
Adam yang baru tiba di rumahnya dengan cepat naik ke ruang kerja ibunya yang berada di lantai atas.
Namun karena sudah begitu kesal dengan putranya, Davikah hampir saja mengusir putranya dari ruangan itu saat melihat wajahnya. Namun karena Adam yang bersikeras untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi, Davikah akhirnya mengalah dan membiarkannya tinggal untuk mendengar semuanya.
Meski ia sudah mengizinkan putranya untuk tetap tinggal Davikah tetap kesulitan untuk menceritakan semuanya, dan berakhir memanggil Gibran yang juga sudah mengetahui semua yang terjadi.
"Kamu benar-benar ingin mengetahuinya?" Tanya Gibran sekali lagi karena bagaimana pun Adam pasti akan merasa begitu terpukul setelah mendengar cerita yang sebenarnya
Bahkan Gibran kala itu, juga merasa terpuruk saat tahu bahwa Ibu Naura adalah wanita yang menyelamatkannya di tengah kebakaran itu. Belum lagi ia semakin merasa bersalah karena sikap Adam yang tak kunjung membaik bahkan setelah mendapat paksaan dari keluarganya.
"Ini kejadian saat kita berumur 9 tahun. Kala itu, terjadi kebakaran di sekolah dan kamu terjebak di dalam kebakaran itu. Berbeda dengan ku yang saat itu masih bisa mencari jalan keluar. Namun beruntungnya seorang wanita datang membantu, setelah menyelamatkan putrinya"
"Apa mungkin dia.. Ibu Naura?" Tanya Adam sudah menebaknya setelah mendengar kata-kata Nara dan ayahnya sebelumnya
"Itu benar. Dia adalah Ibu Naura. Seharusnya saat itu dia berbalik pergi dengan putrinya, namun ia justru mempertaruhkan nyawanya untuk membantu mu yang sedang terjebak di tengah kobaran api"
"Tanpa aku sebutkan, kamu pastinya sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Ibu Naura meninggal karena terlalu banyak menghirup asap. Belum lagi, ia benar-benar tidak memikirkan tubuhnya yang melepuh karena berusaha melindungi dirimu sampai akhir"
Adam diam tak berkutik mendengar cerita dari Gibran. Ia kini mengerti alasan dari keluarganya yang begitu memperhatikan Naura selama ini, layaknya putri dari keluarga ini.
"Dan lihatlah apa yang kamu perbuat pada putrinya, kamu benar-benar menginjak-injak harga dirinya sebagai perempuan. Apa menurutmu putri dari wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan anak orang lain memiliki sifat munafik seperti yang kamu tuduhkan selama ini?" Tanya Gibran tajam
"Mengapa kalian menyembunyikannya dariku? Jika aku mengetahuinya, aku pasti akan.. "
"Akan apa? Akan bersikap baik terhadapnya, namun dibelakangnya kamu tetap berhubungan dengan Clara?" Potong Gibran yang sudah benar-benar merasa kecewa dengan sepupunya itu
"Jangan membawa-bawa Clara dalam hal ini Gibran" Tegur Adam tak ingin mengungkit Clara yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian itu
__ADS_1
"Karena kamu membelanya, biarkan aku memberitahunu hal ini. Sejak awal Naura tidak pernah menerima perjodohan ini, ia menolaknya karena melihat hubunganmu dengan Clara. Tapi gadis itu, gadis yang kamu cintai itu, justru meminta bayaran dari Ibumu agar ia meninggalkan dirimu"
"Kamu pikir dia hidup di luar negeri selama dua tahun dengan susah payah? Tidak Adam. Dia hidup dengan mewah disana setelah memoroti Ibumu" Ucap Gibran menceritakan semuanya
"Berhenti Gibran!" Tegur Davikah tak ingin membahas hal itu sama sekali
"Tidak Tante. Dia seharusnya tahu yang sebenarnya, tidak ada gunanya menyembunyikannya lagi" Ujar Gibran tak perduli dengan teguran Davikah yang enggan untuk membahas hal itu
"Apa maksud ucapanmu barusan?" Tanya Adam menatap Gibran dengan alis berkerut meminta penjelasan
"Clara memoroti uang Ibumu selama dia tinggal di luar negeri. Ibumu tidak pernah membahasnya karena tak ingin melihatmu merasa kasihan melihat ibu kandung sendiri dipermainkan seperti itu oleh seorang wanita l*cur sepertinya"
"Tidak.. Kalian pasti berbohong kepadaku.. Iya kan?"
