
Selain menjadi asisten Dimas selama ini, Justin juga berprofesi sebagai seorang hacker hebat yang selama ini membantu Dimas dan juga Nara mencari berbagai informasi yang diinginkan keduanya, khusunya Nara yang menjadi alasan Justin memilih pekerjaan ini.
Dan pada kesempatan inilah, Justin akhirnya bisa benar-benar memperlihatkan keahliannya ini dengan mencurahkan segala kemampuannya mempersiapkan situs yang nantinya akan dibuat khusus untuk Clara.
"Apa ini tidak apa-apa? Apa dia tidak akan menyadarinya?" Tanya Nara sekali lagi meski ia tidak perlu lagi meragukan kemampuan keduanya khususnya Dimas yang selama ini selalu bersikap hati-hati dan teliti dalam bertindak, sikap yang sudah seharusnya dimiliki oleh seorang dokter yang tiap saat berurusan dengan nyawa manusia
"Apa yang kamu khawatirkan, bukankah sudah kukatakan, kita hanya perlu menonton dari balik layar, meskipun dia akan menyadarinya, itu tidak berarti dia akan langsung sadar saat pertama kali. Bagaimanapun uang adalah prioritas utama dari gadis sepertinya.. " Ucap Dimas tidak begitu khawatir lagi
"Baiklah. Lakukan seperti itu saja.. " Ucap Nara lalu kembali fokus pada layar laptop Justin
"Apa yang kamu kerjakan sekarang?" Tanya Nara penasaran saat melihat jari-jari tangan Justin yang seolah menari di atas keyboard
"Aku hanya memasang beberapa kemanan, jadi saat situs ini di bobol, mereka tidak akan bisa mendapat apapun, karena situs ini akan langsung terhapus" Ujar Justin dengan smirk nya
"Aku tidak sabar melihat ekspresi Clara saat tahu, jika dirinya telah masuk ke dalam jebakam karena keserakahan nya itu" Ujar Nara tak berhenti membayangkan rait wajah kaget dari Clara
"Jadi kapan kita akan mulai?" Tanya Dimas kembali bangun dari kasur
"Apa maksudmu, tentu saja hari ini, bukankah begitu Justin?" Ujar Nara lalu menatap Justin yang hanya mengedipkan matanya sebagai tanda setuju
"Aku sudah mmengirim beberapa uang pada preman itu, mereka seharusnya bisa mendapat beberapa pakaian, jam tangan dan sepatu bermerek lainnya dengan mudah.. Dan mungkin masih cukup untuk membiayai Clara kedepannya" Ujar Nara memperlihatkan riwayat transfernya yang baru dilakukannya beberapa menit sebelumnya tanpa sepengetahuan Dimas
"Nara! Berikan ponselmu, biarkan aku melihatnya" Pinta Dimas dengan wajah tersenyum meski terkesan mengancam
"Kamu tidak perlu khawatir, ini tidak sebanyak yang kamu pikirkan.. Ini hanya sebagian kecil dari apa yang kamu miliki.. " Ujar Nara langsung menutup ponselnya cepat
"Nara!" Panggil Dimas sekali lagi masih dengan wajah tersenyum menakutkannya
__ADS_1
"Tidak perlu menyembunyikannya kak.. Lagipula Kak Dimas akan tahu" Ujar Justin menyela sembari menoleh menatap Dimas "Kak Nara baru saja mentransfer 5 Millyar ke preman itu" Sambung Justin
"Haha.. Bukankah sudah kukatakan, itu tidak banyak.. -"
"Nara!"
"Ya?"
"Bukankah kamu mendapat harta gono gini dari Adam. Mengapa tidak membiarkanku mengelolanya" Ujar Dimas menatap Nara serius, tak habis fikir dengan gadis di hadapannya
Dimas memang membiarkan Nara memegang rekeningnya, tapi ia masih tetap syok tiap kali Nara menarik uang tanpa berfikir dari sana.
"Aku menolaknya.. Aku tidak akan mengambil harta barang sepeserpun darinya.. "
"Haha.. Aku tahu kamu akan berkata seperti itu. Karena itulah, kamu harus membayarnya dengan hal lainnya"
"Keluar dari kamar ini Justin.. Biarkan Nara istirahat, sementara kita melakukan sisanya"
"Apa maksudmu? Aku juga ingin melihatnya?"
"Apa yang ingin kamu lihat?"
