akan suara tangisannya.
Dimas yang masih berada di ruang tamu, dengan cepatnya masuk ke dalam kamar Naura dan menghampiri nya setelah mendengar suara tangisannya barusan.
"Naura?" Panggil Dimas duduk di samping Naura di kasur
Naura yang melihat kedatangan Dimas, langsung bangun terduduk "Kaaakk.. Hikss.. A-apa aku benar-benar harus bercerai?" Tanya Naura dengan suara tersendat seryaa memeluk tubuh Dimas erat
"Maaf Naura. Tapi aku benar-benar setuju agar kamu bercerai dengannya. Tidak ada kebahagiaan yang bisa kamu dapatkan dari mempertahankan pernikahan ini" Jawab Dimas
Naura tak lagi membalas ucapan Dimas. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sudah tahu langkah apa yang harus dilakukannya saat ini. Bahkan sebelum bertanya pada Dimas ia sudah mengetahui jawabanya, ia hanya ingin lebih meyakinkan sekali lagi sebelum mengambil langkah yang begitu sulit itu untuk dirinya.
"Berhenti menyakiti dirimu Naura. Ada banyak orang yang sayang dan khawatir terhadapmu, kamu tidak harus mengorbankan kasih sayang mereka dengan bertahan di rumah itu" Ucap Dimas mengusap punggu Naura yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu
Naura yang menerima kasih sayang seperti itu, hanya bisa melupakan rasa sakitnya dengan menangis di dalam pelukan Dimas.
__ADS_1