Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 58


__ADS_3

Setelah pembicaraan singkatnya dengan ayahnya, Nara naik ke kamarnya yang berada di lantai dua, begitu pun dengan Justin yang tetap setia mengikuti.


"Bangunkan aku jika makanannya sudah siap, Justin!" Ucap Nara berbaring di tempat tidurnya


Meski ia bangun kesiangan tadi pagi, ia tetap merasa mengantuk dan memutuskan untuk tidur sejenak sebelum mengisi perutnya.


"Baik Kak.. " Ucap Justin yang lebih memilih berkeliling memeriksa barang-barang di kamar Nara karena ini pertama kali nya ia masuk ke dalam kamar Nara di rumah itu


Kamar yang hanya di penuhi oleh lukisan-lukisan yang dikoleksi oleh Nara, dan pastinya lukisan dari Ibunya dan juga Naura semasa kuliah dulu.


"Aku akan mengambil yang ini.. " Gumam Justin berniat membawa beberapa lukisan Naura


Meski ia lebih akrab dengan Nara, Justin tetap bersikap sama dengan Naura. Meskipun Naura jarang memanjakannya karena Naura yang terlalu memfokuskan perhatiannya pada Adam, sehingga sering kali menghiraukan orang disekitarnya.


....


1 jam berlalu..


Nara yang terlelap dalam tidurnya, akhirnya bangun kembali saat perutnya yang sejak tadi kelaparan kembali berbunyi.


"Justiinn.. " Panggil Nara dengan suara paraunya


Tak kunjung mendapat balasan dari Justin, Nara lalu turun dari kasurnya dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.


"Justiin.. " Panggil Nara sekali lagi dengan suara yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya


"Kemana dia pergi.. " Gerutu Nara sembari berjalan keluar dari kamar


"Jusstiiinn... " Teriak Nara kembali


Justin yang berada di ruang tamu, langsung bergegas menghampiri Nara saat mendengar suara teriakan Nara barusan.


"Kakak bangun.. " Ujar Justin merangkul pundak Nara agar tidak terjatuh


"Dari mana saja kamu? Aku memanggilmu sejak tadi.. " Tanya Nara


"Aku di ruang tamu menemani Kak Dimas" Jawab Justin


"Dimas? Dia ada disini?" Tanya Nara langsung membuka matanya dan melihat ke arah ruang tamu


Terlihat Dimas yang kini melihat ke arahnya, dengan senyum lebar di wajahnya. Bukan hanya Dimas, ayah Nara juga berada di sana saat ini.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan disini?" Tanya Nara menatap Justin meminta penjelasan


"Anggap saja dia takut, jika Kakak berbuat onar disini" Ucap Justin sejujur-jujurnya


"Apa aku seburuk itu di pikirannya.. " Gumam Nara tak habis pikir


"Di hanya khawatir terjadi apa-apa pada Kak. Lagipula luka Kakak belum sepenuhnya sembuh. Tidak ada dokter yang tidak merasa khawatir, melihat pasiennya berkeliling tampa rasa sakit seperti ini"


"Bawa aku ke bawa.. " Pinta Nara mengalungkan tangannya di leher Justin


Justin hanya mengangguk lalu mengangkat tubuh Nara turun ke bawah.


....


Meski ayah Nara sudah mengenal Justin, ia tetap merasa tak suka saat melihat Nara berada dalam pelukan pria seperti itu.


"Paman tidak perlu khawatir, hubungan diantara mereka, hanyalah sebatas Kakak dan Adik, bukankah wajar bagi seorang Adik memperlakukan Kakaknya seperti itu" Tutur Dimas setelah melihat raut wajah Ayah Nara


"Iya, Paman tahu.. " Ujar Ayah Nara memalingkan wajahnya meski dalam hati ia masih merasa tidak suka


Bukan hanya itu saja, jika harus dikatakan, Ayah Nara merasa begitu tertekan di tengah-tengah ketiganya. Sikap mereka yang terlihat sopan dari luar hanyalah topeng untuk menutupi sifat mereka yang sebenarnya.


Semua perbuatan Nara dan keduanya, diketahui dengan jelas oleh nya. Karena itulah, ia benar-benar merasa tak suka jika berada di dekat ketiganya.


Nara yang baru saja turun, kini duduk di tengah-tengah keduanya. Yang semakin membuat ayahnya tak suka.