"Aahhh.. Tidak.. Bukan apa-apa.. Kalian bisa lanjutkan.. " Ucap Nara dengan nyali yang seketika ciut karena Dimas yang memasang wajah menakutkannya karena bagaimana pun apa yang akan mereka pertontonkan adalah hal yang bersifat sensitif
"Sekarang berbaring di tempat tidurmu dan tidur sekarang juga. Karena besok, kami akan membawakan berita bagus untukmu" Perintah Dimas sebelum mengikuti Justin keluar dari kamar Nara membiarkan Nara beristirahat
.....
__ADS_1
"Apa Kak Dimas benar-benar mempermasalahkan uang 5 Milyar itu?"
"Hah? Apa yang kamu katakan? Itu hanya 5 Milyar, uang sedikit seperti itu sama sekali tidak berarti untukku, jangan lupa identitasku" Ujar Dimas dengan percaya dirinya
Justin hanya menghela nafasnya. Bagaimana pun Dimas tidak semiskin itu untuk bangkrut hanya karena 5 Milyar. Bahkan 5 Milyar itu sama sekali tidak dianggapnya.
Meski Dimas berprofesi sebagai Dokter, tapi tetap saja, Rumah sakit tempatnya bekerja merupakan rumah sakit miliknya. Belum beberapa hotel dan restoran yang sudah beberapa tahun ini dibangunnya dengan bantuan dari Justin sendiri. Jadi bahkan jika Dimas memutuskan untuk diam di rumahnya, harta kekayaannya juga tidak akan berkurang melainkan akan mengalir terus menerus tanpa perlu berusaha keras lagi.
...***...
Di sisi lain, Clara yang sudah masuk ke dalam jebakan Nara dan kedunya, kini duduk bersebelahan dengan pria yang baru saja dikenalnya itu dan tentu saja ia tak lain adalah bawahan dari preman yang sebelumnya di sewanya.
Clara dengan tidak tahu dirinya, merangkul lengan pria yang dipanggilnya dengan Jeros. Tak hanya Jeros, selain dirinya juga terdapat salah satu temannya lagi yang duduk di kursi lainnya seraya menyesap rokok batangannya dengan mata yang sedari tadi melirik ke arah Clara.
Tatapan mata penuh nafsu namun terkesan merendahkan itu, tak berhenti menelusuri garis tubuh Clara yang begitu terekspos. Wanita yang awalnya memang menawarkan tubuhnya itu, pada akhirnya kembali lagi pada mereka, namun sebagai mangsa kali ini berbeda dengan sebelumnya.
"Aku beruntung bisa datang kesini malam ini, jika aku tahu ada wanita secantik dirimu disini, aku pasti akan datang sedari dulu.. "
"Kamu membuatku malu jika berkata seperti itu.. Terutama dihadapan para wanita cantik seperti mereka.. " Ujar Clara bersikap malu-malu seraya menatap wanita lainnya
"Kamu terlalu merendah. Bagian mana dari dirimu yang tidak mempesona.. " Ujar Jeros seraya mengecup pelan punggung tangan Clara
Pekerjaan seperti ini benar-benar membuat Jeros senang, karena ia hanya diperintahkan untuk menggoda wanita ini dan merekam kegiatan mereka nantinya. Ia tidak harus memperlihatkan wajahnya karena yang akan memperlihatkan wajahnya hanya Clara seorang. Karena itulah tugasnya saat ini adalah membuatnya mabuk, dimana dia sudah mempersiapkan semuanya sebelum datang ke tempat itu.
Dengan uang yang baru dikirimkan Nara, itu sudah cukup bagi mereka untuk mempersiapkannya malam itu. Pekerjaan seperti ini tentu saja, menguntungkan bagi mereka ketimbang mempertaruhlan nyawa seperti sebelumnya, terutama setelah melihat sisi mengerikan dari Nara, Dimas dan Justin sebelumnya.
Sementara Clara yang terpaksa meladeni pria itu, hanya bisa mengutuk dalam diam, bahkan saat pria itu menyentuh tangannya apalagi menciumnya, ia sudah benar-benar muak seakan ingin muntah. Namun melihat seluruh pakaian yang digunakannya, ia berusaha mengontrol dirinya karena ia yakin jika pria itu adalah seorang tuan muda kaya raya yang suka berfoya-foya.
__ADS_1
Namun berkat penilaian nya yang hanya melihat dari luar inilah yang membuat Clara menjadi mudah terkena jebakan seperti ini.