"Terserah kamu ingin percaya atau tidak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak begitu perduli dengan urusanmu saat ini, karena dimatamu yang ada hanya wanita itu, kamu bahkan tidak percaya dengan keluarga yang sudah belasan tahun hidup denganmu terutama Ibumu sendiri?"
"Kamu dengar itu, Ibumu benar-benar kecewa denganmu. Dia hanya memiliki satu orang putra, namun putra semata wayangnya itu justru memilih wanita lain" Ucap Gibran masih belum berhenti melampiaskan kekesalannya
"Pergilah.. Lakukan sesukamu, kamu bebas untuk hidup bersama wanita itu, kamu bahkan bisa menikahinya sekarang. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, sejak kamu memutuskan untuk bercerai dengan Naura, kamu tidak lagi berhak memiliki sepeseepun harta dari keluarga ini"
"Mulai hari ini dan seterusnya posisimu di perusahaan akan digantikan olehku. Jadi kemasi barang-barangmu di perusahaan, sebelum aku membuangnya" Sambung Gibran dengan seringai nya
"Jangan keterlaluan kamu Gibran, bukan kau yang berhak memutuskan hal itu" Tutur Adam emosi, dengan tangan mendorong pundak Gibran yang sejak tadi begitu merendahnnya
"Memang bukan aku yang memutuskannya, tapi Kakek yang memutuskannya. Bukankah begitu, Kakek" Ujar Gibran lalu menatap ke arah pintu, dimana Kakeknya sudah berdiri disana
Adam yang menyadarinya langsung berbalik, mengikuti arah pandangan Gibran.
__ADS_1
"Kakek?"
Adam yang berniat menghampiri Kakeknya terhenti setelah melihat raut wajah Kakeknya yang memerah karena emosi.
"Apa yang dikatakan Gibran benar, mulai hari ini Gibran yang akan mengambil alih posisi mu. Kamu tidak perlu datang ke perusahaan lagi" Turur Kakek Adam tegas
"Tapi Kek.. "
"Kenapa? Kamu tidak suka? Bukankah sudah Kakek peringatkan sejak lama, berhenti berhubungan dengan wanita itu jika kamu benar-benar ingin mewarisi harta keluarga Louis"
"Tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu benar-benar mengecewakan Kakek, Adam. Tidak seharusnya kamu memperlakukan Naura seperti itu, mau ditaruh dimana wajah Kakek saat bertemu dengan ayah Naura" Ucap Kakek Adem seraya duduk menundukkan wajahnya tak sanggup untuk bertemu dengan ayah Naura
Adam bertekuk lutut di hadapan sang Kakek seraya menundukkan wajahnya penuh penyesalan. Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan Naura sebegitu kejamnya selama ini.
"Maafin Adam Kek" Ucap Adam lirih
"Pergilah. Kamu sudah bebas. Kamu bisa menikah dengan wanita yang kamu cintai itu, Kakek tidak akan menghalangimu lagi. Namun kamu harus ingat, dia tidak akan pernah bisa menjadi menantu keluarga ini" Ucap Kakek Adam penuh kekecewaan
"Berdirilah, tidak ada gunanya kamu berlutut di depan Kakek seperti ini. Kamu seharusnya berlutut di hadapan Naura dan Ayahnya" Ucap Kakek Adam untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari ruangan itu meninggalkan Adam dan juga Gibran di sana
Gibran yang sudah meluapkan semua kekesalannya tadi, ikut bangkit berniat menyusul Kakek Adam.
"Kamu sebaiknya pergi sekarang, temui wanita yang kamu agung-agungkan itu. Tanyakan apa dia masih bersedia hidup denganmu bahkan tanpa harta keluarga Louis sekalipun" Ucap Gibran menoleh sebelum keluar dari ruangan itu
**
Maaf yah, kalau typonya banyak. InsyaAllah nanti aku revisi lagi kok🙏🏻
__ADS_1