Cintai Aku, Suamiku!

Cintai Aku, Suamiku!
Bab 27


__ADS_3

Setelah menghabiskan bubur buatan Adam, Naura lalu meminum obat pereda deman yang dibawa Adam, yang untungnya ada di dalam kotak p3k.


Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali beristirahat karena perintah dari Adam yang sama sekali tidak menerima penolakan.


Karena bagaimana pun, orang tua Adam pasti langsung memarahinya jika tahu Naura jatuh sakit selama berada disana.


Adam yang sudah melakukan semampunya, memilih kembali ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat juga karena tidak ada kegiatan apapun yang bisa di lakukan di vila terpencil itu selain mengunjungi taman, kebun stroberi dan danau yang ada di sekitarnya.


...***...


Terik matahari pagi yang perlahan menerpa wajah Dira yang saat ini masih tertidur setelah semalam mabuk.


Kelopak matanya perlahan berkedut, saat panas dari terik matahari itu menerpa wajahnya.


"Ngh.. " Lenguh Dira seraya membalikkan tubuhnya ke arah yang tidak terkena sinar


Dira lalu membuka kedua matanya yang terasa begitu berat, diikuti dengan rasa nyeri di kepalanya karena efek dari alkohol semalam.


Dira bangun terduduk sembari meregangkan tangan dan lehernya yang terasa pegal. Tanpa menyadari dimana dirinya saat ini dan bersama dengan siapa.


Namun setelah ia mendengar suara seorang pria yang terdengar sedikit serak, dari arah pintu kamar itu, seketika Dira terpelonjak kaget.


"Kamu sudah bangun?" Tanya pria yang tak lain adalah Gibran, yang juga merupakan pemilik dari kamar itu


"Siapa kamu?" Tanya Dira segera meraih selimutnya dan menutupi tubuhnya kaget


"Kamu tidak mengingatku? Sama sekali?" Tanya Gibran berjalan mendekati Dira dan duduk di sampingnya


Barulah setelah Dira melihatnya dari dekat, ia langsung tersadar jika pria yang bersama dirinya adalah sepupu dari Adam yang dulu pernah di beritahukan oleh Naura.


"Oh, apa kamu sudah mengingatnya?" Tanya Gibran menaikkan alisnya sebelah, seraya menatap raut wajah Dira yang kini lebih santai dari sebelumnya


"Apa yang terjadi denganku?" Tanya Dira meremaa keningnya berusaha mengingat kejadian semalam


"Hanya sedikit pertengkaran kecil" Jawab Gibran mencoba bersikap misterius

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Dira juga perlahan mengingat kejadian semalam dari sejak ia berdebat dengan Gibran di bar hingga Gibran menjemputnya di kursi yang berada di pinggir jalan.


"Sepertinya kamu sudah mengingatnya, kalau begitu ayo turun kebawah dan sarapan denganku" Ucap Gibran tersenyum manis


Setelah mengucapkan itu, Gibran lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar meninggalkan Dira yang mungkin tengah merutuki dirinya sendiri.


Dira lalu membuka selimut yang dipakainya tadi, lalu memeriksa pakaian yang dikenakannya yang ternyata sudah berubah.


"Mengapa pakaian ku berbeda?" Tanya Dira bingung "ahh tidak..tidak.. dia tidak terlihat seperti seorang pria br*engsek.. " Ucap Dira menggelengkan kepalanya berusaha berfikir positif


Dira lalu menenangkan dirinya dengan berbagai pikiran positif, lalu ikut keluar dari kamar dan turun menghampiri Gibran untuk sarapan sekaligus bertanya akan apa saja yang terjadi semalam.


...***...


Jam di dinding menunjukkan pukul 5 sore hari, saat Adam yang sejak pagi tadi menghabiskan waktunya tidur di kamar terbangun setelah mendengar suara rintik hujan yang begitu derasnya dari luar jendela.


"Padahal pagi tadi masih terlihat begitu cerah.. " Ucap Adam seraya menutup jendelanya karena rasa dingin yang seolah menembus jendela dan merasuk ke tubuhnya


Setelah melakukan itu, Adam berjalan keluar dari kamarnya menuju ke kamar sebelah, kamar tempat Naura berada. Ia datang untuk mengecek kondisinya, yang entah akan membaik setelah meminum obat tadi atau justru semakin parah karena cuaca yang dingin ini.