"Jadi apa yang sedang kalian bicarakan disini? Sepertinya serius?" Tanya Nara memulai pembicaraan


"Oh.. Ini soal kejadian sebelumnya, saat kamu diculik.. " Ujar Dimas


"Kenapa? Apa mungkin Papa tidak mempercayainya lagi?" Tanya Nara menatap ayahnya


"Mengapa kamu menyembunyikannya dari Papa?" Tanya Ayah Nara lirih


"Apa Papa pernah bertanya? Papa bahkan tidak pernah menanyakan keadaanku. Bagaimana mungkin aku memberitahu Papa yang selama ini selalu acuh terhadap keadaanku dan Naura" Jawab Nara tajam


"Itu karena Naura tidak pernah memberitahu Papa apapun, dia selalu menyembunyikan semuanya.. "


"Apa sekarang Papa menyalahkan Naura? Papa seharusnya meminta maaf ketimbang melakukan pembelaan seperti ini"


"Papa lihat apa yang terjadi padanya? Dia hampir kehilangan nyawanya. Seseorang menyewa preman dan menculiknya tepat setelah hari aniversary pernikahannya.. Dan tak satupun dari kalian yang menanyakan apa yang terjadi padanya"

__ADS_1


"Jangan membuatku tertawa Pa.. Aku bahkan tidak sudi melihat wajah Papa setelah semua yang terjadi"


"Nara!" Tegur Dimas memegang tangan Nara agar tidak berbicara lebih dari ini


"Aku lapar.. " Ucap Nara mengalah karena perutnya yang kembali berbunyi


"Makanan Kakak sudah jadi, ayo ke meja makan" Ujar Justin lalu membawa Nara ke meja makan


Sementara keduanya masuk ke dalam, Dimas memilih untuk tetap berada di ruang tamu bersama dengan ayah Nara.


"Jangan tersinggung Paman. Nara memang seperti itu, setiap kata-katanya benar menusuk, bukan hanya kata-katanya, tindakannya sama sakitnya dengan kata-katanya. Jadi sebelum ia benar-benar emosi, sebaiknya Paman, memikirkan kesalahan Paman baik-baik. Bahkan meskipun Paman merasa benar sekalipun, Paman juga harus bersabar dan meminta maaf layaknya orang tua lainnya pada anak kandung mereka" Ucap Dimas memberi saran sebelum ikut bangkit dan menyusul Nara dan Justin


...***...


Di sisi lain, Adam yang benar-benar merasakan terpukul dengan semua yang terjadi, kembali ke rumah Clara dalam keadaan linglung setelah menghabiskan waktunya di bar.


"Apa sebenarnya yang terjadi denganmu? Mengapa kamu minum sebanyak ini? Bukankah sebelumnya kamu membencinya" Tanya Ckara seraya membantu Adam naik ke kamarnya


"Lepaskan aku.. " Tutur Adam mendorong tubuh Clara menjauh darinya


"Adam!" Tegur Clara sedikit emosi


"Jangan membentak ku" Tutur Adam dengan sisa-sisa kesadarannya "Aku masih berusaha menahan diriku saat ini, jadi jaga sikap kamu" Tutur Adam tajam dengan tangan menunjuk tepat di wajah Clara


"A-ada apa denganmu? Kamu tidak pernah membentakku sebelumnya.. Mengapa kamu begitu kasar hari ini?" Tanya Clara dengan mata berkaca-kaca siap untuk menangis


Adam yang melihat hal itu, tertawa miris. Selama bertahun-tahun, Clara mengelabui dirinya dengan ekspresi seperti itu.


"Mengapa aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya... " Ucap Adam menertawakan dirinya


Clara yang melihat Adam, semakin merasa khawatir. Sejak tadi Adam bersikap aneh dan bahkan berani membentak nya.


"Gibran sudah memberitahuku, semua yang kamu lakukan selama ini, aku sudah mengetahuinya. Termasuk hubunganmu dengan pria semalam.. " Ujar Adam mengungkapkan semuanya


Bagai tersambar petir di siang bolong, kaki Clara lemas seketika, tangannya kini berpegangan pada dinding agar tidak jatuh tersungkur.


"Ti-tidak seperti itu.. Aku mohon dengarkan penjelasanku aku terlebih dahulu" Ucap Clara memohon


"Tidak lagi. Aku sudah cukup kehilangan karena dirimu Clara" Ujar Adam menggelengkan kepalanya


"Aku terpaksa melakukannya, ini semua karena ibumu. Jika dia tidak memaksa untuk berpisah denganmu, aku pasti tidak akan melakukannya" Ujar Clara berusaha membela diri

__ADS_1


Namun usaha pembelaan yang dilakukannya terasa begitu sia-sia, saat Clara melihat ekspresi Adam yang dingin seolah muak dengan semua ini.


__ADS_2