Namun pikiran itu tidak bertahan lama. Karena tepat setelah ia masuk ke dalam kamar itu. Ia sama sekali tidak mendapati Naura di sana.


"Kemana lagi dia, di cuaca yang sedingin ini" Gerutu Adam geram sembari mengecek di kamar mandi namun tidak ada


Naura tidak ada di kamar itu. Adam lalu mengitari rumah itu, mengecek satu-persatu ruangan di vila itu, namun ia tetap tidak bisa menemukan keberadaan dari Naura.


"Dia benar-benar wanita yang merepotkan.. " Gumam Adam frustasi seraya mengacak-acak rambutnya karena bingung harus mencari Naura kemana


Hujan yang semakin deras di luaran sana membuat Adam semakin khawatir jika saja terjadi apa-apa pada Naura. Ia bahkan tidak bisa menghubungi siapapun karena sinyal dan Gibran yang begitu saja meninggalkannya tanpa memberithunya apapun.


Mereka hanya menyiapkan keperluan di vila itu tanpa mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi disana.


......


Adam yang sudah memeriksa seisi vila itu, memutuskan untuk keluar dan mencari Naura di sekitar vilavila setelah mengenakan jas hujan yang baru ditemukannya saat memeriksa isi vila itu.

__ADS_1


Adam mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, hingga kemudian pandangannya tertuju pada sebuah siluet di kebun stroberi vila itu.


Dengan cepat, Adam berlari ke arah kebun itu untuk memastikan penglihatannya, dan benar saja Naura benar-benar ada disana. Ia duduk menangkup kedua kakinya menahan dingin, dengan wajah menatap ke bawah disela lututnya.


"Naura!" Bentak Adam emosi karena dibuat panik dan khawatir seperti ini


"Ggrrhhhh... Ggrrhhhh.. "


Tak ada jawaban, bahkan untuk sekedar mendongak saja, Naura sudah tidak sanggup. Tubuhnya bergetar hebat karena dingin.


Adam yang sudah di puncak emosinya, segera mengangkat tubuh Naura dan membawanya masuk ke dalam vila kembali.


Adam membaringkan tubuh Naura di sofa depan perapian yang ada di Vila itu. Setelah itu, Adam berjalan ke dapur untuk mengambil air hangat.


Meski ia benar-benar marah saat ini, Adam berusaha sebaik mungkin untuk menahannya karena kondisi Naura yang sudah begitu memprihatinkan.


"Minum ini.. " Ucap Adam seraya membantu Naura meminum air hangat itu


Meski sudah berada di depan perapian, tubuh Naura tak kunjung membaik, ia justru semakin merasa menggigil. Sekujur tubuhnya merah, terutama bagian wajahnya yang kini semerah tomat.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" Tanya Adam tak tahu harus berbuat apa lagi


"M-maaf.. " Ucap Naura dengan suara bergetar


"Hhaahhh.. Apa gunanya permintaan maaf itu, kamu seharusnya berbaring diam di kamarmu, bukannya keluyuran terutama disaat cuaca seperti ini.. " Omel Adam kesal


Naura yang mendengarnya hanya bisa terdiam, karena bagaimana pun, semuanya terjadi karena kesalahannya. Ia yang awalnya sudah merasa sedikit baikan, tanpa berfikir panjang, keluar dari vila itu untuk berjalan-jalan sebentar.


"Kita baru dua hari disini, tapi keadaanmu sudah separah ini"


"A-aku tahu, aku sa-lah.. " Ucap Naura terbata


Adam yang melihatnya, menghela nafasnya panjang lalu membuka kemeja yang dikenakannya. Ia lalu menarik selimut Naura dan masuk ke dalam, dengan posisi memeluk Naura.


"Tetap diam disana. Aku melakukan ini, karena tidak ingin jika vila ini menjadi kuburan" Ucap Adam karena Naura yang tampak gugup karena perlakukannya.

__ADS_1


Pada akhirnya, keduanya tertidur di bawah selimut yang sama diiringi suara api unggun dari perapian dan juga rintik hujan di luar sana.


__ADS_2